
Dalam satu mobil, berisi tiga manusia. Mereka tengah dalam perjalanan menuju ke Jakarta. Langsung ke rumah sakit di mana Alifa dan dua bayinya berada.
Taqa yang kini duduk di belakang terus saja menoleh ke arah luar jendela. Sungguh, sebenarnya dia tidak ingin ikut, namun di rumah tidak ada orang. Bahkan sampai ibu Sufi saja ikut ke Jakarta.
Entah ada apa dengan semua orang, sampai sekarang ini pergi ke Jakarta semua, tak tersisa sedikitpun di rumah Yasmine.
"Mas, makasih ya," ucap Yasmine tulus.
Arya menoleh ke arah sang istri yang baru beberapa jam yang lalu ia nikahi. Lelaki itu tersenyum manis, "makasih untuk apa?" tanya balik dirinya.
"Untuk mau menerima diriku apa adanya," kata Yasmine lagi.
Arya mengusap kepala Yasmine yang tertutup jilbab, "sama-sama. Makasih sudah mau menerima aku yang seperti ini, tidak punya apa-apa," katanya.
"Apaan sih," rajuk wanita itu.
Arya tertawa, lantas memperhatikan Taqa dari spion dalam mobil. "Taqa, kenapa, Nak?" tanyanya.
"Aku nggak pengin ikut, Yah," jawab anak tampan itu.
Arya tersenyum, sampai membuat Yasmine menoleh ke arah sang anak. "Memangnya Taqa mau di rumah sendirian, Nenek Sufi saja ikut loh," kata lelaki itu.
"Aku nggak mau ketemu Ayah Alfin, Yah. Dia nggak sayang sama aku," jelas Taqa dengan nada kesal.
"Tidak boleh seperti itu dong, Qa. Mau se-sayang apapun ayah Arya, ayah kandung Taqa tetap saja ayah alfin," begitu jelas Arya.
Taqa mengembuskan napas kasar, lantas menggeser duduknya ke tengah, mencondongkan badan ke arah depan, di mana ada dua manusia kesayangannya.
"Tapi, nanti di sana aku nggak mau pisah dari Ayah, ya," ucap bocah itu lagi.
__ADS_1
Yasmine yang kini tengah melihat sang anak hanya tersenyum, lantas mencubit pelan hidung sang anak. "Tapi nanti, kamu mau ya ... nengok adik-adik kamu," ucapnya.
Taqa menggeleng, "bukan adik, Bu. Maaf," katanya.
Yasmine mengembuskan napas kasar, sampai membuat Arya menoleh. Lelaki itu tersenyum, "sabar Mbak Yas, nanti pelan-pelan saya kasih tahu. In Syaa Allaah, dia akan mengerti sering berjalannya waktu," begitu kata suami baru dari Yasmine.
Yasmine mengangguk, "iya. Mmm, Mas Arya boleh nggak jangan panggil aku 'mbak'," katanya.
"Boleh sekali," Arya menoleh. "Maunya di panggil apa?" sambungnya bertanya.
"Terserah, yang penting bukan mbak," Yasmine tersenyum ke arah laki-laki yang terlihat tampan.
"Taqa," panggil Arya pada anak tampan itu. "Enaknya, ayah panggil ibu dengan sebutan apa?" tanyanya pada sang putra sambung. Demi menghilangkan rasa bosan pada bocah tampan itu.
"Mmm, apa yah?" tanya balik Taqa seraya memegang dagu, seolah tengah berpikir keras. "Ibu aja, kayak aku," sambung Taqa.
Arya tersenyum sekilas, "kalau ayah panggil ibu, berarti ibu panggilnya juga tidak boleh 'mas' dong, tapi ayah. Gimana?" lelaki itu lantas bertanya pada wanita yang masih setia tersenyum ke arahnya dan sang anak.
...----------------...
Tangis sedih terdengar pilu di lorong rumah sakit, tepat di depan ruangan yang tidak membolehkan sembarang orang masuk.
Ibu Radiah, memeluk lama mama Widia. Memberi usapan lembut punggung sang sahabat agar sedikit saja bisa menenangkan, sedangkan dua pria paruh baya hanya bisa duduk dengan wajah sedih.
Sementara ibu Sufi, ia hanya bisa ikut mengusap wanita yang sangat sedih lantaran sang anak yang belum sadar. Kemarin, tiba-tiba saja Alifa pecah ketuban, padahal jadwal operasi masih dua minggu lagi. Akhirnya terpaksa di ambil paksa dua bayi perempuan yang masing-masing berbobot, 1500 gram itu. Yang kini keduanya berada di ruangan khusus untuk bayi.
Selain mereka, kini Taqa dan sang ayah tengah menengok bayi lucu dari luar jendela. Memperhatikan satu tangan mungil yang keluar dari bedong bergerak-gerak, menggapai apapun yang ada.
Dan ... Yasmine yang tengah duduk di sebelah ranjang. Air matanya tak hanya menetes, tapi mengalir deras. Bibirnya terkatup rapat mendapati wajah pucat sang sahabat. Berbagai alat menempel di tubuh kecil perempuan itu.
__ADS_1
Rasanya Yasmine ingin sekali berteriak membangunkan wanita yang dulu pernah selalu ada untuknya itu.
"Lif, ayo bangun ... apa kamu nggak pengin lihat anak-anak kamu," ucapnya setengah berbisik.
"Lisha dan Lisi," ucap Yasmine lagi. "Nama yang lucu, kenapa kamu memberi namaku di akhir nama mereka lif?" tanyanya pada wanita yang masih diam dengan beberapa alat di tubuhnya.
Kendati tak mendapat jawaban apapun, ataupun hanya respon dari sang sahabat. Ia tetap saja berbicara, berharap wanita yang berwajah pucat itu segera sadar.
"Kata mama, kamu sudah mendapatkan nama untuk kedua anak kamu dari lama, apa benar?" tanya Yasmine lagi dan lagi.
"Mama juga bilang, kalau kamu memberi nama Yasmine di belakang nama Lisha dan Lisi karena kamu ingin, keduanya ceria seperti aku."
"Haha," Yasmine tertawa sumbang. "Jangan jadi seperti aku, karena pada kenyataannya ... ceriaku menyimpan sebuah luka, bahagiaku menutupi sebuah derita," katanya lagi.
"Aku tetap ingin, mereka seperti dirimu yang baik, tidak pandai berbohong seperti diriku. Aku adalah pembohong Lif, aku paling pandai membohongi hatiku sendiri, sampai rela pergi meninggalkan cinta demi sebuah rasa aman dan nyaman," dia seolah tak sadar mengatakan segalanya.
"Ah, sudahlah. Aku yakin kamu dengar ini semua, makanya aku mohon Lif, bangun. Jangan buat suamimu cemas, dia sekarang masih terus saja mendoakan kamu di majid sana, bolak-balik ke ruangan anak kalian demi melihat bagaimana perkembangan si kembar."
"Ayolah Lif, bangun. Aku ingin cerita ke kamu, kalau sekarang aku sangat bahagia, aku mendapatkan suami yang begitu baik. Dari awal saja, dia sudah sangat menganggap diriku, semoga dia jadi suami terakhirku ya, Lif."
"Mas Arya benar-benar baik, kamu harus tahu. Kalau pernikhanku kali ini sangat membuatku bahagia. Kamu juga harus doakan aku, semoga ini jadi pernikahan yang terakhir untukku. Supaya aku bisa dengan mudah datang ke rumahmu dengan suami dan anakku, tanpa embel-embel rasa tidak enak."
"Bangunlah, Lif, bangun ...," Yasmine menutup wajahnya dengan dua telapak tangan. Menangis sedih, tak tega rasanya mendapati tubuh mungil sang sahabat tergelatak tak sadarkan diri.
Sampai di mana usapan lembut di punggungnya ia rasa, ia lantas membuka telapak tangannya dan mendongak. "Mas," ucapnya pada sang suami yang tengah tersenyum kepadanya.
"Sabar, jangan menangis di sini," ucap Arya.
Ya, Arya yang masuk ke ruangan itu. Ia tak tega melihat sang istri dari luar kaca, punggung wanitanya bergetar karena tangis. Sampai membuatnya nekat masuk demi untuk menenangkan perasaan Yasmine.
__ADS_1
Arya bahkan langsung membawa Yasmine ke dalam pelukannya, mengusap kepala yang kini berada tepat di depan perutnya. "Sabar, Bu ... jangan terlalu sedih seperti ini, kita doakan saja Mbak Alifa ya, biar cepat sadar," ucapnya.
"Mohon kepada Allaah," sambung pria tampan yang kini tengah di perhatikan oleh seseorang dengan senyuman dan anggukan kepala.