Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 109 # Kembali Untuk Pergi


__ADS_3

Ia tersenyum sekilas, lantas setelah membalas pesan dari Zahra. Ia juga membuka pesan dari sang sahabat. Sahabat tercinta.


[Assalamu'alaikum, Yas,] begitu pesan dari Alifa yang pertama ia baca.


[Benarkah ini kamu, atau memang ada yang menggunakan ponselmu?]


pesan kedua dari sang sahabat tercinta. Yang di baca oleh Yasmine dengan senyum menghiasi bibirnya. Ia masih bisa merasakan betapa bahagianya sang sahabat, seperti dirinya yang bahagia karena bisa kembali berbagi pesan.


[Bagaimana, keadaanmu? Semoga Allaah selalu melindungi kamu dan anak kita.] pesan ketiga yang langsung membuat Yamanie mengusap kembali perutnya.


"Iya, aku lupa. Ini anak kita. Tapi, maaf jika nanti aku membawanya jauh dari kalian," ucap Yamanie pada tulisan-tulisan dari sang sahabat. Seolah tengah memberitahu bahwa ia akan kembali untuk pergi.


Lantas, dengan berbagai pemikiran ia membalas pesan-pesan dari Alifa.


^^^[Wa'alaikumsallam, Lif.]^^^


^^^[Iya, ini aku, Yasmine.]^^^


^^^[Alhamdulillah, baik. Semoga kebaikan selalu menyertaimu, Lif. Aamiin.]^^^


Selesai, ia hanya membalas tanpa kembali bertanya. Kendati ia ingin kembali seperti dulu, tapi ternyata semua susah untuk ia lakukan. Jadi, ia hanya bisa mendoakan agar sang sahabat baik-baik saja dan segera hamil seperti dirinya. Agar ia dan suaminya menjadi keluarga yang bahagia.


Ya, Yasmine selalu mendoakan itu. Entahlah, ia hanya ingin Alifa juga bahagia, sebahagia dirinya saat mengerti bahwa dirinya tengah berbadan dua.


Lalu, sebelum pesan dari Alifa kembali masuk. Ia segera menon-aktifkan ponselnya. Bukan menghindar, tapi hanya tidak untuk sekarang. Mungkin nanti, saat ia sudah mendengar kabar baik dari sahabat dan mantan suaminya.


Hah. Wanita hamil itu tertawa dengan di buat-buat. Ia bahkan susah untuk menyebut kata mantan. Hingga akhirnya tawa sumbang nya berhenti saat mbak Fifi memanggil.

__ADS_1


"Mbak, Yas," panggilnya pelan. Mungkin takut jika sang majikan sudah tertidur.


"Ya, Sayangku. Ada apa?" tanya balik Yasmine dari atas ranjang.


Mbak Fifi lantas membuka pintu dan masuk, dengan senyum lebar menghiasi bibirnya. "Saya pikir sudah tidur, Mbak Yas. Itu ada telepon dari Mas Yahya, katanya di kirim pesan malah sudah tidak aktif," begitu ujar mbak Fifi.


"Oh, iya." Jawab Yasmine yang lantas turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar meninggalkan mbak Fifi di sana.


Mbak Fifi hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah majikannya itu, lantas wanita pengertian itu turut keluar dari kamar besar sang majikan kesayangan sembari membawa jilbab instan, karena tadi Yasmine turun tanpa memakai penutup kepala.


Di bawah, dengan gagang telepon yang berada di antara telinga dan mulut, wanita itu berbicara. Mengatakan segalanya, ngobrol panjang sampai waktu sudah hampir tengah malam.


Bahkan sampai membuat ayah dan ibu harus memarahi Yahya yang tidak membiarkan adiknya yang tengah hamil itu istirahat.


Yahya yang tidak terima hanya bisa menyalahkan Yasmine, pun sebaliknya. Yang akhirnya mereka ngobrol lebih lama lagi dengan kedua orangtua yang ikut nimbrung di sana.


...----------------...


Namun siapa sangka, dengan datang ke sana, mereka berdua jadi bisa mengobati rasa rindu mereka pada perempuan yang selalu ceria.


"Ya Allah, Yas. Mama rindu sekali padamu," ucap mama Widia dengan memeluk erat Yasmine.


"Yayas juga, Ma," kata Yasmine sembari membalas pelukan hangat sang mama.


"Kenapa nggak bilang kalau sudah pulang, hm?" Mama mengurai pelukan dan menatap tubuh wanita hamil itu dari atas sampai bawah. "Uluh-uluh, sudah buncit ini cucu Nenek," sambung mama Widia sembari mengusap perut Yasmine. "Sehat-sehat ya, Sayang. Di dalam perut ibu," katanya lagi.


"Iya, Nenek," jawab Yasmine yang menirukan suara anak kecil.

__ADS_1


Mama Widia lantas kembali memeluk tubuh Yasmine, "rindu sekali, kemarin mau ikut ke sana, tapi si Papa malah sakit," ucapnya lagi.


"Iya nggak papa, Ma. Santai saja, Yayas baik-baik saja kok. Tapi, sekarang Papa sudah nggak apa-apa 'kan? Sudah sehat 'kan?" tanya Yasmine yang kini duduk di sebelah papa Zaenal.


"Alhamdulilah, bisa ke sini sekarang. Untung mama kamu minta ke sini, coba tidak. Jelas tidak ketemu kamu hari ini," jawab Ayah.


Mama Widia lantas duduk di sebelah Yasmine. Wanita hamil itu di apit dua orangtua yang sudah seperti orangtuanya sendiri.


Sampai di mana ibu Radiah keluar dari persembunyiannya, bersama dengan ayah Ilyas.


Dua pasang sahabat itu lantas ngobrol banyak, namun mereka tak membicarakan masalah yang kemarin ada. Karena, mereka pikir ya sudahlah. Tak perlu lagi di ingat ataupun di bahas.


Lagipula, bahasan mereka banyak sekali, terutama tentang kehamilan Yasmine yang membuat calon ibu itu sangat antusias. Ia mendengarkan dengan seksama wejangan-wejangan dari dua ibu langsung.


Terkadang saat menurutnya susah untuk ia mengerti, ia hanya akan menjawab dengan gelengan kepala saja.


Sampai di mana, kedua orangtua itu pamit dan meninggalkan kediaman keluarga Ilyas dengan hati senang, karena kini anak perempuannya itu sudah baik-baik saja.


Hanya saja, mama Widia keceplosan, ia mengatakan kalau sang menantu tengah sakit, dan seminggu ini hubungannya dengan sang anak sedikit dingin.


Yasmine hanya menanggapi dengan, "sabar, Ma. Lambat laun, Yayas yakin. Mereka akan kembali ke cinta yang dulu. Di mana cinta mereka sangat besar dan tidak bisa di ganggu badai seperti apapun."


"Maaf, Sayang. Mama lupa." mama Widia benar-benar tidak enak karena merasa tidak perlu ia mengatakan demikian.


"Enggak apa-apa, Ma. Aku sudah baik-baik saja, jadi Mama sama Papa harus santai. Tolong bilang sama Alifa kalau aku sudah bahagia, jadi mereka juga harus bahagia. Sampaikan juga maafku, jika keinginanku ternyata menyakiti mereka," ucap Yasmine tulus.


Seenggaknya, sebelum ia benar-benar menjauh, ia bisa menyampaikan pesan tulus dari hatinya lewat mama Widia untuk dua orang tersayangnya.

__ADS_1


Hingga saat yang di nanti-nantikan itu hadir. Sebuah harapan besar terpatri di dalam dada. Ia tersenyum lebar menatap sebuah bangunan besar yang akan ia tinggalkan. Tak ada isak tangis, hanya ada senyum dan tangan yang terangkat untuk menyemangati dirinya. Seperti mengatakan bahwa dirinya harus kuat, sabar dan semangat.


Begitu banyak cinta yang ia dapatkan, sampai ia lupa apa itu kesedihan. Lupa pada kenyataan akan status yang ia emban. Tak perduli lagi bagaimana orang menilainya, yang ia harapkan sekarang adalah bahagianya, juga bahagia untuk anak yang ada di dalam rahimnya.


__ADS_2