Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 090 # Dukungan Umi


__ADS_3

Jika saja semua bisa dia katakan, jelas akan ia katakan bahwa dia pun begitu bahagia. Ternyata Afin yang dulu selalu membuatnya kesal kini sudah menjadi suaminya. Tapi ... begitu banyak tapi yang tengah membelenggu hati seorang Yasmine. Ia tengah di landa rasa dilema.


Lagi dan lagi, hati kecilnya selalu menyuruh untuk menyerah. Apa ini? Tidak bisakah dia baik-baik saja, bahagia bersama suami dan ... madu-nya. Bisa, mungkin. Tapi, lagi-lagi tapi mengikuti karena wanita cantik yang kini tengah hamil itu kembali mengingat di mana kesedihannya selalu ada saat teringat bagaimana tidak adilnya sikap Alfin.


Dengan berdiri di balkon kamar, lagi-lagi wanita itu sendirian dalam keheningan. Menatap taman yang indah di bawah sana. Padahal suasana ruang keluarga masih terdengar ramai, namun ia sudah ingin menyendiri. Tadi, dengan alasan lelah dan sakit perut ia pergi meninggalkan Alifa yang duduk menatap kepergian sang suami.


Bahkan tanpa menunggu jawaban dari sang sahabat.


Kini, semua yang pernah terjalin indah perlahan berubah. Hilang seolah berjarak. Ia tersenyum getir saat mengingat bagaimana dulu dirinya begitu bahagia memiliki sahabat seperti Alifa. Sekarang dia memang masih bahagia, tapi .. dia juga harus kecewa.


"Yas," panggilan seseorang membuat dia menoleh ke arah kamar.


"Umi," begitu ucapnya saat mendapati sang mertua datang. Ia lantas memutar tumit dan mendekat. Menyalami tangan Umi dan memeluk sang mertua.


"Maaf, Umi," ucapnya.


Umi Fitri yang masih memeluk sang menantu itu mengusap punggung, memberi rasa nyaman agar tak sampai menangis. "Minta maaf untuk apa, Nak?" tanya Umi.


Yasmine lantas mengurai pelukan nya, "apa Umi pura-pura tidak tahu?" tanya balik dirinya.


Umi tersenyum, "tidak ada yang perlu meminta maaf. Keputusan seseorang itu tergantung isi hatinya," katanya.


Yasmine mengangguk, "Umi masih ingat saat aku mengatakan sesuatu, waktu itu?" tanyanya lagi.


"Ingat sekali," ucap Umi. "Apa kamu, tidak akan menyuruh Umi duduk? Umi sudah tua loh," sambung Umi dengan sedikit bergurau. Wanita paruh baya itu tentu tidak ingin sang menantu terlalu banyak pikiran karena itu akan berpengaruh tidak baik untuk kehamilannya.

__ADS_1


Yasmine tersenyum lebar, lantas ia menarik pelan lengan Umi, "ayo, kita duduk. Aku rindu sama Umi," katanya.


"Kalau rindu, kenapa tidak datang ke rumah?" tanya Umi lagi saat keduanya sudah duduk di sofa yang ada di dalam kamar Yasmine.


"Umi ingin mengatakan apa?" tanya Yasmine yang ingin langsung saja. Ia yakin, mertuanya itu tidak hanya sekedar menengok dirinya, tapi pasti karena ada maksud lain tentunya.


"Apa kamu serius, dengan keinginanmu?" tanya Umi.


Yasmine mengangguk. "Kenapa?" tanya Umi lagi.


"Aku, capek Mi," jawab Yasmine.


"Aku nggak mau membohongi hati, membohongi diri. Kalau ternyata aku tak sebahagia itu, Mi," katanya jujur.


"Yayas lelah, Mi. Yayas pernah bilang 'kan, kalau Yayas ingin menyerah?" tanya Yasmine saat mode manja nya muncul kembali. Umi mengangguk.


"Intinya, Mi. Baik aku sama Alifa, kita tidak ada yang senang. Alifa dengan ketakutannya, aku dengan kesedihanku. Dia tidak pernah memberi perhatian lebih padaku," sambung Yasmine.


"Maaf, Mi. Harus ku ceritakan perlakuan tidak baik putramu. Karena, menurutku dari pada aku cerita ke Ibu, tentang Alfin. Lebih baik cerita ke Umi bukan?"


Umi menarik tubuh sang menantu dengan sayang, wanita paruh baya itu lantas memeluk erat Yasmine. "Maafkan sikap putraku, Nak. Maaf karena ketidak adilan dia terhadapmu," ucap Umi dengan sedih.


"Umi tahu persis, bagaimana perasaan wanita yang tengah hamil. Tapi sayang, anak Umi tidak mengerti. Apa kamu sudah pernah mengatakan ini, pada anak Umi, Nak?" tanya Umi.


Yasmine menggeleng di dalam pelukan sang mertua.

__ADS_1


"Katakanlah, Yas. Katakan semuanya pada suamimu. Bicarakan segalanya dengan baik, dia masih di sini, menunggu kamu mengungkap segala rasa yang ada di dalam dada," begitu ucap Umi lagi.


Begitu pelukan terurai, Umi menghapus sisa-sisa air mata yang berjejak di pipi Yasmine. "Apa, kamu tidak ingin hidup bertiga dengan akur? Tanpa beban terpendam?" tanya Umi.


"Siapa yang tidak mau, Mi. Semua orang pasti mau. Tapi, alasanku untuk pisah bukan hanya itu saja, Mi," ucap Yasmine. "Mi, dengan aku menyerah, aku yakin kehidupan cinta antara Alfin dan Alifa jelas akan kembali indah, seperti sebelum aku masuk dan mengusik ketenangan mereka."


"Bukankah, itu hanya pikiranmu?" tanya Umi. Yasmine mengangguk.


Wanita paruh baya itu lantas tersenyum, "jadi ... apa kamu tidak ingin mengatakan segalanya? Di bawah semua orang kumpul. Kita berada di sisimu, katakan apa yang kamu inginkan. Jangan tutupi. Tapi, sebelum kamu katakan, tolong kamu pikirkan lagi tentang rasa yang sudah tumbuh di dalam dada kamu dan dada suamimu. Percayalah, Nak. Dia begitu bahagia, saat mengetahui jika kamu adalah Ayas, wanita yang dulu pernah dia bilang akan dia nikahi."


"Umi tahu pasal itu?" tanya Yasmine dengan heran.


"Tentu saja, Umi tahu segalanya. Bahkan sampai perasaan kamu dan perasaan kedua anak Umi, Umi mengetahuinya."


"Tapi, Umi ... aku tidak bisa mengatakannya di depan semua orang, apalagi di depan Alifa. Aku yakin sekali, jika aku mengatakan segalanya tentang Al di depan Lifa, dia jelas kecewa dan lebih merasa bersalah."


Apa yang di katakan Yasmine benar. Katakanlah dia adalah wanita yang tidak bisa masak, manja dan kekanak-kanakan. Tapi percayalah pemikirannya untuk menjaga perasaan lebih peka. Ia lebih bisa bersikap dewasa saat keadaan memaksanya.


Umi terdiam di tempatnya, kendati ia sudah menyuruh sang menantu untuk mengatakan segalanya. Namun, jika sudah mendengar apa yang di katakan Yasmine. Jujur saja sebagai perempuan ia pun hanya bisa mengusap dada. Tak mengerti sesakit apa keduanya, antara dua menantu yang pastinya merasakan separuh-separuh rasa itu.


Umi lantas mengusap lengan Yasmine, "terserah apa yang kamu mau, Nak. Umi hanya berpesan untuk memikirkan. Nanti, bicara berdua dengan Alfin ya, biar semuanya jelas. Nanti biar Umi katakan agar bisa mendengar keluh-kesahmu," katanya.


"Jika tidak sekarang boleh, Mi? Aku ingin sendiri. Mungkin aku mau bicara lagi besok," ucap Yasmine. "Maaf juga, tidak menemui Abi, jika ada mama dan papa, sampaikan maaf ku ini ya, Mi. Maaf juga kalau keinginanku ini membuat gaduh dan membuat kalian kepikiran," sambungnya.


"Inilah gunanya keluarga, Nak," ucap Umi. "Kamu istirahat ya, Umi tahu apa yang kamu rasa. Jadi, jika memang tidak memungkinkan untukmu kembali, katakan saja. Maaf jika Umi mendukung hal yang tidak baik, tapi Umi hanya mendukung untuk kebaikanmu."

__ADS_1


Umi memeluk kembali sang menantu dengan erat sebelum pergi. Menyalurkan kasih sayang agar sedikit saja bisa membuat sang menantu tenang.


__ADS_2