
Alifa benar-benar bingung, sampai malam sudah menyapa sang suami badannya masih panas. Tak turun sedikitpun. Namun, saat di ajak ke dokter dia tidak mau.
"Mas, Dokter Guna sedang tidak praktek di kliniknya, jadi tidak bisa di panggil. Kita ke sana saja ya, ada dokter lain yang jaga," kata Alifa membujuk suaminya.
"Aku mau, shalat Lif." Alfin tak menghiraukan apa yang di katakan sang istri. Ia justru malah beranjak dari tidurnya dengan susah payah.
"Fardhu saja, Mas. Sunah nya boleh di tinggal dulu," ujar Alifa lagi mengingatkan.
"Semampuku, kamu shalat sendirian dulu tidak apa ya," kata Alfin sembari berdiri dan berpegangan pada tangan mungil sang istri.
"Tidak apa, Mas," ucap Alifa sembari menuntun sang suami.
Wanita itu dengan sigap mengelap tubuh suaminya, dan menggantikan bajunya. Lantas, membiarkan sang suami wudhu, setelahnya ia hanya membuntuti Alfin dan menyiapkan sajadah untuk lelaki itu shalat.
Sedangkan dia hanya bisa memperhatikan sang suami dengan diam, ia duduk di atas ranjang agar dapat melihat dengan jelas. Terlihat dari matanya, jika sang suami shalat dengan badan yang bergetar, menggigil kedinginan. Padahal AC sudah ia matikan. Namun ia benar-benar bangga pada lelaki itu, di tengah rasa sakitnya ia tetap melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Namun, ada rasa sedih saat melihat sang suami seperti itu. Air matanya menetes, "mungkinkah, Mas?" gumamnya lirih. Bahkan mungkin hanya ia saja yang mendengar.
Setelah sang suami rampung dari shalatnya, lantas kini giliran dirinya yang ke kamar mandi guna mengambil air wudhu. Begitu selesai ia pun kembali, masih ia dapati di atas sajadah sang suami yang tengah memanjatkan doa, menengadahkan tangan dengan memejamkan mata. Doanya terlihat sangat khusyuk, sampai membuatnya tersenyum samar.
Lantas, dilakukannya shalat isya tanpa imam, ia juga berdoa untuk kesembuhan sang suami, dari badan sampai hatinya. Pun dengan hatinya yang masih merasakan sakit karena perpisahan dirinya dengan sang sahabat tercinta.
Begitu selesai berdoa, lelaki itu terlihat mengambil Al-Qur'an dan menyandarkan punggungnya di kaki ranjang, di liriknya sekilas sang istri dengan memberikan senyum yang kaku, mungkin karena sembari menahan sakit yang ada di tubuhnya.
Alifa hanya menganggukkan kepala sembari beranjak dari duduk bersimpuh nya, ia lantas melepas mukena dan keluar kamar membawa serta ponselnya. Ia akan mengabari dokter jaga selain dokter Danu yang notabenenya adalah dokter langganan bagi Alfin, suaminya.
__ADS_1
Kembali ke dalam kamar, lelaki itu masih serius membaca ayat-ayat suci. Sampai di mana dia selesai dan mencium lama Al-Qur'an nya sembari meneteskan air mata saat ia mengingat bagaiman perasaannya seminggu ini.
Air mata lelaki itu menetes, sudah dengan susah payah ia mencoba untuk melupakan, tapi pada kenyataannya, rasa itu sudah untuk di lupa.
"Ya Allaah, maafkan hamba," ucapnya. "Sayang, maaf jika aku menyakitimu juga, karena aku tak bisa mengontrol hatiku yang masih merasa kehilangan. Karena pada kenyataannya, kehilangan sosok yang sudah tak lagi bisa tersentuh itu lebih menyakitkan, dan juga susah untuk di ikhlaskan," begitu gumam lelaki itu.
...----------------...
Hingga saat sudah sangat larut, sang dokter baru tiba. Karena banyak pasien dan tidak bisa di tinggal. Alifa harus membangunkan sang suami yang sudah kembali tidur dengan memeluk Al-Qur'an di dadanya.
Bahkan sebenarnya, untuk membangunkan sang suami tadinya ia tak tega. Namun, jika membiarkan sang suami tidur tanpa di periksa, itu jelas akan membuat sang suami tak lekas sembuh. Jadi, mau tak mau ia harus membangunkannya.
Dengan pelan dia membangunkan sang suami, dan memapah untuk naik ke atas ranjang agar tak sempoyongan, begitu bangun. Lantas, wanita itu membiarkan sang suami di periksa oleh sang dokter.
Alifa hanya diam dan duduk di sofa, sementara teman dari dokter Guna memeriksa suaminya dan menanyakan beberapa hal. Sesekali ia hanya ikut membenarkan saat dokter tampan dan muda itu bertanya padanya.
"Mas," panggilnya.
"Hm," jawab Alfin yang tetap memejamkan mata.
"Makan lagi ya," bujuk Alifa.
Alfin menggeleng, "kamu saja, aku tidak melihat kamu makan. Aku nggak mau kalau kamu juga sampai sakit," begitu jawaban sang suami yang masih kini tengah menatapnya dengan mata yang merah.
"Aku sudah makan, Mas. Hanya memang tidak di sini," kata Alifa. "Kamu mau di panggilkan Umi?" tanyanya.
__ADS_1
"Tidak, jangan beritahu mereka, ini hanya sakit biasa. Kata dokter tadi juga akan segera sembuh. Aku tidak mau membuat mereka lebih khawatir," kata Alfin sembari menggenggam tangan Alifa.
"Panas banget, Mas. Aku tebus obatnya ya," ucap Alifa.
"Suruh orang saja, jangan pergi sendiri," kata sang suami lagi.
Alifa mengangguk, "ya, sebentar ya." katanya sembari beranjak dari duduknya meninggalkan sang suami yang menganggukki apa yang ia katakan.
Wanita itu menuruti apa kata sang suami, ia lantas menyuruh seseorang untuk membelikan obat sesuai resep yang di berikan dokter tadi, setelahnya ia lantas menunggu sembari duduk di ruang tamu.
Ia tengah membuka ponselnya. Membalas pesan-pesan dari sang mama. Juga ada pesan lain seperti dari ustadzah komplek perumahan nya yang biasa mengajak dirinya untuk mengikuti pengajian.
Namum seketika setelah membalas pesan-pesan, ia teringat akan pesan terakhirnya dengan sang sahabat. Sampai akhirnya ia membuka kembali roomchat itu. Namun alangkah terkejutnya ia saat mendapati di bagian atas ada tulisan online.
Kelopak mata wanita itu melebar, ia benar-benar bahagia. Lantas, di ketiknya sebuah pesan untuk sang sahabat tercinta.
...----------------...
Sementara itu di tempat lain. Dia tengah bahagia karena bisa kembali bertemu dengan kasur empuknya, yang lumayan lama ia tinggalkan. Perempuan yang tengah hamil itu lantas tiduran setelah shalat isya, ia juga tengah memeluk guling kesayangan yang dulu selalu menemaninya setiap malam. Bahkan mungkin sekarang juga, mulai kini teman tidurnya akan kembali ke sebuah guling.
Perempuan itu lantas tersenyum, ia lantas mengusap perutnya yang sudah mulai membesar. "Sehat-sehat, Sayang ...," ucapnya.
"Besok kamu harus ibu bawa pergi lagi," sambungnya. "Tenang, besok bantal kesayangan ibu akan ibu bawa, biar bisa menemani kita," ucapnya melucu.
Perempuan itu benar-benar senang, karena tadi keinginannya sudah ia bicarakan pada sang ayah, juga sang ibu. Dan ia benar-benar bahagia saat lagi-lagi keinginannya di kabulkan, entah harus dengan apa ia berterimakasih pada dua manusia yang selalu ia repotkan itu.
__ADS_1
Sampai di mana ponselnya bergetar, yang menandakan ada sebuah pesan masuk. Wanita hamil itu pun lantas mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas dan membukanya. Rupanya ada pesan dari sang kaka ipar yang menanyakan bagaimana dengan dirinya.
Tentu saja ia langsung membalas pesan itu, dan di mana saat ia tengah mengetik sebuah balasan, ada notifikasi di jendela ponsel. Bahwasanya ada pesan yang baru masuk, dan pesan itu dari Alifa-nya, Alifa sahabat dan mantan madu-nya.