
"Maaf, Yas," ucap Alifa. Wanita cantik itu mengusap punggung sang sahabat. "Maaf, jika aku membawamu dalam luka yang begitu besar," katanya lagi.
Yasmine tak mampu menjawab, dia hanya turut mengusap punggung Alifa dengan menahan suara tangis yang akan keluar. Saat ini, ia jadi mengingat bagaimana rasanya dulu, saat masih menjadi istri ke dua.
"Maafin aku, Yas. Aku pikir, dengan kamu menjadi istrinya Mas Alfin, kamu dan aku akan lebih bahagia, tapi nyatanya ...," kalimatnya menggantung.
"Sudah, Lif. Kita nggak perlu ngomongin ini lagi," kata Yasmine akhirnya. "Aku juga mau minta maaf, jika kepergian ku malah membuat kalian jadi seperti ini."
"Tidak, Yas. Kamu tidak perlu--"
"Sssttt." Yasmine melepas pelukannya dan menatap sang sahabat. "Kita sudah sama-sama dari bayi, kita hanya terpisah tujuh tahun saja, kamu nggak boleh kebanyakan minta maaf. Terlepas dari apapun yang terjadi, niat kamu awalnya sangat baik. Semua hanya salahku dan Alfin yang tak bisa memelihara rasa ini."
Lantas kedua wanita itu kembali berpelukan, menangis bersama dalam satu dekapan.
Rasa sayang mereka masih sama, masih tetap saja besar satu sama lain. Hanya saja, ternyata sebesar apapun rasa sayang, untuk berbagi cinta itu sangatlah susah. Beruntungnya, Yasmine segera menyadari dan memilih pergi. Demi menyelamatkan hati dari rasa perih karena iri.
Cinta, mudah untuk di ucap. Mudah sekali tumbuh, dan mudah untuk berkembang. Tapi, tentu susah untuk di lupa, susah untuk merawatnya, juga susah untuk menumbuhkan kembali cinta baru yang bersemi. Lantas jangan lupa, jika sudah tumbuh, cinta itu bisa cepat besar, tergantung bagaimana kita memupuk nya.
Tapi, satu lagi ... untuk membagi, itu butuh pelajaran yang sangat banyak dan rasa yang lelah.
...----------------...
Selain Alifa dan Yasmine yang tengah bicara berdua, meluruskan segala rasa yang pernah mereka miliki. Begitu juga saat ini, dengan lelaki yang tadi mereka bicarakan.
Sekarang Alfin tengah mendekatkan diri pada sang putra. Bukan karena apa, tapi ini karena saran dari Arya, yang mengatakan padanya, "anak tidak bisa di biarkan begitu saja, Mas. Kalau Mas Alfin tidak mau mendekat, sampai kapanpun Taqa juga tidak akan mau mendekat."
__ADS_1
Itu menjadi pertimbangan antara hati dan ucapannya saat itu pada ibu dari anak pertamanya. Namun saat ia mencoba bicarakan dengan Alifa dan yang lain, semua setuju dengan apa yang dikatakan Arya. Jadi, saat ini dia tengah mendekatkan diri pada anak tampan yang tengah menonton televisi, di ruang tengah rumah Zahra.
"Lucu, ya, film nya," ujar Alfin.
Taqa diam saja, hanya menganggukkan kepala. Walaupun begitu, tindakannya itu sudah membuat ayah tiga anak itu bahagia. Dalam hati, Alfin mengakui kalau Yasmine sukses mendidik anaknya dengan baik.
"Kamu, mau main tidak sama ayah?" tanya Alfin akhirnya.
"Maaf, aku lagi nggak pengin main," jawab Taqa.
"Pengin makan apa?" tanya Alfin tak mau menyerah.
"Taqa sudah makan, Yah," jawab bocah itu. "Apa ada yang ingin Ayah katakan padaku?" sambung Taqa bertanya.
"Iya, ayah mau minta maaf sama kamu," ucap Alfin akhirnya.
"Sudah Taqa maafkan, apa Ayah sudah minta maaf sama ibu?" tanya Taqa dengan memutar tubuh dan menghadap ke arah sang ayah. Bocah kecil itu masih ingat dengan pesan dari ibu dan ayah Arya saat itu, "Sayang ... seburuk-buruk orang tua terhadap kita, kita tetap harus baik dan sopan. Biarkan orang tua tak baik pada kita, yang penting kita baik pada semua orang," begitu kata kedua orangtuanya saat dia menceritakan ada orang tua yang tak suka padanya.
Alfin menggeleng, "nanti Ayah akan minta maaf," begitu jawabnya.
"Apa Ayah nggak sayang sama aku?" tanya bocah kecil itu lagi.
Air mata pria dewasa itu keluar, "tidak ada ayah yang tidak sayang pada anaknya, Nak," jawabnya.
"Lalu, kenapa Ayah nggak pernah nemuin aku?"
__ADS_1
"Ayah terlalu jahat, sama ibumu. Sampai ayah tidak berani menemui anak ayah sendiri, ayah bukan ayah yang baik," begitu jawabnya.
"Ayah tidak ingin, kamu dekat dengan ayah, dan ibumu kesepian. Ayah hanya ingin, kamu menjadi anak yang bisa melindungi ibumu, karena ayah tidak bisa lagi melindunginya," sambung Alfin.
"Apa karena ada Mama Alifa?" tanya Taqa.
"Bukan, karena ...," jawaban Alfin menggantung. Karena bingung, apa iya dia akan menceritakan segalanya pada anak kecil.
"Karena ada bayi kembar? Karena sudah punya anak selain aku?" tanya Taqa lagi tak sabar. Alfin tentu saja menggeleng, "itu semua tidak benar, Nak."
"Aku sudah maafin Ayah kok, tapi aku belum mau ketemu bayi kembar Ayah, maaf," kata bocah tampan itu dengan tangan yang mengatup di depan dada.
Alfin mengangguk, "maaf Taqa. Sekali lagi maafin Ayah, apa boleh, ayah jahat ini memeluk anaknya, anak pertamanya?"
Taqa diam, lantas mengangguk. Dengan erat anak kecil itu memeluk sang ayah. Melupakan rasa rindu yang dia miliki. Memberi tahu sang ayah kalau dia sangat merindukan dekapan itu, kasih sayang itu.
Alfin menciumi puncak kepala sang anak dengan sayang, memeluk dengan erat. Tak lupa kata maaf yang selalu di ucap.
Lega rasanya, walau belum mengerti segalanya, tapi sedikit banyaknya Taqa tahu, kalau ayahnya juga sangat menyayanginya. Hanya saja, terhalang sesuatu yang ia belum mengerti.
Pelukan antara anak dan ayah itu membuat haru Zahra, Yahya, dan Arya, serta Yasmine dan Alifa yang melihat dari layar ponsel, saat Arya memberitahunya lewat video call.
Tentu saja semuanya bersyukur, karena dengan ini, semua sudah baik-baik saja.
...--------Tamat--------...
__ADS_1