
"Bu," ujar Taqa pada sang ibu yang baru saja menutup sendoknya. Menandakan kalau dirinya sudah selesai makan.
"Iya, Nak. Kenapa?" dengan senyum manisnya, Yasmine menjawab panggilan sang putra.
"Apa ... Ibu marah padaku?" tanya bocah itu lagi pada ibunya, ia juga melihat sekilas ke arah sang ayah yang tengah sama-sama melihat ke arahnya.
Yasmine menggelengkan kepalanya, "apa kamu merasa ibu marah, Taqa?" tanya wanita itu.
Taqa mengedikan bahunya. "Apa alasan untuk ibu marah, Taqa?" Yasmine kembali bertanya. Namun, belum di jawab oleh sang putra, wanita cantik itu kembali berbicara. "Ibu tahu, kalau kamu tidak mau ibu marah dan ibu tidak marah. Ibu juga tahu kalau kamu tidak bisa mengendalikan perasaan yang ada di dalam hati kamu," jelas wanita itu.
"Tapi ibu mohon ... pelan-pelan kamu belajar untuk menerima segala sesuatu yang sudah terjadi Sayang. Ibu tidak memaksa untuk sekarang, tapi nggak ada salahnya untuk belajar," sambung Yasmine pada putranya.
Taqa mengangguk, memandang wajah ibunya yang begitu cantik dan selalu baik membuatnya ingin tersenyum lebar seketika. Ia bahkan lantas beranjak dari kursinya dan mendekat ke arah sang ibu. Ia peluk seraya mengucapkan kata terima kasih pada wanita hebat itu.
Arya tersenyum membiarkan antara anak dan ibu itu saling berpelukan. Apalagi setelah memeluk sang ibu tercinta, anak tampan itu lalu memeluk sang ayah sambung kesayangan itu. Lelaki itu lantas berbisik di telinga sang anak. "Semua orang punya salah, Nak. Dan kita tidak boleh menganggap diri kita paling benar. Jangan ragu untuk memaafkan kesalahan orang lain, dan juga diri sendiri," begitu katanya.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
Pada kenyataannya, rasa yang dimiliki Taqa tidak berhenti saat itu. Terbukti sampai ia tumbuh dewasa pun, ia masih belum bisa menerima kehadiran si kembar serta mamanya. Kendati sudah besar, ia justru semakin menjauh, terbukti setiap ada kesempatan yang mengharuskan dirinya ikut ke jakarta, selalu ia tolak dengan berbagai alasan. Dan Yasmine maupun Arya tak lagi bisa membujuk, ataupun menasehati.
Seperti saat ini, si kembar tengah ulang tahun, dan ada acara syukuran di rumahnya. Sementara di rumah Yasmine, semua orang tengah siap-siap untuk pergi. Tentu saja, tidak dengan Taqa. Ia tetap santai di kamar mengerjakan pekerjaan sekolah, katanya.
Sampai saat Taqi masuk, dan pemuda tampan itu sedikit terkejut. "Astaghfirullah, kenapa mengagetkan Qi?" tanyanya sedikit kesal.
Taqi yang kini sudah memakai gamis berwarna ungu itu hanya senyam-senyum tanpa rasa salah. Melangkahkan kakinya memasuki kamar sang kakak tercinta.
"Salam dulu, Dek. Nanti kakak bilangin ayah loh," begitu gerutu Taqa seraya duduk dengan tegak memperhatikan langkah Taqi yang semakin mendekat. Memperhatikan wajah sang adik yang semakin hari semakin mirip dengan sang ibu, cantik dan manis. Paduan ayah sambungnya yang tampan, serta ibunya yang cantik, menjadikan Taqi menjadi terlihat sedap di pandang, apalagi saat senyum di bibirnya terbit.
"Maaf, Kak. Assalamualaikum kalau gitu," ujar si adik dengan polosnya.
Taqi menganggukkan kepalanya, "Kakak juga ya, please ... sesekali Kak," jawabnya sembari membujuk sang kakak. "Ibu sudah siapkan kado untuk Kak Taqa bawa, kakak tinggal bawa saja," sambung si bocah yang kini sudah berada di kelas empat sekolah dasar itu.
"Enggak bisa, Taqi ...," ucap sang kakak dengan gemasnya. "Banyak tugas," sambung bocah tampan itu seraya mencubit pelan kedua pipi sng adik.
"Hmm ... Bohong banget," Taqi memonyongkan bibir bawahnya. Membuat Taqa tersenyum lebar.
"Kenapa kamu semakin mirip ibu sih," gemas Taqa lagi.
__ADS_1
"Hmm ... Kalau kayak gini, Kak Taqa jadi lebih mirip sama Ayah--" kalimat Taqi menggantung, ia lantas menatap wajah sang kakak yang berubah sedikit kecewa.
"Ayah Arya, suka sok ganteng," sambung Taqi yang mana langsung membuat Taqa sedikit tersenyum.
"Sudah siap, anak-anak ibu?" suara itu mengagetkan kakak beradik, yang mana keduanya lalu menoleh ke sumber suara.
"Loh, kamu nggak ikut lagi, Kak?" tanya Yasmine saat melihat Taqa masih dengan pakaian yang sama. Belum siap-siap untuk pergi.
"Maaf Bu, Taqa banyak tugas," jelas anak tampan pada ibunya.
"Ya sudah, kalau Kak Taqa tidak ikut, ibu juga tidak pergi," Yasmine tersenyum ke arah kedua anaknya.
"Yaaah ... Terus aku perginya gimana?" tanya Taqi polos.
"Taqi pergi dengan Ayah." Suara ayah Arya terdengar dari arah belakang Yasmine.
Taqa diam, dia memandangi wajah dua orangtuanya.
...---...
__ADS_1