Jalan Cinta Aisha Khumairah

Jalan Cinta Aisha Khumairah
Episode 27


__ADS_3

πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


"Jikalau kita letih karena kebaikan maka sesungguhnya keletihan itu akan hilang dan kebaikan akan kekal. Namun, jikalau kita bersenang-senang dengan dosa, maka sesungguhnya kesenangan itu akan hilang dan dosa itu akan kekal." Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Episode 27


"Assalamualaikum wr wb, Ayah Ahmad Fatihurahman, Mama Zahra Khumaira, Abi Hamzah, Umi Fatimah, Kak Anas, Kak Riko dan calon suami Aisha Mas Fatih, begini...." Aisha mengambil berkas dari tangan Shinta yang sedari tadi sudah siap memberikan ke Aisha.


Semuanya mangut mangut seolah olah mengerti.....


"Aisha tadi malam setelah mengecek penghasilan dari perusahaan keluarga besar Al-Fatih berkeinginan untuk membangun sebuah panti asuhan yang nantinya cukup dua pulu persen saja per-bulan untuk keperluan nya, apakah Mama, Ayah, Abi, Umi, Kak Anas, Kak Riko dan Mas Fatih setuju?." tanya Aisha hati hati.


Suasana menjadi hening, terlihat Abi Hamzah dan Umi Fatimah saling berpandangan ke arah Ayah Ahmad Fatihurahman dan Mama Zahra.....


"Aku setuju Kak Aisha, lagian nilai sekitar dua puluh persen itu sedikit juga, bukan begitu Yah Ma?" Riko meminta persetujuan Ayah dan Mama.


"Boleh juga idenya Aisha sayang, bukan begitu Ning Fatimah?" ucap Mama Zahra Khumaira menatap Umi Fatimah.


"Boleh juga tuh tapi Ayah harap yang mengelola adalah Anas dan Riko nantinya di bantu Shinta juga, bagaimana Shinta?" tanya Ayah Ahmad Fatihurahman ke arah Shinta yang kini mencuri pandang ke Anas.


Shinta yang mencuri pandang ke Anas tidak menanggapi pertanyaan dari Ayah Ahmad Fatihurahman....


"Shinta di panggil tuh." ucap Anas menunjuk ke arah Ayah Ahmad Fatihurahman.


Shinta yang terkejut langsung menoleh ke arah Ayah Ahmad Fatihurahman....


"Maaf Tuan Besar, bagaimana?" tanya Shinta polos.


"Bersedia atau tidak mengurus rumah panti asuhan bersama Riko dan Anas di samping menjadi sekretaris pribadi Aisha?" tanya kembali Ayah Ahmad Fatihurahman.


"Baiklah dengan senang hati Tuan Besar Ahmad Fatihurahman." Shinta menunduk hormat.


Fatih berdiri dari tempat duduknya dan.... "Fatih gak setuju!!! Buat apa bikin panti asuhan segala? Menghamburkan uang saja kau!! Belum menjadi istri saja sudah menghamburkan uang perusahaan!!!" Fatih menunjuk Aisha dengan bersuara keras.


Semua terdiam, Ayah Ahmad Fatihurahman mengepalkan tangannya bersiap untuk menghajar Fatih akan tetapi Abi Hamzah menarik tangannya dan berbisik. "Jangan terpancing Ahmad Fatihurahman, lihat saja karena kita akan melihat Aisha calon menantumu itu tak bakal diam.".


Aisha mendengar ucapan Fatih hanya menggeleng pelan dan tersenyum ke arah Fatih.


"Dua puluh persen sedikit Mas Fatih, tak akan habis jika kita menyedekahkan sebagian ke membutuhkan, itu semua dari Allah SWT dan itu semua milik Allah SWT, hanya titipan Mas Fatih, hidup itu indah jika kita mencari berkah." jawab Aisha lembut.


"Tapi itu uang perusahaan bukan milikmu!! Ingat bukan milikmu!! Saya yang berhak atas uang perusahaan itu!!!" suara Fatih semakin meninggi.


Aisha mengingat kata kata dari Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, jika menghadapi seseorang yang marah maka kamu harus tenang. Karena ketika salah satunya adalah Api, maka satu yang lainnya harus bisa menjadi Air yang bisa meredam amarah itu.


"Maaf Tuan Fatih, ini berkas semenjak di pegang Nona Muda Aisha perusahaan keluarga besar Al-Fatih mengalami kemajuan yang sangat pesat dan bahkan dua perusahaan inti mampu menjadi perusahaan nomor satu di negara ini." ucap Shinta memberikan berkas perusahaan sambil menahan amarahnya karena Fatih sebagai calon suami Aisha berkata kasar ke Aisha di depan semua orang.


Fatih yang membaca berkas perusahaan keluarga besar nya melotot sedang Riko yang ikut melihat berkasnya hanya bisa tersenyum dan berkata....


"Ini belum satu bulan lho segini pendapatannya Kak Shinta?" tanya Riko.


"Iya benar Tuan Muda Riko dan itu sudah termasuk laba perusahaan yang sudah di potong untuk gaji pegawai dan itu hampir satu bulan semenjak Nona Muda Aisha memegangnya hasilnya segitu bagaimana satu tahun dan beberapa tahun kedepannya." ucap Shinta.


Aisha yang mendengar penjelasan Shinta mengunyah biskuit di dekatnya sembari menatap Shinta yang menerangkan laba perusahaan yang baru saja yang dia kelola.


"Gak mungkin ini segini yah, coba cek deh." ucap Fatih memberikan berkas ke Ayah Ahmad Fatihurahman.

__ADS_1


Ayah Ahmad Fatihurahman membaca dengan teliti dan hati-hati, Aisha terlihat membaca beberapa pesan di ponselnya.....


"Nih Yah, ada beberapa nomor perusahaan luar negeri yang berminat bergabung kerjasama dengan perusahaan nya Ayah." Aisha memberikan ponselnya ke Ayah Ahmad Fatihurahman.


Ayah Ahmad Fatihurahman membaca pesan di ponsel milik Aisha dan mangut mangut mengerti, Mama Zahra Khumaira dan Umi yang membaca berkas melongo membaca nominal uang yang tertera.


"Aisha…….Ini gak salah dapat segini? Shinta coba cek lagi tolong." ucap Mama Zahra Khumaira.


"Baik Nyonya Besar Zahra Khumaira, ini data semua pendapatan perusahaan keluarga besar Al-Fatih satu bulan lalu." Shinta membuka sebuah laptop berlogo apel kroak sebut saja Mac OS.


Mama Zahra Khumaira kembali melongo menatap nominal uang yang terdapat di database keuangan perusahaan keluarga besar Al-Fatih.


"Ini Aisha sudah mendapatkan haknya?" tanya Ayah Ahmad Fatihurahman.


Aisha yang di tanya seperti itu hanya terdiam karena dia belum mengambil sepeserpun uang gajinya selama yang belum sampai sebulan dia bekerja.


"Belum sama sekali Tuan Besar Ahmad Fatihurahman karena Nona Muda Aisha memprioritaskan pegawai dan selanjutnya untuk Delon dan saya sudah di transfer sama Nona Muda Aisha." ucap Shinta.


"Lha kok gitu kenapa Nak Aisha?" tanya Mama Zahra.


Aisha tersenyum ke arah Mama Zahra Khumaira dan Umi Fatimah yang di sampingnya....


"Insya Allah habis ini Aisha ambil cuman sepuluh juta saja Yah karena untuk biaya kuliah dan praktikum juga sebentar lagi dan sisanya di tabung untuk kuliah S2 Aisha nantinya kok." jelas Aisha.


"Halah bilang saja anda cari muka di depan keluargaku dan keluargamu saja, benar kan?" ucap Fatih dengan ketus.


Aisha mendengar ucapan Fatih hanya membalas dengan senyuman, dia faham jika emosi tidak harus dengan emosi...


"Buat apa saya mencari muka ke keluarga besar anda Mas Fatih dan buat apa saya mencari muka di depan Abi Hamzah dan Umi Fatimah." balas Aisha dengan tenang.


Ayah Ahmad Fatihurahman membanting berkas di hadapan Fatih, emosionalnya sudah tidak bisa di bendung....


Fatih yang mendengar Ayah nya berbicara keras menjadi ciut nyalinya, dalan hatinya dia mengakui bahwa kinerja Aisha di perusahaan keluarga besar Al-Fatih sangat baik dan sesuai prosedur akan tetapi hati kecilnya masih membenci Aisha karena merebut hati Ayah dan Mama nya, berbeda dengan Vina Renata yang tak memiliki dan mendapatkan hati dari kedua orangtuanya, Fatih bimbang mengingat Vina Renata.


"Maaf." lirih Fatih.


Ayah mengambil ponsel dan segera mentransfer uang untuk gaji Aisha....


"Itu untuk pendapatanmu nak, jika kurang mintalah dan jangan malu-malu, paham Aisha?" ucap Ayah Ahmad Fatihurahman.


Aisha mengangguk dan semua kembali hening, Fatih yang sibuk merindukan Vina Renata kini hanya mampu bertanya dalam hatinya "Kamu di mana saat ini sayang? Aku rindu kamu.".


Ayah Ahmad Fatihurahman dan Mama Zahra Khumaira mengobrol santai perihal Pondok Pesantren An-Nur yang akan di bangun sebuah sekolah gratis mulai dari tingkat Taman kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, Abi Hamzah saangat setuju mengingat banyak lahan kosong yang cukup untuk membangun gedung sekolah dan fasilitas pendukung lainya kelak.


"Kalau begitu sahabatku bagaimana mulai besok biar Riko dan Anas mulai mencari bahan bangunan dan beberapa tukang untuk membangun sekolah di Pondok Pesantren mu itu? Ini milikmu Hamzah karena dari dulu kamu selalu membantuku sampai detik ini." ucap Ayah Ahmad Fatihurahman.


"Jangan begitu Ahmad Fatihurahman, kita kelola bersama biar nanti aku yang mengurus Pondok Pesantren nya dan kamu dan istrimu mengurus sekolah untuk pendidikannya." timpal Abi Hamzah.


Aisha yang mendengar percakapan Abi Hamzah nya hanya bisa tersenyum, begitu erat persahabatan mereka, begitu tulus kedua sahabat itu meskipun sudah termakan usia dan waktu.


"Oh ya Ning, besok akad nikahnya Fatih dan Aisha di rumah ini ya karena tahu sendiri Fatih seperti apa." ucap Mama Zahra Khumaira tak enak.


"Tak apa apa Zahra, lagi pula perjodohan ini terbilang singkat juga kan jadi kita berdua mengerti kondisinya, semoga Aisha dan nak Fatih bisa saling menyayangi satu sama lain." ucap tulus Umi Fatimah.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Di malam saat Aisha mengutarakan keinginannya untuk membangun sebuah panti asuhan terdapat dua insan memadu kasih berpeluh keringat menyatu menjadi nafsu liar yang terelakkan.


Di sebuah hotel sepasang laki laki dan wanita tengah memadu asmara, mereka berdua menghabiskan malam dengan peluh keringat saling menyatu, saling memuaskan di bawah selimut........


"Apa yang kita lakukan? Tubuhku hanya untuk dia!! Bukan untuk dirimu brengsek!!" ucap wanita itu mendorong tubuh laki-laki.


"Tenang dengan begini kita berdua bisa menikmati kekayaan keluarga besar itu dan kamu harus segera menjebaknya agar dia percaya jika benih yang aku tanam adalah benihnya." ucap enteng pria tersebut.


"Tapi hanya dia yang harus mendapatkan perawan gua, bukan lu brengsek!!" perempuan itu kembali marah.


"Sadarlah kamu, kamu yang tadi malam menyetujuinya, bukan begitu Vina Renata sayang....." ledek laki laki tersebut.


.


.


.


.


Hayo siapa hayo?


Tetap ikuti ya gaes cerita Jalan Cinta.....

__ADS_1


Salam dari author


__ADS_2