
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
“Cinta indah seperti bertepuk dua tangan, tak akan indah jika hanya sebelah saja.” Khibban NurCahyo.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Episode 93
“Tentu dan selalu Mas, karena bagaimanapun juga sebuah rumah tangga itu kuncinya yang utama adalah saling berkomunikasi antara suami dan istri di samping berkomunikasi dengan Allah SWT tentunya. Aish tinggal masuk ke dalam ya. Mas Fatih merokok aja dahulu setelah itu Aish tunggu di tempat tidur.” Aisha membelai rambut Fatih sembari memberikan senyuman termanis untuk suaminya tersebut.
“Tidur bersama yuk Bae biar nanti bisa menjaga kondisi kita karena besok kita harus bersiap untuk berangkat ke Tanah Suci untuk umrah.” ajak Fatih sembari menggendong Aisha untuk segera beristirahat di ranjang.
Aisha mengangguk dan dengan segera mereka berdua terlelap setelah membaca doa sebelum tidur. Sementara itu Shinta yang masih menangis di tengah malam kini menatap foto kedua orangtuanya yang telah meninggal akibat di bunuh oleh keluarga Villa Boaz.
“Jika keluarga kamu terlibat juga Andre, maka aku tak akan segan segan membunuhmu kelak ketika aku bertemu denganmu setelah aku umrah nanti.” suara getir Shinta terdengar sangat menyayat.
“Dan terimakasih Tuan Besar Ahmad Fatihurahman dan Nona Besar Zahra Khumaira. Kalian berdua merawatku hingga sampai detik ini akan tetapi maaf jika nantinya aku bunuh semua keluarga Villa Boaz termasuk keluarga besar Vina Renata!!!” Shinta kembali bermonolog menatap seluruh keluarga besar Vina Renata yang kini juga pindah ke Mesir.
Sepertiga malam kini menyapa Aisha dan tentunya Fatih yang sudah terbangun sepuluh menit lebih awal kini tengah memakai sarung dan peci putih untuk bersiap shalat Tahajud. Aisha menatap Fatih yang tengah merapikan baju muslim yang telah di belinya dulu.
“Sudah bangun Bae sayang? Yuk shalat di bawah terus kita jalan jalan pagi sambil makan bubur ayam di depan perumahan.” ajak Fatih sembari mengecup kening Aisha.
“Mas bangun sendiri? Yauda bentar Aish ambil wudlu dulu ya.” balas Aisha mengecup bibir Fatih.
“Seperti candu bibirmu sayang yang selalu melayang dengan akhlakmu juga.” batin Fatih membalas kecupan Aisha.
“Bentar bentar, Mas Fatih ini batal dong wudlu nya? Hahahahahaha wudulu lagi sana Mas.” ujar Aisha sembari menyembunyikan blushing wajahnya.
“Yang penting dapat kecupan dari bidadari surga, yauda wudlu dulu sayang setelah itu Mas yang wudlu.” balas Fatih sembari mengambil sebatang rokok dan kemudian membakarnya sebentar sembari menunggu Aisha yang tengah berwudlu/
Setelah beberapa jam kemudian mereka berdua selesai bermunajat di sepertiga malam mereka, Faatih yang tengah bersiap ke masjid untuk shalat shubuh berjamaah tiba tiba di tahan Aisha.
“Mas, nanti jadi makan bubur? Aish pengen maem lainya ya nanti.” pinta Aisha.
“Mau maem apa Bae? Lontong tahu? Lontong balap? Atau….” suara Fatih terputus saat Aisha menunjukkan menu seblak terbaru di ponsel miliknya.
“Seblak? No seblak, no cabe!! Makan yang lainya ya Bae.” balas Fatih lembut.
“Emoh!! Aish mau seblak!! Seblak level lima!!!” rengek Aisha manja.
Akhirnya Fatih mengalah dengan menggelengkan kepalanya, “Yaudah lihat nanti, aku mau ke masjid dulu ya, jangan lupa setelah shalat Shubuh jangan banyak aktivitas biar tak capek.”
Setelah adzan Shubuh berbunyi, Aisha segera mengambil wudlu untuk menunaikan shalat Shubuh berjama’ah dengan Mama Zahra dan beberapa asisten rumah tangga keluarga besar Fatih. Setelah itu Aisha segera membantu asisten rumah tangga yang tengah memasak dengan di dampingi Shinta yang tengah menyuapi Hafisah.
“Sudah pantas Kak Shinta menjadi ibu kalau lihat kakak sangat sayang ke Hafisah.” ucap Aisha sembari menatap Hafisah yang setelah shalat Shubuh tadi merengek minta makan.
“Jangan begitu Nona Aisha, Nona lebih baik istirahat saja dan biar di lanjutkan sama bibi rumah tangga.” balas Shinta menghentikan aktivitas Aisha yang memotong sayuran.
“Bentar lagi Kak, oh ya Kak Anas sulit aku hubungi kenapa ya Kak Shinta?”
“Mungkin Mas Anas lagi sibuk mengejar buronan yang kini bertambah satu juga Nona dan Shinta minta izin nanti setelah umrah, Shinta ingin menyusul Mas Anas. Apa di perbolehkan, Nona?” ucap Shinta pelan.
“Besok kan kita berangkat Kak? Kak Shinta mohon petunjuk saat umrah nantinya karena Aisha tak bisa mengiyakan atau menolak tetapi di dalam hati Aisha yang sangat dalam, Aisha ingin sekali Kak Shinta menikah dengan Kak Anas. Bukan wanita lainya dan entah kenapa hati Aisha selalu merasa sangat khawatir dengan Kak Anas saat ini.” balas Aisha sembari menghapus air matanya karena rindu dengan Kakaknya, Anas Hamzah.
“Maafkan Shinta jika nantinya takdir Shinta dan Mas Anas tidak bersatu seperti Nona Muda dengan Tuan Muda. Akan tetapi kata Nona, kita harus berusaha dan sering bermunajat ke Allah SWT kan?” tanya Shinta.
“Benar sekali Kak dan apapun nanti jalan yang di berikan Allah SWT ke Kak Shinta, Kak Shinta harus menerima dengan perasaan yang baik karena Allah SWT tidak pernah salah untuk memberikan kita sesuatu di jalan hidup kita. Contohnya saat ini Aisha yang sudah membaik dan alhamdulillah juga Allah SWT mempercayakan calon anak untuk Aisha dan Mas Fatih. Tetapi , Aisha harus dan harus selalu tetap bermunajat serta berdoa ke Allah SWT dan menjadi istri yang baik bagi Mas Fatih dan anak anak nantinya.” Aisha menjelaskan sembari menatap Shinta yang menunduk.
“Nona Aisha, Nona sudah bahagia dengan Tuan Muda Fatih? Dan kasih tahu resepnya ketika nanti Shinta menghadapi Mas Anas yang kecantol wanita lainnya.” balas Shinta sembari menyuapkan nasi terakhir untuk Hafisah.
__ADS_1
“Yang ada nanti Aisha pukul duluan Kak Anas jika dia bermain wanita di sana, tenang saja Kak Shinta. Gini gini Aisha mantan pemegang sabuk hitam lho.” Aisha memeperagakn beberapa gerakan karate di depan Shinta.
Shinta terkekeh melihat Aisha yang memperagakan gerakan karate di depannya, sementara Aisha yang tak mengetahui jika di belakangnya sudah berdiri Mama Zahra yang menggeleng melihatnya yang sedang memperagakan gerakan karate.
“Aish, jangan banyak gerak, aduh cucu Oma nanti kenapa kenapa lho.” ucap Mama Zahra mengelus perut Aisha yang sudah mulai membuncit kecil.
“Hehehehehe Mama, cuman pemanasan saja Ma. Oh ya Ma nanti Aisha mau izin keluar sama Mas Fatih untuk ke Panti Asuhan, boleh?” tanya Aisha.
“Boleh tapi jangan sampai kelelahan dan nanti coba Mama dan Ayah ikut juga, nanti ikut juga ya Shin.” ucap Mama Zahra sembari menatap Shinta yang kini menunduk untuk memberikan hormat.
“Baik Nona Besar dan …” suara Shinta terputus ketika Mama Zahra memeluknya.
“Panggil mama saja jangan Nona karena sedari dulu kamu anggap anak perempuanku, Shinta dan Mama ingin kamu mengabulkan permintaan Mama ya Shinta.” pinta Mama Zahra tetap memeluk Shinta.
“Tapi Nona …” ucapan Shinta berhenti kembali saat Aisha juga memeluknya mengikuti Mama Zahra.
“Dan jangan panggil Aisha dengan Nona Muda, alangkah senangnya Aisha mendapatkan panggilan adik dari Kak Shinta.” suara Aisha sangat tulus di telinga Shinta.
Mereka bertiga tersenyum bersama tanpa di ketahui dua orang laki laki tengah menatap mereka bertiga, siapa lagi kalau bukan Ayah Ahmad Fatikhurahman dan Fatih Nur Rakhman. Fatih yang sedari tadi setelah pulang dari masjid dan mendengarkan percakapan Aisha dan Shinta. Hatinya merasakan kedamaian saat ini. “Aku akan terus menjagamu dan anak anak kita Aisha Khumairahku.”
“Ehem ehem, jatuh cinta Boy? Jangan sampai kamu tak menjaga Aisha. Lihat tuh, ayahmu ini bertambah saingannya. Hehehehehehe Boy, ada rokok? Rokok ayahmu ini tertinggal di kamar mandi masjid tadi.” ucap Ayah Ahmad Fatikhurahman ke Fatih.
“Lha? Kok bisa ketinggal di kamar mandi masjid? Nih yah tapi merokoknya di teras saja, aku gak mau istriku mengisap asap rokok.” balas Fatih sembari mendorong tubuh ayah Ahmad Fatikhurahman.
Aisha yang melihat suami dan mertuanya pergi keluar segera membuatkan kopi dua cangkir untuk mereka berdua, “Ma, bentar ya. Aisha mau buatkan kopi dulu, nanti kita lanjut lagi ngobrolnya dan Kak Shinta, jangan panggil Aisha dengan Nona, paham?”
Setelah kopi siap kini Aisha mengantarkan ke teras depan rumah yang terdengar dua laki laki yang berbeda generasi mengobrol tentang kegiatan besok selama umrah.
“Mas, kopinya nih. Ayah yang ini kopinya dengan sedikit gula.” ucap Aisha menaruh dua cingkir di sebelah suami dan mertuanya.
Fatih menatap wajah Aisha dan, “Iiiihhh Bae pakai niqab, jangan gini Bae.”
“Lho Mas Fatih lupa? Di rumah sini kan sudah perempuan semua? Dan pagar saja tertutup rapat, kenapa Aish….” suara Aisha terputus karena jari telunjuk Fatih menempel di bibirnya.
“Sembrono nih anak, gini ini Aish jika kamu terlalu membucinkan Fatih. Ayahmu ini sudah ada mamamu yang cantik dan manis juga, sudah Aish masuk saja, biar suamimu ini sama ayahmu ini sebentar saja.” pinta Ayah Ahmad Fatikhurahman.
“Yauda masuk Bae atau aku masukin nanti…..”
Pletak
“Masih pagi sudah mesum. Dah sana masuk Aish, jangan hiraukan suamimu yang bucin ini, mau ayahmu menambahkan lagi Fatih?” ucap ayah Ahmad Fatikhurahman sembari bersiapn menampol dahi Fatih kembali.
“Idih, bilang saja iri, yauda masuk Bae. Nanti aku susul di kamar dan jadi nanti beli seblak?” tanya Fatih.
“Jadi Mas dan nanti beli seblak di sebelah Panti Asuhan ya.” ucap Aisha mengecup pipi Fatih kemudian dia kembali masuk ke dalam rumah.
“Gini ini ya yah rasanya dapat ciuman bidadari surga. Mau menolak keinginannya itu nanti tak tega tapi yang di makan seblak.” ucap Fatih sembari senyum senyum sendiri.
Mereka berdua tertawa mengingat jika mereka berdua sama sama keras dan tegas. Akan tetapi luluh lantak di depan istri mereka berdua. Delon yang berlari ke arag mereka berdua dari depan gerbang dengan tergesa-gesa sembari membawa berkas yang terlihat sangat penting.
“Tuan Besar dan Tuan Muda, ada kabar mengejutkan!! Dan …..”
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Assalamualaikum wr wb, terimakasih yang sudah membaca dan mencerna jalan cerita ini yang receh atau bahkan rumit ya?
Jangan lupa vote dan like serta komentar nya ya🙏🙏, untuk menambah semangat author juga😊😊.
__ADS_1
Terimakasih semuanya.
Wassalamu'alaikum wr wb.