Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 149 # Maaf


__ADS_3

"Kenapa dia nggak bangun-bangun, Mas?" tanya Yasmine pada sang suami. Wanita itu kini balas memeluk sang suami setelah melepas genggaman tangannya dari tangan sang sahabat.


"Sabar, Sayang ... jangan sedih seperti ini, jujur saja aku ikut sedih," ucap sang suami yang tak tega rasanya mendapati sang istri begitu sedih, sampai emosinya meledak-ledak saking rindunya dia pada wanita yang masih terbaring lemah.


"Gimana aku nggak sedih, Mas. Wanita baik itu sudah nggak perduli sama aku. Dia sudah jahat dan nggak mau lagi sama aku," kata Yasmine lagi.


"Sayang, coba lihat itu," Arya menunjuk sesuatu yang ia lihat. Yasmine lantas mendongak, "apa?" tanyanya pelan. Arya memajukan dagunya, yang mana membuat sang istri menoleh ke arah belakangnya.


Kelopak matanya melebar, "M-mas, jari Lifa bergerak." ujar Yasmine seraya membalik badan dan segera menekan tombol yang ada untuk memanggil dokter.


"Lif," panggilnya dengan senyum yang lebar, walaupun jejak air mata masih begitu terlihat di pipinya.


Selain jari yang bergerak, perlahan kelopak mata itu mengerjap, sampai akhirnya terbuka sedikit-demi sedikit. "Lif, kamu bangun. Ya Allaah, terimakasih," ucap Yasmine penuh syukur.


Dokter pun datang dengan Alfin yang ikut masuk, tentu saja dia juga penasaran dengan keberadaan dokter yang tiba-tiba tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruangan sang istri.


Dokter mendekat, memeriksa keadaan Alifa. Sementara Yasmine di ajak mundur oleh sang suami. Alfin pun terdiam di belakang dokter, kendati dia sangat penasaran, namun demi kebaikan sang istri ia rela diam di sana.


"Al, Lifa sadar," ucap Yasmine dengan senangnya pada Alfin.


Alfin mengangguk, "alhamdulilah, kamu tidak bohong 'kan Yas?" tanya balik dirinya yang jujur saja masih tak percaya.

__ADS_1


"Nggak, aku nggak bohong. Dia tadi membuka mata," ujar Yasmine lagi. "Ya, 'kan Mas, kamu juga lihat 'kan?" Yasmine menoleh ke arah belakang melihat ke arah sang suami.


"Iya, Sayang. Alhamdulillah, mbak Alifa sudah sadar," Arya mengangguk membernarkan.


Alfin lantas mendekat ke arah sang dokter, sedangkan Yasmine dan Arya masih di tempatnya. Terlihat dari tempat berdirinya Yasmine dan sang suami, kalau dokter mulai melepas satu persatu alat yang ada di tubuh wanita itu.


Yasmine mendongak ke arah sang suami, "Mas," ucapnya. Arya memeluk sang istri, "kita keluar sebentar ya, mungkin ada yang mau di katakan dokter dan mas Alfin," ajak lelaki itu.


Dengan terpaksa, Yasmine menurut. Padahal dia ingin sekali memeluk sahabatnya itu. Tapi, tak apa, demi kebaikan sang sahabat juga bukan.


...----------------...


Dokter keluar, kini, hanya ada sepasang suami istri yang saling menatap. "Alhamdulillah kamu sudah sadar, Sayang," ucap Alfin pada sang istri.


"Lama, aku bahkan hampir putus asa karena-mu," jawab sang suami. "Aku benar-benar bahagia, terimakasih sudah berjuang untuk bayi kembar kita," sambungnya. Pria itu tengah duduk dan tangannya menggenggam serta sesekali mengecup tangan lemas sang istri.


Air mata Alifa tiba-tiba menetes, "apa mereka baik-baik, saja?" tanyanya hampir tak terdengar.


Alfin mengangguk, "maafkan aku, Sayang," tiba-tiba kata itu keluar dari mulutnya. Apalagi saat mengingat perbincangan tak enak sesaat sebelum sang istri melahirkan secara operasi.


"Aku yang minta maaf, Mas. Tolong maafkan aku, yang tidak sempurna ini," begitu jawab sang istri.

__ADS_1


Alfin menggelengkan kepalanya, "tidak, aku yang harusnya minta maaf, tolong ampuni setiap salah, dan kata-kata yang keluar, Sayang," katanya.


"Sesakit itu ya, Sayang ... sampai habis koma sebulan lebih kamu masih mengingatnya," sambung Alfin.


Alifa menggeleng, "aku koma se-lama itu?" tanya balik dirinya.


"Apa yang kamu katakan padanya, Al?" suara Yasmine terdengar sangat penuh dengan rasa penasaran.


Alfin lantas menoleh, mendapati sang mantan berdiri di sana dengan dahi berkerut, bertanya-tanya. "Kamu nggak nyakitin dia, 'kan?" tanya Yasmine lagi.


"Yayas," ucap Alifa dengan mata berkaca-kaca. "Aku rindu kamu," begitu sambungnya seraya menatap sendu sang sahabat.


Perhatian Yasmine beralih ke wanita yang masih terbaring, bedanya kini sudah tak ada alat-alat yang menempel. Lantas dengan langkah pelan dan bibir yang tersenyum, wanita itu berjalan ke arah ranjang tersebut. "Lifa," ucapnya.


Alfin mengembuskan napas, lantas dengan perlahan ia mundur agar Yasmine bisa mendekat ke arah sang istri.


"Hai, akhirnya kamu sadar juga. Nggak mau 'kan pasti kamu, kalau aku marah-marah sama kamu," begitu kata Yasmine saat sudah berdiri tepat di samping sang sahabat.


"Takut ya kamu, kalau aku bawa Lisha dan Lisi ke rumah aku." sambung Yasmine seraya memeluk sang sahabat.


Dua wanita yang sama-sama cantik itu lantas menangis bersamaan, antara bahagia dan terharu. Saking lamanya tak bertemu, sampai berpisah karena keadaan dan kini akhirnya merkea kembali dipertemukan.

__ADS_1


Tak lama setelah dua sahabat itu berpelukan, saling pandang, hingga akhirnya semua orang datang. Alifa lantas di pindahkan terlebih dulu ke kamar perawatan agar mudah. Tentu saja diikuti semua orang, tak terkecuali. Sampai dua bayi mungil itupun di bawa ke sana.


__ADS_2