Istri Ke Dua

Istri Ke Dua
Part 071 # Tiga Nama Dalam Satu Lingkaran


__ADS_3

Alfin masih memandangi wajah cantik Yasmine dengan alis yang berkerut heran, bahkan hampir menyatu saking tak mengerti dengan perubahan sikap sang istri.


Yasmine mengangguk, seketika ia juga mengingat apa yang sudah ia katakan bersama sang suami.


"Aku nggak kenapa-napa. Aku cuma nanya loh," ucap Yasmine.


Alfin terdiam, ia tahu ada yang tidak beres dengan istri ke-duanya itu. "Ceritakan, Ayang. Ada apa?"


"Ya, sudah. Kalau tidak bisa jawab aku tahu kok, jawabannya."


"Kamu tidak akan tahu, karena perkiraan kamu jelas buruk tentang aku," ucap Alfin. "Perasaan aku ke kamu dan Alifa sama. Setiap bersamanya, aku merindukanmu. Setiap bersamamu, aku merindukannya. Seandainya bisa, aku ingin bersama dengan kalian di setiap detiknya. Jika sekarang, aku di suruh untuk memilih, maka aku tidak akan bisa memilih di antara kalian. Kalian berdua adalah isi dari doa-doaku di setiap helaan napas," terang Alfin panjang lebar. Dengan menatap netra Yasmine yang terlihat biasa saja.


"Bagaimana jika dulu?" tanya Yasmine.


"Jika kamu bertanya dulu dan sekarang, kamu pasti sudah tahu jawabannya. Dulu kita bukan pasangan halal, sekarang kamu halal. Jadi kamu pasti tahu 'kan."


"Jika, Alifa memintamu untuk menikahi wanita lain lagi, apa kamu mau? Apa kamu juga akan jatuh cinta dan tidak bisa memilih di antara istri-istrimu?" raut wajah Yasmine masih serius pun sama dengan Alfin yang jujur saja semakin bingung dengan sang istri.


"Aku tidak akan mau. Aku tidak akan menambah makmum, karena dua makmum saja sudah lebih dari cukup," jawan Alfin dengan cepat.


Yasmine mengangguk, "jika di antara aku dan Alifa ada yang menyerah, apa kamu akan mengabulkannya?"


Alfin menggeleng. "Aku bilang tidak bisa," tegasnya. "Lagian kamu kenapa sih? Cerita sama aku, aku ada salah?"


Yasmine tersenyum, lantas menggeleng. "Kamu nggak ada salah, Alifa juga. Aku beneran cuma pengin nanya," katanya berkilah. Padahal dalam hatinya. 'Aku yang salah, aku yang hadir di antara kalian berdua.'


"Beneran?" tanya Alfin memastikan.


Yasmine mengangguk mantap. Lalu ia memposisikan duduknya dengan benar menghadap depan dan menyandarkan kepala di pundak sang suami. Tangan kirinya melingkar di lengan Alfin, tangan kanannya mengusap lembut jari jemari sang suami. Mengusap cincin perak putih yang tersemat di sana.

__ADS_1


"Al," panggilnya Yasmine. Masih memandangi jari sang suami.


"Hm, kenapa?" Alfin mengecup puncak kepala Yasmine sekilas.


"Apa di sini, ada nama kamu dan Alifa?" tanyanya pelan.


"Buka saja," kata Alfin.


"Enggak mau," Yasmine menggeleng.


"Kamu akan tahu, kalau kamu membukanya," jelas Alfin.


Yasmine menghembuskan napas kasar, lalu duduk dengan tegak dan menurut. Ia melepas cincin itu dari jari sang suami. Di lihatnya bagian dalam cincin itu, dan betapa terkejutnya dia saat ia melihat di sana ada nama mereka bertiga. Entah kapan Alfin merubahnya, yang jelas ia baru mengetahuinya sekarang.


Perempuan itu lantas mendongak, menatap sang suami dengan berkaca-kaca. Ia terharu, padahal hanya hal kecil. Hanya melihat ada 'Yasmine ❤️ Alfin ❤️Alifa.'


"Kok, bisa?" tanyanya.


Yasmine menangis, "Tapi aku nggak punya," tangisnya pecah. Perempuan hamil itu menangis seperti anak kecil.


"Ssttt," Alfin menangkup wajah sang istri. "Kamu punya, kamu mau?" Yasmine mengangguk.


Alfin memeluk istri manjanya itu, mencium puncak kepala sang istri dengan sayang. Tak perduli pada tatapan orang-orang di sana, yang jelas ia hanya ingin menenangkan sang istri yang tengah hamil muda.


...❤️❤️❤️...


Nuansa malam yang sunyi. Hening dan dingin. Wanita cantik yang masih mengenakan mukena itu tengah berdiri di samping teralis pembatas balkon. Ia tengah memandangi cincin pernikahan nya. Ada tiga nama di dalam satu lingkaran itu.


Nama yang baru ia tambahkan dua hari lalu, saat tiba-tiba dia mengingat bahwa sang madu tidak memiliki cincin pernikahan.

__ADS_1


Betapa mulia hatinya, sekecil apapun tentang sang sahabat, ia selalu mengingatnya. Kini, wanita cantik itu tengah tersenyum. Mengangumi nama cantik yang tersemat di sana.


Ya, cincin pernikahan Alifa pun bertuliskan sama. Tiga nama. Ini tentu saja adalah ide dan keinginannya. Sebagai seorang istri, ia tentu tahu bahwa keinginan perempuan yang sudah menjadi seorang istri.


Itulah kenapa dia meminta sang suami untuk menambahkan serta membeli cincin pernikahan yang sama persis dengan miliknya, untuk madu-nya. Alifa berharap Yasmine tak merasa iri akan ini.


Bukan tanpa alasan dia membelikan cincin pernikahan. Itu semua karena Zahra. Saat itu, saat ia mencoba untuk basa-basi berbagi pesan. Zahra bercerita jika ada saudaranya yang mengira bahwa Yasmine masih gadis lantaran tidak memiliki cincin pernikahan.


Saat itu, Zahra memang menceritakan seolah semua itu adalah lucu. Namun, yang tertangkap di hati Alifa adalah, kasihan. Ia benar-benar kasihan, dan seketika ia mengingat saat dia mendapati sang madu yang tiba-tiba ingin menyendiri. Padahal biasanya, sang sahabatnya itu akan suka sekali berkumpul dengan keluarga besar dan tak kenal lelah.


Karena itulah, ia meminta sang suami untuk membelikan cincin dan menambahkan nama Yasmine di dalam cincin pernikahan mereka.


"Maaf, jika aku dan Mas Alfin tak sengaja menyakitimu, Yas," ucapnya pada tulisan Yasmine yang ada do dalam lingkaran.


"Semoga kamu bahagia, jaga selalu anak kita ya. Karena aku nggak bisa menjaganya 24 jam," katanya sembari tersenyum.


"Ya Allaah, sehatkan lah badannya, jaga dia dari marabahaya, semoga anak yang di kandungannya pun selalu dalam lindungan Engkau, Ya Allaah. Aamiin, ya rabbal'alamin." Alifa memakai cincinnya dan mengusap dua telapak tangannya ke wajah.


Setelahnya ia kembali masuk ke dalam kamar, ia melepas mukenah dan keluar kamar. Tadi ia seperti mendengar panggilan untuk makan oleh mbak Ina, jadi dia memutuskan untuk segera turun ke lantai bawah.


Benar saja, di sana mbak Ina sudah menyiapkan segalanya. Ia hanya tinggal duduk manis saja. Alifa lantas seperti biasanya, mengajak mbak Ina untuk duduk di sana, makan malam bersamanya.


"Mbak, kapan empat bulanan Mbak Yas?" tanya mbak Ina.


"Kenapa?" tanya balik Alifa.


"Aku mau ikut, Mbak. Mau ikut mendoakan," ucap mbak Ina jujur.


"Boleh, nanti kalau aku ke rumah Umi, kamu pasti di ajak. Besok jangan lupa, pengajian di Masjid komplek," jawab Alifa sembari mengingatkan sang mbak.

__ADS_1


"Siap, Mbak. Besok saya selesai pagi-pagi," jawab mbak Ina semangat.


Setelah waktu itu meminta maaf, dam melihat sendiri bagaimana sayangnya Alifa pada Yasmine. Mbak Ina menjadi merasa bersalah, lagi saat melihat betapa baiknya Alfin pada keduanya. Mbak Ina pun kini turut selalu berdoa agar ketiganya rukun selalu.


__ADS_2