Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 063 # Tempat Indah Untuk Kabar Bahagia


__ADS_3

Menu makan malam kali ini begitu istimewa. Alifa memasak banyak dan semuanya kesukaan mereka. Ketiganya lantas duduk dan siap didepan piring masing-masing. Namun, saat Yasmine baru akan menjawab pertanyaan Alifa, mbak Ina mendekat ke arahnya.


"Mbak, Yas," panggilnya.


Yasmine tersenyum kaku, karena ia masih merasa aneh pada mbak Ina, yang ia tahu kalau orang itu tak menyukainya.


Alifa yang akan mengambilkan nasi untuk sang suami lantas berhenti, ia menoleh ke arah mbak Ina. Perempuan cantik itu mendesah kecewa, lantaran mbak Ina yang tidak mengerti waktu. Begitupun Alfin yang lantas menghela napas kasar dan memalingkan wajah.


"Saya mau minta maaf, Mbak Yas," ucap mbak Ina di sebelah Yasmine.


Perempuan yang duduk dengan tenang itu mengernyitkan dahi bingung, lantas ia melihat ke arah Alifa, meminta pengertian. Alifa mengangguk dan tersenyum. Lalu, Yasmine kembali melihat mbak Ina yang berdiri di sebelahnya. "Minta maaf untuk apa, Mbak In?" tanyanya.


"Maaf, karena saya sudah bersikap tidak baik pada Mbak Yas. Maaf sekali Mbak," ucap mbak Ina tulus.


Yasmine tersenyum. "Iya, Mbak Ina. Nggak papa," jawabnya singkat.


"Sudah di maafkan, kamu boleh kembali ke tempatmu Mbak In," ucap Alifa.


Mbak Ina pun berlalu, namun Yasmine masih bingung. Ia lantas menoleh ke arah Alifa. "Mbak Ina, kenapa?" tanyanya setelah mbak Ina tak terlihat.


"Sudah, jangan di pikirkan," ucap Alfin sembari mengusap punggung tangan Yasmine yang ada di atas meja.


"Iya, kamu tidak perlu memikirkan yang tidak penting. Sekarang lebih baik kita makan, ya," ucap Alifa yang kini sudah mengisi piring sang suami dan sang madu.


"Wih, mantap ni makanannya," ucap Yasmine.


"Do'a, dulu," Alfin mengingatkan.


"Iya. Aku mau baca doa dulu, ya 'kan Lif?" Yasmine menoleh ke arah Alifa, membuat Alifa sedikit tertawa melihat tingkah Yasmine.

__ADS_1


Lalu, ketiganya pun makan dalam diam setelah Alfin memimpin doa.


...πŸ’žπŸ’žπŸ’ž...


Seusai makan, tiga manusia itu lantas duduk di taman. Taman yang sudah di siapkan oleh Alifa. Di atas rumput sudah di pasang tikar, lampunya pun sudah di pasang yang terang juga ada lampu warna-warni yang menghiasi pinggiran taman. Membuat ibu hamil muda yang baru melihat itu begitu bahagia.


"Ya Allaah, indah banget," ucapnya kagum.


"Iya, dong. Aku tahu kita akan membicarakan hal yang indah, jadi aku siapkan tempat yang indah juga," kata Alifa yang berdiri di sebelahnya.


Sedangakan Alfin, ia berdiri di belakang kedua istrinya dengan nampan di tangannya. Berisi kue dan air minum. Ia sampai merasa pegal karena kedua istrinya tidak melanjutkan langkah diam fi tengah-tengah pintu.


"Khem," Alfin berdehem. "Tolong, Nyonya-nyonya, bisa di percepat langkahnya, saya merasa pegal ini," katanya yang lantas membuat dua wanita cantik itu menoleh dan tertawa.


"Astaghfirullah, maaf Mas. Sini, biar Lifa yang bawa," ucapnya sembari meminta nampan.


"Ayo, Lif. Kita ke sana duluan," Yasmine menarik tangan Alifa, lalu keduanya langsung duduk dengan nyaman di sana.


"Ah, indah banget, untung saja enggak hujan ya," ucap Yasmine yang kini tengah menengadahkan kepalanya melihat bintang dan bulan di atas sana.


Sementara itu, Alifa dan Alfin tengah menata makanan tengah-tengah agar mudah untuk mengambilnya.


"Iya, cuaca malam hari ini indah sekali. Seindah kabar yang akan kalian katakan," ucap Alifa saat ia sudah duduk dengan tenang, menatap Alfin dan Yasmine dengan senyum yang lebar.


Yasmine yang mendengar itu lantas menatap sang sahabat, "apa kamu tahu, segalanya?"


Alifa tersenyum, lalu mengangguk. "Aku hanya menerka-nerka, Yas."


"Apa kamu--" pernyataan nya menggantung.

__ADS_1


Alifa justru mendekat dan memeluk sang madu. "Aku bahagia sekali, apa benar, di sini ada anak kita?" tanyanya penuh haru sembari mengusap perut rata Yasmine yang tertutup baju juga jilbab.


Yasmine mengangguk, air matanya menetes. "Iya, di sini ada anak kita. Kamu mau di panggil apa, sama dia?" tanyanya masih dengan air mata yang mengalir.


Alifa tak menjawab, ia kembali melingkarkan tangannya erat di tubuh sang sahabat. "Selamat, aku bahagia sekali, Yas," ucapnya tulus.


Alfin yang ada di sana tak mampu jika hanya diam di tempat. Ia lantas mendekat dan memeluk dua istrinya itu. "Makasih, untuk bahagiamu, Sayang," ucap Alfin sembari mengecup puncak kepala Alifa.


"Sudah, kita tidak boleh seperti ini," Alifa melepaskan diri. Ia menatap Yasmine dan Alfin bergantian. "Aku ingin di panggil Mama," katanya.


"Iya," Yasmine mengangguk. "Mama Alifa, Ibu Yasmine, Ayah Alfin. Di akan sangat bahagia, karena langsung memiliki dua ibu, tiga nenek dan tiga kakek," katanya.


"Iya, benar. Jadi, sudah berapa minggu?" tanya Alifa.


"Sepuluh minggu," jawab Yasmine.


"Aku sudah mengiranya, saat kalian berdua aneh," begitu ujar Alifa.


"Benarkah? Apa itu sangat terlihat," tanya Yasmine dengan heran.


"Iya, bagaimana bisa kalian menyukai rasa masam, padahal dulunya tidak pernah, dan aku sudah mengetahui itu dari awal, saat aku mendengar mu sakit, dan Mas Alfin pun sakit," ucap Alifa panjang lebar.


Ya, sebagai seorang istri yang merindukan kehamilan. Kadang-kadang saat haid nya telat sehari saja, ia sudah mulai membaca tanda-tanda kehamilan. Seperti apa ngidam, dan dari sanalah ia tahu kalau sang madu hamil.


Bahagia? Ya, perempuan berhati besar itu bahagia akan rezeki yang diterima sang suami, walaupun itu datang bukan dari rahimnya. Yang jelas ia benar-benar bahagia.


Setelah haru penuh rasa bahagia selesai. Ketiganya lantas membicarakan yang lain. Bermacam-macam yang menjadi topik pembicaraan mereka, dari yang serius sampai yang membuat ketiganya tertawa.


Di bawah sinar rembulan dan kerlip bintang. Satu keluarga yang terdiri dari satu suami dan dua istri itu tertawa bahagia.

__ADS_1


__ADS_2