
Empat minggu kemudian.
Semua orang sudah kumpul di rumah ayah Ilyas dan ibu Radiah. Semuanya sudah cantik, apalagi ibu hamil yang kini tengah duduk sembari memangku toples berisi cemilan. Tak perduli pada pewarna yang sudah di oles ke bibir, yang jelas saat hatinya ingin makan, maka goyang lah mulutnya.
Sementara itu, berhubung kini jatah Alfin untuk Alifa. Maka, nanti mereka akan langsung datang ke rumah Zahra-calon-istri Yahya. Sedangkan umi-abi dan mama-papa mampir dulu ke rumah ibu Radiah. Membantu membawakan seserahan.
Yasmine tak perduli sama sekali pada sang kakak yang duduk di sebelahnya, dengan detak jantung yang berdegup lebih cepat dari biasanya. Perasaan gugup, gelisah dan takut salah tengah di rasakan oleh Yahya. Terlebih saat sang Ayah yang ingin ia pinta untuk menguatkan dirinya malah asyik ngobrol dengan para keluarga yang lain, yang akan ikut ke rumah Zahra.
Ibu hamil yang kini sudah berpakaian rapi, dengan gamis brokat tile motif bunga berwarna peach itu menoleh ke arah sang kakak. Lantas, di taruh nya toples ke atas meja dan meminum air putih yang sudah tersedia. Lalu ia membawa tubuhnya untuk menoleh ke arah sang kakak. Tersenyum dan menepuk pundak kakaknya itu.
"Santai, Kak. Jangan lupa do'a, biar lancar dan aman," ucapnya dengan senyum lebar.
Yahya tersenyum menoleh ke arah sang adik. "Doain ya, semoga nanti lancar, dan yang datang hari ini adalah jodohku, bukan takdirku," kata Yahya.
Seketika Yasmine tersenyum masam, ia menjadi mengingat masa-masa itu. Namun, jika di tanya apakah karena itu semua dia menyesal? Jawabannya adalah tidak. Karena menurut Yasmine, jika tak bersama Alfin, ia tidak akan mendapatkan sesuatu yang kini hidup di dalam rahim.
Masih dengan senyum yang tak enak di lihat, tangan dengan jari-jari lentik itu mengusap perut. Tak terasa, tiba-tiba saja sudah tiga bulan lebih, hampir empat bulan. Dan acara empat bulanan sudah di bicarakan.
"Kenapa, malah senyum-senyum? Ayo, sudah di panggil ibu itu," ucap Yahya mengingatkan sang adik. Karena waktu untuk berangkat ke rumah Zahra sudah tiba.
"Cie-cie, yang enggak sabar. Awas loh, keseleo lidahnya, salah ucap deh tuh," canda sang adik sembari beranjak dari duduknya dan menyusul ke depan.
Semua orang sudah siap di dalam mobil, ia pun lantas ikut di mobil mama dan papa Zaenal. Karena di sanalah tempat duduknya lega. Karena di belakang hanya ada umi dan abi. Sedangkan mobil mereka di pakai keluarga ayah Ilyas yang lain.
__ADS_1
"Yas, bajunya bagus," puji Mama Widia.
"Mama, memangnya baru lihat?" tanya Yasmine.
"Iya, beneran," jawab Mama Widia.
"Bener, Mi? Emang baju kayak gini bagus ya," tanya balik Yasmine pada Umi yang duduk di sebelahnya.
Umi menoleh memperhatikan baju sang menantu, lantas Umi mengangguk. "Iya, bagus. Sama 'kan kayak yang di pakai Ibumu?" tanya balik Umi.
Yasmine mengangguk, "iya. Samaan nya sama Ibu dan Ayah," jawab Yasmine. ' Bukan sama suami,' sambungnya dalam hati. Dibarengi senyum menyedihkan menghadap luar kaca mobil.
Lalu, ibu hamil itu menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Dalam hatinya berbisik, 'Senyumin aja Yas, biar hati tenang. Sekarang yang harus di pikirkan adalah anak yang ada di kandungan. Bukan siapapun, seperti kata Ibu kemarin.'
Ia sedih karena di tanya, "Suaminya tidak ikut ya? Harusnya ikut, biar tahu perkembangan anaknya dan bagaimana kondisi istrinya," begitu ucap dokter yang memang bukan orang waktu lalu memeriksa kandungannya. Tapi, pertanyaan itu sukses membuat Yasmine yang sudah biasa saja kembali manyun dan diam. Merenungi nasib.
Sampai ibu datang dan duduk di sebelahnya, "Kamu nggak boleh banyak pikiran, Sayang. Yang harus kamu pikirkan adalah kesehatan anak kamu. Bagaimana perkembangannya. Jika saat-saat di tinggal karena pembagian waktu, anggap saja kamu sedang di tinggal ke luar kota. Jadi, nanti kalau di periksa dan di tanya, kau jawab saja seperti itu."
Ibu juga sebenarnya sedih, apalagi kemarin di rumah sibuk sekali sampai tidak bisa menemani sang putri periksa kandungan. Berhubung Yasmine perginya dengan supir, jadilah dia pergi sendirian.
"Loh, Yas. Kok bengong, kita sudah sampai."
Yasmine menoleh ke arah Umi, lantas ia melihat ke sekeliling. "Oh, iya," ucapnya. Perempuan itu kembali menarik napas dan mengeluarkannya perlahan. Setelah itu, dengan membaca basmallah ia keluar dari mobil, sembari menunggu Umi dan yang lain.
__ADS_1
Kediaman Zahra yang Sederhana sudah di pasangi tenda tertutup. Ayah dan ibu sudah terlihat di bagian depan sana. Ia lantas izin pada umi untuk maju mengikuti barisan sang ayah. Biarkan saja, hari ini ia ingin jadi bagian ayah Ilyas, dia sedang tidak ingin perduli pada dirinya istri siapa dan menantu siapa.
Dengan senyum yang lebar, perempuan itu menggandeng lengan sang kakak. Membuat Yahya yang kaget lantas tersenyum dan mengusap kepala sang adik.
"Bismillah, semoga lancar. Aku bantu doa," ucap Yasmine.
"Terimakasih, adikku tercinta."
Rombongan pengantin pria di sambut hangat, semua orang sudah ada di tempat duduknya masing-masing. Yahya dan sang ayah lantas di tuntun untuk jalan ke meja akad setelah basa-basi. Lantas Yasmine dan Ibu duduk di kursi yang sudah di sediakan.
Perempuan hamil itu tersenyum, menatap dekorasi indah yang akan di pakai raja dan ratu sehari itu, nanti setelah halal. Ia tersenyum miris, saat mengingat dulu, pernikahannya. Namun sang ibu yang duduk di sebelahnya mengusap lengan sang putri, membuat Yasmine menoleh dan kembali memperhatikan MC berbicara.
Satu persatu susunan acara di bacakan dari pembukaan dengan basmalah, sampai pada acara akad yang di nanti-nantikan. Yasmine semakin melebarkan senyumnya. Tak perduli ada seseorang yang harusnya menemani atau tidak, yang jelas ia ada untuk sang kakak.
Hingga akhirnya sang kakak mengucap janji suci dengan lantang dengan bahasa Arab. Sampai membuat dirinya dan sang ibu meneteskan air mata karena haru. Bahkan ibu sampai memeluk putri bungsunya. "Allhamdulillah, dua anak Ibu sudah mentas," ucap Ibu.
"Iya, Bu. Alhamdulillah, semoga sakinah, mawaddah, warahmah," ucap Yamanie tulus.
Sampai pada langkah berikutnya, sang mempelai wanita keluar dari persembunyiannya. Ronanya cantik dan bahagia. Yahya bahkan sampai berdiri dari duduknya dan menyambut dengan uluran tangan dan tangisan penuh haru seseorang yang sudah ia sunting untuk menjadi istri.
Yasmine tersenyum sinis saat mengingat pernikahan nya dulu. Namun lagi-lagi, ia menepis segalanya dengan senyum lebar.
Lagi saat kedua mempelai tukar cincin, Yasmine sontak melihat tangannya. Jari lentiknya kosong tidak ada apa-apa di sana. Karena pada kenyataannya, dia tidak di inginkan. Dulu. Sekarang, entahlah. Dia berpikir tidak mengerti. Perempuan itu pun mengedikan bahunya, menjawab pertikaian di dalam pikiran dan hatinya sendiri.
__ADS_1