Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 112 # Rasa yang Sesungguhnya


__ADS_3

Waktu dini hari di ibukota masih di guyur hujan, padahal sudah dari semalam berkah dari langit itu turun. Dan itu membuat suasana semakin terasa dingin. Sekarang ini baru menunjukan pukul 02 : 30 WIB. Namun, seseorang yang harusnya bisa menjadi teman hangat tak di ketahui keberadaan nya.


Semalam saat baru pukul 11:00 WIB, ia mendapati sang suami berada di balkon tengah menyendiri. Dan saat ini, ia kembali bangun tanpa sosok tampan disebelahnya. Ia benar-benar bingung, tiga bulan terkahir ini, keadaan hati semakin terasa dingin. Tak lagi sehangat waktu dulu.


Kendati sang suami terlihat biasa saja padanya, namun ia bisa merasakan kalau itu semua hanyalah sebatas kewajiban. Akhir-akhir ini, bahkan lelaki yang sudah bersamanya sepuluh tahun itu sering sekali sakit. Dan ia tak tahu harus berbuat apa.


Wanita cantik itu duduk memeluk lutut di malam yang hening nan dingin. Kendati pendingin ruangan tak ia nyalakan, namun sejuknya udara yang ada mampu membuatnya menggigil.


Akhirnya, ia mengembuskan napas kasar dan menurunkan kakinya dari ranjang. Udara dingin seperti ini membuatnya tak bisa mandi. Jadi, ia hanya akan mencuci muka dan shalat.


Dalam bersimpuh nya wanita itu menangis, sedih rasanya. Saat yang ia harapkan adalah sebuah kebahagiaan, ternyata berujung kesedihan. Ia mengadukan segala kesedihannya di sana, di atas sajadah. Sampai saat di rasa sudah puas, ia pun beranjak demi melihat sang suami yang ia tahu berada di mana.


Di sana, di sebuah kamar yang dulu pernah ditempati tiga manusia sekaligus. Saat masih ada rasa cinta dan rasa kehangatan, tak seperti saat ini, penuh dengan rasa hambar. Garam dalam cinta telah habis, rasa di dalamnya pun turut aneh, dan itu semua membuat wanita yang kini memperhatikan lelaki yang berdiri di depan jendela itu meneteskan air mata.


Ya, di sana suaminya. Berdiri si depan jendela melihat hujan yang masih turun. Selama ini ia tahu jika lelaki itu selalu saja pindah tempat, namun selama ini ia juga pura-pura tidak mengerti dan paginya ia akan bertanya seolah-olah dia b o d o h.


Perlahan kaki itu melangkah, mendekat ke arah lelaki yang masih mengenakan sarung dan koko, serta lengkap dengan kopiah di kepalanya. Bahkan, saat ia melewati ranjang, ia masih bisa melihat sajadah di atas permadani, yang bisa ia pastikan jika sang suami pun baru saja melaksanakan shalat.


"Jika saja aku bisa mengembalikan keadaan, aku tidak akan menyatukan kalian," ucapnya tanpa melihat ke arah Alfin. Wanita itu menatap luar sana.


Alfin menelan ludahnya kasar, ia menoleh karena ia benar-benar terkejut saat tiba-tiba saja sang istri sudah di sana. "Maksud kamu, apa?" tanyanya tak mengerti.

__ADS_1


Ya, dia memang tengah di sana, menyendiri setiap selepas shalat malam. Jujur saja rasa yang ia punya, semakin hari semakin menyiksanya. Ia sudah mencoba biasa saja, kembali bersikap baik pada wanita yang dulu pernah ia bawa untuk bahagia mengarungi rumah tangga. Tapi setelah hadirnya cinta pertama dalam hidupnya dan tiba-tiba saja menginginkan pergi, ia merasa kehilangan segalanya. Semua rasa yanga ada di dalam dada ikut pergi bersamaan dengan hilangnya semua tentang dia, si cinta pertama.


"Bukan aku menyesali karena akhirnya aku tak lagi kamu cintai. Tapi, aku menyesal karena aku, kamu jadi seperti ini. Apa aku salah, jika aku ingin suamiku menunaikan janjinya," ucap Alifa yang sangat merasa sedih. Ia belum melihat sang suami, masih setia menatap air hujan di luar sana yang sepertinya semakin deras saja.


Alfin terdiam, ia hanya mengembuskan napas kasar yang di akhiri dengan istighfar.


"Jika memang kamu tak bisa bersamaku, pergilah, Mas. Cari cinta sejati-mu," ucap Alifa lagi dengan sedih.


"Maksud kamu apa, Sayang? Kamu habis mimpi apa?" tanya Alfin tak mengerti. Apa-apaan istrinya, di saat ia tengah mencoba dan terus mencoba untuk bisa kembali dalam satu cinta, sekarang istrinya malah menyuruhnya mencari cinta sejati yang sudah tak lagi bisa ia cari.


Meskipun hatinya sangat menginginkan untuk mengetahuinya keberadaan dia dan anak yang dia kandung, tapi Alfin tentu tidak akan melakukannya, karena kini mereka tak lagi halal.


Walaupun jujur saja, di dalam dada Alfin, ia merasakan rasa sakit yang begitu teramat sangat.


Alfin menatap sedih wajah sang istri yang tiga bulan ini menjadi istri satu-satunya.


"Kamu pikir aku tidak tahu, kalau kamu sakit karena memikirkan dia, kamu sering banget menyendiri di balkon, kamu selalu melanjutkan tidurmu di tempat ini, aku tahu, Mas," kata wanita itu dengan rasa bersalahnya.


"Seandainya aku tahu, jika rasa cintamu akan kembali sebesar ini, aku tidak akan mau saat dulu di jodohkan dengan dirimu," sambung Alifa.


"Aku pikir, kamu benar-benar mencintaiku. Karena begitu lembutnya sikapmu padaku. Tapi ternyata aku salah, itu bukanlah cinta, melainkan hanya kewajiban mu menghormati seorang istri."

__ADS_1


"Kamu ngomong apa, jelas-jelas ak--"


"Tidak, Mas. Tidak." wanita itu menggelengkan kepalanya. "Kamu tidak bisa membohongi hatimu sendiri, begitu juga dengan hatiku," sambung Alifa.


"Terus kamu maunya apa, sekarang aku sudah berada di sisimu. Kamu pernah bertanya bukan, dan aku juga pernah menjawab, kalau aku akan selalu bersamamu selamanya," kata Alfin akhirnya.


"Kamu tahu, jika di tanya siapa yang akan aku pilih diantara wanita yang sudah begitu baik menerima keberadaan ku dengan waktu yang lama, dan wanita yang aku cinta walaupun kehadirannya baru aku terima. Aku jelas akan memilih wanita pertama. Kamu tahu kenapa?" tanya Alfin. Alifa menggeleng tak mengerti. "Karena aku tidak mau, dia berada di masalah besar jika aku tetap di sisinya, namun berpisah denganmu," sambung lelaki itu.


Alifa tersenyum, "akhirnya kamu mengakui segalanya, Mas. Cinta memang menyulitkan Mas, aku mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu--"


"Dan kamu sudah mendapatkan aku," sela Alfin.


"Aku hanya mendapatkan ragamu, tidak dengan hatimu, Mas."


Alfin mengangguk, "maaf, jika memang aku menyakitimu."


Alifa menggeleng, "kamu maupun dia tidak pernah menyakitiku, aku yang salah."


"Tidak ada yang salah dengan cinta," kata Alfin tak mau kalah.


Keduanya lantas diam. Menunduk tak ada yang ingin melanjutkan apa yang ingin mereka katakan. Inilah Alfin, dia memang selalu bisa bersikap baik pada Alifa, karena menurutnya wanita lembut seperti istrinya itu harus di penuhi dengan kasih sayang.

__ADS_1


Alifa lantas mendongak dan pergi dari sana. Melangkahkan kaki dengan gamang, rasanya ia tengah patah hati dan rasanya sesakit itu.


__ADS_2