
Bibirnya tersenyum miring saat mengingat tadi, saat selesai belanja dan ibu menyodorkan sebuah kartu yang katanya milik sang anak dari sang ayah.
"Ayah," gumamnya sembari mengelus perut. "Semoga nanti dia bisa tahu, kalau kamu bahagia dengan wanita ini, Nak. Wanita yang akan menjadi ibu sekaligus ayah buat kamu," sambungnya sembari tertawa lirih.
"Kamu tahu, Al. Aku selalu berharap kalau nanti pada saat kamu di pertemukan dengan dia, kamu juga akan membawa teman untuknya. Agar kamu bisa membiarkan aku dengan anakku tanpa di ganggu waktu."
Bukan tak rela jika dia harus membiarkan anaknya dengan sang ayah. Hanya saja, pada kenyataan yang ada hatinya jelas akan rindu, dan untuk ikut bersama jelas tidak akan bisa.
Itulah kenapa dia selalu berdoa agar sang sahabat juga segera mendapat anugerah berupa hamil. Agar ia lebih bahagia lagi.
"Kabulkan doa seorang ibu ini, Ya Allah," ucapnya sembari mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajah.
Sekian bulan ia menunggu saat ini, menunggu membeli perlengkapan untuk menyambut persalinan. Walaupun nantinya tidak tahu seperti apa, yang jelas calon ibu baru itu sudah sangat tidak sabar untuk dua bulan berikutnya.
Kini dia sedang duduk di atas kasur dengan mengusap baju kecil yang bahannya super lembut, bibirnya masih saja tersenyum saat membayangkan sosok malaikat kecil yang tertidur dengan nyenyak menggunakan baju yang ia pilihkan.
Bahkan, ia bertanya pada bayi yang ada di dalam perutnya itu. "Sayang, kamu suka 'kan sama pilihan ibu?" tanyanya pada perut buncit.
"Kamu nendang-nendang, berarti kamu suka. Makasih, Nak. Jadilah teman hidup ibu ya," ucapnya lagi.
Sampai ibu hamil itu tertidur di sana, memeluk baju kecil anaknya. Di dalam kamar nuansa biru berawan yang menenangkan. Menyelami mimpi bertemu bahagia, bersama sang anak.
...----------------...
Hingga saat di mana waktu semakin cepat. Kini kandungan Yasmine sudah memasuki minggu ke 38, perutnya sudah sangat buncit dan ibu kesayangannya sudah ada di sana dari kemarin.
Padahal, Yasmine inginnya sang ibu datang minggu besok, tapi yang namanya orangtua, jelas tidak akan tega, bukan. Membiarkan anaknya yang tengah hamil besar sendirian. Terlebih dengan status seperti Yasmine.
Dua minggu ini juga, Yasmine sudah tak lagi mengajar ngaji. Ya, setelah waktu itu dia memang jadi selalu mengajar ngaji di musala kampung sebelah. Namun tidak lama, hanya satu jam saja dam itupun waktunya siang, tidak sore seperti dulu.
Maklum, dari rumahnya ke mushala bisa di bilang lumayan jauh. Apalagi kalau yang jalan kaki ibu hamil seperti Yasmine.
__ADS_1
"Bu, ayah sudah ibu telepon?" tanya Yasmine pada ibu yang kini tengah berkutat di dapur membuatkan dirinya makanan.
"Sudah," jawab ibu tanpa menoleh ke arah sang anak. "Kenapa?" tanya balik ibu.
"Enggak, takutnya ayah nggak makan kalau ibu nggak suruh." Kata Yasmine sembari mendekat ke arah sang ibu yang kini tengah menggulung telor, sosis dan mayonaise dengan kulit lumpia.
"Sebentar lagi sampai malah, Yas," kata ibu yang membuat sang anak tak mengerti.
"Maksudnya bu?"
"Assalamu'alaikum!" suara dari luar membuat Yasmine dan mbak Fifi yang memang ada di dapur saling pandang.
"Itu dia, ayah," kata ibu.
Yasmine melebarkan kelopak matanya dan tersenyum senang, ia lantas menjawab sembari berjalan cepat menyambut ayahnya itu.
"Wa'alaikumsallam, Yah!" teriak Yasmine sembari berlalu.
Sementara itu di depan rumah ayah meringis melihat anaknya berjalan dengan cepat. "Ya Allah, itu kenapa di bawa lari-lari?" tanyanya takut.
Yasmine hanya tertawa. "Ayah cucumu rindu," katanya sembari memeluk tubuh pria tua itu.
Ayah Ilyas memeluk tubuh putrinya itu, di kecupnya lama kepala sang putri. Sampai tak terasa air matanya menetes. Melihat putrinya dengan perut besar hidup sendirian, dan melihat dia begitu sebahagia itu mendapati kedatangannya.
Ah, seandainya saja ini bukan keinginan dari anaknya. Ia jelas akan kecewa sekali pada pria yang sudah menceraikan anak kesayangannya itu. Tapi sayang, inilah jalan yang di inginkan sang anak. Jadi, ia hanya bisa menemani kemauan sang anak agar bahagia walaupun tanpa sosok seorang suami.
Ayah dan anak itu lantas duduk di sofa ruang tamu. "Bagaimana cucu kakek ini, sudah mau keluar belum?" tanya ayah Ilyas pada perut besar sang putri.
"Sudah Kakek, aku sudah pengin ketemu ibu," jawab Yasmine.
Ayah Ilyas tersenyum, "nanti, kalau mau keluar jangan membuat ibu kesakitan ya Nak, biar ibu kuat. Jangan lama-lama di jalan, kalau sudah pengin keluar, keluar aja, ya. Jangan buat kakek sama nenek khawatir, ok."
__ADS_1
Yasmine meneteskan air mata saat ayahnya mengusap perut besarnya sembari menunduk. Namun bibir wanita itu tersenyum. Ia tahu, kenapa sang ayah datang sekarang. Ayahnya jelas sama khawatirnya seperti ibu yang tidak akan bisa jika datang di saat waktu yang mepet.
Bahkan begitu sampai ibu selalu menemaninya setiap saat dari bangun tidur sampai tidur pun dengan dirinya. Pun dengan mengajar ngaji, ibunya pasti ikut menemani.
'Ah, ibu ... ayah ... sayang kalian,' batin Yasmine.
...----------------...
Hingga saat malam tiba, saat ia tengah tertidur pulas tiba-tiba saja ia merasakan sakit perut seperti saat pagi tadi.
Ya, tadi pagi ia juga sempat merasakan mulas, tapi berhubung kata dokter jika belum terlalu sering tak perlu khawatir, jadi ia tak terlalu memikirkan. Namun, saat ini, rasa itu sangat terasa dan setelah berhenti rasa itu kembali muncul.
Wanita itu duduk dengan diam, ia menoleh ke arah sang ibu yang tertidur dengan pulas. Tak mau menganggu sang ibu tercinta, akhirnya ia hanya merasakan sakit itu dengan diam dan mengucap istighfar. Lagipula ia takutnya itu hanya sebentar dan nanti tak lagi terasa.
Dia juga tak terlalu cemas, dan berusaha untuk santai. Karena begitu yang ia tahu kata dokter. Sampai di mana rasa itu hadir lagi dan lagi. Wajah yang tadinya santai kini tak begitu santai. Dahinya berkerut seiring sakit yang ia rasa.
Di usapnya perut besar itu, "Sayang ... apa kamu sudah tidak sabar ingin bertemu ibu?" tanyanya.
"Yas." ibu terbangun dan duduk. "Kamu kenapa?" tanya ibu. "Ya Allaah, kamu pucat banget, apa sudah mulas?" taya ibu beruntun.
Yasmine tersenyum, "iya bu, mulas nya sudah. Tapi aku takut kalau ini hanya kontraksi palsu, kata dokter--"
"Ya Allah, sudah kayak gini kok bisa-bisanya kamu nggak bangunin ibu." Ibu lantas beranjak dan mengambil jilbabnya juga jilbab sang anak. Memakaikannya langsung ke Yasmine.
"Ibu jangan panik," Yasmine mengatakan itu sembari membenarkan jilbabnya.
"Enggak! Ibu mau panggil ayah," kata ibu.
"Yah!" panggilnya dari kamar. Ibu lantas keluar kamar dan memanggil degan teriak-teriak sang suami. Sampai yang pertama datang bukan ayah melainkan mbak Fifi. Lantas, setelahnya ayah datang dengan tergopoh-gopoh, berlari dari kamar tamu yang ada di bawah.
"Ada apa, Bu?" tanya ayah.
__ADS_1
"Yasmine!" kata ibu terputus. Tangannya menunjuk ke arah kamar di mana Yasmine berada.