Jalan Cinta Aisha Khumairah

Jalan Cinta Aisha Khumairah
Episode 97


__ADS_3

🍃🍃🍃🍃🍃🍃


“Jika dua hati saling terikat kuat. Kenapa harus ada kata perpisahan? Dan jika hati saling memliki dan melengkapi, kenapa harus menepi?” Khibban NurCahyo.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Episode 97


Setelah shalat Shubuh Aisha menyiapkan sarapan bersama Umi Fatimah dan Mama Zahra. Sementara itu, Fatih yang tengah mengobrol dengan beberapa santriwan hanya bisa tertawa lepas mendengar guyonan yang tengah di lontarkan oleh para santriwan.


“Gus Fatih nanti titip namaku dan namanya untuk Gus Fatih doakan di depan Ka’bah ya. Karena aku sangat mencintainya Gus.” kelakar seorang santriwan yang tengah di damping Fatih.


“Insya Allah ya, tapi nanti tlong jaga beneran ya situasi keamanan Pondok Pesantren An-Nur. Kalian semua setelah lulus dari sini mau kemana? Lanjut kuliah atau bagaimana?” tanya Fatih menatap santriwan senior.


“Kita semua minta restu Abah dan Umi dulu Gus dan setelah itu kita akan meneruskan apa yang Abah dan Umi restui, kalau boleh tahu kenapa Gus?” balas seorang santriwan senior.


“Ya mungkin mau kuliah atau kerja gitu. Oh ya nanti selepas aku pulang umrah, kalian semua aku undang untuk memimpin pengajian di perusahaan besar Al-Fatih ya. Mau??” tanya Fatih kemudian.


Semua santriwan mengangguk dan kembali bercengkrama dengan Fatih. Ayah Ahmad dan Abi Hamzah yang melihat Fatih yang sedang bercengkrama dari kejauhan hanya bisa tersenyum melihat perubahan Fatih yang begitu sangat mengesankan.


“Terimakasih Hamzah, Aisha mampu merubah Fatih menjadi pribadi sangat baik dan tidak mudah emosi semenjak pernikahannya dengan Aisha.”


“Sama sama Ahmad, yang harus kita lakukan bukan lagi menyatukan Aisha dengan Fatih. Akan tetapi, menjadi pendengar yang baik nantinnya. Sebentar lagi kita juga akan menjadi kakek kakek juga kan dan umur kita tak tahu kapan berakhir.”


“Benar Hamzah, tugas kita menjadi pendengar yang baik dan melihat Fatih dan Aisha yang semakin hari semakin menyatu membuatku khawatir jika suatu saat dia datang kembali untuk memporak porandakan rumah tangga Fatih dengan Aisha.” balas Ayah Ahmad sembari menatap Fatih tertawa lepas dengan para santriwan.


“Tenang Ahmad, Anas akan menghentikan semuanya atas izin Allah SWT dan perlu yang kamu ingat. Anas dan Riko di sana menyelesaikan apa yang pernah terjadi di sini. Akan tetapi, kita tak tahu berapa luasnya jaringan Vina Renata untuk menghancurkan perusahaanmu itu.” Abi Hamzah membakar rokoknya dan menghembuskan secara perlahan sembari menatap Fatih.


Aisha yang telah selesai membantu Umi dan Mama Zahra memasak kini mendengar percakapan ayahnya dan mertua laki-lakinya yang sedang khawatir dengan kedatangan masa lalu suaminya kelak, Vina Renata. Aisha kemudian mencium Abi Hamzah dan menatapnya lekat.


“Abi, Ayah masuk dulu dan sudah di tunggu Umi dan Mama untuk makan pagi sebelum kita berangkat ke bandara. Permisi mau manggil Mas Fatih.”


“Sudah matang nak? Yauda, yuk Ahmad kita makan dan segera bersiap untuk berangkat ke bandara.” ajak Abi Hamzah ke Ayah Ahmad.


Aisha pun menghampiri Fatih yang tengah tertawa dan bercengkrama dengan beberpa santriwan. Fatih yang tengah bercerita menatap heran ke arah santriwan yang tengah menunduk ke bawah.


“Kalian semua kenapa menunduk? Aku kan belum selesai cerita.” ucap Fatih.


“Maaf Gus Fatih. Ada Ning Aisha di belakang Gus. Mohon maaf kita masuk dulu. Terimakasih atas saran dan ceritanya.” ucap seorang santriwan senior yang tetap menunduk.


Fatih pun yang mendengar ada nama Aisha menoleh ke belakang. Dan benar kini Aisha menatapnya dan sembari tersenyum di depannya.


“Yauda ini aku punya sedikit rezeki dan jangan buat jajan sembarangan ya, ingat pesanku tadi.” balas Fatih sembari menutupi wajah Aisha dengan syalnya.


“Kita permisi terlebih dahulu Gus, Ning. Assalamualaikum wr wb.” ucap mereka serentak sembari menunduk dan berjalan mundur.


“Waalaikummussalam wr wb.” balas Fatih dan Aisha bersamaan.


Fatih menatap Aisha yang tak memakai niqabnya. Dengan memandang sangat kagum membuat Aisha memerah kedua pipinya.


“Bae, niqabnya mana? Kok langsung keluar gini sih?”


“Lho, Mas Fatih lupa? Coba lihat mereka tadi lihat wajahku atau ndak? Aku tahu aku salah Mas, Aisha minta maaf ya.”


Fatih menatap lekat netra Aisha, dia merasakan ada hal yang sangat istimewa saat memandang kedua netra Aisha.


“Bae, jangan meminta maaf. Yauda yuk kita makan.” ajak Fatih sembari menggenggam jemari Aisha.


Setelah sarapan pagi kini mereka bersiap untuk berangkat ke tanah suci Makkah dan Madinah untuk umrah bersama keluarga besar Aisha dan Fatih. Aisha yang mondar mandir gelisah di sekitar boarding pass membuat Fatih keheranan.


“Bae? Kenapa terlihat gelisah? Ada yang ketinggalan?” tanya Fatih lembut.


“Kalau sesuatu yang ketinggalan sih gak ada Mas, tapi Aisha merasa gak enak rasanya dan itu gak tau kenapa.” balas Aisha menatap ke arah pesawat yang tengah mengisi bahan bakar untuk persiapan penerbangan.


Fatih kemudian memberikan pelukan hangat untuk menenangkan Aisha. “Bae, insya Allah semua baik baik saja, karena semua penerbangan untuk umrah dan pulang nanti adalah kelas pertama kita. Jadi jangan khawatir ya.”


“Bukan penerbangannya Mas. Tapi kenapa hati Aisha kepikiran Kak Anas di Mesir.” balas Aisha di pelukan Fatih.


“Semuanya baik baik saja sayang dan mau ketemu Kak Anas setelah umrah nanti?”


“Jangan Mas, aku tak ingin kamu khawatir. Karena… karena di sana ada….”


Suara Aisha terputus karena jemari Fatih menyentuh bibirnya di balik niqabnya.” Bae, semuanya akan baik baik saja dan jangan khawatir jika ada dia datang kembali. Aku tetap memilihmu dan menjadikanmu nomor satu di hatiku dan kehidupanku selamanya.”


“Kamu sudah nyaman Mas? Kamu sudah merasakan kedamaian dengan hadirku di hatimu saat ini Mas?”


“Lebih dari nyaman itu Aish, lebih dari semuanya yang kamu katakan. Akan tetapi satu hal yang perlu kamu tahu saat ini, mau tahu?”


“Apa itu Mas?”


“Nanti kamu akan tahu sendiri Aish, karena saat ini dan selamanya. Aku, Fatih Nur Rakhman bin Ahmad Fatikhurahman akan selalu ada dan selalu menjadi imam untukmu dan keluarga kita, hingga maut menjemputku.”


Aisha menatap netra Fatih, mencari kejujuran yang kini Fatih ucapkan untuknya. Hatinya sangat damai mendengar dan merasakan kehadiran suaminya tersebut yang telah berubah menjadi lebih baik.

__ADS_1


Waktu menunjukkan pukul sepuluh tepat. Kini Aisha dan Fatih bersama seluruh jamaah umrah dari keluarga besar mereka memasuki pesawat untuk segera menuju Saudi Arabia, bandara King Abdul Aziz.


“Aish boleh duduk pinggir jendela Mas?” pinta Aisha.


“Boleh Aish, sebentar ya mau lihat tempat duduk ayah dan mama serta umi dan abi dulu.” Fatih pamit sembari mengecup kening Aisha.


“Iya Mas, minta tolong ambilkan keripik ya nanti di Umi. Mau nyamil soalnya.” balas Aisha sembari mencium pipi Fatih.


“Keripik? Baiklah Aishku, adalagi?”


Aisha segera menggeleng dan pandangannya beralih tertuju ke arah Shinta dan Delon yang tengah berbincang dengan sedikit memasang wajah tegang. Aisha pun berjalan menuju tempat Shinta yang tengah berbicara dengan Delon.


“Jika Tuan Muda Anas dan Tuan Muda Riko di hajar oleh Andre Villa Boaz beserta Vina Renata di sana, kenapa kita harus berdiam diri Delon?” ucap Shinta sembari menunjukkan wajah panik ke arah Delon.


“Mangkanya itu, kamu setelah umrah nanti langsung jemput Tuan Muda Anas dan kamu sudah mengertikan siapa Shanti dan Diana?” Delon balik bertanya ke arah Shinta.


“Aku tahu hanya sebatas dokumen yang aku baca Delon dan jika mereka berdua benar adikku. Maka aku harus membunuh Andre Villa Boaz beserta Vina Renata!!” suara nada Shinta sedikit meninggi ke arah Delon.


Aisha yang mendengar percakapan Delon dan Shinta kemudian berdiri di samping tepat di depan Delon dan Shinta sedang berdebat, “Kak Shinta kenapa harus di bunuh mereka berdua? Coba ceritakan semuanya ke Aisha Kak.”


Shinta yang mendengar ucapan Aisha segera memeberikan kode ke Delon untuk tutup mulut dan kembali menatap Aisha, “Nona, itu semua akan menajadi jawaban tentang siapa pembunuh keluargaku dan bagaimanapun juga nantinya Mas Anas akan tidak terlibat dengan semua yang Shinta rasakan.”


“Tapi bagaimanapun juga, Aisha tak ingin Kak Shinta membunuh orang kembali!! Cukup saat itu saja Kak!!” Aisha sedikit berteriak dan meneteskan air mata di depan Shinta.


Fatih yang tengah mencari keberadaan Aisha di kagetkan dengan suara Aisha yang tengah berteriak di depan  samping tempat duduk Shinta dan Delon. Ruang duduk bertaraf bisnis yang lenggang itulah yang membuat suara  Aisha terdengar Fatih.


“Shinta, Delon. Ada apa ini? Sayang, kamu tak apa apa?” tanya Fatih sembari memeluk untuk menenangkan Aisha.


“Huhuhuhuhuhuhuhu, Kak Shinta mau membunuh orang lagi Mas. Huhuhuhuhuhu.” Aisha menangis di pelukan Fatih.


“Mau membunuh? Siapa nak yang mau dibunuh Shinta?” tanya Mama Zahra ikut menenangkan Aisha.


“Andre dan Vina, Ma. Mereka mau dibunuh Kak Shinta nantinya, huhuhuhuhuhu.” ucap Aisha dengan suara terisak.


Fatih menatap Delon dengan tatapan membunuh dan beralih ke Shinta, “Nanti bisa bicara denganku kalian berdua?”


“Baik Tuan Muda.” balas Shinta dan Delon bersamaan.


Aisha kemudian mulai tenang, dia kembali duduk di tempatnya karena sebantar lagi pesawat akan lepas landas. Setelah pesawat lepas landas, kini Aisha yang tengah menatap awan di buyarkan Fatih.


“Sayang, are you okay?” tanya Fatih sembari mengendorkan sabuk keselamatan di perut Aisha.


“Aku gak tau kenapa akhir akhir ini sangat sensitive untuk marah marah Mas. Padahal aku gak kenal dengan mereka berdua tapi kenapa aku sangat sensitive mendengar kata pembunuhan.” balas Aisha sembari menatap lekat Fatih.


“Iya Mas. Itu yang di bawa pramugarinya apa ya itu Mas?” Aisha menunjuk ke arah pramugari yang tengah membawa snack untuk penumpang.


“Mau? Tapi minum susu dulu ya, sebentar aku buatkan,” ujar Fatih sembari berjalan ke arah pramugara untuk meminta air panas untuk susu hamil Aisha.


Setelah beberpa menit kemudian, Fatih kembali datang dengan segelas susu dan beberpa biscuit. Aisha yang sedikit pusing dan mual mencoba untuk tetap tenang agar tidak membuat panik semua orang. Tapi sayang sekali Fatih menatap wajah Aisha yang sudah pucat pasi.


“Sayang, kamu pucat? Dokter!!” teriak Fatih sembari berteriak memanggil dokter yang di bawa oleh keluarga besar Al-Fatih.


Dengan segera tim dokter memeriksa Aisha yang tengah mual. Fatih yang terlihat mondar mandir kini di tenangkan Abi Hamzah.


“Nak, tenang. Istrimu itu mabuk udara karena dia pertama kali naik pesawat juga dan Abi Mohon jangan khawatir seperti ini, menyeramkan jika kamu terlihat khawatir dengan kondisi anakku itu.”


“Gimana Fatih gak khawatir Abi, wajahnya Aisha pucat dan maaf Fatih tadi tinggal buat susu hangat untuknya.” Fatih mencoba menenangkan diri.


Dokter yang telah memberikan obat anti mabuk kini berdiri di belakang Fatih, “Maaf Tuan Muda Fatih/ tampaknya Nona Muda mabuk udara dan mohon nanti tetap di samping Nona, jangan di tinggal kemanaun,” ujar dokter tersebut ke Fatih.


“Terimakasih dok dan silahkan kembali ke tempat kalian.” balas Fatih sembari duduk di samping Aisha yang tengah tertidur karena pengaruh obat.


Fatih segera menutup gorden pemisah antara tempat duduk sampingnya dan belakangnya. Fatih yang tengah menatap Aisha tertidur itupun ikut tertidur pulas. Perjalanan yang memakan dan menempuh waktu hampir dua belas jam membuat Fatih tertidur memeluk Aisha.


“Nak, kalian makan dulu. Sebentar lagi kita nyampai di Saudi Arabia,” ujar Mama Zahra sembari membangunkan Fatih dan Aisha bersama.


“Eeuhhmm, iya Ma. Mama sudah makan? Ma, biar Aish istirahat dulu nanti Fatih suapin.” ucap Fatih seraya membetulkan selimut Aisha.


Aisha yang tadinya sudah bangun tersenyum mendengar bahwa suaminya akan menyuapinya, akan tetapi Fatih yang tengah membenarkan letak selimut Aisha mengetahui bahwa Aisha telah bangun.


“Sudah bangun ya? Makan dulu terus nanti persiapan mau landing sayang.”


“Hehehehehehe, ketahuan ya Aisha sudah bangun. Iya Mas, tapi suapin ya.”


“Iya tak suapin, sebentaar aku ambilkan makan dulu.”


“Mas, ada seblak?” tanya Aisha sembari mengelus perutnya yang sudah sedikit membuncit.


“Seblak lagi sayang? Kemarin sudah seblak lho.”


“Aish pengen seblak tapi kalau gak ada gak apa deh. Ada ramen?”


“Gak ada sayang, nih aku pesankan rendang dan nasi goreng.”

__ADS_1


“Yaudah deh, sudah sampai mana ini Mas?” tanya Aisha sembari menunggu Fatih yang tengah membuka kotak makan yang berisi rendang dan nasi goreng.


“Gak tahu juga, kan ini di udara sayang, yuk makan dulu terus minum vitamin dan susu hangatnya aku buatin lagi. Mau rasa apa?” balas Fatih sembari bersiap menyuapkan nasi goreng ke Aisha.


“Semangka ada?”


“Semangka? Emang ada ya? Perasaan kemarin kita beli susu untuk sayang hanya ada rasa strawbery, jeruk dan melon lho.”


“Pengen semangka.” Aisha mengusap perutnya.


“Yauda nanti beli semangka di sana, yuk aaaakkkkkk.” Fatih menyuapkan nasi ke mulut Aisha.


Aisha pun menyambut suapan pertamakalinya dari suaminya tersebut, hatinya terasa sangat bahagia. Di pandanginya terus wajah suaminya tersebut.


“Mas juga makan, sepiring berdua itu romantis lho.” ucap Aisha sembari mengusap rambut Fatih.


“Iya sayang tapi kamu dan bayi kita yang paling utama.”


Setelah menyuapi Aisha kini Fatih memberikan gelas berisi susu dan vitamin ibu hamil ke Aisha.


“Aku sangat bahagia Mas, terimakasih dan terimakasih.” ucap Aisha mengecup kening Fatih.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Assalamualaikum wr wb, terimakasih yang sudah membaca dan mencerna jalan cerita ini yang receh atau bahkan rumit ya?


Jangan lupa vote dan like serta komentar nya ya🙏🙏, untuk menambah semangat author juga😊😊.


Terimakasih semuanya.


Wassalamu'alaikum wr wb.

__ADS_1


__ADS_2