Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 152 # Flashback


__ADS_3

Flashback on.


Malam kian sunyi, kini ia tahu apa yang dirasakan Yasmine saat itu. Saat-saat sang sahabat yang hamil tanpa perhatian lebih dari sang suami.


Saat periksa tanpanya, sampai segala sesuatunya yang sendirian. Bagaikan hamil, tapi tak diinginkan. Begitulah yang dirasakan Alifa. Dari awal periksa sampai akhirnya lahiran, tak sekalipun dia ditemani sang suami. Alasannya adalah, "Sayang, aku tidak ikut antar kamu periksa tidak apa 'kan? Pekerjaan sedang banyak-banyaknya," begitu selalu yang di ucapkan lelaki tampan bernama Alfin.


Awalnya, Alifa merasa tidak apa. Tapi semakin hari, semakin tambah bulan, semakin besar pula kehamilannya. Dan yang dia rasakan adalah sakit hati, saat tetap saja ada alasan sang suami untuk tidak mengantarnya periksa.


Bahkan saat membeli perlengkapan bayi pun, dia terlihat seperti terpaksa. Walaupun disembunyikan. Alasannya apa, ia tak tahu. Jika tak menginginkan, jelas tidak mungkin, karena anak adalah impian dia dan sang suami tercinta.


Jadi, dia tak mengerti apa sebenarnya yang di rasakan Alfin padanya. Karena pada kenyataannya setiap hari sikapnya tetap hangat, dan cintanya selalu terlihat.


Sampai di mana, saat dia tak sengaja mendengar sang doa suaminya di pagi hari seusai subuh.


"Ya Allaah, jika memang rasa ini sudah tak lagi halal, kenapa Engkau masih membuatnya ada di dalam dada. Sungguh, saat mendengar dia akan menikah, rasa ini semakin sakit. Jika memang rasa ini sudah tak pantas, tolong hilangkan Ya Allaah."


"Sudah cukup rasanya, hanya memberi sebatas kewajiban tanpa rasa yang lagi sama. Bahkan untuk menemani Alifa periksa, hamba masih tak sanggup, karena masih merasa tidak adil, karena dulu hamba tak pernah menemaninya."

__ADS_1


"Maaf Ya Allaah, jika memang hamba banyak salah dan menyakiti perempuan yang sangat baik. Jadi, tolong Ya Allaah, hilangkan rasa yang tak lagi halal ini," ucap Alfin dengan suara yang terdengar sangat sedih.


Alifa, yang berdiri di depan pintu mushala kecil yang ada di rumahnya itu hanya mampu diam terpaku. Menatap nanar pria yang menjadi suaminya, namun cintanya masih sangat besar untuk sahabatnya, yang kini jadi mantan istri dari sang suami.


Setelah di rasa usai dalam berdoa, lelaki itu menoleh. Dia mendapati sang istri tengah menatapnya dengan sendu.


"Jadi, apa kini cinta untukku benar-benar sudah tak ada, Mas?" tanya Alifa dengan senyum sedih.


"Bukan itu maksudku, Sayang ... tapi--" Alfin tak bisa menjawab, dia menggantung kalimatnya. Lantas, di sambung dengan kata, "maaf."


Alifa tersenyum miris, "tapi apa masih pantas, Mas. Jika kita bersama, namun tanpa rasa cinta. Maaf jika, aku meminta lebih, tapi ... bukankah dulu, rasa itu ada untukku," katanya.


"Tapi semua sudah berakhir lama, Mas, kenapa?" tanya Alifa lagi, menunduk tak menatap sang suami.


"Mana aku tahu jawabannya, Lifa. Namanya sudah mengakar, dan susah di cabut," jawaban suaminya membuatnya sedih. "Aku hancur Alifa, selain cinta yang pergi, aku bahkan tidak bisa mendekat dengan putraku. Kamu lihat sendiri bukan, bagaimana bencinya dia padaku, saat bertemu kita waktu itu," sambung Alfin.


"Jadi ini semua salahku, Mas?" tanya Alifa.

__ADS_1


"Bukan salah kamu, ini hanya salah hatiku. Dengan b o d o h nya aku menerima dengan cepat rasa di dalam hati, dan susah untuk pergi."


"Lantas apa kita juga harus berpisah, karena walaupun kamu sudah tak lagi dengannya, kamu masih memikirkan perasaannya," ujar Alifa lagi.


"Maksud kamu apa? Alifa dengar aku," tangannya memegang bahu sang istri. "Aku nggak ingin ada perpisahan lagi, jangan ngaco. Kamu tahu sendiri, kalau aku jelas akan lebih hancur," sambungnya.


Alifa mendongak. "Lalu, aku harus apa?" tanyanya.


"Aku sudah merelakan dia pergi, demi untuk membela kamu yang sudah ada lebih lama menemaniku, lalu sekarang kamu yang aku bela, aku pertahankan pergi juga. Apa kamu nggak memikirkan perasaan aku, perasaan dia yang sudah rela berkorban pergi sendirian, demi untuk melihat kamu bahagia bersamaku?" tiba-tiba Alfin menatapnya kesal dan bertanya demikian.


Bahkan untuk pertama kalinya Alifa melihat sang suami seperti itu, netra nya meneteskan air mata saat sang suami selesai bicara.


'Maaf, Yas,' ucap wanita itu dalam hatinya.


Setelah mengatakan hal seperti itu untuk pertama kalinya, lelaki itu pamit ke kamar. Sedangkan dirinya lantas pergi ke kamar tamu yang dulu ditempati sang sahabat, Yasmine.


Kata-kata sang suami terngiang-ngiang di telinganya, tak bisa begitu saja di lupa. Sampai akhirnya ... tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang aneh yang keluar dari jalan lahir, dengan dada yang berdebar kencang dan rasa sakit yang tidak karuan. Lantas, dengan kencang di memanggil mbak Ina dan sudah ... tak ada lagi yang ia tahu, karena pada saat itu, dia pingsan.

__ADS_1


Flashback Off.


__ADS_2