Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 114 # Tujuh Bulanan


__ADS_3

Bibitnya tersenyum lebar, hatinya bahagia. Bagiamana tidak, jika saat ini, di depannya begitu banyak anak-anak yang tengah berbahagia karena ia membagikan bingkisan dan sedikit uang. Anak-anak panti itu benar-benar terlihat ceria, mereka saling berbisik dan memegang amplop dengan erat. Jangan lupakan tangan yang bolak-balik membuka boks berisi nasi dan makanan ringan. Tak lupa dengan membandingkan milik yang satu dengan yang lain.


Ah, itu semua membuat wanita yang hamil tujuh bulan itu tersenyum semakin lebar, bahkan bahunya sedikit terguncang.


Ya, Yasmine baru saja mengadakan acara tujuh bulanan. Ia di dampingi ayah dan ibu, juga kakak juga kakak iparnya yang datang ke rumahnya semalam. Wanita yang semakin hari semakin cantik itu tak bisa berkata-kata pada keluarganya yang selalu ada untuknya.


Awalnya, dia hanya akan mengundang anak yatim saj, sebagai tanda syukur. Tapi siapa sangka, sang orangtua datang dan menyuruh mbak Fifi agar mengundang tetangga dan anak pantai, dan Yasmine lantas mengundang para ibu-ibu di belakang komplek perumahannya untuk ikut doa bersama.


Jadi, sekarang di depan rumahnya masih begitu banyak orang. Ramai sekali, ngobrol dengan berbagai suara. Jangan lupakan ustadzah Ami yang selalu ada di sebelahnya. Lalu, Yasmin juga mengundang Arya dan Gina.


"Malah di sini," ucap Ibu yang baru berdiri di sebelah sang putri.


Yasmine menoleh ke arah sang ibu. "Masih kangen, Bu," ucapnya sembari memeluk lengan ibu Radiah.


"Mau Ibu di sini, saja?" tanya Ibu pada putrinya. Sebenarnya ia sangat ingin menemani anak bungsunya itu, tapi sang anak malah menolak. Ia hanya ingin, kedua orangtuanya datang nanti saat usia kandungannya sudah memasuki bulan ke sembilan.


Yasmine menggeleng, "jangan sekarang. Kelamaan. Kasihan ayah, aku nggak mau Ayah kekurangan kasih sayang dari ibu," katanya dengan senyum yang lebar. Jelas-jelas bukan itu alasannya.


Ibu mengangguk, "iya. Anak ibu yang paling tua 'kan memang manja sama ibu," jawab ibu tak mau kalah.


Yasmine tertawa. Lalu, ia mengajak ibunya itu untuk berkenalan dengan para ibu-ibu sebelum semua orang terlanjur pulang. Begitu juga dengan Arya dan Gina. Ia juga mengenalkan ibunya.


"Oh, ini ibunya Mbak Yasmine. Ya Allaah, MaSyaa Allaah, masih cantik sekali ya, seperti Mbak Yasmine," kata Gina saat wanita hamil itu mengenalkan sang ibu.


"Terimakasih, Nak Gina. Nak Gina apalagi, masih kinyis-kinyis," begitu kata ibu yang langsung membuat Gina tersenyum malu.


Sedangkan Arya hanya sekedarnya saja, namun ia lantas ngobrol dengan ayah dan Yahya dan para lelaki lainnya.

__ADS_1


Hingga akhirnya semua orang telah pergi, tinggallah Yasmine, ustadzah Ami, Arya Gina dan keluarganya saja di sana. Di sofa ruang tamu.


"Suasananya, seperti tengah lebaran ya," ucap Gina melanjutkan obrolan.


"Iya benar Gin, seperti saat halal bi halal di mushala sana ya," lanjut ustadzah Ami sembari menunjuk arah di mana ada mushala yang tak jauh dari sana.


"Ih, Ustadzah mah biasanya juga ke masjid bareng sama Ustad Rizal," kata Gina lagi yang membuat Yasmine tertawa.


"Ustadz Rizal tuh orangnya gimana sih, Mbak Gina?" tanya Yasmine sengaja. Ia memang paling suka menggoda teman barunya itu.


"Baik, tampan, sopan, yang baik-baik lah pokoknya," jawab Gina serius.


Zahra yang juga duduk di sebelah Yasmine lantas memeluk dan berbisik pada sang adik ipar. "Kalau yang lagi ngobrol terus sama Mas Yahya itu siap?"


Netra Yasmine lantas beralih ke arah Arya yang kini tengah melebarkan senyum sembari mengangguk saat Yahya mengatakan entah apa padanya.


"Oh, aku pikir itu Ustaz Rizal," kata Zahra lagi. Yasmine menggeleng.


Sedangkan ibu dan ayah hanya tersenyum memperhatikan semua orang sibuk dengan obrolan mereka, padahal mereka ada di dalam satu ruangan.


Sampai di mana ustadzah Ami pamit karena harus mengisi pengajian di masjid, begitu juga dengan Gina dan Arya. Dan di sana. hanya tinggal keluarga inti saja, termasuk Fifi yang di panggil karena dari tadi sibuk dan tak terlihat oleh mata Yasmine.


...----------------...


Sore harinya, sebelum ibu dan Zahra pulang, Yamanie di ajak membeli perlengkapan bayi. Jelas saja itu membuat ia sangat senang dan bersemangat. Bahkan wanita itu lantas antusias mengganti bajunya yang lebih nyaman.


Dengan di antar Ayah dan Yahya, tiga wanita itu berangkat menuju mall terdekat.

__ADS_1


Sang ayah yang Yasmine pikir hanya akan nongkrong di cafe dengan sang putra, ternyata dia malah ikut masuk ke toko perlengkapan bayi. Bahkan ayah terlihat sangat antusias.


"Ini bagus, Yas." ayah menunjukan sebuah baju lucu untuk bayi usia satu sampai lima bulan. Baju lucu dengan warna merah muda bermotif hello kitty.


Yasmine mendekat dan tersenyum, "lucu Yah. Tapi nggak mau ah, terlalu cewek. Aku maunya yang netral aja, jadi cewek bisa, cowok bisa," katanya sembari menaruh baju pilihan sang ayah.


Ayah terlihat kecewa, lantas mengangguk. Yasmine lantas menggandeng lengan sang ayah dan menariknya ke arah baju yang lain.


"Ini lucu nih, Yas," ucap ibu yang sudah memilih banyak tapi yang lain masih di bilang bagus.


"Semua ibu bilang bagus," kata Yasmine.


"Maklum Yas, menyambut cucu pertama memang biasanya seperti itu," kata Zahra.


"Tidak dong. Pokoknya, nanti kalau kamu hamil ibu tidak se antusias ini, kamu tegur ibu ya," kata ibu pada menantunya.


"Ya tidak sopan bu," kata Zahra dengan senyum yang lebar.


"Sudah-sudah, ngobrol terus. Ayo kita lihat ke sana," ajak Yasmine. Ia menunjuk sebuah peralatan lain seperti kasur, bantal sampai kain-kain lainnya.


Hingga akhirnya selesai semuanya, setelah itu mereka lanjut makan dan pulang. Di jalan ayah bolak-balik menanyakan jenis kelamin sang cucu, namun sang anak malah menjawab dengan mengedikan bahu.


Bukan Yasmine tak mau tahu jenis kelamin sang anak, hanya saja ia selalu ingin itu menjadi sebuah kejutan yang sangat indah di hari nanti. Di mana pertemuan pertama antara ibu dan anak.


Sampai di mana semua kembali hening, saat empat orang kesayangannya pulang ke ibukota. Kini, dia sedang berada di kamar yang sudah di siapkan untuk menyambut bayinya.


Kamar anak bernuansa biru muda dengan wallpaper bergambar awan putih itu benar-benar indah. Terlebih ranjang yang memang bermotif sama.

__ADS_1


Wanita hamil itu tersenyum sembari mengusap perut buncitnya. Ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan sang buah hati yang semakin ke sini, geraknya semakin aktif saja.


__ADS_2