
Dua wanita paruh baya duduk bersebelahan, sembari bercerita hangat sebelum obrolan serius di mulai. Sedangkan ayah Ilyas dan Arya masih duduk di luar menemani Taqa, karena mereka baru saja sampai di rumah Yasmine. Sedangakan wanita muda itu tengah menyiapkan makanan dengan dibantu mbak yang kerja di rumahnya.
Ibu Sufi sudah dari lama di sana, dengan berbagai makanan yang ia bawa untuk calon besannya. Wanita paruh baya itu sangat bahagia, sampai tak sabar untuk membicarakan segalanya.
Sampai membuat Yasmine hanya menyiapkan saja, tanpa perlu mengeluarkan makanan baru atau membuatnya. Sedikit demi sedikit makanan di bawa ke ruang tamu oleh sang mbak, dan dirinya.
"Sembari minum Bu," ucap Yasmine pada dua wanita paruh baya yang masih asyik ngobrol.
"Makasih Nak Yasmine, sampai repot-repot seperti ini," ucap ibu Sufi.
"Ibu, aku nggak repot, yang repot justru Ibu. Kenapa harus bawa makanan sebanyak ini," kata Yasmine.
"Loh, ini 'kan untuk orangtua kamu, biar merasakan masakan ibu," ujar Ibu Sufi.
"Wah, pasti enak ini." Ibu Radiah mengambil lumpia yang tersedia sudah di atas meja.
"Ayo-ayo, silakan. Boleh kasih kritik dan saran," begitu seloroh ibu Sufi. Ibu Radiah dan Yasmine tertawa, karena ucapan ibu Sufi yang lucu.
Sampai akhirnya para lelaki masuk dan semuanya di bicarakan. Yasmine duduk di sebelah sang ayah dan sang anak, Arya duduk sendirian, lantaran sang ibu sudah duduk manis dengan calon besan.
"Jadi, bagaimana Nak Yasmine, dan orangtua sudah menerima lamaran anak saya yang tidak punya apa-apa ini?" tanya ibu Sufi.
"Allhamdulillah, kami menerima apa adanya Nak Arya, Bu. Tapi beginilah keadaan Yasmine, yang pastinya ibu tahu seperti apa dirinya," jawab Ayah.
"In Syaa Allaah, kami menerima seperti apapun keadaan Yasmine, malah kami bahagia sekali. Karena nantinya Arya tidak hanya akan mendapatkan istri, namun juga mendapatkan anak tampan seperti Nak Taqa," kata ibu Sufi lagi.
"Alhamdulillah kalau seperti itu. Jadi, bagaimana menurut kalian, bisanya kapan?" tanya ayah pada Arya dan Yasmine.
"Kalau Yayas, minggu-minggu ini belum bisa ambil waktu untuk sekedar cuti, Yah. Tapi, kalau bulan depan bisa," begitu jawab Yasmine.
__ADS_1
"Bagaimana denganmu Nak Arya?" tanya ayah.
"Saya kapan saja siap, Pak. Bulan depan juga tidak masalah," jawab Arya. "Mmm, Mbak Yas mau mahar apa?" tanya balik dirinya.
"Saya se-dikasihnya saja, Mas. Sekiranya tidak memberatkan dirimu," begitu jawab Yasmine. Jawaban yang sama persis, seperti saat ditanya oleh almarhum ustad Reyhan dulu.
Arya mengangguk diiringi dengan senyum yang mengembang sempurna, rona bahagia begitu terlihat di wajah pria tampan berstatus duda itu.
Keputusan sudah bulat, seusai dari rumah Yasmine. Arya langsung membawa berkas-berkas untuk mendaftar ke KUA, sedangkan ibu Sufi masih betah di sana. Masih ngobrol dengan besan dan calon menantunya.
Sedangkan Taqa tengah menghapal ngaji di kamarnya ditemani sang kakek.
Sungguh rasanya seperti mimpi bagi Yasmine, ia masih tak menyangka akan secepat ini menikah kembali. Setelah pernikahan pertama yang membuatnya memilih status seperti sekarang.
Wanita itu masih tersenyum saat dua wanita paruh baya asyik bercerita, memikirkan bagaimana nanti akadnya, tempatnya dan siapa yang di undang.
Tak ada bunga mawar asli ataupun palsu, ia juga tak ingin di rias ataupun memakai gaun. Cukup gamis putih dan jilbab tanpa embel-embel mahkota ataupun apa.
Ia juga hanya ingin mengundang beberapa orang saja, dan anak-anak yang mengaji untuk ikut mendoakan di akhir acara. Keinginannya tetap sama, akad nya di rumah. Kali ini di rumahnya sendiri. Dan keinginannya itu sudah ia beritahukan kepada ibu Sufi, Arya dan orangtuanya.
Sampai akhirnya, setelah ngobrol dua wanita paruh baya di rasa sangat cukup, Yasmine mengantar calon mertuanya itu pulang, tentu saja dengan sang anak. Taqa benar-benar tak mau ketinggalan. Ia terus saja membuntuti ke manapun ibunya pergi.
"Nak Taqa mau mampir dulu tidak?" tanya ibu Sufi pada Taqa.
Anak tampan itu mendongak ke atas, ke arah sang ibu. Setelah mendapat gelengan kepala, Taqa lantas menjawab. "Enggak Nek, makasih. Nanti saja ya, kapan-kapan," begitu jawabnya.
"Iya sudah, terimakasih ya ... Nak Taqa, Nak Yasmine, sudah mengantar ibu."
"Sama-sama, Bu," Yasmine menyalami kembali tangan sang calon mertuanya itu. Dan langsung berpamitan pulang.
__ADS_1
..._-_-_-_-_...
"Yas, kenapa di sini?" pertanyaan ibu membuat Yasmine yang tadinya duduk di teras lantas menoleh ke arah wanita paruh baya itu.
Tadi seusai mengantar ibu Sufi, ustazah Ami datang, ia berpamitan karena pergi ke tempat ustadz Rizal, sore nanti mereka melaksanakan ijab kabul sederhana di sana. Di tempat Rizal.
Yang menjadi sedih bagi Yasmine adalah, kini ia benar-benar ditinggal sahabat kesayangan. Acara ijab sekaligus pindahan untuk ustazah Ami, karena harus ikut tinggal di tempat sang suami.
"Kenapa?" tanya ibu lagi saat ia sudah duduk di sebelah sang putri.
"Yas pengin nganterin ustazah Ami, Bu. Tapi, tidak di bolehkan," jawabnya.
"Hanya keluarga inti saja yang ikut," sambungnya sembari mengembuskan napas kasar.
"Ya nggak papa, Yas. Itu kan pilihan mereka. Lagian Ami nggak mau, kalau kamu nganter ke sana, terus dia nggak rela jika kamu kembali ke sini," begitu kata ibu.
Ya, ustazah Ami memang melarang Yasmine karena alasan demikian. Maklum saja, tidak hanya sebulan dua bulan mereka bersama, sampai tujuh tahunan, jadi akan susah untuk berpisah. Lagipula mereka berdua sudah seperti saudara yang tak terpisahkan.
Yasmine diam, sampai ibu membawa tubuhnya untuk bersandar di bahu sang ibu. Wanita paruh baya itu mengusap kepala sang putri, "sudah. Kamu juga akan menikah, jadi kamu harusnya mendoakan Ami, agar pernikahannya langgeng, cepat-cepat di kasih momongan."
"Aamiin," jawab Yasmine lemah.
"Kamu juga, ibu doakan semoga pernikahan kali ini membawa bahagia. Sampai maut yang memisahkan kalian," ucap ibu lagi.
"Masih ada rasa takut, bu," kata Yasmine. "Nanti aku bilang ke Mas Arya, supaya ke sini nya jangan naik mobil, tapi jalan kaki saja. Toh juga nggak jauh-jauh amat," sambung wanita itu.
"Enggak papa, semua akan baik-baik saja. Berdoa saja ya," ibu masih setia mengusap sang putri.
Yasmine mengangguk dan memejamkan mata. Ia berdoa dalam hatinya, 'semoga semuanya berjalan dengan lancar Ya Allaah, karena tak ada pertolongan selain dari Engkau. Semoga kali ini takdir baik berpihak kepada hamba Ya Allaah, aamiin,' tangan wanita cantik itu mengusap ke wajah.
__ADS_1