Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 055 # Jangan Menyesal


__ADS_3

Hari-hari menunggu giliran itu terasa sangat lama. Apalagi saat kita ingin memberitahukan hal yang indah. Ah, rasanya lama sekali. Membuat Yasmine yang kini tengah berdiri di balkon kebingungan akan kegiatan.


Ia tengah memperhatikan halaman dengan ponsel yang melantunkan ayat-ayat suci. Namun seketika ia ayat suci itu terhenti, menandakan ada notifikasi. Yasmine segera membukanya. Bibirnya langsung tersenyum lebar, bahagia nya bukan kepalang. Ada pesan dari suaminya.


[Assalamu'alaikum, Ayang. Bagaimana, sudah sembuh 'kan?] pesan masuk dari Alfin.


Padahal hanya di tanya seperti itu, tapi rasanya Yasmine begitu bahagia. Karena jarang sekali jika tengah bersama Alifa, Alfin mengingat dirinya.


^^^[Wa'alaikumsallam, suami bucinku. Alhamdulillah, berkat doa baik semua orang. Kamu gimana?]^^^


Balasnya basa-basi. Ia tak mau saja pesan ini cepat berakhir.


[Alhamdulillah.] ternyata Alfin hanya membalas satu kata saja. Yang langsung membuat hati Yasmine kembali galau. Ia mengembuskan napas kasarnya. Kembali menaruh ponsel di atas meja dan memutar lagi ayat-ayat penyejuk hati.


Begitu lah yang di rasakan Yasmine. Ia tahu kenapa Alfin tidak lagi membalas dengan kalimat panjang. Karena, setiap di rumah jarang sekali suaminya itu membuka ponsel, terkecuali sudah sangat penting harus di balas saat itu juga.


...πŸ’žπŸ’žπŸ’ž...


Sedangkan di rumah Alifa, Alfin langsung menutup ponsel dan berjalan ke kamar. Tadi, ia izin turun untuk mengambil minum. Jujur saja, untuk menjaga perasaan kedua istrinya sangatlah sulit. Ah, seandainya bisa bersama dalam satu rumah tanpa adanya rasa cemburu. Jelas ia akan lebih merasa tenang. Tapi, sayangnya setiap perempuan memiliki perasaan cemburu yang bahkan kadang sangat besar, walaupun kadang juga tak terlihat. Dan ia harus memahami itu.


Dengan segelas air di tangannya, ia masuk ke dalam kamar. Namun ia tak mendapati sang istri pertama di sana. Alfin mengerutkan keningnya, di mana Alifa? Ia lantas kembali turun, mencari keberadaan sang istri. Dari ruang keluarga tidak ada, di kamar tamu juga tidak ada. Di taman apa lagi. Lalu ia mencoba mencari di depan rumah, dan di sana ia sedikit mendengar sang istri tengah berbicara dengan seseorang.

__ADS_1


"Mbak In, maaf aku mau tanya. Baru sempat soalnya menanyakan ini," begitu ucap Alifa yang bisa di dengar Alfin.


"Kenapa, Mbak Lifa?" tanya balik mbak Ina.


Alfin yang mendengar dua perempuan tengah berbicara serius itu lantas mencuri dengar dari balik pintu. Karena ia begitu penasaran, tumben sekali sang istri meminta maaf untuk sebuah tanya.


Dari tempatnya itu, ia bisa melihat Alifa dan mbak Ina yang berdiri saling berhadapan. Alfin semakin penasaran, sepertinya benar-benar serius.


"Seperti ini, kemarin sebelum Mas Alfin sakit, waktu selepas saya dan mas Alfin shalat. Saya tidak sengaja mendengar jawaban mbak Ina, yang menurut pendapat saya sangat tidak enak di dengar. Ada apa? Kenapa mbak Ina seperti itu pada Yasmine?" tanya Alifa yang baru kali ini memiliki kesempatan untuk menanyakan hal itu.


"Maaf, Mbak Lifa. Jujur saja, saya tidak suka dengan kedatangan mbak Yas sebagai istri dari Mas Alfin. Saya memang bukan siapa-siapa, tapi saya yakin dan tahu bagaimana sakit hatinya Mbak Lifa." jawaban mbak Ina ternyata sangat jujur. Ia tak membohongi apa yang ia rasakan terhadap Yasmine.


Sementara itu, Alifa yang ada di hadapan mbak Ina menggelengkan kepalanya. Lalu mengatupkan kedua tangannya di depan dada. "Maaf, Mbak Ina. Saya tahu, mbak Ina begitu sayang pada saya. Tapi, tolong hargai Yasmine. Karena mau seperti apapun, dia sekarang juga istri dari Mas Alfin. Dan perlu Mbak Ina ketahui, Mas Alfin menikahi Yayas karena paksaan dari saya." ujar Alifa. Ia merasa kesal dengan asisten rumah tangganya itu yang menurutnya sudah keterlaluan. Namun, jika mengingat betapa sayangnya mbak Ina terhadap dirinya, ia juga harus memakluminya.


"Tolong, sekali lagi. Jangan sampai Yasmine merasa tersakiti saat berkunjung ke sini. Apalagi hanya karena sikap kurang baik Mbak Ina." sambung Alifa dengan tegas.


"Maaf, Mbak Lifa. Saya janji, saya juga akan minta maaf sama Mbak Yasmine." ujarnya sembari menunduk.


Alifa mengembuskan napas kasar. Lantas mengangguk, setelahnya tanpa pamit dan basa-basi, ia segera pergi dari sana. Yang ia tahu Alfin tengah menunggunya di kamar, padahal suaminya itu pun baru masuk kembali ke kamar setelah menguping pembicaraan yang ternyata membuatnya semakin merasa kasihan akan pendapat orang terhadap Yasmine.


Perempuan cantik itu lantas masuk ke dalam kamar, ia bisa melihat sang suami yang tengah berdiri di depan jendela kaca yang tak tertutup gorden. Menatap kosong pada satu titik. Namun di jari telunjuknya sebuah tasbih digital semakin menambah angka.

__ADS_1


Alifa tersenyum dan mendekat, memeluk dari belakang tubuh hangat sang suami. Alfin yang tahu semakin membawa tangan istrinya agar semakin mendekap erat dirinya. Lalu, ia membalik badannya. Menangkup wajah Alifa dan menatap netra cantik istrinya itu. "Dari mana?" tanyanya pura-pura tidak tahu.


"Ada urusan sama mbak Ina, Mas." jawabnya jujur.


"Aku sedih, Mas." kata Alifa lagi.


"Sedih, kenapa?" Alfin semakin mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri. Menikmati embusan napas pujaan hati.


"Ternyata, selama ini mbak Ina tidak menyukai Yayas. Aku semakin yakin kalau Yayas pasti tidak nyaman selama di sini. Dan itu semua gara-gara aku. Aku yang membawanya ke rumah ini dengan status yang tidak di sukai kebanyakan orang. Dan sekarang, aku baru menyadarinya, Mas. Aku pikir_" kalimat panjang yang akan ia ucapkan terhenti saat benda kenyal mendarat di bibirnya.


Alfin semakin memperdalam, tak membiarkan istri tercintanya itu menyesali apa yang telah ia pinta. Karena kini, nyatanya ia mencintai keduanya. Dan tidak sekalipun menyesali yang sudah terjadi. Ia bahkan tidak ingin terpisah dari keduanya, ia selalu berusaha untuk berbagi seadil-adilnya. Walaupun kenyataannya, entahlah.


Alifa menatap netra sang suami, Alfin pun balas menatap netra cantik sang istri setelah wajah keduanya tak lagi menyatu. "Jangan menyesali apa yang sudah kamu pinta. Biarkan sekarang aku yang bertanggungjawab atas segala yang sudah terjadi. Aku akan berusaha agar kalian tidak mendapat ucapan ataupun perkataan yang tidak enak di dengar, apalagi sampai menyakiti hati." ujar Alfin pada sang istri.


"Apa, aku menyakitinya, Mas?" tanya Alifa.


Alfin menggeleng. "Kamu menyelamatkan nya." jawab Alfin.


Alfin lantas mendekap erat sang istri. "Mbak Ina hanya tidak suka, saat wanita shalihah idolanya ada yang menyaingi. Itu bentuk kasih sayangnya padamu, Sayang." kata Alfin.


Alifa mengangguk di dalam dekapan sang suami. Ya, suaminya benar. Tapi, rasanya ia masih sedih saat ada orang yang tak menyukai sahabat yang ia pinta untuk menjadi madu-nya.

__ADS_1


__ADS_2