
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
الحب عبارة عن روح واحدة تسكن شخصين
Cinta itu terdiri dari satu jiwa yang menghuni dua tubuh.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Episode 84
Aisha yang berada di dapur dengan Fatih kini berbincang sembari memasak. Fatih tak henti-hentinya menatap wajah Aisha penuh kasih.
"Kenapa dari tadi menatap ku seperti itu Mas? Seperti ingin menerkam ku saja." ucap Aisha seraya tersenyum ke arah Fatih.
"Aku bodoh Bae, kenapa aku telat menyadari jika kamu pantas untuk anak anak kita dan tentunya aku." Fatih memeluk Aisha mesrah dari belakang.
Aisha tersenyum dan Fatih menempel kan dagunya ke pundak Aisha. "Aku tak akan melepaskan mu Aisha Istriku. Bagaimana kisah kita kan ku tulis dan ku jaga sampai maut menjemput ku."
Pipi Aisha merona merah mendengar ucapan Fatih yang sangat tulus di telinga nya. Aisha membalikkan tubuhnya hingga jarak wajahnya dengan Fatih sangat dekat. "Mas Fatih jangan pernah berjanji belaka akan tetapi berjanjilah di hati Mas Fatih sendiri karena apa Mas? Karena cinta itu terdiri dari satu jiwa yang menghuni dua hati dan pikiran."
Fatih mengangguk dan kini dia semakin mendekat kan bibir nya untuk berusaha memberikan ciuman mesrah ke Aisha dan Aisha pun menyambutnya dengan penuh cinta.
Fatih menikmati bibir Aisha dengan sangat lembut karena tak ingin bibir istrinya lecet sedikitpun hingga mereka berdua tidak mengetahui jika aksinya kini di lihat oleh ke-dua orangtua mereka berdua.
"Ehem ehem , Ma, panas sekali ya rumah ini, sepertinya Ayah harus membeli pendingin ruangan deh." Ayah Ahmad Fatihurahman berusaha membuyarkan adegan mesrah Aisha dan Fatih.
"Sejak kapan mereka seperti itu Ahmad? Bermesraan tak tahu tempat begitu Aisha dan Fatih." kini Abi Hamzah sedikit mengeraskan suaranya mengikuti suara Ayah Ahmad Fatihurahman.
Aisha mendengar suara Abi Hamzah nya mendorong tubuh Fatih dengan tergesa-gesa dan Fatih pun menyadari jika aksinya menikmati keindahan bibir Aisha kini menunduk malu tertangkap basah ke-dua mertuanya dan orangtuanya.
"Eh Abi dan Umi, Abi mau kopi? Kebetulan Fatih punya kopi robusta dan arabica, Abi mau yang mana??" Fatih menawarkan kopi ke Abi Hamzah dan Umi Fatimah untuk mengurangi rasa malunya.
"Hilih, sudah lanjutkan mesranya dengan Aisha, anggap aja rumah sendiri Fatih, yuk Hamzah kita ke gazebo depan karena ada beberapa yang akan ku tanyakan terkait pembangunan beberapa jenjang pendidikan di Pondok Pesantren An-Nur." Ayah Ahmad Fatihurahman mengajak Abi Hamzah untuk mengobrol di depan.
__ADS_1
Mama Zahra Khumaira memberikan kode ke Fatih untuk mengikuti ayahnya dan mertua lakinya untuk ikut bergabung.
"Aku ikut Ayah dan Abi? Terus istriku Aisha masak sendiri gitu Ma??" ucap Fatih seraya memeluk Aisha kembali dari belakang.
Aisha menahan rasa malu di depan mertua dan Umi Fatimah karena pertama kalinya dia di peluk mesrah ke-dua kalinya oleh Fatih dan yang pertama kali hanya sebatas untuk acara pernikahan nya dulu karena Fatih masih mencintai Renata.
"Sudah sana, biarkan Aisha memasak dan kamu ikut sana , sini Aisha, Mama bantu potong apa ini??" Mama Zahra Khumaira menggeser tubuh Fatih untuk menjauh dari Aisha.
"Mending Mama duduk sana sama Umi Fatimah, biar Fatih yang membantu Aisha, sudah lah Ma jangan ganggu Fatih sama Aisha." Fatih merengek seperti anak kecil ke Mama Zahra Khumaira.
"Zahra sudah, biarkan mereka berdua menikmati indahnya cinta yang mulai tumbuh di antara Fatih dan Aisha, untuk Fatih tolong ingatkan jika Aisha lupa tugasnya sebagai istri dan ingat kan juga jika masa lalu kalian berdua jangan pernah membayangi kalian berdua, ya meskipun Umi mu ini dan sekaligus mertuamu merasakan bahagia jika kalian berdua sudah menumbuhkan cinta di hati kalian berdua." Umi Fatimah memberikan wejangan ke Fatih dan Aisha.
Mendengar ucapan Umi Fatimah nya kini Aisha memeluk Umi Fatimah dan menangis bahagia. "Umi, sebentar lagi aku menjadi ibu, sebentar lagi anak perempuan mu yang dulu bandel kini akan menjadi seorang wanita yang memiliki anak, Aisha meminta maaf dan do'akan Aisha dan Mas Fatih untuk tetap menjaga cinta suci Aisha ke Mas Fatih."
Fatih menunduk menahan air matanya agar tak terlihat Mama Zahra Khumaira dan Umi Fatimah, mendengar ucapan Aisha jika Aisha akan menjaga cinta sucinya hanya untuknya. "Bukan hanya cintamu untukku Aish, tetapi sudah waktunya aku yang akan menjaga dan terus menjaga hingga menua bersamamu Aish, di depan Mama ku yang telah melahirkan ku dan di depan Umi Fatimah yang telah melahirkan mu juga Aish, aku Fatih Nur Rakhman bin Ahmad Fatihurahman meminta maaf kepada mu Aisha."
Fatih yang tak kuat menahan air matanya kini bersujud mencium telapak kaki Mama Zahra Khumaira yang berdiri tepat di samping Umi Fatimah. "Mama, hukum Fatih jika kelakuan Fatih yang membuat Mama dan Umi Fatimah menangis karena kelakuan ku dulu ke Aisha, hukum Fatih Ma Umi akan tetapi Fatih meminta satu permintaan, jangan pisahkan Fatih dengan Aisha, Fatih akan menjaga Aisha hingga hari tua dan maut menjemput kita berdua Ma Umi, maafkanlah Fatih."
Umi Fatimah tersenyum mendengar penjelasan sahabat nya itu dan tersenyum ke arah Aisha. "Dan kamu Aish, anak perempuan Umi Fatimah satu satunya, kini doa mu sudah di ijabah Allah SWT dan jagalah kemudian taat lah ke suamimu serta jangan pernah semena-mena ke suami karena apa Aish? Karena surgamu sudah di telapak kaki Fatih suamimu."
Aisha memeluk erat tubuh Umi Fatimah, air matanya mengalir deras mendengar nasihat dari Umi Fatimah nya, seorang ibu yang mendidiknya bukan sekedar dari ilmu agama saja tetapi ilmu yang berguna untuk rumah tangga nya. "Aish ingat selalu nasihat Umi, makasih Umi telah mendidik Aisha mu ini yang manja dan sedikit keras kepala bahkan sering tidak nurut dulu nya. Aish berjanji akan menjadi ibu seperti Umi, menjadi istri seperti Umi yang taat ke suami seperti Umi taat ke Abi Hamzah."
Umi Fatimah mengelus kepala Aisha sangat lembut begitu juga Fatih yang masih menangis di pelukan ibundanya, Mama Zahra Khumaira. Ayah Ahmad Fatihurahman dan Abi Hamzah yang kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil rokok dan korek di buat bertanya-tanya dengan suasana hati keempat orang yang mereka berdua sayangi.
"Kenapa mereka Hamzah? Seperti Teletubbies saja berpelukan, lihat tuh menantu mu menangis di pelukan ibundanya." Ayah Ahmad Fatihurahman menunjuk ke arah Fatih.
"Biarkan saja, kamu mau ngambil rokok atau ghibah? kalau mau ghibah ku ulti kamu Ahmad." Abi Hamzah menarik jari tangan Ayah Ahmad Fatihurahman yang mengarah ke Fatih.
Setelah tangisan Fatih mereda, kini dia memeluk Aisha di depan Umi Fatimah dan Mama Zahra Khumaira. "Terimakasih Aish, terimakasih Bae, terimakasih telah menerima ku meskipun aku sudah seringkali melukai hatimu akan tetapi biarkan aku bersumpah untuk mencintai mu di depan Mama ku dan Umi mu Bae, aku akan menjaga mu Bae, aku akan memeluk mencium mu di dunia dan di surga kelak."
Aisha mengangguk, tangisannya pecah mendengar kata kata tulus dari seorang Fatih, seorang Fatih yang dulu membencinya, menolak untuk menikahinya bahkan ingin meninggalkannya akan tetapi hatinya kini sudah berbalik mencintainya dan menjaga perasaannya.
Umi Fatimah mengajak untuk menjauh dari Aisha yang tengah di peluk erat Fatih. "Zahra, kita buat makan siang untuk keluarga kita dan biarkan mereka berdua menghabiskan waktu bersama, bagaimana??"
__ADS_1
"Baiklah Fatimah, aku akan menyuruh Fatih mengajak Aisha untuk keluar sekedar berjalan-jalan agar mereka menikmati keindahan cinta mereka berdua, bagaimana Fatimah??" Mama Zahra Khumaira meminta saran ke Umi Fatimah.
Umi Fatimah mengangguk untuk menjawab. Mama Zahra Khumaira mencolek tubuh Fatih. "Fatih, ajak Aisha keluar dan mandi dulu kalian berdua kemudian ingat untuk pulang sebelum Maghrib karena dua hari lagi kita berangkat umrah."
Fatih mengangguk mendengar penjelasan Mama Zahra Khumaira untuk mengajak Aisha berjalan jalan sebentar kemudian menatap Aisha untuk meminta saran.
"Yauda yuk keluar Mas, pakai niqab atau ndak Aisha Mas??" ucap Aisha menggoda Fatih kembali.
"Kalau tak memakai niqab gak apa apa Bae akan tetapi jangan salahkan suamimu ini akan menghabisi siapapun yang melihat wajah mu yang seharusnya untuk ku Bae." Fatih mencubit lembut hidung Aisha.
Aisha tersenyum mendengar perkataan Fatih yang terdengar cemburu untuknya. "Yauda Mama dan Umi titip apa saat Aisha keluar sama Mas Fatih?."
"Berangkat selamat dan pulang selamat." Mama Zahra Khumaira dan Umi Fatimah menjawab bersamaan.
Fatih menggandeng jemari Aisha untuk berjalan ke arah kamar mereka. Fatih berbisik di telinga Aisha. "Mandi bareng mau??"
Aisha mengangguk mengiyakan ajakan suaminya. "Ingat mandi saja jangan yang lainnya Mas."
.
.
.
.
Assalamualaikum wr wb, terimakasih yang sudah membaca dan mencerna jalan cerita ini yang receh atau bahkan rumit ya?
Jangan lupa vote dan like serta komentar nya ya🙏🙏, untuk menambah semangat author juga😊😊.
Terimakasih semuanya.
Wassalamu'alaikum wr wb.
__ADS_1