Jalan Cinta Aisha Khumairah

Jalan Cinta Aisha Khumairah
Episode 95


__ADS_3

🍃🍃🍃🍃🍃🍃


“Waktu yang paling indah adalah menghabiskan waktu denganmu hingga nafas berhenti menjemputku dan saat itu aku akan tersenyum menatapmu dan terimakasih telah hadir dalam kehidupanku.” Khibban NurCahyo.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Episode 95


Aisha dan Fatih yang kini tengah duduk sembari berbincang untuk menunggu pesanan seblak milik Aisha di kagetkan dengan seorang wanita yang tiba tiba memeluk tubuh Fatih.


“Hei!! Lepas!!” bentak Fatih sembari mendorong tuibuh wanita yang tak di kenalinya dari tubuhnya tersebut.


Aisha menatap tajam ke arah wanita yang tengah tersungkur tersebut dan kemudian menatap Fatih, “Mas Fatih kenal? Cepat banget sih meluknya?”


Wanita itu kini menatap Aisha dengan tatapan membunuh, akan tetapi Aisha membalas tatapan wanita itu dengan tatapan bertanya-tanya.


“Siapa ya? Main peluk suami orang sembarangan!!!” suara tegas dari Aisha sembari menunjuk ke wajah wanita tersebut.


Kini Aisha segera memepet tubuh Fatih dan beberapa penjaga keluarga Al-Fatih beserta Delon dan Shinta segera meringkus wanita yang berhasil membuat Aisha curiga.


“Lepaskan gua!! Lu siapanya Fatih, hah!!” bentak wanita tersebut sembari melotot kesakitan.


“Gua Lu gua lu, bahasanya gaul sekali nih kakaknya sih, manusia gua ya Kak?” celetuk Aisha sembari menatap Shinta untuk melepaskan wanita tersebut.


Wanita tersebut segera menyerang Aisha tapi naas, Aisha yang membaca pergerakan wanita tersebut menghindar dan melakukan serangan kuncian ke wanita tersebut, “Haduh Kak, salah orang kamu. Siapa sih kamu? Ganggu suasana saja.”


“Gua Lioni Aoevera, pacarnya Fatih!! Lepaskan aku wanita bercadar!!” teriak wanita itu bernama Lioni.


“Hah pacar? Lioni? Kok namanya Lioni sih? Ini pacarnya Mas?” tanya Aisha menatap intens ke arah Fatih dan melepaskan kunciannya sembari kembali di samping Fatih.


“Aku pacarnya sebelum dia selingkuhi aku dengan Vina Renata!!” bentak Lioni ke arah Aisha.


“Belum putus? Hei!! Lioni Aoevera!! Saat itu aku sudah memutuskanmu!! Ngapain datang lagi!!! Hah!!” kini Fatih yang membentak Lioni.


“Kamu lupa, Fatih?? Bahkan mamamu telah merestui kita berdua tapi kenapa saat dulu kamu pergi meninggalkan aku dengan Vina Renata?” tanya Lioni dengan suara memelas.


“Meninggalkanmu? Gak salah? Kamu sendiri yang pergi tanpa sebab Lioni dan asal kamu tahu!! Mulai sekarang jangan pernah datang di kehidupanku lagi dan selamanya, karena….” suara Fatih terputus karena Aisha menggenggam tanganya.


“Sini biar Aisha saja yang menjelaskan Mas dan jangan terbawa emosi begini Mas Fatih, Aisha tak mau jika nanti terbawa dengan anak anak kita nantinya.” ucap Aisha sembari menatap teduh netra Fatih.


“Anak? Kamu sudah menikah denganya, Fatih!! Dasar wanita perebut laki laki….” Lioni melayangkan tangan ke arah Aisha.


Grep


(Aisha memegang erat tangan Lioni yang mengarah ke wajahnya)


“Benar kita sudah menikah Lioni dan sekarang aku mengandung anaknya Mas Fatih, mau apa? Jangan kamu mengira aku wanita lemah di matamu, Lioni.” ucap Aisha sembari mencengkram erat tangan Lioni.


“Yang kedua, jangan pernah menggangu suamiku lagi jika tak mau berhadapan denganku, Lioni Aoevera!!” ancam Aisha sembari kembali mengunci tangan Lioni ke belakang tubuh Lioni.


“Nona Muda, biar saya yang mengurusnya dan silahkan melanjutkan acara berdua dengan Tuan Muda Fatih. Dia sepertinya harus di lenyapkan dari muka bumi ini Nona, boleh saya membunuhnya??” tanya Shinta sembari mengunci leher Lioni.


Aisha yang menatap Lioni yang tengah kesakitan karena lehernya di kunci oleh Shinta segera menggelengkan kepalanya dan memberikan kode untuk melepaskan Lioni Aovera.


“Kamu!! Jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan Fatih hingga nanti kamu!! Dan tunggu saja nantinya, akan aku balas pengkhianatanmu Fatih!!” Lioni menunjuk ke arah Fatih dan Aisha bersamaan dan kemudian bergegas pergi.


Aisha yang menatap Lioni yang tengah memasuki sebuah mobil hanya bisa menggeleng, “Akan ada apalagi ini?”


“Tidak ada yang harus kamu khawatirkan Bae, yuk makan seblaknya.” ucap Fatih sembari menggenggam lembut tangan Aisha.


“Iya Mas, Mas Fatih pesan seblak juga? Terus mereka semua sudah di pesankan?” tanya Aisha sembari menunjuk bodyguard keluarga besar Al-Fatih satu persatu.


“Sudah di buatkan, habis ini pulang ya, besok kan mau berangkan ke tanah suci kita Bae.” balas Fatih sembari menyendok sesuap untuk Aisha.


“Jalan jalan sebentar yuk ke Pondoknya Abi dan Umi, Aisha mau tanya santriwan santriwati juga dan selama empat belas hari nanti mereka juga harus ada yang mengawasi juga.” balas Aisha sembari menyambut suapan dari Fatih.


“Iya Bae, pedes Bae? Lihatnya saja yang merah gini sungguh mengerikan.”


“Enak kok Mas, sini Aisha suapin deh, coba aaaakkkkkkk.” Aisha menyuapkan sesendok penuh yang seblak level lima ke Fatih.


Fatih mengunyah sangat cepat karena mulut dan lidah terasa terbakar hebat akan tetapi mimik mukanya di atur agar tidak membuat Aisha khawatir.


“Gak pedes kan Mas? Mau lagi?” tawar Aisha sembari menyiapkan satu sendok lagi untuk Fatih.


“Cukup Bae, bentar bentar. Ini gak pedes? Delon, Shinta sini sebentar, ambil sendok.” perintah Fatih ke Delon dan Shinta.


Delon dan Shinta segera mendekat ke arah Fatih dengan membawa sendok, kemudian Fatih mengambil satu sendok penuh untuk masing masing sendok milik Shinta dan Delon.


“Coba, apakah ini gak pedas? Atau lidahku yang salah merasakannya.” ucap Fatih sembari menenggak habis satu gelas penuh es teh.


Shinta yang memang suka pedas hanya menggeleng untuk menandakan bahwa memang tidak pedas, berbeda dengan Delon yang langsung menyambar satu botol air mineral dingin.


“Huh hah huh hah, gak pedas darimana ini Tuan, Nona? Tuan lebih baik jangan di teruskan makan seblak setan ini karena akan berimbas ke Tuan Fatih junior.” ucap Delon sembari mengambil satu botol air mineral lagi untuk dirinya.


Aisha yang telah menghabiskan satu mangkuk seblak level lima miliknya hanya bisa menggeleng dan kembali memesan satu lagi untuknya, akan tetapi Fatih segera menahan Aisha untuk memesan seblak yang di rasakan sangat mematikan.


“Bae, cukup ya makan pedasnya. Nanti kalau mules perutnya.” Fatih berucap sangat lembut ke Aisha.


“Satu kali lagi ya Mas, please ya please.” Aisha merengek seperti anak kecil.


“Bae, nurut dong ya, nanti beli yang lain deh, yauda yuk ke pondoknya Abi dan Umi.” Fatih mencoba membujuk Aisha.


“Yauda janji ya beli yang Aisha mau, yauda bentar Aisha mau bayar dulu.” balas Aisha sembari berjalan ke arah kasir untuk membayar seblak yang telah dia pesan dan semua bodyguard keluarga besar Al-Fatih.


Setelah membayar kini Aisha dan Fatih membeli beberapa camilan dan bahan pokok untuk santriwan dan santriwati di sebuah pasar tradisional yang di mana Aisha dan Umi Fatimah selalu berbelanja sebelum Aisha menikah.


“Bae, beli di sini? Kenapa gak beli di minimarket? Nanti kalau kamu kepanasan dan banyak debu gimana?” tanya Fatih sembari memarkirkan mobilnya yang memiliki merek Lamborgini Galardo.


“Aisha pengen beli cenil dan klepon Mas, sama nasi pecel juga. Kalau beli di minimarket mahal lho Mas, yauda yuk turun.” ajak Aisha sembari mengecup kening Fatih.


Fatih segera memberi pesan singkat ke Delon dan Shinta agar menyebarkan pasukannya untuk melindungi Aisha dari kemungkinan terburuk. Fatih yang tengah menatap Aisha sedang mengobrol dengan seorang wanita tua, hatinya tersentuh.

__ADS_1


“Bagaimana mungkin aku tak mencintaimu Aish.” batin Fatih sembari berjalan ke arah Aisha yang tengah memberikan beberapa bungkus makanan untuk wanita tersebut.


“Maaf ya bu, kalau ada perlu apa apa nanti Aisha akan bicara dengan anak ibu agar tidak bandel ke ibu, salam ke bapak ya bu.” ucap Aisha sembari mencium punggung wanita tua tersebut.


“Terimakasih Ning Aisha, sehat selalu dan berkah selalu ya Ning serta mendapatkan suami yang sholeh nantinya, amin amin amin.” balas wanita tersebut sembari mengelus kepala Aisha.


“Amin amin amin, saya duluan ya bu. Itu sudah di tunggu suami Aish, bu. Permisi.” balas Aisha sembari menunduk dan berjalan ke arah Fatih yang tengah menatapnya.


“Maaf Mas, tadi ada teman dari Umi yang dulu pernah bekerja di pondok akan tetapi keluar karena ada kesalahpahaman.” ucap Aisha sembari menggenggam tangan Fatih.


“Kesalahpahaman? Yauda nanti kita bahas aja. Mau beli apa saja kita Bae?” tanya Fatih yang tengah menatap kiri kanan untuk mengawasi sekitar.


“Beli beras, lauk pauk, terus makanan ringan serta jajan cenil, klepon dan nasi pecel. Nanti Mas Fatih harus coba deh. Kan jarang jarang Aisha buatkan cenil dan klepon, yauda yuk beli beras dan lauk pauk dulu.” ajak Aisha sembari menarik tangan Fatih.


Aisha menuju sebuah kios beras yang sangat sepi dan itu membuat Fatih terkesiap tak percaya, hingga…


“Assalamualaikum wr wb, permisi bu, beras raja lelenya ada?” tanya Aisha sembari membuyarkan lamunan pedagang beras tersebut.


“Waalikummussalam wr wb, eh Ning Aisha, lama gak kelihatan Ning? Ada nih ning masih baru semua tapi yang di belakang itu sudah jelek Ning.” balas pedagang wanita tersebut sembari menunjukkan sampel beras yang benar benar baik ke arah Aisha.


“Wah bagus bu berasnya, oh ya Aisha beli dua puluh karung ya yang isinya perkarung dua puluh lima ribu terus semua beras yang kurang layak itu juga Aisha beli ya bu.” pinta Aisha sembari melihat sampel beras.


“Siap Ning, eh ini suaminya Ning Aisha ya? Wah beruntungnya Ning Aisha dapat pasangan yang sangat serasi.” ucap ibu tersebut sembari mengulurkan tangan ke Fatih.


“Assalamualaikum wr wb bu, Fatih, maaf.” balas Fatih sembari mengatupkan tanganya ke depan dada.


“Waalaikummussalam wr wb, wah bener nih Ning Aisha dapat imam yang dulu selalu Ning Aisha inginkan, ibu pesan ya Gus Fatih, tolong jaga Ning Aisha sebaik baiknya. Oh ya Ning, beras yang dengan kualitas jelek buat makan ayam dan bebek milik Abah?” tanya ibu tersebut sembari menyiapkan semua pesanan Aisha.


“Iya bu, oh ya gimana kabarnya? Maaf , Aisha sudah jarang ke sini. Maklum sudah jadi istri Mas Fatih.”


“Alhamdulillah Ning, saya selalu ingat ucapan Ning Aisha yang selalu bilang ke saya untuk selalu bersyukur dengan apa yang di berikan Allah SWT dan alhamdulillah dari pagi sampai sekarang baru Ning Aisha yang membeli.” suara ibu tersebut berubah menjadi sedih.


“Subhanallah bu, jangan begitu, oh ya bu. Aisha boleh minta nomornya ibu? Dan berapa semuanya bu?” tanya Aisha sembari memperhatikan Fatih yang menatap tumpukan beras yang di belinya.


“Ini Ning dan semua totalnya dan nomor ibu di sini Ning Aisha.” balas ibu tersebut sembari memberikan nota ke arah Aisha.


Aisha yang menatap nota tersebut tersenyum di balik niqabnya dan dengan segera dia mengeluarkan beberapa lembar uang untuk di bayarkan ke ibu tersebut. Akan tetapi Fatih segera menanyakan nomor rekening ke ibu tersebut.


“Maaf bu, ada nomor rekening? Biar aman untuk ibu juga.” ucap Fatih sembari membuka mobile bankingnya.


“Wah benar Gus, bentar. Nah ini nomor rekeningnya dan atas nama saya sendiri, Sundari.”


Fatih segera mentrasfer uang pembayaran ke ibu Sundari dan segera menyuruh Delon menyewa pickup untuk membawa semua bahan yang di belinya dan Aisha.


“Coba cek ya bu dan terimaksih ibu sangat jujur dalam berdagang, karena akhir xaman seperti ini jarang yang jujur dalam berdagang. Dan nanti setiap bulan mohon ibu mengirimkan dua puluh karung beras ke pondok pesantren dan panti asuhan ini ya bu.” ucap Fatih sembari menyodorkan nama panti asuhan dan pondok pesantren Abi Hamzah dan Umi Fatimah.


Aisha yang menatap ketulusan Fatih hanya bisa tersenyum malu di balik niqabnya, hatinya merasa sangat senang melihat suaminya tersebut sudah sangat berubah seratus persen.


“Tinggal aku yang akan menahan wanita wanita yang bukan mahrammu Mas Fatih.” batin Aisha sembari menatap Fatih yang tengah sibuk berbicara dengan ibu Sundari.


“Wah siap Gus Fatih dan nanti saya harus hubungi siapa?”


“Iya Gus, sehat selalu kalian berdua. Jaga Ning Aisha ya Gus, karena Ning Aisha sangat baik dan lembut untuk Gus Fatih dan keluarga Gus Fatih serta lancar ibadah umrahnya besok.”


“Amin amin amin, mari bu. Assalamualaikum wr wb.” ucap Aisha dan Fatih bersamaan.


Setelah membeli beberapa lauk pauk dan jajan kesukaan Aisha kini mereka berdua tengah menikmati perjalanan menuju ke pondok pesantren Abi Hamzah, Pondok Pesantren An-Nur. Dan beberapa menit kemudian mereka semua sampai dan Delon segera membantu menurunkan belanja milik Aisha dan Fatih.


“Mas, maaf ya. Tadi Aisha belanja banyak untuk santri pondok.” ucap Aisha pelan.


“Bae, dari kamulah aku mendapatkan pelajaran berharga, dari kamulah aku menemukan oase kehidupan baru yang sangat segar. Jangan minta maaf untuk hal yang bisa aku kabulkan sebagai suamimu ini Bae.” balas Fatih sembari tersenyum ke arah Aisha.


“Tapi Mas? Tadi habis hampir tiga puluh lima juta lho, nanti Aish ganti ya dan……” ucapan Aisha berhenti karena bibirnya di kecup lembut Fatih.


“Jangan di ganti dengan materi Aish. Niatmu sangat baik dan bimbing aku untuk menjadi suami yang lebih baik lagi akhirat dan dunia ya, Aisha Khumairah.” Fatih kembali mengecup bibir Aisha.


“Mas? Sudah nyiumnya, tuh ada Ayah dan Abi tuh lihat kita.” balas Aisha memberikan kode keluar jendela.


Fatih segera menoleh ke arah yang di tunjuk Aisha. Dan benar kini Ayah Ahmad dan Abi Hamzah sedang memergokinya berciuman dengan Aisha.


“Haduh kenapa ada ayah dan abi sih, duh mampus aku Bae.” ucap Fatih sembari menyembunyikan kegugupannya.


“Ya nanti jelasin ya Mas, Aisha mau masuk dulu, tuh sudah di tunggu ayah dan abi.” ucap Aisha sembari turun menuju Abi Hamzah yang tengah menatapnya heran.


Aisha segera berlari kecil dengan di susul Fatih di belakangnya. Abi Hamzah dan Ayah Ahmad menatap mereka berdua dengan sedikit mengulum senyum ke arah mereka berdua.


“Assalamualaikum wr wb Abi, Ayah. Aisha masuk dulu ya.” pamit Aisha sembari meninggalkan Fatih yang tengah bersiap mendapatkan pertanyaan Abinya.


“Waalaikumussalam wr wb, yauda bantu Umimu masak dan nanti setelah shalat Isya kita kumpul dulu untuk keberangkatan besok ya Aish.” balas Abi Hamzah sembari tersenyum ke arah Aisha.


Fatih yang di tinggal Aisha kini hanya bisa berdiri mematung di depan Abi Hamzah dan Ayahnya. “Fatih masuk dulu ya Abi, mau bantu Aisha masak agar tidak capek nantinya.”


“Tunggu dulu Nak, Abi mau tanya, boleh?” pinta Abi Hamzah sembari menatap Fatih.


Fatih pun menurut dan dengan masih malu karena kepergok tadinya kini berbincang dengan Abi Hamzah dan Ayah Ahmad. Sementara Aisha yang bersiap membantu Umi Fatimah dan Mama Zahra memasak hanya bisa duduk karena tidak di perbolehkan oleh Mama Zahra.


“Umi, Aisha pengen bantu masak, please ya Umi.” ucap Aisha memelas ke arah Umi Zahra.


“Nurut saja Aish, siapkan air hangat untuk suamimu dan nanti kita ngobrol setelah shalat Isya dan setelah makan malam.” balas Umi Fatimah sembari memotong daging untuk di buat rawon kesukaan Abi Hamzah.


“Aish mau buatkan masakan untuk Mas Fatih lho Umi, please ya please….” rengek Aisha.


“Yauda tapi sekali saja ya nak. Jangan terlalu capek juga.” kini yang membalas Mama Zahra.


Aisha segera memasak nasi goreng daging kesukaan Fatih. Melihat Aisha yang masak begitu semangatnya, dua wanita tersebut hanya tersenyum dan kembali memasak.


Waktu semakin cepat bergulir, hingga adzan Isya berkumandang dan kini yang tengah bersiap untuk menuju masji Pondok Pesantren An-Nur tiba tiba di kagetkan dengan permintaan dari Abi Hamzah.


“Jadi imam shalat Isya ya nak Fatih.” pinta Abi Hamzah.


“Tapi,….” ucapan Fatih terputus karena Aisha yang tengah menatapnya dengan tatapan memohon.

__ADS_1


“Nggihpun Abi. Fatih siap menjadi imam shalat Isya, monggo Abi dan Ayah jalan dulu. Fatih mau berangkat bersama Aisha, istriku tercinta.” ucap Fatih mengecup kepala Aisha yang tertup kain mukenah.


“Hadeh anakku jatuh cinta ya gini Hamzah, yauda Hamzah kita berangkat dahulu. Yuk Ma.” Ayah Ahmad mengajak Mama Zahra.


Setelah mereka berempat berangkat kini Fatih dan Aisha berjalan beriringan sembari mengobrol.


“Bae, ntar malam ya, buat nahan tiga puluh hari selama umrah nanti.”


“Hah? Ntar malam? Yauda nanti Aisha bikinkan kopi ya sama kita ngobrol nanti.”


Fatih menggeleng dan segera dia mengantar Aisha ke shaf perempuan dan setelah itu Fatih menjadi imam Shalat Isya untuk pertamakalinya di Pondok Pesantren An-Nur. Setelah hampir tiga puluh menit Shalat Isya kini kedua keluarga besar tersebut bersiap menyantap makan malam tanpa suara sedikitpun.


Setelah makan malam, Fatih yang tengah duduk di teras ndalem rumah Abi Hamzah kini tengah menatap langit sembari menimati satu batang rokoknya.


“Ya Allah, terimakasih atas semua nikmatmu selama ini dan kukuhkanlah aku dan istriku, Aisha Khumairah untuk terus bersanding di surgamu kelak.” ucap Fatih sembari menatap langit malam.


Aisha yang tengah mengantarkan kopi untuk Fatih dan mendengar doa Fatih, “Amin amin amin, makasih Mas, doa yang sangat tulus untuk Aisha dan Mas Fatih.”


“Bae? Itu kopi? Makasih ya tadi nasi gorengnya enak.” ucap Fatih sembari mematikan rokoknya.


“Minum di dalam saja Mas, sudah di tunggu Abi dan Ayah juga. Yuk masuk.” ajak Aisha.


Fatih segera mengikuti Aisha yang tengah berjalan ke arah ruang keluarga. Terlihat Abi Hmazah dan Ayah Ahmad tengah berbincang kecil dan Mama Zahra dan Umi Fatimah juga ikut menimpali pembicaraan merke berdua.


“Maaf Abi, perlu kita mulai? Mengingat Fatih dan Aisha sudah ada juga.” ucap Umi Fatimah untuk menghentikan obrolan mereka.


Abi Hamzah segera mengangguk pelan dan kemudian menatap Aisha dan Fatih bergantian.


“Besok kita berangkat Aisha, Fatih. Mungkin ada yang perlu di tanyakan selama di Makkah dan Madinah?” tanya Abi Hamzah.


“Alhamdulillah Abi, Aisha sudah paham tetapi mungkin Mas Fatih bertanya juga nantinya. Soalnya Mas Fatih pernah….” suara Aisha terputus karena tangannya di genggam erat Fatih.


“Begini Abi, Fatih izin bertanya. Apakah ada larangan berhubungan suami istri selama di Makkah dan Madinah? Serta bagaimana nantinya ketika Fatih dan Aisha saling terpisah saat beribadah di sana?” tanya Fatih sembari menundukkan kepala.


“Masya Allah Fatih, pertanyaanmu itu lho, aduh maaf ya Hamzah….” suara Ayah Ahmad terputus karena tatapan tajam dari Abi Hamzah.


“Ahmad, itu hal lumrah, karena selama tiga puluh hari nantinnya di sana tidak akan bisa menahan hubungan berpahala tersebut. Akan tetapi satu hal yang harus di perhatikan oleh kalian berdua, Fatih dan Aisha. Boleh melakukan hubungan suami istri ketika setelah melakukan ibadah umrah, apa saja ibadah umrah itu Fatih?” tanya Abi Hamzah sembari menatap Fatih.


“Ibadah Umrah itu yang pertama adalah niat umrah, kedua thawaf mengelilingi ka’bah tujuh kali kemudian berjalan kaki (berlari-lari kecil) bolak-balik 7 kali dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah dan sebaliknya. Kedua bukit yang satu sama lainnya berjarak sekitar 405 meter dan yang teakhir tahalull mencukur tiga helai rambut. Itu yang Fatih tahu Abi.” ucap Fatih sembari menatap Abi Hamzah.


“Benar sekali Fatih dan selam itulah kamu tidak boleh mencampuri istrimu, Aisha. Kaena akan membatalkan ibadah umrahmu dan membayar dam (denda) sesuai dengan ketentuan kerajaan Arab Saudi, tetapi selepas itu pahala yang kamu dapatkan. Perlu di ingat selama kalian berdua di sana, Abi Hamzahmu ini cuman memberikan pesan, berdoalah dan bermujatlah sebaik mungkin serta habiskan waktu untuk melebur dosa kalian berdua untuk kebaikan kalian berdua kelak, karena tidak di pungkiri juga nantinya, Abi, Umi, Mertuamu Zahra dan sahabatku Ahmad akan meninggal juga. Paham Fatih dan Aisha?” jelas Abi Hamzah sembari meneguk kopi hitamnya.


“Abi, Fatih mohon jangan bilang begitu, Fatih tahu umur manusia tidak ada yang tahu. Akan tetapi Fatih ingin Abi dan Umi serta Mama Ayah melihat Fatih menjadi lebih baik lagi.” ucap Fatih lirih.


“Takdir manusia tidak ada yang tahu Fatih, dan untuk anakku Aisha. Ingat pesan Abimu ini. Jangan pernah melawan suamimu dan ajaklah dia untuk ke jalan Allah SWT dan Rsulullah Muhammad SAW tetapi jika dia suamimu sudah tidak di kedua jalan tersebut maka peringatkan sampai tiga kali. Fatih jaga Aisha dan cucu cucu Abi, Umi dan kedua orangtuamu kelak ya.” pinta Abi Hamzah ke Fatih.


Fatih mengangguk dan kemudian mencium tangan Abi Hamzah, Umi Fatimah dan kedua orangtuanya dengan berlinang air mata yang sangat tulus. Aisha yang menatap suaminya yang tengah meminta restu dan doa tersenyum bahagia.


“Aku akan menjaga ruamha tangga kita Mas, sampai maut memisahkan kita.” batin Aisha.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Assalamualaikum wr wb, terimakasih yang sudah membaca dan mencerna jalan cerita ini yang receh atau bahkan rumit ya?


Jangan lupa vote dan like serta komentar nya ya🙏🙏, untuk menambah semangat author juga😊😊.


Terimakasih semuanya.


Wassalamu'alaikum wr wb

__ADS_1


__ADS_2