
Di dalam satu meja itu, tiga manusia berstatus suami-istri itu asyik bercerita. Namun lebih dominan ke dua perempuan. Karena nyatanya, Alfin hanya menjawab dan sedikit bertanya saat ia tak mengerti dengan apa yang dua wanita itu bicarakan.
Alfin yang kini tengah memakan-makanan penutup itu melirik dengan senyum terpaksa pada dua perempuan yang tengah membicarakan akan ke mana setelah ini. Dan siap tidak siap, dia harus siap untuk menjadi supir bagi kedua istrinya.
Benar saja, seusai makan kedua wanita itu langsung beranjak dari duduknya dan pergi ke luar restoran. Meninggalkan Alfin yang tengah membayar segala tagihan. Dengan langkah gontai lelaki berstatus suami dua istri itu berjalan ke arah mobilnya terparkir. Bahkan dua istri itu masih berbicara berdua di samping mobil.
Terlebih saat Alfin sudah menekan tombol gembok terbuka di kunci mobilnya, kedua wanita itu lantas masuk ke bagian belakang semua. Lelaki yang sudah duduk di balik kemudinya itu lantas menoleh ke arah belakang. "Ini, tidak ada yang mau duduk di depan?"
Kedua wanita cantik itu menggeleng. Lantas tertawa saat mendengar Alfin mengembuskan napas kasarnya. Lalu mulai menjalankan mobilnya menuju tempat berikutnya. Yaitu Super Market. Keduanya berniat untuk membeli buah-buahan.
Tidak sampai di sana, bahkan kini dia menjadi pendorong troli mengikuti langkah dua wanita di depannya. Biar adil, jadi satu troli dua kelompok belanjaan. Pertama-tama mereka pergi menuju tempat cemilan, lantas sayur dan akhirnya ke tempat buah.
"Katanya, kamu mau beli mangga," ucap Yasmine pada Alifa.
"Oh, iya. Lupa." Alifa lantas berjalan menuju mangga. "Kamu mau tidak?" tanya balik Alifa.
"Aku mau yang ini," tunjuk Yasmine pada Alifa. Mangga yang belum terlalu matang. Masih mangkel.
"Asam lah itu, Yas." kata Alifa.
Alfin yang melihat Yasmine di samping tumpukan mangga lantas mendekat. "Tapi, kayaknya enak nih. Aku mau juga dong, yang ini, Sayang." katanya pada Alifa.
Wanita cantik itu pun mendekat. Yasmine yang ada di sana mencebikkan bibirnya. "Ngapain sih ikut-ikutan. Dasar!" gerutunya pura-pura kesal. Padahal dalam hatinya, ia begitu bahagia lantaran ia dan suaminya sama-sama menginginkan buah mangga yang mangkel.
Alifa tersenyum, lantas memilih mangga keinginan sang suami. "Kalian ini ada-ada saja, pengin kok mangga yang belum matang."
Seusai dengan belanjaan yang isinya hanya makanan saja, mereka lantas pergi dari pusat perbelanjaan. Lantas, Alfin kembali menjadi orang yang bertugas membayar belanjaan kedua istrinya. Ia bahkan hapal mana punya Alifa dan mana punya Yasmine. Karena milik mereka di pisah.
"Mau ke mana lagi? Para wanita shalihah?" tanya Alfin pada kedua istrinya yang sudah duduk di jok belakang. Ia baru saja selesai membereskan belanjaan di bagasi. Menaruh semua belanjaan menjadi dua kelompok. Kanan punya Alifa, dan kiri milik Yasmine.
Alifa dan Yasmine saling melihat, lalu menggeleng. "Enggak, aku mau pulang saja. Capek." jawab Yasmine.
__ADS_1
"Benar, apalagi besok Yayas harus ngajar." kata Alifa.
"Baiklah, mari kita pulang." Alfin lantas menyalakan mesin mobil dan mulai menjalankannya.
Sedangkan dua wanita cantik yang duduk manis di belakang mulai kembali ngobrol, namun Yasmine tak bisa membohongi kalau kini dirinya merasakan kantuk. Ia bahkan beberapa kali menguap.
"Ngantuk sekali, Yas kamu." kata Alifa.
"Iya, sekarang aku mudah lelah. Mungkin karena ha__" hampir saja dia keceplosan. Seketika ia melebarkan kelopak matanya dan menatap wajah Alifa yang tengah menanti kalimatnya.
"Ha, apa?" tanya Alifa penasaran.
"Haus, hehe. Aku haus," ucapnya sembari tertawa sumbang. Alfin yang mendengar lantas menyodorkan sebotol air mineral yang biasa tersedia di mobilnya.
Yasmine menerima botol itu dengan pelan, padahal perutnya tengah begah, lantaran kekenyangan. Tapi sekarang, ia malah harus menambahnya dengan air minum.
"Kenapa tidak bilang, Yas. Kalau haus," ucap Alifa pada Yasmine dengan gelengan kepala. "Aku pikir kamu sudah hamil." sambung Alifa.
"Ya Allah, Yas. Pelan-pelan." kata Alifa sembari menepuk punggung Yasmine dengan pelan.
"Pelan-pelan, Ayang." kata Alfin sembari menyodorkan kotak tisu. Yang lantas di ambil oleh Alifa dan diusapkan olehnya ke mulut Yasmine.
Yasmine menelan ludahnya kasar, ia menatap wajah khawatir sahabat sekaligus madu-nya itu. Lantas ia mencoba bertanya dengan pelan. "Kalau aku hamil, gimana, Lif?"
Alifa menatap Yasmine dengan senyum yang lebar. "Aku akan jadi orang pertama yang bahagia akan kabar itu."
"Benarkah?" tanya Yasmine memastikan.
"Benar dong. Iya 'kan Mas?" Alifa menoleh ke arah sang suami yang mengangguk di depan mereka.
Yasmine lantas tersenyum lebar. Setidaknya dengan ini, jika waktunya sudah tepat ia bisa dengan bahagia memberitahu kabar bahagia kepada Alifa dan semuanya.
__ADS_1
Mobil sampai di depan rumah sederhana Yasmine. Alfin dan Alifa pun ikut turun. Mbak Fifi juga langsung keluar saat mendengar mobil berhenti di depan rumah.
Alfin lantas membantu mbak Fifi menurunkan belanjaan Yasmine. Dan mbak Fifi yang membawa masuk secara bergantian semua barang-barang.
"Aku, pulang dulu ya, Yas." pamit Alifa.
Yasmine mengangguk dan tersenyum. "Iya. Hati-hati ya."
Alifa mengangguk dan mundur, membiarkan sang suami pamit juga pada Yasmine. "Aku pulang ya, Ayang. Kamu istirahat, jangan begadang."
Yasmine mangangguk dan salim pada suaminya itu dengan takzim. Alfin pun mencium puncak kepala Yasmine dengan sayang. "Assalamu'alaikum," pamit Alfin sembari berlalu menuju mobil.
"Wa'alaikumsallam," jawab Yasmine sembari melambaikan tangannya pada dua manusia yang sudah masuk ke dalam mobil. Sampai mobil sang suami pergi, ia bahkan masih di sana. Menatap kepergian dua manusia kesayangannya.
"Mbak." panggil mbak Fifi dari dalam saat melihat Yasmine masih berdiri di teras, padahal mobil Alfin sudah meninggalkan halaman.
"Iya, Mbak Fi." jawab Yasmine yang tetap saja berdiri di tempatnya.
"Ayo masuk. Sudah malam." ajak mbak Fifi.
"Apa ada, manusia sebaik Alifa?" tiba-tiba Yasmine bertanya demikian. Membuat mbak Fifi terheran-heran. Ia lantas menggeleng tak mengerti.
"Aku hampir keceplosan, Mbak. Dan aku bertanya padanya, bagaimana jika aku hamil," ucap Yasmine memberitahu pada mbak Fifi.
"Terus?" tanya mbak Fifi yang lantas merasa penasaran.
"Dia bilang, dia akan jadi orang pertama yang bahagia dengan kabar ini," ucap Yasmine dengan mata yang berkaca-kaca. "Apa, seharusnya aku bilang sekarang juga, Mbak?" tanya Yasmine dengan air mata yang sudah menetes. Ia benar-benar tak mengerti, kenapa Alifa sebaik itu.
Mbak Fifi lantas berdiri di sebelah Yasmine. mengusap lengan wanita yang tengah hamil muda. "Sebaiknya, Mbak Yas bilang sama Ibu dulu. Lalu, nanti Mbak Yas bisa membagi tahu kesemuanya. Karena, kehamilan tidak bisa di sembunyikan, Mbak. Semakin hari, perut Mbak Yas jelas semakin besar. Dan semua orang akan tahu."
Yasmine mengusap air mata yang mengalir di pipinya, lantas mengangguk. Menyetujui apa yang mbak Fifi katakan.
__ADS_1