Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 078 # Lebih Dari Sakit


__ADS_3

Sinar mentari pagi begitu indah, cerahnya membuat tubuh menghangat seketika. Yasmine, perempuan cantik itu tengah berdiri memperhatikan para anak-anak yang tengah mengikuti senam pagi. Ia tersenyum saat anak didiknya terlihat lucu. Maklum saja, yang ia didik masih kecil-kecil jadi gerakannya belum terlalu sempurna.


Ia berdiri di gawang pintu kelas satu, kendati usia kehamilannya sudah empat bulan, namun ia masih ingin tetap mengajar. Karena dari rekan gurunya, semua yang hamil mulai cuti saat usia kehamilan memasuki 36 minggu. Jadi, ia pun akan mengikuti jejak sang rekan.


Hingga akhirnya selesai dan semua anak-anak masuk ke dalam kelas. Ia pun mulai mengajar, dari mengajak semua anak berdoa dan memulai pelajaran.


Setiap hari, yang di rasakan perempuan manis itu memang selalu senang saat bersama dengan anak-anak didiknya. Ada rasa bangga tersendiri saat anak-anak mulai mengerti tentang berhitung dan membaca. Dari itulah ia lebih suka mengajar dari pada profesi yang lainnya.


Saat selesai ia menerangkan soal pelajaran yang ia ajarkan, lantas wanita hamil itupun memberikan soal untuk di kerjakan anak-anak. Dan saat itu, saat ia duduk memperhatikan setiap anak yang tengah duduk menunduk, sibuk dengan soal-soal mereka. Ia mulai kepikiran akan sang buah hati yang kini sudah mulai terasa pergerakannya.


Ia tersenyum miring sembari mengusap perutnya, tak terbayang dengan apa yang akan ia lakukan. Hingga tak terasa semua anak-anak selesai mengerjakan tugas dan kini waktu untuk istirahat sudah tiba. Dia lantas membawa setumpuk buku untuk di koreksi di ruangan guru.


"Bu Yas, biar aku bantu."


Yasmine mengentikan langkahnya dan menoleh, di belakangnya ada bu Zahra yang tengah tersenyum dan berjalan mendekat ke arahnya. Yasmine pun sama, ia tersenyum. "Terima kasih, enggak usah, aku bisa kok."


"Mmm, Bu Yas," kata Bu Zahara yang sepertinya akan mengatakan sesuatu.


"Ada apa?" tanya Yasmine, tangannya tengah pegal tapi sang rekan malah menggantung kalimatnya.


"Gini, aku 'kan pernah melihat suamimu. Terus, tidak sengaja juga pas aku main ke tempat tanteku, kok aku melihat suami kamu di sana ya, mana sama perempuan lagi, apa itu rumah adiknya?" tanya Bu Zahra dengan sangat hati-hati. Sebenarnya sebagai sesama teman tentu saja dia tidak ingin jika sampai Yasmine di khianati, maklum saja Bu Zahra tidak tahu-menahu tentang rumah tangga Yasmine.


"Ekhem," Yasmine berdehem. "Iya, itu rumah adiknya. Oh, ya ... aku masuk dulu ya, pegal," katanya dengan senyum meringis lantas meninggalkan Bu Zahra di tempatnya dengan bingung. Tentu saja ia akan menghindar dari pernyataan-pernyataan semacam itu. Intinya, jika yang ditanyakan adalah seputar suami dan rumahtangganya maka, dia akan mengalihkannya segera.

__ADS_1


Namun ternyata, Bu Zahra justru malah mengikuti Yasmine sampai di meja perempuan hamil itu. Bu Zahra berdiri di depan meja. Ia lantas menoleh ke kanan ke kiri memastikan kalau tidak ada orang lain lagi selain mereka. Ia lalu memajukan badannya saat menurutnya aman.


"Maaf, bu Yas. Aku hanya nggak mau kamu sampai di selingkuhi. Soalnya tante aku bilang, lelaki itu punya istri dua," ucap Bu Zahra lagi dengan pelan, serupa bisikan.


Yasmine menatap Bu Zahra tanpa berkedip, ia sungguh bingung akan menjawab apa. Sampai pada akhirnya ia menepuk keras lengan rekannya itu. "Hahaha," Yasmine tertawa. "Tante kamu rumahnya yang mana? Itu bukan istrinya, itu rumah adiknya, aku biasa kok ke sana," sambungnya dengan tawa yang sangat-sangat sumbang.


"Oh, gitu. Ya Syukur sih kalau memang adiknya. Sebagai teman aku hanya tidak mau kamu merasa tersakiti." Bu Zahra mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tapi, aku lihatnya mesra loh sama perempuan yang kamu bilang adalah adiknya itu," sambung bu Zahra yang ternyata masih belum percaya.


Yasmine menghela napas nya kesal. Lantas perempuan itu tak perduli dengan apa yang tengah menjadi penasaran bagi sang rekan. Ia bahkan justru malah kesal dan menyuruh Bu Zahra duduk di kursinya karena dia akan mengoreksinya pekerjaan anak didiknya. Namu alih-alih duduk Bu Zahra malah tetap di sana dan membantu mengoreksi.


...β€οΈπŸ’œβ€οΈπŸ’œβ€οΈπŸ’œβ€οΈ...


Hingga saat sore hari, saat ia sudah pulang ke rumahnya karena memang ia juga sudah pamitan pada sang mertua kalau dia sepulang mengajar akan pulang ke rumah sendiri. Ia masih memikirkan apa yang manjadi sebab sang rekan penasaran. Ia tak tahu, bagaimana reaksi semua rekan jika mereka tahu kalau dia hanyalah istri ke dua dari suaminya dan madu dari sahabatnya.


Selalu saja merasa salah, hingga akhirnya ia membawa tubuhnya untuk beranjak dari duduknya dan mengambil kunci mobil. Ia dengan sangat nekad keluar rumah dengan mengendarai mobilnya sendiri, karena sang sopir sudah pulang ke rumah orangtuanya.


Tanpa berpamitan pada mbak Fifi yang tengah sibuk di belakang, ia meninggalkan halaman rumah dengan mobilnya.


Jalanan sore di ibukota cukup ramai, membuatnya harus memelankan laju kendaraannya. Tak apa, pikirnya. Yang penting sampai dengan selamat.


Hingga akhirnya ia sampai di sebuah rumah mewah tanpa pagar, dengan sebuah mobil yang sudah terparkir rapi di sana.


Yasmine lantas keluar dari mobil dan mulai melangkahkan kakinya menuju rumah itu. Yang ia lakukan pertama adalah mengucap salam, namun tak ada jawaban. Akhirnya ia pun melanjutkan langkahnya ke dalam, sembari memanggil-manggil nama seseorang.

__ADS_1


Tetapi, panggilannya sama sekali tak ada yang menyahut. Jadi ia putuskan untuk mencari seseorang yang ingin ia tanyai pendapat di kamarnya. "Mungkin di kamar," gumam wanita itu sembari melangkahkan kakinya menaiki satu-persatu anak tangga. Ya, dia datang ke sana untuk meminta pendapat tentang masalah yang tengah membelit pikirannya.


...πŸ–€πŸ’œπŸ’œπŸ–€πŸ–€πŸ’œπŸ’œπŸ–€...


Sementara itu di sebuah kamar. Ternyata perempuan yang kemarin sore menangis itu sore ini tengah menangis juga. Bedanya kali ini tangisannya di dengar oleh sang suami yang akhirnya membuat tangisnya semakin pecah di dalam dekapan hangat sang belahan jiwa.


"Jika, aku tidak bisa memberikanmu anak, seperti Yasmine, apa kamu masih akan menyayangiku, Mas?" tanya Alifa di dalam dekapan sang suami.


"Ssst, kamu ngomong apa, Sayang. Kamulah yang tercinta, kamu sudah menemaniku se-lama ini. Jadi, bagaimana mungkin kamu menanyakan hal itu?" Alfin mengusap punggung sang istri yang tengah menangis sedih di dalam pelukannya.


"Jika kamu di suruh memilih, kamu akan memilih siapa, Mas?" pertanyaan Alifa membuat Alfin bingung. Ia tak menjawab, ia hanya ikut mengeluarkan air matanya karena ia ikut sedih saat sang istri tercinta terlihat begitu menyedihkan.


Tadi saat ia baru pulang, ia begitu heran lantaran


dua hari ini tak mendapati sang istri menyambut kepulangannya. Lelaki itu lantas langsung masuk guna mencari keberadaan istrinya itu. Dan ia begitu terkejut saat mendapati Alifa tengah menangis di atas sajadah dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Lalu, lelaki itu pun mendekat dan bertanya kenapa sang istri yang biasanya terlihat begitu tenang sampai mengeluarkan air mata. Dan Alifa pun memberitahu, bahwasanya ia merasa cemburu akan kehamilan Yasmine, ia juga mengatakan bahwa ia takut sang suami akan meninggalkannya lantaran dirinya yang belum bisa memberikan keturunan.


Hati Alfin begitu sakit saat mendengar apa yang di katakan sang istri pertama. Ia tahu seperti apa rasanya, namun ia bisa apa? Lelaki itu hanya bisa menenangkan agar sang istri pertama tak terlalu banyak beban dengan memikirkan hal-hal yang menurutnya sangat tidak mungkin.


"Jawab, Mas. Kamu akan pilih siapa?" tanya Alifa lagi saat sang suami begitu lama diam membisu.


Alfin menarik napasnya dalam-dalam, ia lantas memejamkan matanya dibarengi tetesan bening kristal yang keluar. "Aku akan tetap bersamamu, Sayang," jawab Alfin sembari mengeratkan pelukan dan mencium lama puncak kepala sang istri pertama.

__ADS_1


__ADS_2