Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 087 # Meminta Saran


__ADS_3

Seperti yang di pikirkan Alfin, siang ini setelah makan siang di kantor ia langsung pamit pada sekertaris nya, ia lantas pergi menuju rumah orangtuanya guna membicarakan masalah yang tengah ia hadapi dengan sang istri kedua.


Tanpa tahu jika sekarang, istri pertamanya pun tengah memikirkan masalah yang menimpa sang suami. Wanita itu tengah di terpa gundah gulana lantaran tidak bisa berbuat apa-apa.


Ingin ke rumah Yasmine, tapi susah untuk izin. Pun jika di rumah, ia akan berada di keadaan bingung. Ia benar-benar dilema sekarang. Dan yang bisa di lakukan perempuan itu hanyalah ber-do'a, agar pikiran buruknya tidak sampai terjadi.


Di tempat lain. Alfin baru saja sampai di rumah sang orang tua. Ia kini sudah duduk dengan sang Umi dan Abi. Ia sudah di suguhi minuman juga kue nagasari buatan Umi yang masih hangat. Bau khas daun pisang masuk ke dalam indra penciumannya. Namun, karena ia sedang tidak mood jadi ia mengabaikan makanan itu.


"Ada apa, Al?" tanya Abi. Lelaki paruh baya itu jelas tahu jika sang putra tengah bermasalah, karena jika tak ada masalah tidak mungkin dia datang seorang diri.


"Yasmine memintaku melepaskan nya, Bi," jawabnya pelan.


"Astaghfirullah," ucap Umi dan Abi bersamaan. "Kenapa?" tanya Umi.


"Entahlah, yang dia katakan hanya dia tidak ingin berbagi," kata Alfin menjelaskan.


"Kamu melepasnya?" tanya Abi.


Alfin menggeleng.


"Syukurlah," ucap Umi. "Sudah kamu tanya baik-baik, Al? Mungkin dia hanya sedang membutuhkan perhatian. Seorang ibu hamil biasanya butuh perhatian lebih," sambung Umi.


"Dia hanya bilang, kalau baik dia maupun Alifa tidak ada yang ingin berbagi. Dan dia memintaku untuk melepaskannya," ujar Alfin.

__ADS_1


Abi mengembuskan napas kasar. Lelaki yang sudah tak lagi muda itu lantas menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Netra tuanya itu terpejam.


Hening. Baik Abi, Umi maupun Alfin diam. Tidak ada yang berbicara. Sampai Abi menegakkan kembali duduknya dan menatap sang putra. "Kamu tahu, Al. Menghadapi satu wanita saja sulit, apalagi dengan dua wanita sekaligus," ucap lelaki tua itu.


"Itu kenapa, dulu Umi bilang padamu agar memikirkan terlebih dulu semuanya dengan baik, dengan matang. Karena seperti ini akhirnya," sambung Umi.


"Kamu harus bicara baik-baik, Al. Kamu benar-benar harus sabar jika memang tidak mau menuruti keinginan Yasmine," ucap Abi.


"Aku jelas tidak mau, Bi. Aku tidak bisa pisah dari keduanya," kata Alfin frustasi.


"Menghadapi Yasmine itu butuh kesabaran yang sangat ekstra, tidak seperti saat kamu menghadapi Alifa," kata Umi. "Mereka berdua itu adalah karakter yang berbeda. Jika kamu menemukan kelucuan, kecerewetan, keramaian di saat bersama Yasmine, kamu tidak akan menemukannya di saat bersama Alifa. Pun sebaliknya, Al. Kamu tidak akan menemukan kedewasaan di saat bersama Yasmine, dan Umi sudah pernah mengatakan ini, dulu."


Alfin mengangguk, berputar-putar lah semua memori indah saat bersama keduanya. Apalagi saat tidur dalam satu ranjang yang membuatnya bahagia lantaran mereka berdua yang terlihat akrab seperti saat dulu, saat status mereka masih sahabat bukan madu.


Lelaki itu diam, namun setelahnya ia mengembuskan napas kasar. Dan kembali berbicara, "yang lebih Al herankan Mi, ibu dan ayah seolah mendukung keinginan Yasmine," katanya.


"Apa, Yasmine tiba-tiba saja mengatakan hal seperti itu?" tanya Umi yang masih merasa heran. Namun seketika ia mengingat saat sang menantu keduanya itu tengah menginap di rumahnya seusai acara empat bulanan.


Alfin menggeleng. "Dia salah paham, Mi. Yasmine mendengar saat di suatu sore Alifa menangis dan bertanya padaku tentang dirinya yang belum hamil. Lalu Alifa kembali bertanya tentang aku akan meninggalkannya atau tidak, yang di saat itu, aku menjawab dengan akan bersamanya selalu. Dan yang tertangkap oleh Yasmine adalah aku memilih Alifa," jelasnya.


Kini gantian Umi yang mengembuskan napas kasar, dalam benak wanita paruh baya itu bertanya-tanya. 'Benarkah Yasmine ingin pisah hanya karena mendengar pertanyaan Alifa?'


"Aku harus gimana, Mi, Bi?" tanya Alfin frustasi.

__ADS_1


"Satu-satunya cara adalah bicara baik-baik dan selesaikan dengan baik. Cari solusi agar tidak ada selisih, walaupun pasti akan sangat sulit," ucap Umi.


"Kapan kamu bicara dengan Yasmine?" tanya Abi.


"Kemarin. Al nggak sengaja ke rumah Ibu, karena saat ke rumah aku heran dengan Yasmine yang tak kunjung pulang. Namun, begitu sampai di sana, aku harus terkejut saat mendengar perkataan Ayah yang tidak enak di dengar," jawab Alfin.


Ia mengatakan seperti apa pendengarannya saat sang ayah mertua tengah berbicara pada anak bungsunya itu.


"Kemarin apa kamu marah, sama Yasmine?" tanya Umi.


Alfin diam, lantas mengangguk lemah. "Aku bahkan mengatakan dia manja dan kekanak-kanakan, karena dia mengatakan hal yang tidak bisa aku terima."


"Abi hanya bisa memberi solusi ini, Al," ucap Abi. Alfin dan Umi lantas duduk dengan tegak dan siap mendengarkan apa yang akan Abi sampaikan. "Kita bicarakan ini dengan semua keluarga. Nanti Abi atur pertemuan tiga keluarga sekaligus. Kita tahu, kita tidak boleh ikut campur akan masalah rumah tangga kalian, namun jika kalian tidak bisa menyelesaikan nya dengan baik, jadi kami harus turun tangan. Nanti malam, ajak Yasmine bicara kembali, bicarakan dari hati ke hati. Besok, Abi akan atur pertemuan kita semua," begitu ucap pria paruh baya itu.


"Jika Yasmine belum mau bicara bagaimana, Bi?" Umi bertanya. "Biasnya wanita akan susah untuk di ajak bicara saat hatinya tidak baik-baik saja, dia justru membutuhkan waktu untuk sendiri," sambung Umi.


"Ya, sudah. Jika tidak mau, jangan di paksa. Ingat, dia sedang hamil, jangan sampai terlalu banyak yang di pikirkan. Jangan sampai kamu menyesal jika sesuatu yang buruk menimpa kalian," kata Abi mengingatkan.


"Al, apa Alifa tahu?" tanya Umi.


Alfin menjawabnya dengan gelengan kepala. "Aku tidak mau dia merasa bersalah jika tahu tentang ini, Mi," jawabnya.


"Tapi, aku tahu Mas," ucap seseorang yang ternyata adalah Alifa. Perempuan itu mengeluarkan air matanya sembari berjalan mendekat ke arah tiga manusia yang duduk di sana.

__ADS_1


Bukan ingin melanggar, tapi dia tidak tahan jika hanya menunggu dengan diam di rumah. Awalnya wanita itu ingin datang ke Umi untuk meminta saran. Tapi, siapa sangka, ternyata sang suami di sana dan dia mendengar segalanya dengan hati yang teramat pedih.


Ia sakit karena ternyata sang sahabat harus mendengar keluh kesah yang pernah ia tanyakan pada sang suami. Yang mana saat itu ia merasa aman saat sang suami memberi jawaban. Namun ternyata, jawaban yang membuatnya sedikit tenang justru membuat sakit di hati Yasmine.


__ADS_2