
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
الحب مثل الريح، لا يمكنك أن تراه، ولكن يمكنك أن تشعر به.
Al-ḥub miṯl al-rīḥ, lā yumkinuka ʾan trāh, walakin yumkinuka ʾan tašʿura bih.
Artinya: Cinta itu seperti angin, engkau tidak bisa melihatnya, tetapi engkau bisa merasakannya.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Episode 88
“Saya sungkan Tuan dan saya minta izin setelah menikah untuk berhenti sebagai pengawal Tuan Besar dan Nyonya Besar beserta Tuan Muda dan Nonda Muda juga, apa di perbolehkan?” tanya Delon sangat hati hati.
“Sungkan? Dan kamu ingin resign dari sini Delon? Baiklah aku mengabulkanya tetapi aku sangat berharap kamu tetap menjaga ayah dan mamaku Delon karena apa? Karena kamu sendiri sudah aku anggap saudara di keluarga ini. Yauda aku turun ke bawah dulu, assalamualaikum wr wb.” Pamit Fatih sembari berjalan menuju tempat di mana kedua keluarga besarnya sedang menunggunya
Fatih yang tengah berjalan kembali mengingat ucapan Delon yang ingin berhenti menjadi pengawal keluarga besarnya. Di hisapnya kembali rokoknya yang tinggal sedikit tersebut dan mematikan sembari menatap Aisha yang tengah bersenda gurau dengan mamanya tersebut.
“Kamu begitu cantik dan indah Aisha. Aku akan melindungimu sampai mautku yang memisahkanmu denganku.” ucap Fatih sembari tersenyum menata Aisha yang sedang menatapnya juga.
Fatih menunduk ketika menatap netra indah milik Aisha akan tetapi kini suara Aisha tengah memanggilnya untuk mengajaknya bergabung dengannya. Fatih menatap kembali Aisha yang tengah melambaikan tanganya seolah seperti anak kecil.
“Ma geser dong, ini istriku lho.” suara Fatih sangat manja di depan Mama Zahra yang tengah duduk di samping Aisha.
“Yauda sini, yuk Ning Fatimah kita duduk di samping suami kita. Ayah sudah hadir Fatih anakmu ini.” ucap Mama Zahra Khumaira sembari membuyarkan obrolan Ayah Ahmad dengan Abi Hamzah.
“Eh Fatih sudah bertemu Delon? Dan cukup kamu yang tahu dengan mertuamu saja yang tahu, paham?” ucap Ayah Ahmad sembari memberikan kode untuk tidak berbicara lebih saat ini.
“Sudsh semua akan tetapi Delon setelah menikah nanti ingin berhenti Yah dan jangan biarkan Delon untuk berhenti bekerja dengan keluarga besar kita.” ucap Fatih sembari manaruh kepalanya ke pangkuan Aisha.
Aisha mengelus lembut Fatih hingga mereka bertatapan lama dan semakin mendekat. Ayah Ahmad dan Abi Hmazah saling bertatapan setelah menatap adegan romansa kedua anak menantunya tersebut.
“Hamzah perasaan dulu kita tak seperti itu ya dengan istri kita tapi aneh menurutku Fatih berubah sangat lembut dengan menantuku itu.” ucap Ayah Ahmad sembari menatap Fatih yang masih menatap wajah Aisha.
“Biarin saja Ahmad. Fatih bisa kita mulai untuk persiapan umrah besok?” tanya Abi Hamzah sembari menepuk pundak Fatih yang tengah tiduran di pangkuan Aisha.
__ADS_1
“Eh Abi……maaf Abi. Untuk persiapan umrahnya alhamdulillah sudah siap semua akan tetapi ada pertanyaan dari Fatih terkait saat di sana, saat di sana apa larangan dan apa yang di wajibkan saat umrah di sana nanti Abi.” ucap Fatih langsung duduk di sebelah Aisha yang menunduk karena kepergok bermesraan dengan Fatih.
“Waktu tiga puluh hari itu untuk kalian berdua di sana Fatih dan Aisha anakku dan sementara Abi dan Ahmad Fatikhurahman hari ke lima belas sudah pulang kembali, bermunajatlah di sana anakku dan jangan pernah mengingat masa lalumu Fatih serta untuk anakku Aisha harus bisa dan wajib hukumnya mentaati suami, paham Aisha dan Fatih?” terang Abi Hamzah sembari menatap lekat Fatih dan Aisha bergantian.
“Iya Abi. Fatih sudah sangat mencintai Aisha dan Fatih sudah berjanji untuk menjadi lebih baik untuk Aisha dan keluarga Fatih juga.” ucap Fatih sembari menunduk.
“Bagus itu nak Fatih akan tetapi jangan pernah lupa kewajibanmu serta tanggung jawab Fatih sebagai anak laki laki pertama, tahu maksudnya Fatih?” tanya Abi Hamzah kembali.
“Mohon maaf Abi, mohon di jelaskan agar Fatih paham dan melaksanakan kewajiban tersebut nantinya.” jawab Fatih sembari tetap menunduk.
“Yang pertama Ia akan bertanggung jawab merawat orang tua ketika orang tuanya sudah berumur dan tanggung jawab pertama ini sudah dijelaskan dalam surat Al-Isra ayat 23: Wa qa rabbuka all ta'bud ill iyyhu wa bil-wlidaini isn, imm yabluganna 'indakal-kibara aaduhum au kilhum fa l taqul lahum uffiw wa l tan-har-hum wa qul lahum qaulang karm dan artinya Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Paham Fatih? Jadi surgamu masih ada di kaki ibumu yaitu Zahra Khumaira.” Abi Hamzah menerangkan sembari tersenyum ke arah Fatih.
“Alhamdulillah paham Abi Hamzah karena Aisha selalu mengingatkan hal ini ke Fatih dan apakah ada selain itu Abi Hamzah?” tanya Fatih kembali.
“Yang kedua Ia menanggung nafkah orang tuanya ketika orang tua sudah berusia lanjut Kemudian, tanggung jawab yang kedua ini dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 215: Yas`alnaka m yunfiqn, qul m anfaqtum ming kairin fa lil-wlidaini wal-aqrabna wal-yatm wal-maskni wabnis-sabl, wa m taf'al min khairin fa innallha bih 'alm dengan arti: Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan". Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. Meskipun ayah dan ibumu memiliki nafkah dari kerja kerasnya sendiri akan tetapi Abimu ini ingin kamu mengetahui selain nafkah berupa materi saja nantinya untuk orangtuamu, ingat Fatih jangan buat orangtuamu menangis apalagi ibumu sampai menangis lagi karena sikap dan sifatmu, Naudzubillah ya Fatih.” Abi Hamzah kembali tersenyum setelah menjelaskan panjang lebar ke Fatih.
“Alhamdulillah Fatih akan selalu mengingatnya Abi Hamzah dan apakah Fatih boleh bertanya terkait besok sewaktu umrah?” tanya Fatih dengan sangat hati hati.
“Tanyakan saja Fatih, apa pertanyaanmu tersebut?” balas Abi Hamzah sembari membakar rokoknya.
Aisha yang mendengar pertanyaan suaminya tersebut hanya menggeleng malu akan tetapi berbeda dengan kedua orangtuanya beserta kedua mertuanya yang tetap tersenyum mendengar pertanyaan suaminya tersebut.
“Fatih, beremesraan dengan istri atau wanita yang sah dalam pernikahan itu hukumnya wajib atau fardhu ain lho Fatih akan tetapi ketika besok umrah jangan dulu sampai menggauli istrimu ya nak karena bagaimanapun itu hal yang di haramkan saat kita berumrah maupun berhaji akan tetapi kalau sekedar bermanja manja dengan istrimu seperti ini……ya tak apa apa Fatih anakku karena itu pahalanya besar sekali.” balas Abi Hamzah sembari tiduran di pangkuan Umi Fatimah.
“Lihat sikon Hamzah jangan langsung praktik juga, lagian kamu juga sih Fatih tanya pertanyaan ke alumni pondok pesantren yang dulunya sangat bucin ke Fatimah. Jika aku ceritakan semuanya kalian tak akan percaya karena…..” ucapan Ayah Ahmad Fatikhurahman terputus karena Abi Hamzah melempar korek ke arahnya.
“Cukup kamu saja yang tahu jangan sampai istriku ini tahu juga Ahmad!! Fatih paham? Dan Aisha anakku jangan pernah menolak ajakan suamimu ketika mengajak ke hal kebaikan yang menuju surganya Allah SWT akan tetapi tutupi semua kekurangan suamimu dengan kelebihanya juga kemudian minta restu suamimu untuk melanjutkan studimu sebagai dokter spesialis jantung dan jangan memutuskan sendiri, paham Aish anakku??” terang Abi Hamzah sembari meneguk kopi hangatnya.
“Paham Abi karena surgaku ada di Mas Fatih dan ridhanya Allah SWT juga di Mas Fatih, oh ya Mas Fatih tadi sudah tukar uang riyal untuk Mama, Ayah, Umi dan Abi. Nih Mama bawa ya.” ucap Aisha sembari memberikan beberpa uang riyal ke Mama Zahra.
“Hah? Kita berempat sudah tukar uang riyal Aish dan itu untuk kalian berdua saja serta kalau kurang nanti biar Fatih yang memberikan untukmu. Bagaimana hasil check up cucu mama Aish?” tanya Mama Zahra ke arah Aisha.
“Alhamdulillah Mama dan Umi. Calon bayi Fatih sehat dan nantinya sering aku tengok juga kok, bukan begitu sayang?” ucap Fatih sembari mencolek dagu Aisha.
“Mas…..jangan gini malu ada Mama dan Umi lho…..” bisik Aisha.
__ADS_1
“Mau dapat surga ndak sayangku Aisha?” balas Fatih sembari berbisik di telinga Aisha.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Assalamualaikum wr wb, terimakasih yang sudah membaca dan mencerna jalan cerita ini yang receh atau bahkan rumit ya?
Jangan lupa vote dan like serta komentar nya ya🙏🙏, untuk menambah semangat author juga😊😊.
Terimakasih semuanya.
Wassalamu'alaikum wr wb.
__ADS_1