Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 083 # Kesedihan Seorang Ibu


__ADS_3

Nyatanya, semua tidak mudah begitu saja. Kemarin malam setelah ngobrol dengan sang kakak, paginya ia mulai kembali menjalankan aktivitas nya sebagai seorang guru. Namun, pulangnya ia ke rumah orang tua.


Sesuai saran dari Yahya, ia pun izin terlebih dulu pada sang suami. Yang tentu saja langsung di izinkan karena Alfin tak mengerti alasan Yasmine menginap di sana, yang lelaki itu tahu bahwa sang istri tengah ingin bersama orangtuanya.


^^^[Assalamu'alaikum. Al, aku mau izin nginap di rumah ibu,] begitu pesan Yasmine kemarin.^^^


[Wa'alaikumsallam. Silakan Ayang, kabari kalau sudah pulang ya,] jawaban pesan dari Alfin.


Tentu saja tidak ada balasan lain dari Yasmine. Yang jelas ia sudah mendapatkan izin dan itu sudah cukup untuknya. Dan sore ini, ia tengah duduk bersama sang ibu. Kemarin Yahya sudah menjelaskan segalanya pada ibu Radiah dan Ayah Ilyas. Keduanya tentu terkejut dengan apa yang menjadi keinginan anak bungsunya, tapi saat Yasmine menjelaskan segalanya, sebagai orangtua mereka pun hanya bisa diam tanpa membantah.


Orang tua jelas selalu ingin yang terbaik untuk anaknya. Maka dari itu, baik ibu maupun ayah tak pernah membuka suara pasal keinginan sang anak, yang mereka tahu kalau begitu susah menjalani biduk rumah tangga dengan berbagi cinta. Apalagi di sini, putri mereka lah yang menjadi istri ke dua, yang hadir di antara kedua cinta yang menyatu.


Entah apapun alasan sebelumnya, yang jelas sebagai ibu, ibu radiah jelas tahu apa yang di rasakan putrinya.


"Kamu jadi rubah tanggal periksa, Yas?" tanya Ibu pada putrinya yang tengah me nik ma ti sepotong brownis. Anak perempuannya hanya menjawab dengan anggukan. Ya, Yasmine memang ingin merubah jadwal periksa agar tak jadi memeriksakan kandungan dengan sang suami dan madu-nya.


Ibu Radiah menatap sendu anak perempuannya, usianya memang sudah matang. Tapi, di mata ibu, Yasmine tetaplah terlihat masih kecil. Apalagi saat seperti sekarang ini, duduk sila di sofa dengan mulut yang penuh dengan kue, jangan lupakan tangan yang belepotan karena cokelat lumer sebagai toppingnya.


Tentu saja, untuk memiliki cucu dia begitu bahagia. Namun, ia tak pernah menyangka jika putrinya akan menjadi ibu tunggal lantaran statusnya yang kini membelenggu hati sang putri tercinta.


"Kenapa, Bu?" tanya Yasmine yang kini tengah berdiri di hadapan wanita kesayangan dengan alis yang berkerut, lantaran heran melihat ibunya diam terbengong di tempat duduk. Ia baru saja selesai mencuci tangan.


"Sudah, makan brownis nya?" tanya balik ibu.


Yasmine mengangguk, lalu kembali duduk di tempatnya tadi. "Apa, ibu kecewa sama keinginan aku?" tanyanya pelan.

__ADS_1


Melihat ekspresi sang ibu, Yasmine tahu kalau wanita yang sudah melahirkannya itu tengah memikirkan dirinya.


Ibu Radiah tersenyum lebar, lantas menggeleng. "Tidak. Ibu tidak pernah kecewa dengan pilihan kamu. Dari kecil, keinginan kamu selalu ibu dukung, karena semua yang menjadi inginmu adalah bahagia bagi ibu," jawab wanita paruh baya itu.


"Aku nggak mau nangis lagi loh, bu," kata Yasmine dengan memajukan bibir bawahnya.


Ibu Radiah tertawa. "Ibu tidak ingin kamu menangis. Ibu hanya masih tidak mengerti dengan apa yang sedang kamu alami. Dari awal, saat Alfin di minta oleh Alifa untuk menggantikan almarhum Rey saja ibu sudah tidak setuju, tapi ... semua orang menyetujui permintaan Alifa yang memang ada benarnya saat itu," ucapan ibu terhenti.


Sungguh ibu mana yang sanggup jika anak perempuan satu-satunya harus menjadi istri ke dua dan berakhir dengan menjadi janda di usia pernikahan yang masih baru.


"Padahal, ibu pikir kalian berdua akan baik-baik saja walaupun dengan satu imam," sambung ibu.


"Tapi saat kamu datang membawa hati yang cemburu saat itu, ibu sudah menduga kalau kalian tidak akan sanggup hidup bertiga dalam satu atap. Yang ternyata benar, bahkan kini Alifa juga tidak lagi sanggup untuk berbagi."


Yasmine hanya diam menunduk, mendengar apa yang ibunya katakan. Ia juga tak mengerti jika kehidupan pernikahan nya akan seperti sekarang ini.


"Ibu hanya ingin, kamu bicarakan baik-baik. Kamu jelaskan pada Alfin, tanpa harus menjelekkan Alifa. Cari cara agar kalian pisah dengan baik-baik, jangan hancurkan silaturahmi ini dengan satu masalah."


Yasmine masih setia menunduk.


"Jika nanti Alfin tidak mau menceraikan dirimu, maka kembali lagi ke kata sabar Yas," ucapan ibu kali ini membuat Yasmine mendongak menatap sang ibu.


Ia lantas menggelengkan kepalanya, ia tidak setuju. "Keputusan aku sudah bulat bu, Alfin harus setuju. Karena aku nggak mau berada di antara kebahagiaan mereka. Biarkan mereka berdua kembali bahagia, seperti sebelum aku masuk ke dalam bagian mereka.


Ibu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan nya perlahan. Lantas wanita paruh baya itu lantas beranjak dari duduknya dan duduk di sebelah sang putri dan memeluk anak bungsunya itu dengan erat.

__ADS_1


"Anak ibu, anak yang hebat. Kamu kuat, Sayang. Ibu selalu ada untukmu, Nak. Jika nanti kamu ingin menenangkan hati, tolong ajak ibu agar ibu bisa melihat setiap detik hari-harimu selanjutnya."


Yasmine mengangguk di dalam dekapan sang ibu. Ia tak kuasa untuk menahan air mata. Ibunya memang ibu yang hebat.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


Hingga saat waktu periksa tiba, dan Yasmine hanya pergi dengan ibu, ayah, Yahya dan Zahra. Tidak ada sang suami atau madu yang menemani. Demi menjaga hatinya dan hati Alifa yang jelas akan lebih merasa cemburu.


Mereka semua begitu bahagia saat melihat layar monitor, yang menampilkan gambar bayi yang bergerak-gerak di dalam perut.


Begitupun dengan Yasmine, sebentar saja ia lupa jika ia ingin periksa kehamilan hanya dengan sang suami. Bahkan ia sudah menyiapkan hati untuk saat-saat bicara nanti dengan sang suami. Karena besok adalah waktunya bagi Alfin pulang kepada dirinya.


Tapi, sampai hari ini ia masih berada di rumah sang ibu. Ia belum ingin pulang ke rumahnya dan Alfin. Dan kini semua orang yang baru saja pulang dari rumah sakit itu tengah duduk di sofa ruang keluarga. Mereka tengah bahagia dengan apa yang tadi mereka lihat. Walaupun, kata dokter berat bayi Yasmine masih terlalu kecil namun mereka tidak mau membicarakan hal itu. Karena mereka tidak mau Yasmine khawatir yang berlebihan akan kehamilannya.


"Kenapa, belum ketahuan ya Bu. Jenis kelaminnya?" tanya Yasmine penasaran. Ia tengah memandangi hasil USG yang baru.


"Dia mau kasih surprise, Yas," Zahra yang tengah duduk di sebelah sang adik menjawab.


"Iya, ya Kak. Biar kita jadi penasaran," kata Yasmine dengan senyum yang lebar.


Zahra mengangguk, "betul. Pokoknya kamu harus happy. Ibu hamil itu harus selalu happy, ya 'kan Bu?" menantu itu bertanya pada sang mertua yang sama-sama tengah memandangi gambar cucunya.


"Iya," Ayah Ilyas yang menjawab. Ibu pun mengangguk. "Pokoknya anak Ayah nggak boleh sedih, walaupun nanti harus membesarkan anak sendirian, jangan takut. Ada Ayah, ibu dan kakak-kakakmu yang pasti selalu ada untukmu," ujar Ayah Ilyas dengan senyum lebar memandang sang putri.


Namun, saat Yasmine akan menjawab. Terdengar sebuah salam yang membuat semua orang menoleh ke arah suara.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," seseorang mengucap salam dengan nada datar.


__ADS_2