Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 118 # Taqa Pulang


__ADS_3

Taka masih di gendong neneknya, karena tangisannya yang belum berhenti. Sementara Yasmine hanya bisa ikut meneteskan air mata karena sang anak tidak mau m e n y u s u padanya. Sementara Zahra hanya bisa mengusap lengan Yasmine dan Ayah ikut menenangkan sang cucu.


Sedangkan Yahya, ia tengah mengantar Alfin ke parkiran.


"Makasih, Mas, sampai sini saja," ucap Alfin. Ia berhenti tepat di samping mobilnya.


"Hati-hati bawa mobilnya, sudah lega 'kan, bertemu dengan Taqa."


Alfin mengangguk, "sangat lega. Jika saja bisa, aku ingin bersama dengan Taqa selamanya. Tapi, aku hanya bisa berdoa untuk segala kebaikannya. Biarkan ibunya yang mendidiknya penuh cinta, penuh kasih sayang. Aku yakin, suatu saat tanpa aku memperkenalkan diriku, dia akan tahu seperti apa ayahnya," katanya yakin.


Sekarang giliran Yahya yang mengangguk. "Iya, aku juga yakin akan itu, Al. Yayas tidak mungkin menyuruh Taqa untuk lupa siapa ayahnya."


"Titip Taqa, Mas," kalimat seorang ayah itu membuat Yahya tersenyum sedih.


"Doakan saja, karena aku pun jauh darinya. Kamu tahu sendiri 'kan, jarak dari tempatku ke sini lebih jauh," ucap Yahya sedikit tersenyum. Ia tahu seorang ayah itu jelas tengah sangat sedih.


"Doaku, pasti akan terucap di setiap saat untuk Taqa, Mas. Bahkan untuk ibunya, agar dia selalu sehat, sabar dan bahagia selalu. Supaya bisa menemani anak kita sampai besar, sampai dia menemukan seseorang yang bisa membuatnya bahagia."


Percayalah, kalimat yang di ucap Alfin begitu terasa menyakitkan. Alfin seperti tengah memberikan berlian untuk seseorang.


Yahya menepuk pundak sang adik ipar. "Sudah, jangan memikirkan hal yang tidak perlu. Aku berharap kamu bisa lebih menyayangi Lifa, adikku yang satu itu, sampai dia tak terlalu memikirkan sahabatnya," katanya. "Oh, ya. Apa kamu akan membawa Alifa bertemu dengan Yasmine?" sambung seorang kakak itu lagi.


Alfin menggeleng. "Aku hanya akan memberitahu, kabar bahagia ini. Selagi Yayas belum mau bertemu, aku tidak akan memaksa, dan aku akan bilang pada Lifa."


"Percayalah, nanti, tidak akan lama, semua akan kembali seperti saat sebelum ini. Gaspol, buat adik untuk Taqa, ibunya pasti akan senang."


Alfin tertawa. "Semoga, Mas. Aku juga berharap seperti itu."


"Ya, sudah. Pamit ya, Mas. Assalamu'alaikum," sambung Alfin pada Yahya.


"Wa'alaikumsallam, hati-hati, Al."


Alfin mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Lantas, roda mobilnya pun perlahan berputar dan meninggalkan pelataran tempat parkir rumah sakit.

__ADS_1


Yahya masih di sana, tersenyum sedih saat mendapati lelaki baik seperti Alfin harus menderita karena berpisah dengan anaknya. Ia juga teringat akan Alifa dan Yasmine. Dulu, mereka begitu dekat, sampai lelaki itu tak pernah menyangka jika keduanya akan seperti ini, berjauhan. Walaupun rasa sayang keduanya masih sama besar, namun, karena status yang pernah mereka dapat, membuat keduanya saling tak enak hati.


Lantas, setelah di rasa puas. Lelaki 36 tahun itu pun memutar tumit menuju ruangan perawatan sang adik.


...----------------...


Akhirnya bayi itu tenang. Ia sudah kembali tidur di pangkuan sang nenek. Sedangkan ibunya masih melihat dengan sedih sang anak tercinta. Perempuan itu mendongak ke arah sang kakak ipar. "Kak," panggilnya pelan.


Zahra menunduk, "ada apa?" tanyanya dengan suara pelan juga.


"Apa aku salah, karena permintaan ku, aku jadi memisahkan seorang anak dengan ayahnya," katanya dengan wajah sedih.


"Ssssttt, semua sudah berlalu. Jangan lagi di pikirkan. Sekarang, tugas kamu adalah memikirkan Taqa, bukan memikirkan kesalahan," ucap Zahra dengan bijak. Karena menurutnya, sekarang bukan waktunya untuk mengingat kesalahan yang lalu.


Yasmine mengangguk, ia lantas memeluk wanita yang cantik dan selalu ada untuknya itu.


Lalu, tak lama setelahnya. Yahya sampai di sana, ia membuka pintu dengan pelan, dan tersenyum setelah mendapati sang keponakan yang sudah tidur kembali.


"Iya, sampai membuat ibunya nangis," kata ibu memberitahu.


"Anteng ya, Ganteng. Nanti ketemu Ayah lagi kalau kamu sudah bisa tahu segalanya. Bagaimana keadaannya," ucap Yahya sembari mengusap pipi mulus bayi itu.


"Sudah boleh pulang katanya, bu," ucap Yahya lagi.


"Nanti, nunggu dokter anak dulu," ayah yang mengatakannya.


Yahya mengangguk, lantas pria itu mendekat ke arah sang istri dan adiknya. "Sudah jangan sedih, nanti juga terbiasa."


Yasmine mengangguk, "pengin peluk," katanya.


"Ya Allaah, sudah melahirkan masih aja manja," kata Yahya, namun tetap saja, sang adik ia peluk.


Pelukan hangat itu lantas di tambah oleh Zahra dan ayah Ilyas yang mendekat. Sementara ibu, hanya bisa melihat dengan senyum yang lebar.

__ADS_1


...----------------...


Akhirnya, kini bayi Taqa sudah berada di dalam kamarnya. Ia tengah menyerap sumbernya dengan lahap dari ibunda tercinta. Di kamar bernuansa biru bermotif awan.


Yasmine tengah ditemani kakak ipar cantik dan ustadzah Ami juga Gina. Sedangakan Arya ada di luar bersama ibu, ayah dan Yahya.


Ya, baru saja Bayi Taqa sampai di rumah, namun tamu sudah menunggu di teras. Beruntungnya mbak Fifi sudah pulang lebih dulu, jadi bisa beres-beres dan menyiapkan makanan untuk menjamu mereka. Karena, tadinya ada para ibu-ibu juga yang datang. Namun, karena menunggu Yasmine dan bayinya tak sampai-sampai, akhirnya mereka pun kembali ke rumah masing-masing tanpa bertemu. Mungkin akan kembali esok hari.


"Lapar banget dia," ucap ustadzah Ami.


"Iya, lihat dia kayak gitu lucu ya, Ustazah," sambung Gina. "Bibirnya itu loh."


Yasmine tersenyum, "padahal aku malu loh, punyaku yang tadinya jeruk jadi melon gini di lihat sama kalian," katanya jujur.


"Tidak usah malu, 'kan sama-sama perempuan," ujar Zahra.


"Iya, Yas. Di panggilnya siapa ini, Yusuf?" tanya ustadzah Ami. Pasalnya tadi dia baru saja bertanya tentang nama anak Yasmine.


"Boleh, terserah. Aku sih panggilnya Taqa," kata ibu daro bayi itu.


"Ya Allaah, namanya bagus. Semoga jadi anak yang shaleh ya, Nak," kata Gina. "Oh, ya, Mbak Yas," sambungnya yang mengingat sesuatu. Membuat Yasmine menaikkan alisnya seolah bertanya apa. "Itu, yang di bungkus kertas kado warna biru, kado dari A' Arya ya," kata gadis itu sembari menunjuk tiga kado yang tadi di bawa oleh mereka.


"Ya, Allaah ... kenapa mesti repot-repot. Kalau mau nengok, datang aja nggak usah bawa gituan," kata Yasmine. "Tapi, makasih ya."


"Ciee, siapa itu Arya?" tanya Zahra.


"Temen yang ngajar juga, Kak," jawab Yasmine manyun.


Ustazah Ami tertawa, "calon Ayah buat baby Taqa."


Yasmine manyun, sedangakan Gina dan kakak iparnya malah tertawa. "Tidak apa-apa loh, Mbak Yas. cocok, Duda sama janda," ucap gadis itu, yang semakin ke sini semakin akrab dengan janda beranak satu itu.


Yasmine tersenyum menggelengkan kepalanya. Dalam hatinya berbisik. 'Tidak, tidak untuk saat ini, besok, atau kapanpun. Terkecuali aku memang benar-benar membutuhkan sosok seorang ayah untuk Taqa,' mata ibu satu anak itu menatap bayi tampan yang masih setia menyesap air s u s u nya, ia tersenyum, seolah tengah berbicara pada sang anak.

__ADS_1


__ADS_2