Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 142 # Jilbab Untuk Ibu


__ADS_3

"Jadi ke rumah ibu?" tanya Arya pada wanita cantik yang kini baru saja masuk ke dalam mobil.


Yasmine menoleh ke arahnya, "boleh. Sekalian main ke sana, sebelum nanti jemput jagoan tampan," begitu jawabnya.


Arya mengusap kepala sang istri yang tertutup jilbab. "Siap, tapi kalau dirasa malas dan nggak mau belajar nggak usah di paksakan ya, aku terima kamu ada apanya kok," ucapnya.


Yasmine semakin melebarkan senyum di bibirnya. "Menangnya aku ada apanya?" tanya balik dirinya.


"Ada segalanya, janda kaya raya siapa yang nggak mau coba," kata Arya bercanda.


Bukan kesal wanita itu malah semakin tertawa, "sudah, ah. Ayo jalan, keburu nunggu di sini sampai jam pelajaran selesai," katanya.


"Siap," Arya lantas menjalankan kembali mobilnya, meninggalkan area parkir sekolah.


Sebelum sampai di rumah mertua, wanita cantik itu meminta untuk mampir ke toko kue untuk di bawa ke sana, sebagai buah tangan katanya. Dan yang di pilih oleh Yasmine adalah, kue lembut bertopping keju. Kata sang suami, ibu mertuanya adalah pecinta keju, sama seperti dirinya dan Taqa.


"Kamu beli satu?" tanya Arya pada istrinya saat hendak membayar.


"Iya, kamu mau juga?" tanya balik Yasmine.


Arya tersenyum, "beli satu lagi, buat di rumah," katanya.


"Siap, Pak Suami." Yasmine lantas memutar tumit dan kembali mengambil kue yang sama persis dengan yang ia beli untuk mertuanya. Mbak kasir yang melayani bahkan sampai tersenyum malu, melihat sepasang suami-istri yang tak lagi terlihat muda namun masih romantis.


Tak lama Yasmine kembali, Arya dengan sigap membayar kedua kue itu. Tentu saja sang istri diam, membiarkan suaminya membayar segala belanjaan.


Tak sampai di sana, selepas dari toko kue. Yasmine justru mengajak sang suami untuk singgah sebentar ke toko jilbab, ia ingin membelikan jilbab untuk ibu Sufi dan ibunya. Tentu saja, Arya menurut. Mengikuti kemanapun sang istri berjalan. Dari mengitari para jilbab, sampai para gamis dan tunik.


Ada satu gamis yang terpasang di manekin dan terlihat indah. Selagai Yasmine memilih jilbab untuk dua wanita kesayangannya, Arya lantas mengambil serta langsung membayar satu set baju itu. Gamis berwarna pastel yang kalem, dengan aksen renda di tangan dan di bagian peut, serta jilbab panjang yang akan terlihat manis jika Yasmine yang memakai. Begitu pikir Arya.


"Sudah dapat, jilbabnya?" tanya Arya saat mendekat ke arah sang istri.

__ADS_1


"Ini," Yasmine menunjukan dua jilbab dengan dua warna yang berbeda. "Bagusan ini, atau ini?" tanyanya bingung. Karena dua model yang berbeda, namun sama-sama ia suka.


"Pilih ke-duanya saja, sekalian sama buat kamu," jawab Arya.


"Ya sudah lah, aku mau dua-duanya ya mba, masing-masing dua ya, dengan warna yang sama," katanya pada pegawai toko yang melayani dirinya.


"Baik, Kak, Saya bawa ke kasir ya," begitu ucap Mbak pegawai. Yasmine mengangguk, lantas ia melihat ke arah sang suami. "Kamu dari mana? Kok tadi aku lihat ke luar toko," tanyanya.


"Ada yang ketinggalan," jawab Arya berbohong.


"Ayo, bayar," Arya menggandeng tangan istrinya itu.


Yasmine hanya menurut dan geleng-geleng kepala, tak pernah menyangka jika Arya akan sebaik dan se-manis itu. Di manapun tempatnya.


Lagi-lagi belanjanya sang suami yang membayar, ia hanya bisa mengiyakan yang mana saja barang yang ia beli. Bahkan di bawa ke mobil pun Arya yang membawakan. Dia santai hanya menenteng tas kecil miliknya.


"Mau ke mana lagi?" taya Arya saat sudah berada di dalam mobil dan siap untuk melajukan kendaraannya.


"Ke rumah ibu, sudah belanjanya," jawab Yasmine.


"Sama-sama, Sayangku. Oh ya, nanti sore kita ke makam mendiang istriku ya, sama Taqa juga. Kalau mau nanti mampir juga di rumah orangtua keduaku," begitu kata Arya. Orang tua kedua yang dia maksud adalah, orangtua dari mendiang istrinya.


"Boleh, aku mau kenalan juga," kata Yasmine.


...----------------...


Begitu mobil sampai di depan rumah sederhana ibu Sufi, keduanya lantas turun. Arya dengan sigap mengambilkan kue dan jilbab yang akan di berikan oleh sang istri untuk ibunya.


"Assalamu'alaikum," ucap Yasmine pada ibu mertuanya yang duduk di teras dengan senyum lebar menyambut kedatangannya.


"Wa'alaikumsallam, sini duduk," kata ibu Sufi. Yasmine mendekat dan salim, serta mencium tangan mertuanya itu dengan takzim. Lantas setelahnya wanita cantik itu duduk di sebelah wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Bu," sapa Arya seraya menyalami tangan sang ibu. "Ini ada kue dan jilbab dari menantumu, Bu." begitu katanya saat menaruh dua paper bag di atas meja.


"Wa'alaikumsallam," jawab ibu Sufi. Wanita itu lantas menoleh ke arah sang menantu. "Kalau mau ke sini nggak usah repot-repot, Yas. Main saja ibu sudah sangat senang," katanya pada sang menantu.


Arya sudah duduk di kursi tunggal, memperhatikan dua wanita cantik yang saling pandang dnegan senyum khas mereka.


"Bukan Yas yang beli, Bu. Tapi Mas Arya, aku cuma tugas milih-milih aja," kata Yasmine jujur.


"Tapi niatnya dari kamu," kata ibu Sufi lagi.


"Ayo Bu, di coba jilbabnya. Kalau nggak suka bisa Yayas tukar," ujar Yasmine.


Arya menyodorkan dua jilbab yang sudah ia ambil dari tempatnya. Di berikannya pada sang ibu. Tangan ibu Sufi menerima dengan senang. "MaSyaa Allaah, cantik sekali jilbabnya," katanya.


"Jadi, ibu suka?" tanya Yasmine.


"Suka lah, jilbab begini cantiknya masak nggak suka. Nanti ibu coba ya," kata ibu Sufi.


"Alhamdulillah kalau suka, jadi nanti kalau mau morotin Mas Arya nggak susah-susah, sudah tahu selera ibu," canda Yasmine.


"Betul, silakan, dengan senang hati aku akan menuruti apapun yang akan jadi bahagia untukmu. Karena aku yakin, kalau istri bahagia, rezeki suami akan semakin banyak dan berkah," begitu ujar Arya. "Betul nggak Bu?" sambungnya meminta persetujuan sang ibu.


"Betul, itu yang selalu ibu ajarkan padanya, Yas. Kalau sudah menikah, bahagia kan istri, jangan buat air matanya menetes karena kelakuanmu. Agar hatinya senang, dan kamu mendapat pahala serta keberkahan," kata Ibu Sufi membenarkan.


"Makasih ya, Bu. Sudah mendidik dengan baik putramu. Semoga aku bisa sebaik dirimu dalam mendidik putraku. Agar dia bisa tumbuh menjadi pria yang shaleh," ucap Yasmine seraya memeluk wanita paruh baya itu dari samping.


"Sama-sama, Nak. Aamiin, ibu yakin, kamu akan jadi ibu yang baik untuk putra-putrimu," ibu Sufi mengusap lengan sang menantu yang melingkar di tubuhnya.


Momen bahagia itu lantas membuat Arya iseng, ia mengambil ponsel dan memotret dua wanita yang tengah berpelukan itu. "Untuk kenangan di masa mendatang," gumamnya.


Selepas ngobrol, Yasmine lantas memotongkan kue untuk sang ibu mertua. Juga membuatkan minuman untuk ibu Sufi dan suaminya. Ketiganya lantas kembali ngobrol hangat di teras, sebelum kembali menjemput anak tampan pulang sekolah.

__ADS_1


Obrolan mereka membuat Yasmine larut dalam bahagia, dan sedikit lupa akan bagaimana kabar sang sahabat di Jakarta sana. Terlebih ibunya juga tak memberi kabar padanya. Mungkin, ibu tak ingin menganggu dirinya dan sang suami yang bisa di sambungkan dengan kata, suami tercinta mulai saat ini.


Karena nyatanya, kebaikan Arya bisa melupakan segala rasa yang pernah membuatnya berada di dalam kedilemaan, berada di dalam keresahan, serta kegelisahan. Kini, yang dirasakan wanita cantik itu adalah rasa bahagia, merasa di anggap ada sebagai istri sesungguhnya.


__ADS_2