
ππππππ
ΩΩΨ§Ψ¨Ψ± ΩΩΩ Ω Ψ΄ΩΨ§ΨΉΨ±ΩΨ§ ΩΨ³ΩΩΨ§ ΨΉΩΩΩΩΨ§ ΨͺΨΩΩ
We try to hide our feelings, but we forgot that our eyes speak.
Terkadang kita mencoba untuk menyembunyikan perasaan kita, tapi kita lupa bahwa mata kita berbicara.
ππππππ
Episode 78
Aisha yang telah bersiap untuk menuju ke kantor setelah kuliah kini menatap Dina yang masih melamun kan sesuatu.
"Din, aku pulang dulu ya, assalamualaikum wr wb." ucap Aisha seraya menepuk pundak Dina.
Dina menoleh ke arah Aisha dengan sedikit tersenyum yang sedikit terpaksa. "Apakah benar Kak Anas sudah bertunangan dengan Shinta??"
Shinta yang berdiri di belakang Aisha hanya menunduk mendengar suara getir milik Dina, kini hatinya bertambah ngilu mendengar bahwa Dina menginginkan menjadi istri Anas.
Aisha yang mengerti keadaan hati Dina kini duduk di sebelah Dina. "Dina, boleh kok hati dan pikiran Dina untuk Kak Anas tetapi semuanya sudah ada garis dan keputusan nya bukan? Dina tahu siapa yang memutuskan kelahiran, jodoh dan kematian manusia?."
"Dialah dzat yang bukan lain dan bukan tidak yaitu Allah SWT Aisha tapi apakah aku tidak bisa gitu kamu bantu untuk mendekatkan ku dengan Kak Anas? Aku terlanjur mencintainya Aisha." Dina menunduk mencoba menahan air matanya yang terjatuh tidak terlihat Aisha.
Aisha yang tadinya sudah bersiap pergi ke kantor kini kembali duduk di sebelah Dina. "Mencintai boleh tapi memaksa kehendak takdir itu yang kurang pantas juga nantinya, gini aja deh saran ku, coba Dina buka hati ke Allah SWT dulu setelah itu ada dan tidak nya, sudah dan belum nya jawaban dari Allah SWT berarti Dina harus dekat dulu ke Allah SWT, coba Dina lakuin."
Dina mengangguk faham akan ucapan Aisha, kini Dina memeluk Aisha sangat erat, setelah adegan penuh keharuan dengan Dina kini Fatih dan Aisha berangkat bersama menuju kantor keluarga besar Al-Fatih.
"Laper ndak Mas Fatih? Kalau laper kita pulang dulu kan searah dengan jalan menuju kantor." ucap Aisha.
"Makan di rumah? Apa di kantin kantor aja? Kita juga belum ibadah Dzuhur juga, kita ke kantor aja Bae kalau di rumah malah tidur aku." Fatih mengerucut kan bibir nya.
"Kok kelihatan sebal gitu kenapa lagi? Maaf tadi ada sedikit problem dengan Dina." ucap Aisha menggenggam tangan Fatih dan menyenderkan kepalanya di bahu Fatih.
Fatih hanya mengangguk untuk memberikan jawaban ke Aisha, Aisha yang mengetahui jika Fatih masih sedikit marah karena menunggu nya sedikit lama kini menatap manik mata Fatih sangat dekat. "Masih marah? Kalau masih marah apa perlu aku cium kamu Mas??"
Mendengar perkataan dari Aisha, Fatih hanya tersenyum ke arah Aisha. "Cium aja kalau berani toh kacanya sudah gak bakal terlihat dari luar kok, apa kita perlu membuat adonan di dalam mobil??"
"Adonan? Adonan kue maksudnya? Emang ada oven, ada tepung, ada telur dan ada cetakan kue di sini?" tanya Aisha polos sembari bergelayut manja ke Fatih.
__ADS_1
Fatih yang mendengar kepolosan Aisha ingin rasanya memakan Aisha saat ini, setelah hampir lima menit mereka berdua bersenda gurau dan kini mereka telah sampai di depan kantor keluarga besar Al-Fatih.
Shanti dan Delon segera memberikan pengamanan ekstra ketat ketika Fatih dan Aisha keluar dari mobil mereka berdua. Dan terlihat dari kejauhan tampak Ayah Ahmad Fatihurahman dan Mama Zahra Khumaira tengah berjalan ke arah Fatih dan Aisha.
"Assalamualaikum wr wb menantu Mama di sini, kenapa ndak pulang aja? Habis kuliah pasti capek lho nak." Mama Zahra Khumaira memeluk Aisha dan cipika-cipiki ke Aisha.
"Waalaikumsalam wr wb, Alhamdulillah ini mau ngurus berkas Ma dan jika boleh kita berempat rapat terkait perusahaan ini bisa Ma Yah?" tanya Aisha.
Mama Zahra Khumaira dan Ayah Ahmad Fatihurahman saling berpandangan mendengar ucapan Aisha yang menginginkan rapat berempat terkait perusahaan keluarga besar Al-Fatih.
"Apakah ada yang serius Shinta?" tanya Mama Zahra Khumaira ke Shinta yang tengah memilah milah berkas kerja milik Aisha.
"Sepertinya tidak ada Nyonya tapi alangkah baiknya kita masuk terlebih dahulu Nyonya Besar dan Tuan Besar." ucap Shinta menunduk memberikan hormat.
Mama Zahra Khumaira mengangguk dan berjalan dengan mengapit lengan Aisha dari tangan Fatih untuk mengajak Aisha untuk berjalan bersama.
"Boy, lihat Mamamu? Begitulah dia dari kamu kecil hingga sebelum menikah kamu yang utama tapi Aisha yang mampu menggetarkan melalui akidah dan akhlak nya." Ayah Ahmad Fatihurahman berjalan meninggalkan Fatih yang terbengong melihat istrinya di bawa Mama Zahra Khumaira nya.
Setelah Aisha dan Mama Zahra Khumaira menunggu kedatangan Fatih yang tadi mampir untuk memeriksa bagian keuangan yang dulu tempatnya dia bekerja sebagai bawahan Aisha kini masuk ke ruangan Aisha untuk meminta tanda tangan Aisha sebagai pencairan gaji karyawan untuk bulan ini.
"Ini apa Mas?" tanya Aisha sembari membolak-balik berkas di depannya.
"Tanda tangani sayang, itu hak karyawan perusahaan untuk bulan ini." ucap Fatih sembari tersenyum menggoda ke arah Aisha.
Fatih menatap lekat Aisha kemudian mencari jawaban tambahan ke arah Mama dan Ayah nya. Mama Zahra Khumaira tersenyum ke arah Fatih. "Tanda tangani saja nak karena Mama tahu jika kamu penerus pemimpin di perusahaan ini dan sementara Aisha tadi meminta untuk di buka kan toko kue dan cafe untuk mengisi waktu luangnya setelah kuliah, bagaimana yah??"
"Ya benar itu Boy, udalah tanda tangani saja bukan kah itu keinginan mu dulu untuk menjadi pemimpin di perusahaan Ayah mu ini?" Ayah Ahmad Fatihurahman membakar rokoknya sembari menatap Fatih.
Fatih menggeleng mendengar ucapan dari kedua orang tuanya dan menatap Aisha sangat tulus. "Kamu mau kerja? Bagaimana aku minta kamu menjadi sekretaris ku lebih tepatnya sekretaris pribadi? Jangan sampai bekerja sendiri dan jauh dariku lagi Aish, cukup waktu itu saja aku melukai dan meninggalkan mu."
Fatih memeluk erat Aisha hingga Mama Zahra Khumaira menggeser tubuhnya dari samping Aisha. "Kamu sudah benar benar berubah Fatih, kamu kembali seperti dulu yang Mama kenal."
Suasana ruangan mengharu biru, Fatih menatap kembali Aisha istrinya tersebut hingga membuat orang yang melihatnya mungkin sangat ingin merasakan apa yang di rasakan Fatih maupun Aisha saat itu.
"Gini aja Mas, biar Delon yang menjadi sekretaris pribadinya Mas Fatih dan aku akan di bantu Kak Shinta untuk membuka cafe dan toko kue, bagaimana Mas?" pinta Aisha.
"Yauda asal satu yang ingin kamu pegang dari ku Aish, bimbing aku yang selalu kurang dalam segi apapun terhadapmu dan terhadap rumah tangga kita" Fatih memajukan kepalanya dan menempel kan dahinya ke dahi Aisha.
Ayah Ahmad Fatihurahman yang melihat adegan mesra menantu dengan anak laki-lakinya mengajak istrinya untuk keluar meninggalkan mereka berduaan. "Ssssttt, Ma, Mama, yuk pulang, jangan ganggu mereka."
__ADS_1
"Mama pulang dulu Aisha Fatih, assalamualaikum wr wb." Mama Zahra Khumaira mengucapkan salam dan berlari keluar di ikuti Ayah Ahmad Fatihurahman juga mengucapkan salam setelah istrinya tersebut.
"Waalaikumsalam wr wb, ya Mama Ayah tahu lho Mas" Aisha merajuk ke Fatih.
Fatih terkekeh mendengar Aisha merajuk, kini di pandangi wajah Aisha istrinya itu dengan tatapan penuh dengan penghayatan, tangan Fatih membuka niqab Aisha dan semakin mendekat ke arah bibir Aisha dan Aisha merespon Fatih, akan tetapi ........
"Kkkkyyyyyyaaaaaa ....!!!!! ..........
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Assalamualaikum wr wb, terimakasih yang sudah membaca dan mencerna jalan cerita ini yang receh atau bahkan rumit ya?
Jangan lupa vote dan like serta komentar nya yaππ, untuk menambah semangat author jugaππ.
__ADS_1
Terimakasih semuanya.
Wassalamu'alaikum wr wb.