Jalan Cinta Aisha Khumairah

Jalan Cinta Aisha Khumairah
Episode 49


__ADS_3

🍃🍃🍃🍃🍃🍃


الحب هو الحب. لا يمكن أبدا تفسيره.


Al-ḥubbu huwa al-ḥubbu. laā yumkinu ʾabadan tafsiīruhu.


Artinya: Cinta adalah cinta. Itu tak akan pernah bisa dijelaskan.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Episode 49


Cerita cinta antara Fatih dengan Aisha kini mulai kembali di bentuk oleh Fatih. Fatih yang terbangun di tengah malam kini menatap wajah Aisha yang tengah pulas dalam lelapnya.


“Istirahatlah Istriku, Aisha Khumairah. Aku ingin namamu menetap di hatiku untuk selamanya, hanya kamu dan kamu, Sayang.” ucap Fatih sangar tulus hingga air matanya menetes.


Fatih menatap lekat wajah Aisha kemudian dengan gegas dia mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat Taubatan Nasuha dan Tahajud dengan khusyu. Aisha yang mendengar rintihan doa milik suaminya tersebut.


“Ya Rabbku, aku belum dan bahkan sangat hina dalam pernikahanku dengan hambamu yang engkau titipkan ke diriku yang penuh dosa ini ya Allah, ak penuh dosa masih pantaskah untuknya? Untuk anak anakku dan keluarga kecilku ya Rabb? Ya Allah tolong maafkan dan ampunilah dosa hambamu yang penuh hina ini ya Allah, hambamu ini sudah tersesat jauh dalam nikmat duniawi ya Rabb, aku mohon ampunamu ya Rabb….. hapus ingatan dan hatiku dari wabita yang bernama Vina Renata ya Rabb dan gantilah dengan satu nama ….. satu nama itu Aisha Khumairah binti Hamzah dan berikan hambamu ini jalan untuk mencintainya ya Rabb…… berkahilah dan panjangkan umurnya kedua orangtuaku dan kedua mertuaku, amin amin amin.” tangis Fatih pecah dengan di ikuti tubuhnya bergetar hebat.


Aisha mencoba menenangkan suaminya yang tengah bermunajat hanya bisa membatin dan mengamini doa suaminya tersebut “Mas… Mas Fatih aku mencintaimu meskipun jalan cinta kita kelak akan banyak rintangan bagaikan ombak di tengah samudera karena aku yakin Takdir Cinta kita berdua hanya untuk kita dan keluarga kita.”


Fatih yang mengetahui Aisha yang tengah menatapnya, dengan cepat dia menghapus air matanya dan tersenyum ke arah Aisha. “Mau shalat Bae? Minum air putih ya, sebentar aku ambilkan.”


Fatih mengambil segelas air untuk Aisha akan tetapi Aisha menggelang dan menyuruh Fatih untuk minum terlebih dahulu. Fatih mengangguk tetapi sesaat bibirnya yang menempel di gelas yang tengah di pegangnya itu di rebut Aisha.


“Aku minum dulu Mas, haus ternyata, hehehehehehe.” ucap Aisha sembari meletakkan bibirnya di bekas bibir Fatih.


Fatih yang melihat perlakuan Aisha hanya bisa melongo karena menatap bekas bibirny kini telah di tempati bibir Aisha. “Bae … Kenapa minum di bekas bibirku?”


“Biar semakin dekat dengan Mas Fatih, bentar lagi Shubuh Mas tapi ….krucuk krucuk krucuk.” Aisha memegang perutnya yang tengah mengeluarkan bunyi perut yang meronta kelaperan.


“Mau makan apa? Dan pakai jilbab dan niqab dulu ya Bae terus aku mau menanyakan ke pihak rumah sakit untuk segera kepulanganmu.” Fatih menatap lekat netra Aisha.


“Belikan roti saja Mas dan untuk jadwal kepulanganku biar apa kata dokter saja Mas, Aisha boleh tapi nanti saja setelah Shubuhan saja Mas.” Aisha menunduk untuk menyembunyikan sesuatu dari Fatih.


“Mau tanya apa Bae? Tanya saja mungkin bisa membuat hatimu tenang dan nyaman.” ujar Fatih mengusap lembut kepala Aisha.


“Eeeeehhhhmmmm Ghea itu siapanya Mas Fatih? Dan kalau Mas Fatih mau menjawabnya lebih baik setelah Shubuh saja.” pinta Aisha.


Aisha tersenyum sembari mengangguk untuk menyakinkan suaminya tersebut. Fatih hanya bisa menghela nafas panjang mendengar pertanyaan Aisha. Fatih mengerti jika dirinya dan Aisha yang menikah karena perjodohan serta menduakan atau lebih tepatnya mengkhianati saat awal pernikahannya dengan Aisha kini sudah yakin dengan apa yang di rasakannya.


“Baiklah Aish, akan tetapi satu hal yang harus Aish tahu ya. Ghea menginginkanku untuk menjadi kekasihnya dan bahkan suaminya akan tetapi aku tak menaruh hati dan perasaan ke dia. Yang kedua Ghea tak lebih seperti Vina Renata yang hanya ingin diriku dan hartaku atau hanya wajahku yang tampan ini.” ucap Fatih dengan percaya dirinya di depan Aisha.


“Hhhheeemmmm begitu, tapi menurutku biasa saja sih Mas Fatih dari segi apapun, ini menurut …” suara Aisha tercekat karena Fatih menatap lekat tepat di depan wajahnya.


“Yakin? Kamu yakin aku biasa saja sayang?” goda Fatih.


“Yakinlah hehehehehe. Kalau tampan sih tampan wajahnya Mas Fatih. Beda dengan Aisha ini yang  wajahnya biasa saja.” ucap Aisha sembari tersenyum di depan Fatih yang tengah menggodanya.


“Tak ada yang sempurna Mas di dunia ini, kesempurnaan itu milik Allah SWT dan kekasihnya, Mas Fatih juga pernah bilang jika aku tak secantik Vina Renata kan? Apalah dayaku hanya butiran debu di hadapanmu dan hatimu ini Mas?” Aisha menunjuk dada Fatih yang termangu mendengar ucapan Aisha.


Fatih yang mendengar ucapan Aisha yang menyebut Vina Renata serta mengingatkan ucapanya dulu di depan Aisha.


“Aku memang bodoh Aish, aku telah mensia-siakan kamu saat itu dan bahkan aku baru menyadari jika kamu yang terbaik untukku.” lirih Fatih sembari menundukkan wajahnya di depan Aisha, istrinya tersebut.


Aisha yang mendengar lirihan Fatih mengangkat dagu Fatih dan sembari tersenyum, “Mas, aku tahu ucapan Mas Fatih akan tetapi satu pertanyaanku saat ini dan mungkin untuk selemanya, mau tahu pertanyaan itu Mas Fatih?”


Fatih hanya mengangguk mendengar pertanyaan Aisha yang diikuti senyuman manis dari bibir Aisha yang mampu membuat gejolak hati Fatih berdebar sangat kencang. Mungkin saat ini Fatih mengakui dan jujur dari hatinya terdalam bahwa Aisha sangat menawan dan cantik luar dan dalam baginya sebagai istrinya.


Cklek (Suara pintu terbuka).


“Maaf mengganggu waktunya Nona Muda Aisha dan Tuan Muda Fatih, ada berkas terkait keberangkatan umrah kalian berdua nanti yang harus segera di tandatangani.” Shinta menyodorkan beberpa berkas untuk di tandatangani oleh Aisha dan Fatih.


“Makasih Kak Shinta tetapi kenapa sepagi ini dan bahkan shubuh gini nanti akan segera di proses?” tanya Aisha dengan polosnya.


Shinta yang mendengar pertanyaan Aisha yang begitu polosnya hanya bisa menggeleng dan tersenyum ke arah Aisha. “Nanti Delon yang mengurus semuanya Nona Muda Aisha dan saya berterimakasih atas ajakan umrahnya karena…”


Suara Shinta terputus karena tatapan mata Aisha sembari tersenyum menggoda ke arah Shinta. “Karena nantinya Kak Anas ikut? Atau Kak Shinta ingin segera di halalkan Kakakku itu?”


Shinta menunduk menahan hatinya yang berdebar mendengar nama Anas yang tengah di sebut Aisha. Sementara Fatih melongo melihat perjalanan umrah dan schedule saat dirinya dan Aisha umrah nantinya.


“Tiga puluh hari? Satu bulan di sana? Ayah dan Mama apa gak salah?” monolog Fatih sembari menunjuk schedule yang kemudian di ikuti Aisha.


“Anggap saja ibadah di sana Mas. Lima belas hari di Madinah dan sisanya di kota Makkah kota kelahiran Nabi Muhammad SAW.” ucap Aisha sembari menyenderkan kepalanya di bahu Fatih. Shinta yang melihat sinyal Aisha yang ingin berduaan dengan Tuan Mudanya tersebut segera pamit untuk menyerahkan berkas keberangkatan umrah keluarga besar Al-Fatih dan Hamzah.


Fatih merasakan nyaman saat Aisha begitu sangat dekat dengannya.”Aku tak secantik Aisyah dan selembut Ibunda Siti Khadijah. Aku juga tidak bisa memberikan segalanya ke Mas Fatih maka dari itu bimbing aku juga di jalan Allah SWT dan keluarga kita nantinya Mas Fatih.” lanjut Aisha sembari menatap lekat netra Fatih.

__ADS_1


“Sampai aku matipun aku tak akan melepaskanmu Aish. Maafkan semua kesalahanku yang dari dulu tak menganggapmu dan kali ini tak akan pernah aku sakiti kamu, Aish.” Fatih mengecup bibir Aisha begitu dalam.


Aisha membalas kecupan suaminya dengan penuh haru dan menghayati hingga mereka berdua tak menyadari adzan shubuh telah berkumandang dan di ikuti beberapa perawat yang tengah menunggu aksi romantis Aisha dan Fatih yang tengah mengecup bibir begitu mesrah.


“Maaf Tuan Muda. Alangkah baiknya Tuan menunggu hingga Nona Aisha sembuh total dulu. Permisi saya mau mengganti cairan infus dan mengecek kondisi Nona Muda Aisha.” ucap perawat membuyarkan aksi Fatih dan Aisha.


Aisha segera menunduk malu dengan membenahi rambutnya yang tidak berantakan sama sekali, berbeda dengan Fatih yang mendengus kesal ke arah perawat yang tengah menyiapkan alat medis untuk mengganti cairan infus istrinya tersebut.


“Lain kali kalau masuk ucapkan salam atau permisi terlebih dahulu.” datar Fatih.


“Maaf Tuan, tetapi saya tadi dan kawan saya sudah mengucapkan salam berkali-kali akan tetapi Tuan dan Nona salin bermesraan yang membuat mata kita berdua yang jomblo ini ternodai.” tukas salah satu perawat.


“Maaf. Berapa hari lagi istriku bisa pulang?” tanya Fatih antusias.


“Setelah cairan infus ini habis dan kondisi dari Nona Aisha di nyatakan sembuh oleh dokter.” jelas salah satu perawat yang tengah mengganti cairan infus Aisha.


Setelah kedua perawat tersebut keluar ruang inap Aisha, suasana kembali hening menyelimuti kedua insan yang saling bertatapan. Kedua tatapan mereka berdua seakan-akan berbicara. Fatih yang menatap wajah Aisha dengan penuh kekaguman hanya bisa mengucapkan syukur berulang kali.


“Mas Fatih. Shalat Shubuh dulu yuk setelah itu  Aisha mau makan bubur ayam yang di depan rumah sakit  ini.” ajak Aisha sembari mengambil cairan infusnya.


“Aku bantu kamu bertayamum ya Sayang.” ucap Fatih sembari mengecup kening Aisha dan mengambil alih cairan infus dari tangan Aisha.


“Terimakasih Mas Fatih.” balas Aisha sembari mengcup bibir Fatih.


Fatih tersenyum mendapatkan kecupan dari istrinya. Mereka berdua bermunajat dalam waktu Shubuh, waktu dimana para Malaikat tengah turun dari langit untuk mendengar dan mengijabahkan doa doa manusia yang tengah bermunajat dengan Sang Pencipta, Allah SWT.


Aisha yang tengah duduk di belakang Fatih yang masih berdoa dan bermunajat ke Allah SWT tersenyum bahagia melihat perubahan Fatih yang mulai dikit demi sedikit berubah menjadi lebih baik. Fatih yang telah selesai berdoa menyium kening Aisha dan Aisha mencium tangan Fatih penuh khidmat serta bermunajat untuk keluarga kecilnya itu.


“Aku belikan bubur ayam ya atau aku titip ke Shinta dan Delon saja?” tanya Fatih.


“Heeemmmm. Bagaimana kalau kita makan di warungnya langsung saja Mas? Tapi nanti suapin ya? Boleh?” pinta Aisha.


“Boleh kok akan tetapi ada dua syaratnya Sayang, bagaimana?” balas Fatih sembari menyerahkan niqab milik Aisha.


Aisha segera menyambut niqab yang telah diberikan suaminya tersebut dan segera dipakai olehnya. “Sudah Mas, terus syaratnya yang satu lagi apa?”


“Satu syaratnya nanti saja waktu di warung, yauda yuk sini duduk sini.” Fatih membantu Aisha untuk duduk di sebuah kursi roda.


Aisha segera duduk kemudian Fatih segera mendorong pelan kursi roda sembari bercanda kecil dengan Aisha. Ketika dua insan yang tengah bercanda ringan serasa dunia milik mereka berdua …. Tiba-tiba……


"Maaf Nona Ghea jangan masuk sembarangan!! Keluar dari ruang inap Nona Aisha!!" suara bariton Delon mencegah seseorang untuk masuk.


"Siapa itu Aisha hah!! Dengar kamu!! Kak Fatih hanya pantas denganku!! Tidak ada wanita selain aku untuk Kak Fatih!! Meskipun dia sudah menikah pun!!" bentak Ghea mendorong tubuh Delon dengan kasar.


Fatih yang memeluk Aisha dan mendengarkan keributan Ghea dengan Delon pun merasa gusar.


"Ghea cukup!! Jangan pernah mengejarku lagi!!. Bawa keluar dia Shinta !!" perintah Fatih sembari berdiri melindungi Aisha.


Ghea mendengar ucapan Fatih yang mengusirnya pun semakin murka, dia berjalan ke arah Aisha dan Fatih.


"Hei kamu!! Jangan seolah-olah kamu menang!! Ingat!! Kak Fatih untukku bukan untukmu yang..." ucapan Ghea terputus karena menatap wajah Aisha sedang tersenyum ke arahnya.


"Kenapa Nona Ghea? Yang apa? Teruskan perkataanmu." tantang Aisha sembari membuka niqabnya di depan Ghea.


Ghea melongo melihat wajah Aisha yang menurutnya manis dan menawan, dia mengakui jika dia telah kalah telak dengan Aisha akan tetapi sebuah dorongan dari Ghea membuat Aisha terdorong ke belakang, tapi dengan sigap Fatih menolong Aisha...


"Cukup!! Hentikan Ghea!! Keluar!!" hardik Fatih seraya mencekik kerah baju Ghea.


Mendapatkan perlakuan dari Fatih yang mencekik lehernya hanya bisa meringis kesakitan


"Mas, lepaskan, biarkan Aisha yang berbicara ke dia." pinta Aisha.


Fatih melepaskan tangannya dari kerah baju Ghea dan berlalu ke dekat Aisha.


"Ghea? Boleh tanya? Kenapa terobsesi dengan suami orang? Bukankah dia sudah menikah denganku? Kenapa harus kamu memaksakan kehendak mu?" tanya Aisha tersenyum ke arah Ghea.


Mendengar pertanyaan Aisha yang sangat menohok hatinya, Ghea hanya tersenyum smirk ke arah Aisha.


"Karena Mas Fatih cinta pertamaku tetapi Kak Vina Renata merebutnya dariku setelah itu aku dengar Kak Fatih menikah. Aku kira menikah dengan Vina Renata tetapi ternyata dengan kamu wanita yang tak tahu diri." culas Ghea.


Aisha mendengar ucapan Ghea hanya mengangguk dan tersenyum tulus ke arah Ghea.


"Hentikan Ghea!!! Jaga ucapanmu!! Atau kamu..." suara Fatih terputus karena tangannya di genggam Aisha.


"Mas, tak baik memarahi orang yang tak begitu mengerti kita. Oh ya kalau aku tak tahu diri kenapa emangnya? Apakah ada masalah dengan hidupmu Nona Ghea?" suara Aisha begitu memecut hati Ghea.


"Oke jika begitu kita lihat apa yang terjadi denganmu wanita perebut lelaki orang!! Ingat!! Kau tak akan tenang!!" Ghea menunjuk ke arah wajah Aisha.

__ADS_1


"Oke, aku tunggu dan jangan pernah mendekati suamiku karena urusannya panjang nantinya Nona Ghea." ucap Aisha bergelayut manja di lengan Fatih.


Ghea menghentakkan kakinya karena merasa jengkel mendapatkan pemandangan kemesraan Aisha dengan Fatih, Delon yang mengetahui tatapan Fatih yang memberikan isyarat untuk keluar akhirnya mengikuti kemauan Fatih.


Aisha yang masih bergelayut manja di lengan Fatih merasakan kedamaian. Fatih pun merasakan hal yang sama.


"Aish, tetap begini, aku merasakan kedamaian darimu." pinta Fatih menggenggam erat jemari Aisha.


"Iiihhhh, Mas Fatih kok malah diam sih? Aisha kan malu jadinya." ucap Aisha sembari wajahnya memerah malu.


"Khumairahku, do'akan aku untuk bisa membimbing mu dan keluarga kita nantinya." ucap Fatih sembari mengecup kening Aisha begitu lembutnya.


"Bismillahirrahmanirrahim ya Mas Fatih, kita mulai untuk berubah menjadi yang lebih baik secara dunia maupun akhirat." ucap Aisha mendongak menatap wajah Fatih.


Fatih merasakan kedamaian dengan tatapan Aisha, kini hatinya bertekad untuk berubah menjadi lebih baik karena kekecewaan nya dengan Vina Renata hingga dia mengambil hikmahnya saat ini.


"Semoga belum terlambat ya Allah aku mencintaimu dan mencintai bidadari surgaku yang engkau titipkan kepadaku." batin Fatih membalas tatapan Aisha.


Wajah Fatih semakin maju ke arah wajah Aisha, Aisha menerima perlakuan dari Fatih yang begitu lembut, keduanya berciuman begitu mesrah dengan saling mengecup hingga keduanya tak menyadari jika masih ada Ghea yang mengintip dari jendela.


"Kali ini kamu menang dulu, akan tetapi jangan bersenang hati dulu karena jika aku tak mendapatkan Kak Fatih maka kamu juga tak akan mendapatkan nya." ucap Ghea terdengar sangat sinis.


Grep (kerah baju Ghea di tarik Shinta).


"Mau jadi pelakor neng? Jangan harap bisa menyentuh kebahagiaan Nona Aisha jika tak ingin mati di tanganku!!" ucap Shinta seraya menarik kerah baju Ghea hingga tertarik ke atas.


Ghea mengangguk ketakutan menatap wajah Shinta yang begitu sadis, membayangkan jika dia terbunuh di tangan Shinta. Mereka berdua melanjutkan makan bubur di seberang rumah sakit dengan Aisha yang tengah disuapi Fatih yang mengaggumi wajah istrinya tersebut, Aisha Khumairah.


“Tumben Mas Fatih mau satu mangkuk bersama Aisha?” tanya Aisha setelah meneguk the hangat.


“Aku ingin seperti bubur ini yang habis berdua hingga maut memisahkanku denganmu kelak Sayang.” ucap Fatih sembari membersihkan bekas air the di sudut bibir Aisha.


“Amin amin amin, Mas? Itu Mama dan Ayah bukan?” tunjuk Aisha ke sebuah mobil yang tengah melintas di depannya.


Fatih menatap sebuah mobil yang tengah berhenti tepat di tempat parkir khusus rumah sakit. “Tumben masih pagi gini sudah datang tuh Ayah dan Mama.”


“Hust. Jangan gitu, yuk balik Mas.” ajak Aisha.


“Yauda yuk Sayang. Aku bayar dulu ya dan jangan banyak gerak dulu.” pinta Fatih memberikan gesture sedikit memaksa Aisha untuk tetap duduk di kursi rodanya.


Setelah membayar semuanya kini Fatih kembali ke kamar Aisha yang tengah duduk di kursi rodanya sembari menatap sekitar rumah sakit yang memiliki tumbuhan hijau.


“Sayang … Lihat apa?” tanya Fatih sembari mengikuti pandangan Aisha.


“Lihat tumbuhan hijau Mas.”


“Tumbuhan hijau? Yauda yuk masuk. Assalamualaikum wr wb….” ucapan Fatih terputus melihat Mama Zahra Khumaira dan Ayah Ahmad Fatikuhurahman tengah melotot tajam ke arahnya.


“Waalaikum salam wr wb, darimana saja? Kalau keluar jangan bawa Aisha kamu Fatih!!” ucap mama Zahra Khumaira merebut kursi roda dari tangan Fatih.


“Ma … Fatih yang ….” ucapan Fatih terputus ketika melihat Aisha menggeleng.


“Aisha yang ingin makan bubur ayam Ma Yah dan Aisha bahagia bisa makan satu mangkuk bubur ayam dengan Mas Fatih.” ucap Aisha sembari membuka niqabnya.


“Satu mangkuk? Maksudnya Fatih menyuapimu Aisha?” tanya Ayah Ahmad Fatikhurahman.


“Aisha yang meminta Yah dan alhamdulillah Aisha sekarang sudah kenyang, itu apa Ma Yah?” Aisha menunjuk sebuah map di kursi.


“Oh,  nih schedule nanti ketika kalian berdua umrah dan lebih tepatnya nanti kalian harus satu kamar serta sudah ayahmu ini siapkan semuanya.” jelas ayah Ahmad Fatihurahman sembari menunjukkan beberapa berkas keberangkatan umrah ke Aisha dan Fatih.


Senyuman Aisha mengembang ketika membaca dan memandang semua berkas untuk keberangkatan umrahnya. “Tiga puluh hari? Ye ye ye ye ini benar Mas kita tiga puluh hari di sana?”


.


.


.


.


.


.


Assalamualaikum wr wb, gaes saran dan masukannya ya, jangan lupa komentarnya dan like nya gaes.


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2