Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 059 # Sudah Bersama Sejak Lama


__ADS_3

Begitu sampai di rumah, Alfin langsung meminta sang istri mengupas mangga yang mangkel dan membuatkannya sedikit bumbu pedas. Entahlah, kenapa tiba-tiba ia ingin memakan makanan yang biasanya paling dia hindari.


"Cabainya mau berapa? Satu saja kali ya?" tanya Alifa pada sang suami yang berdiri di sebelahnya.


"Dua deh, Sayang," jawab Alfin. Alifa menurut.


Melihat mangga yang sudah di potong dengan sambal yang terlihat menggugah selera membuat Alfin tak sabar untuk memakannya. Dengan duduk di lantai balkon, lelaki itu memakan cemilan malam yang membuat sang istri meringis melihatnya.


"Apa tidak asam, Mas?" tanya Alifa.


"Hm," Alfin menggeleng. Mencocolkan potongan mangga ke dalam sambal dan hap, terdengar kriuk-kriuk di mulut. Padahal wajah pria itu terlihat merah karena kepedesan.


"Mau minum, Mas?" tawar Alifa.


"Boleh," jawab Alfin. Alifa lantas menyodorkan segelas air yang tadi ia bawa. Memberikannya pada sang suami.


...πŸ’žπŸ’žπŸ’ž...


Satu mangga dengan sambal habis dimakan oleh Alfin. Kini bahkan pria itu tengah menyandarkan punggungnya di teralis besi balkon. Kakinya selonjor lurus. Sedangkan Alifa melihat sang suami dengan senyum merekah dan menggelengkan kepala. Heran sekali pada pria yang menurutnya tingkahnya tengah aneh.


"Kok, aku jadi suka makanan yang aneh ya, Sayang," ucap Alfin.


Alifa mengangguk. "Iya, apa jangan-jangan ...," ucapannya menggantung.


"Jangan-jangan apa, Sayang?"


Alifa menggeleng, "tidak. Bukan apa-apa."


Alfin lantas mendekat dan mengambil tangan sang istri yang ada di pangkuan. "Ada, apa? Ceritakan padaku, Sayang. Praduga apa yang kamu punya? Biasanya feeling kamu selalu benar," ucapnya sembari menatap wajah ayu sang istri.

__ADS_1


Alifa sedikit tertawa. "Tidak ada, Mas. Aku hanya berpikir mungkin lidah kamu keseleo. Jadi, sekarang berbalik menyukai makanan asam dan pedas."


Alfin menggeleng. "Aku yakin, bukan itu yang tengah ada di dalam benak kamu. Tapi, tidak apa, semoga pradugamu baik ya?"


"Aamiin, aku selalu berdoa dan menduga hal-hal yang baik. 'Kan tidak boleh berprasangka buruk," ucap Alifa.


Alfin lantas memeluk erat sang istri. Walaupun ia tengah kegerahan juga rasa pedas masih terasa di lidah. Namun, semua itu ia sisihkan demi menenangkan perasaan sang istri. Ia yakin, Alifa tengah memikirkan apa yang ia pikirkan.


Hingga saat malam, saat sang istri sudah terlelap ia turun dari ranjang dan kembali berdiri di balkon. Ia masih terbayang saat berada di dalam mobil. Raut wajah istri keduanya menyiratkan sebuah kekhawatiran.


"Kalau aku hamil, gimana, Lif?" pertanyaan istri ke duanya saat tadi dalam perjalanan pulang selalu ia ingat. Terlebih raut wajahnya begitu terlihat serius, membuatnya berpikiran kalau pertanyaan itu nyata bukan hanya berandai-andai.


Ia sempat melihat dari spion dalam mobil, dan dari saat itu hatinya merasa bahagia. Berharap kalau semua itu nyata. Harapan yang selama ini ia dan Alifa inginkan akan terjawab, walaupun lewat rahim istri ke dua. Ia pun janji dalam hati, 'Aku tidak akan mem-beda-bedakan keduanya. Walaupun salah satu dari mereka hamil.'


Alfin lantas membuka ponsel, ia tengah merindukan Yasmine. Dan satu-satunya cara adalah dengan melihat fotonya. Foto yang ia ambil dari profil yang ada di salah satu sosial media sang istri. Foto yang lain sebenarnya ada, seperti foto yang dikirim Yasmine dari ponselnya. Namun entah kenapa Alfin lebih suka melihat foto istri keduanya yang satu itu.


Foto dengan latar belakang masjid besar, dengan jilbab panjang berwarna hitam dan baju berwarna cokelat. Bibirnya tersenyum lebar, tangannya menunjukan bentuk love kecil ke hadapan kamera. Perlahan Alfin perbesar gambar itu, karena ia tak sengaja melihat titik kecil di belakang gambar Yasmine. Kelopak matanya melebar saat ternyata di sana ada dirinya. Menunduk seperti tengah memandangi ponsel.


"Astaghfirullah, ini 'kan saat aku ke sana untuk mengantar umi ke pengajian," ujarnya lagi. Pria itu lantas tersenyum, saat sebelum ia dan Yasmine kenal ternyata dia sudah ada bersama wanita cantik itu di dalam profil sosial medianya.


"Seperti inikah yang dinamakan takdir?" tanyanya lagi. "Yas, kamu harus tahu ini," sambungnya. Yasmine memang tak pernah mengganti foto profilnya sejak lama. Dan sejak lama semua akunya satu gambar, semua gambar gadis manis itu dengan latar belakang masjid besar yang ada di ibukota.


Ah, rasanya Alfin ingin segera bertemu dengan istri kekanak-kanakannya itu. Ingin bertanya dan memberitahu.


...πŸ’žπŸ’žπŸ’ž...


Di Rumah Lain


Yasmine tak bisa tidur, ia terlalu memikirkan bagiamana caranya untuk mengatakan kebahagiaan ini pada semua orang. Terutama pada Alifa.

__ADS_1


Membicarakan kembali dengan ibu tentu tidak bisa melalui telepon. Karena ia perlu menggenggam bahkan memeluk sang ibu agar perasaan khawatirnya hilang. Ya, jujur saja Yasmine memang merasa takut. Kalau ternyata Alifa akan merasa tersaingi, karena seikhlas-ikhlasnya manusia, rasa iri itu pasti ada.


Perempuan yang hampir berusia 30 tahun itu tengah mengerucutkan bibirnya kesal. Duduk di sofa dengan televisi yang menyala. Sekarang ini, ia ingin sekali menghubungi sang suami. Mengatakan keraguan dan membicarakan apa yang ingin ia katakan.


Tapi sayang, itu tidak mungkin bukan. Akhirnya perempuan itu hanya bisa memandangi foto wajah Alfin yang ada di ponselnya. Sampai akhirnya ia terlelap di sana. Dengan memeluk tampilan slide gambar sang suami dan dirinya.


...πŸ’žπŸ’žπŸ’ž...


Seusai mengajar, wanita cantik itu meminta sang supir untuk pulang ke rumah sang ibu. Tentunya sudah meminta izin terlebih dahulu pada sang suami. Dan begitu sampai, ia langsung berjalan masuk ke dalam rumah. Meninggalkan pak supir yang bahkan belum memikirkan mobil dengan benar.


Gadis itu selalu berjalan dengan terburu-buru, membuat sang ibu yang menyambutnya melebarkan kelopak mata dan menghembuskan napas kasar.


Yasmine yang menyadari itu hanya bisa berhenti mendadak dan nyengir lebar. "Lupa," katanya.


"Kebiasaan. Sini duduk," ajak ibu.


Kedua wanita cantik itu lantas duduk di sofa. Yasmine langsung merebahkan badannya di sofa dan menaruh kepalanya di paha sang ibu.


"Ada apa, Yas? Sampai harus banget buru-buru," tanya sang ibu sembari mengusap pipi Yasmine.


"Nanti bu, aku napas dulu," katanya.


Ibu terkekeh. "Siapa suruh cepat-cepat," ucap ibu. "Mbak! Tolong ambilkan minum ya." perintah ibu pada asisten rumah tangga yang baru, pengganti mbak Fifi.


"Biar cepat sampai, bu. Ayah mana?" ujar Yasmine yang lantas menanyakan sang ayah lantaran tak terlihat keberadaannya.


"Di rumah pak RT. Ada acara syukuran," jawab ibu.


"Silakan, Non, Bu." sang asisten rumah tangga menaruh dua gelas di meja.

__ADS_1


"Makasih, Mbak," kata ibu.


Yasmine mengangguk. "Aku mau mengatakan tentang semalam bu," ucap Yasmine. Lalu Ia menceritakan segalanya pada sang ibu, seperti apa obrolan yang akhirnya ia hampir keceplosan dan menanyakan dengan iseng pada sahabatnya itu. Yang akhirnya ia mendapat jawaban yang membuatnya terharu.


__ADS_2