Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 123 # Taka Mau Pulang Saja


__ADS_3

Alfin menelan ludahnya kasar. Namun, ia tetap mencoba untuk tetap tersenyum lebar pada sang putra. Begitu juga dengan kedua orang tua yang ada di sana. Keduanya saling memandang tak mengerti dengan apa yang di katakan sang cucu.


Lantas semua orang diam, namun tidak dengan Alfin. Ia terus saja bertanya pada putra pertamanya itu. Taqa juga tetap menjawab, walaupun dengan berat hati, entahlah perasaan anak kecil itu, setelah mendengar panggilan sayang dari sang ayah untuk perempuan yang kata ibunya adalah mama itu, ia merasa aneh. Banyak sekali pertanyaan di dalam benaknya, yang tak mampu ia keluarkan.


Hingga saat waktu yang di rasa sudah cukup. Ayah dan ibu lantas mengajak Taqa pulang. Pun dengan Alfin dan Alifa yang lantas pulang, mereka tidak jadi ikut ke rumah orangtua Yasmine, karena mereka takut ibunya Taqa itu belum mau bertemu.


Di dalam perjalanan yang tak lama itu, Taqa menjadi anak yang pendiam. Menoleh kearah lain, memandangi jalanan yang terlewati, sampai membuat nenek dan kakeknya bingung.


Hingga saat sampailah mobil ayah di depan rumah mewahnya, sang cucu langsung keluar dam masuk ke dalam. Ayah yang duduk di sebelah pak supir lantas menoleh ke arah belakang. Ia melihat sang istri seolah bertanya, ada apa dengan cucunya. Ibu Radiah hanya mengedikan bahunya tak mengerti.


Sementara itu, kini Taqa tengah berjalan dengan cepat menuju ke kamar sang ibu. Ia bahkan melangkahkan kakinya dengan tidak sabar. Sampai di mana dia berdiri di depan pintu kayu kamar sang ibu dengan langsung membuka tanpa mengucap salam seperti biasanya.


"Astaghfirullah!" kaget Yasmine. Perempuan itu menoleh ke arah pintu, di mana ada sang anak di sana. "Taqa sudah pulang, Kenapa tidak salam?" tanyanya pada sang anak yang kini menutup pintu dan mendekat ke arahnya.


"Bu," ucap Taqa saat sudah berhenti di depan wanita itu. "Siapa mama Alifa?" tanyanya.


Yasmine mengernyitkan dahinya tak mengerti. "Maksudnya?"


"Kenapa Ayah panggil Mama Alifa dengan panggilan sayang?" tanya anak itu lagi. "Apa, Ayah juga selalu panggil Ibu seperti itu?"

__ADS_1


Yasmine terdiam, ia memandangi wajah putranya yang terlihat marah namun juga terlihat sedih. "Kamu ketemu ayah?" tanyanya sembari menahan air mata.


"Siapa Bu? Kenapa Ayah nggak pernah nengok Taqa, apa karena Ayah mau punya anak lagi dari Mama Alifa, makannya ayah lupa sama aku?" percayalah saat ini Yasmine tak mampu mengucap apa-apa. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Aku nggak punya adik, kalau bukan ibu yang hamil," kata bocah kecil itu. "Taqa mau pulang sekarang, Taqa nggak pengin ketemu Ayah lagi," sambung bocah itu.


"Ta-taqa ... dengerin ibu," ucap Yasmine seraya memegangi pundak sang anak. "Bukan seperti itu, hanya saja, belum saatnya untuk kamu tahu, alasan apa yang membuat ayah tidak lagi bersama kita," ucapnya akhirnya.


Taqa lantas mengambil tangan ibunya yang ada di pundak, lantas menggenggam kedua tangan yang sudah membesarkan dirinya itu. "Aku tahu sekarang, kenapa ibu nggak mau pulang ke rumah nenek, karena ibu nggak mau aku sedih 'kan, kalau aku tahu ayah punya anak lain, selain aku."


Yasmine mengembuskan napas kasar. "Taqa dengarkan ibu dulu. Kamu lihat ayah sama mama di mana?"


"Alhamdulillah," ucap Yasmine penuh syukur.


"kenapa ibu senang?" tanya Taqa tak mengerti.


"Ya, karena mama Alifa itu sahabat ibu, dia saudara ibu," jelas Yasmine.


"Terus kenapa ayah sama mama Alifa?" bocah itu terus saja penasaran.

__ADS_1


"Ya ... karena, sekarang istri ayah adalah mama bukan ibu."


Sungguh menjawab pertanyaan anak kecil ternyata sangat susah. Inilah alasan kenapa Yasmine nyaman di sana, dan tidak ingin pulang.


"Kenapa, bukan ibu?" tanya Taqa melemah.


"Karena, ayah dan ibu tidak lagi bersama, Sayang. Karena ibu bukan lagi istri ayah. Dan istri ayah, hanyalah mama Alifa. Ok, sekarang kamu sudah tahu 'kan?" Yasmine menatap wajah putranya yang sedih.


Taqa menggeleng, "tapi kenapa, Ayah nggak pernah nengok aku bu, apa karena ada anak lain, selain aku?"


"Bukan, bukan salah ayah, Sayang ... kalau yang ini salah ibu, karena ibu yang nggak mau mempertemukan kamu dengan ayah, salahkan saja ibu, Nak," kalimat Yasmine pun sama-sama melemah. Ia tahu apa yang di rasakan sang anak, tapi ... begitu banyak tapi yang membelenggu hati.


"Ibu tahu, Max?" tanya bocah itu tiba-tiba. Yasmine mengangguk walaupun tak mengerti dengan apa maksud dari anaknya. "Mami Max melarang dia untuk bertemu dengan papinya, tapi papinya tetap memaksa ketemu Max di sekolah. Dan bu guru nggak pernah marah, bu Jess membolehkan saja. Aku pernah berharap seperti itu, tiba-tiba ayah datang menemui ku di sana. Tapi, nyatanya ...," bocah itu menggantung kalimatnya, dan menyambungkannya dengan gelengan kepala.


Yasmine menangis, ia memeluk erat sang putra. "Maaf, Sayang ... maafkan ibu," ucapnya penuh air mata.


Anak tampan itupun sama, dia memeluk erat sang ibu. Seseorang yang selama ini ada untuk hari-harinya. Ada di setiap deti, di saat dia membuatkannya.


Yasmine benar-benar tak mengerti akan seperti ini, ia pikir dengan melihatkan gambar Alfin dan Alifa serta mengenalkan keluarga semuanya akan membuat anaknya mengerti kalau mereka juga keluarganya. Tapi pada kenyataannya, anaknya salah paham. Mungkinkah, karena masih anak-anak?

__ADS_1


Wanita itu lantas mengembuskan napas kasarnya.


__ADS_2