
Masih memandangi benda yang melingkar di jarinya, mengeluarkan air mata saat lagi-lagi sahabatnya begitu baik bahkan sangat baik. Ya, baru saja Alfin menceritakan bagaimana Alifa mengingatkan sang suami bahwa istri ke-duanya belum memiliki cincin pernikahan.
Kini di dalam layar ponsel ada dua wanita yang tengah saling memandang dengan air mata yang menetes ke pipi. Namun bibir mereka sama-sama tersenyum lebar.
Rasanya terimakasih saja kurang untuk di ucapkan Yasmine pada sang madu sekaligus sahabatnya itu. "Apa setelah sekian lama kita bersama, kamu masih belum mengerti aku, Yas?" tanya Alifa.
"Aku mau nagih janji kamu," kata Yasmine tanpa menjawab apa yang di tanyakan Alifa.
Alifa tersenyum. "janji, apa?"
"Tidur bersamaku. Malam ini aku mau tidur berdua sama kamu," ucap Yasmine.
Alifa tertawa. "Boleh, kamu mau ke sini?"
Yasmine mengangguk, lantas ia menoleh ke arah belakangnya. Di mana, di sana ada sang suami tercinta. Tengah tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Tanpa sang istri mengatakan apapun, ia sudah tahu apa yang di inginkan sang istri tercinta.
Alfin lantas mendekat dan menyetujui apa yang jadi keinginan sang istri. Memandang penuh senyum lantas mengangguk. Sontak saja Yasmine langsung melebarkan kelopak matanya dengan bahagia, ia langsung melihat layar ponselnya kembali.
"Tunggu aku, ya. Aku datang!" seru Yasmine dengan senangnya. Ia lantas berdiri dan berputar-putar di tempatnya.
Alfin menghembuskan napas kasar. "Ayang, tolong ingat sama bayi kita," ucapnya mengingatkan sang istri.
Yasmine berhenti dan meringis, ia lantas memeluk erat sang suami sembari mengucapkan terimakasih.
...❤️❤️❤️...
__ADS_1
Betapa bahagianya dia, saat baru selesai makan malam dan mendapati kabar bahagia. Kalau sang sahabat akan menginap dan tidur bersamanya. Ah, rasanya dia begitu senang. Seperti biasa jika Yasmine akan datang, maka dia akan menunggu dengan senyum lebar di teras.
Karena ia yakin, begitu telepon di tutup Yayas-nya jelas akan langsung siap-siap. Ia tahu sekali bagaimana Yasmine, apalagi ditambah sekarang jarak rumahnya dengan rumah Yasmine yang tak terlalu jauh, jadi bisa dipastikan Yasmine akan segera datang.
Benar saja, tak lama setelah Alifa duduk di teras, ia bisa melihat mobil sang suami yang pagi tadi berangkat ke kantor kini kembali lagi ke tempatnya. Biasanya ia akan melihat mobil itu saat sore tiba, seminggu setelahnya. Ini adalah sebuah keajaiban menurutnya.
Alifa lantas berdiri dan menyambut bahagia sang madu dan suami.
"Assalamu'alaikum, Sayang," ucap Alfin saat ia membuka pintu mobil.
"Wa'alaikumsallam, Mas," jawab Alifa. Tak lupa mencium punggung tangan sang suami.
"Yasmine, mana?" tanya Alifa penasaran.
"Sudah basa-basinya. Ayo, masuk." Alifa menggandeng tangan Yasmine dan Alfin mengajak keduanya masuk.
Kini ketiganya sudah masuk dan duduk di sofa ruang keluarga. Alfin yang jujur saja, masih merasa lelah. Pulang kerja mendapati istrinya tengah bermuram durja, lantas harus ekstra sabar menghadapinya. Lalu, di saat harusnya ia istirahat, ternyata masih harus pergi. Kini ia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dan memejamkan mata.
Sementara itu, dua wanita itu tengah duduk bersebelahan dan bercerita. Sesekali Alifa mengerling ke arah sang suami yang terlihat lelah. Namum sayang, dia tidak bisa melakukan apapun, karena ia tak mau Yasmine salah paham.
Mbak Ina terlihat keluar dari kamar tamu yang dulu ditempati Yasmine. Dia mengatakan kalau semua sudah di bersihkan. Lalu, Yasmine dengan antusias menarik tangan Alifa untuk masuk ke kamar. Meninggalkan Alfin yang masih memejamkan mata.
Alfin yang merasa kalau dua wanita kesayangannya sudah pergi lantas membuka mata. Lalu mengembuskan napas kasarnya. "Ya Allaah, begitu ya mereka. Tidak terbayang jika berada di dalam satu rumah dan akur seperti itu, tidur berdua. Lalu, aku tidur sendirian setiap malam," gumamnya merasa lucu.
Lantas, Alfin memilih untuk masuk ke dalam kamarnya dengan Alifa. Meninggalkan lantai bawah yang sudah sepi.
__ADS_1
Sedangkan di kamar lain, Yasmine dan Alifa tengah tiduran berdua. Sudah sama-sama tidak mengenakan jilbab, mereka berdua masih ngobrol asyik. Alifa bahkan kini tengah mengusap perut Yasmine yang sudah terlihat membuncit.
"Sehat-sehat di dalan sana, ya Nak. Mama akan menunggu dengan sabar dengan doa yang selalu Mama langitkan untuk kebaikanmu dan Ibumu."
Yasmine yang tengah tiduran dengan posisi miring, begitu juga Alifa. Ia bisa melihat ekspresi bahagia Alifa saat mengusap dengan sayang perutnya.
"Iya, Mama. Mama juga sehat-sehat ya ... biar bisa menemani perjuangan ibu mengeluarkan aku," jawab Yasmine dengan suara yang di buat-buat seperti suara anak kecil.
Alifa lantas melihat Yasmine. Keduanya saling menatap, lantas tertawa. Namun, setelahnya Alifa mengajak sang sahabat untuk bangun dari tidur dan mengambil wudhu. Keduanya lantas mengaji bersama.
Indah sekali dalam pandangan. Dua istri tengah mengaji bersama, membaca surat Maryam dan surat Yusuf. Dengan suara yang sama-sama indah di dengar. Bahagianya mereka begitu sempurna. Sampai bisa membuat iri siapapun, seandainya dapat menyaksikan keduanya.
Pun sama dengan sang imam. Dia pun tengah mengaji di dalam kamarnya. Melantunkan ayat-ayat suci yang sama-sama indah di dengar telinga. Kendati rasa lelah menerpanya, namun kebiasaan baik itu tentu tidak bisa Alfin tinggalkan begitu saja. Lagipula, jika langsung istirahat ia selalu merasa aneh, kebiasaan baik itu selalu membuatnya merasa kehilangan sesuatu saat tak mengerjakannya.
Lalu, seusai mengaji pria yang memiliki dua istri itu lantas memutuskan untuk turun kembali ke lantai satu. Ia akan mengambil air minum terlebih dulu untuk ia bawa ke kamar, namun saat ia mengerling ke arah kamar istrinya ia dapat melihat jika lampunya masih terang.
Jadi, ia mengurungkan niatnya untuk masuk dapur. Melainkan melangkahkan kakinya menuju kamar yang malam ini di huni dua bidadari kesayangannya.
Tanpa mengetuk apalagi salam, Alfin membuka pintu kamar Yasmine dengan pelan. Dan, betapa terkejutnya ia saat mendapati kedua istrinya sudah tertidur dengan pulas. Ia lantas mendekat setelah menutup pintu. Memandangi dua wajah yang terlelap dengan cantik.
Keduanya tidur dengan posisi miring, saling berhadapan dengan jarak yang lumayan lebar di tengah-tengah mereka. Lalu ide di kepala Alfin muncul. Dengan isengnya ia mematikan lampu terang dan menggantinya dengan lampu tidur. Lalu, dengan perlahan ia naik ke atas ranjang. Memposisikan dirinya dengan nyaman berbaring di tengah-tengah istrinya.
Mengambil tangan istri ke-duanya dan menaruh di dadanya, sehingga ia seolah-olah tengah di peluk dua wanita cantik yang adalah istrinya.
Ia tersenyum, lantas memejamkan mata dan ber-do'a, berharap semoga kebahagiaan selalu menyertai mereka bertiga.
__ADS_1