
Wanita paruh baya itu mendekat, tangannya mengusap air mata yang menetes di kedua pipi sang putri. Rasanya ia turut khawatir dan takut, mungkinkah ... hatinya penuh dengan dugaan yang tidak baik.
"Ada apa, Yas?" tanya ibu Radiah pada sang putri.
"Alifa, koma Bu, dan sekarang dia masih di ICU, aku mau ke sana," ucapnya.
"Ta-tapi, Yas," ucap Zahra dari anak tangga paling bawah.
"Aku mau ke sana, bisa tidak ijab qabulnya di percepat?" tanya Yasmine lagi.
Zahra yang berdiri di tempatnya lantas menghela napas lega, saking leganya ia bahkan sampai mengusap dada dengan mengucap hamdalah.
Ibu Radiah mengangguk, "bisa. Ayo, kita percepat acaranya, setelah ini, kita langsung ke Jakarta, ok," ucapnya. Yasmine mengangguk senang. Begitu juga dengan semua orang, termasuk Arya yang tadi sempat bingung dan juga takut.
"Tenang dulu ya, Nak. Ayo, kota duduk di sana, sembari nunggu ijab qabul di langsungkan." begitu ujar ibu Sufi saat mendekat dan mengajak Yasmine untuk duduk.
Ibu Radiah, Yasmine, ibu Sufi serta Zahra akhirnya duduk di ruang tengah. Sementara acara akad di lakukan di ruang tamu. Arya segera di ajak oleh ayah Ilyas dan Yahya untuk ke tempat yang sudah di siapkan nya untuk akad.
"Siapa yang mengabari, Yas?" tanya ibu saat baru saja duduk.
"Mama, Bu," jawabnya. "Aku semalam mimpi tentang dia, dan aku takut terjadi apa-apa padanya," sambung Yasmine.
Ibu Sufi yang tak terlalu mengerti hanya bisa mengusap lengan sang calon menantu. Sedangkan Zahra lantas mengambilkan air minum untuk Yasmine, agar sedikit lebih tenang.
"Minum, Yas. Tenangkan dirimu, di sana Lifa ada suami, orang tua dan para dokter," ucap Zahra seraya menyodorkan satu gelas berisi air.
"Astaghfirullah," ucap Yasmine. Di ambilnya gelas berisi air dan diminumnya sampai habis.
"Maaf, Bu," ucap Yasmine pada dua ibu di sebelahnya itu.
"Sudah, kita dengarkan ijab yang akan di ucap oleh Arya, ya," kata ibu Sufi lagi.
Yasmine tersenyum, lantas mengangguk. Tak di pungkiri, rasa sayangnya pada Alifa masih begitu besar. Ia langsung takut begitu saja, saat mendengar kabar tak baik dari sahabatnya itu. Maklum saja, dari kecil, Alifa selalu ada untuknya, sampai ... akhirnya seperti ini.
Wanita itu lantas menarik napas dalam-dalam dan memejamkan mata, bayangan Taqa yang tertawa bahagia padanya lantas menyadarkan dirinya. Lalu, ia pun kembali ber-istighfar dan membuka mata. Tangan kanannya lantas menggenggam tangan ibu Sufi, dan tangan kiri menggenggam tangan ibu Radiah.
"Bismillahirrahmanirrahim," begitu ucapnya.
Zahra yang masih di sana tersenyum lega. Lalu, wanita itupun lantas ke ruang tamu. Ia ingin menyaksikan ijab qabul secara langsung.
__ADS_1
"Ananda, Arya Pratama. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak kandung saya yang bernama Yasmine Hermawan binti Ilyas Hermawan dengan mas kawinnya berupa emas 50 gram dan seperangkat alat sholat di bayar tunai!" dengan lantang dan jelas suara ayah menggema di rumah itu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Yasmine Hermawan binti Bapak Ilyas Hermawan dengan maskawin emas 50 gram dan seperangkat alat sholat di bayar tunai!" begitu juga dengan Arya uang mengucap ijab dengan sangat lantang dan tenang.
"Bagaimana para saksi?" tanya pak penghulu.
"Sah!" Yahya yang menjawab paling keras. Begitu juga dengan Zahra.
Yasmine yang duduk di ruang tengah meneteskan air mata, lantas mengucap syukur. "Alhamdullilah," begitu ucapnya. Lalu, di ciumnya tangan ibu Sufi dan tangan ibunya.
Ibu Sufi bahkan langsung mencium puncak kepala dan kedua pipi Yasmine saking bahagianya, "selamat datang anakku," begitu katanya.
"Bu," ucapnya pada dua wanita. "Yasmine ganti baju dulu, ya," sambungnya yang mana membuat dua paruh baya itu sedikit tertawa dan mengangguk.
Selain rasa lega yang kini dirasakannya, nyatanya deg-degan karena bahagia kini meliputi hatinya. Dengan langkah yang lebar, wanita itu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Di bukanya dengan tidak sabar pintu kamar dan ditutup kembali. Lantas ia berjalan cepat menuju lemari yang masih menyimpan rapi baju pemberian dari ibu Sufi. Di ambilnya gamis dan jilbab itu. Lalu, di pakainya.
Setelah memakai pakaian yang rapi, tak lupa sedikit polesan ia bubuhkan ke wajahnya. Sampai saat selesai dan ia mendengar suara seseorang yang kemarin masih asing dan saat ini sudah menjadi suaminya. Ya, yang tengah mengetuk dan mengucap salam adalah Arya.
"Assalamu'alaikum, Mbak Yas," begitu suara Arya terdengar.
"Saya masuk ya," kata Arya lagi.
"I-iya. Silakan," ucap Yasmine yang masih duduk di depan meja rias.
Perlahan pintu kamar itu dibuka, Yasmine tersenyum mendapati Arya yang berjalan ke arahnya, terlihat dari pantulan cermin kalau lelaki itupun berjalan sangat lambat dan menyunggingkan senyum yang begitu lebar.
Yasmine lantas memutar tubuh, bersamaan dengan Arya yang berdiri di depannya. Keduanya saling pandang dan tersenyum. Lalu, lelaki itu meletakan sebelah tangannya di kepala sang istri dan membacakan doa.
Yasmine menunduk saat Arya membaca doa, dan mencium kening, lantas setelah selesai, wanita itupun mengambil tangan sang suami untuk salim dan diciumnya dengan takzim.
"Assalamu'alaikum, Mbak Yas," sapa Arya.
Yasmine tersenyum, "Wa'alaikumsallam," jawabnya.
"Ganti baju?" tanya Arya lagi.
Yasmine mengangguk, "iya. Aku takut gagal lagi, jadi aku putuskan untuk memakai ini setelah ijab di ucap," begitu jelasnya.
__ADS_1
Arya mengangguk, "jadi, ke rumah sakit?" tanyanya.
"Mas Arya bolehin?" tanya balik Yasmine.
"Boleh, ayo," ajak lelaki itu seraya mengulurkan tangan ke arah sang istri.
Yasmine tersenyum, ia mengangguk dan berdiri setelah menggenggam tangan lelaki yang kini sudah sah menjadi suaminya.
Baru selangkah, Arya berhenti dan menoleh. "Kita pakai cincin dulu ya, di bawah," katanya.
Yasmine meneteskan air mata, lalu mengangguk. Sampai membuat Arya melepas genggaman tangannya dan membalik badan, mengusap pipi lembut wanita yang kini bisa di tatap dengan lamat-lamat. "Kenapa?" tanyanya.
"Aku bahagia," jawab Yasmine jujur.
Mendapati wajah lelaki yang baru menikahinya menjemputnya penuh rasa bahagia membuatnya terharu. Rasa yang dimiliki Arya begitu ketara, sampai Yasmine tak bisa berkata apa-apa.
"Alhamdulillah." Arya membawa tubuh mungil istrinya ke dalam dekapan. Lantas setelahnya mengurai kembali, "tidak apa 'kan di peluk?" tanyanya konyol.
Yasmine lantas memukul pelan lengan Arya, "ck," dia berdecak.
"Ya Allah, ternyata Mbak Yas suka kdrt," candanya. Namun, itu malah membuat Yasmine semakin tersenyum lebar.
"Sudah, ayo turun. Nanti di kira saya apa-apakan lagi di sini." Arya merangkul Yasmine dan mulai melangkahkan kaki mereka ke lantai bawah.
Tentu saja di bawah semua orang bahagia saat mendapati sepasang pengantin baru yang langsung lengket. Sungguh tak ada yang akan menyangka jika Arya dan Yasmine akan langsung terlihat mesra. Namun, kenyataannya Arya berjalan dengan menggandeng tangan sang istri menuju ke tempat di mana pak penghulu masih ada di sana.
Keduanya lantas tukar cincin dan men-tada-tangani surat-surat yang perlu di bubuhi tanda tangan. Lalu, sungkem ke orangtua. Lanjut acara doa bersama.
Taqa si anak tampan itu bahkan langsung duduk di pangkuan Arya saat acara doa. Membuat Yasmine yang duduk di sebelah Zahra tersenyum lebar.
"Kakak pikir kamu akan membatalkan segalanya," bisik Zahra di telinga Yasmine.
"Enggak akan, Kak. Justru aku ingin di percepat, supaya aku bisa ke sana dengan hati tenang," jawab Yasmine yang tak kalah dengan bisik-bisik.
"Kamu berada di orang yang tepat, begitu ijab di ucap. Dia tidak mau kamu datang terlebih dulu, suamimu maunya dia yang menjemput dirimu," jelas Zahra.
"Dia baik sekali, semoga sakinah, mawaddah, warahmah, sampai Jannah, ya ... adikku tersayang," ucap Zahra lagi sembari memeluk Yasmine dari samping.
"Aamiin, terimakasih Ya Allaah, sudah memberikan hamba orang-orang yang sangat baik," begitu ucapnya sembari mengusap lengan Zahra yang melingkar di tubuhnya.
__ADS_1