
ππππππ
"Langit melukis kan senja ketika petang menjemput di ufuk barat berbeda denganku yang hanya ingin menjemputmu dalan keabadian di surga kelak bersamaku, kemarilah kita panjatkan untuk bermunajat untuk kehidupan kita setelah kematian kita berdua di surga bersamamu." Khibban NurCahyo.
ππππππ
Episode 29
Aisha yang tengah sibuk mencermati pekerjaan hari ini dan bersiap untuk mengambil cuti untuk lima hari kedepannya setelah pernikahan nya dengan Fatih tiba-tiba ponsel Aisha berdering dan menampilkan nama Sofiyah.
"Assalamualaikum wr wb, iya Sof kenapa?"
"Waalaikumsalam wr wb, di mana Aisha? Sudah lihat email? Kita bertiga sudah di keluarkan dari Universitas Al-Fatih dan apakah kamu tidak berniat untuk beralih ke Universitas lainya?."
"Oh itu ya, bentar lagi ada pemberitahuan kok sekitar tiga hari ke depan ya Sof, yang tenang jangan panik."
"Baiklah, yauda Aisha terimakasih kalau begitu assalamualaikum wr wb."
"Waalaikumsalam wr wb, selalu hati hati Sof, salam ke Dina."
Aisha menghela nafas panjang dan seketika Shinta yang mengemudi menatap dari spion yang mengarah ke belakang di mana Aisha sedang memikirkan sesuatu.
"Maaf Nona Aisha, apa ada masalah?" tanya Shinta hati hati.
"Vina Renata sudah mengeluarkan aku, Sofiyah dan Dina dari kampus Al-Fatih." ucap Aisha dengan tenang.
"Apakah perlu kita berikan pelajaran Nona? Mengingat Nona sebentar lagi menikah dengan Tuan Fatih." Shinta menawarkan solusi.
"Bentar ini aku download surat bukti pengeluaranku dari kampus, nanti biar saja aku yang bilang ke Ayah setelah pernikahan, tak perlu terburu-buru karena aku yakin Mas Fatih dalam jebakan Vina Renata saat ini." ucap Aisha sambil menatap keluar kaca mobil.
Aisha keluar dari mobil di ikuti Shinta untuk mengikuti masuk ke perusahaan Al-Fatih, semua karyawan membungkuk memberi hormat dan Aisha membalas dengan mengangguk hormat.
Suasana ruangan Aisha sepi hanya terdengar hembusan nafas Aisha yang tengah memikirkan Fatih, apakah Aisha sudah menaruh hati nya untuk Fatih?
"Nona sudah waktunya makan siang, apakah saya pesankan sesuatu?" Shinta menawarkan ke Aisha.
"Baiklah Kak, setelah ini kita mencari gedung untuk sebuah panti asuhan." ucap Aisha tetap memandang kosong keluar jendela.
Shinta yang mengetahui kondisi hati Nona Mudanya itu sedang tidak baik baik saja hanya menggeleng.....
"Apakah Nona sudah mencintai Tuan Fatih?" tanya Shinta to the point.
"Entahlah Kak tapi firasatku berbicara Mas Fatih saat ini sedang tak baik baik saja, lebih baik aku shalat Dzuhur dulu Kak, mau ikut?" ajak Aisha.
Shinta pun mengangguk dan segera beranjak mengikuti Aisha keluar dari ruangannya menuju mushalla perusahaan Al-Fatih.
Suasana mushalla perusahaan Al-Fatih yang adem membuat kekhusyukan Aisha semakin hanyut dalam doanya, Shinta yang mendapat panggilan dari Tuan Besar Ahmad Fatihurahman hanya bisa berharap cemas karena terlihat dua belas panggilan dari nya.
"Angkat saja Kak, tunggu Aisha di kantin perusahaan, Aisha ingin sendiri terlebih dahulu." pinta Aisha.
Shinta segera mengangkat panggilan dari Tuan Besar Ahmad Fatihurahman dan berbicara......
__ADS_1
Assalamualaikum wr wb Tuan Besar, benar Nona Aisha bersama saya.
"....."
Memang benar begitu keadaan saat itu di ruang perkuliahan saat itu Tuan Besar karena Tuan Fatih tidak membela sama sekali Nona Aisha.
"......"
Baiklah Tuan Besar Ahmad Fatihurahman, waalaikumsalam wr wb.
Anas yang tengah menunggu di lobi perusahaan untuk mengantarkan bekal makan siang menatap Shinta berjalan sendiri tanpa Aisha.
"Assalamualaikum wr wb Shinta, dimana adikku Aisha?" tanya Anas.
"Waalaikumsalam wr wb Tuan Muda Anas, Maaf Nona Aisha masih di kantin dan saya hubungi sebentar, silahkan masuk terlebih dahulu." ajak Shinta.
"Maaf lebih baik anda terlebih dahulu masuk saja, saya menunggu adik saya." pinta Anas.
Shinta yang mengerti ucapan Anas hanya mengangguk pelan karena bagi Anas takut terjadi yang tidak di inginkan meskipun Shinta dan Anas terdapat jarak.
Anas yang menatap Aisha berjalan lesu segera memeluk tubuh adiknya itu dengan sangat erat.....
"Assalamualaikum wr wb adikku, tumben lesu, coba cerita ada apa?" Anas mencubit pipi Aisha lembut.
"Waalaikumsalam wr wb, ngapain Kak Anas gak masuk langsung? Tuh Kak Shinta nunggu di luar juga ngapain?" polos Aisha.
Anas yang mengetahui kondisi Aisha saat ini hanya menggeleng pelan dan tersenyum.....
"Dik, percayakan suatu yang kita inginkan itu baik baik saja dan apakah adikku ini menaruh rasa ke Fatih?" tanya Anas.
"Masih ingat dik jika terlalu berharap ke manusia ujung ujungnya seperti kakakmu ini yang berharap Vina Renata kembali ke kakak tapi apa? Ternyata kakak yang salah dik, jika hari ini Fatih terjadi maka biarkan dan lebih baik kamu semakin dekat dengan Allah SWT dan Rasulullah SAW dik." Anas menyeka air matanya mengingat kejadian tadi pagi.
"Kak, setelah ini ada acara? Aisha boleh minta temani kalian berdua dengan Kak Riko?" pinta Aisha.
Anas mendengar permintaan adiknya menatap sekilas ke arah Shinta dan segera Shinta menghubungi Delon untuk menyampaikan keinginan Aisha.
"Baiklah kita makan dulu Nona Aisha." ucap Shinta setelah mengakhiri sambungan panggilannya ke Delon.
Aisha segera beranjak dari tempat duduknya dan mencuci tangan bersiap untuk menyantap makan siang bersama Anas dan Shinta.
Delon yang tengah mengemudikan mobil Riko hanya bisa menatap Tuan Mudanya yang tengah gelisah dari spion.....
"Relaks Tuan Riko, tak perlu khawatir berlebihan dan untuk saat ini karena semua sudah aku atur sebegitu matangnya." senyum smirk Delon seakan membunuh.
"Kasihan kakak iparku kalau begini ceritanya, ini berkas sudah semuakan Delon?" tanya Riko memeriksa sebuah berkas Panti Asuhan Al-Azhar.
"Semua sudah beres Tuan, tinggal tanda tangan Nona Aisha karena Panti Asuhan Al-Azhar bisa membuat Nona Aisha tersenyum kembali nantinya." Delon melirik ke arah Riko yang mencermati berkas Panti Asuhan Al-Azhar.
Delon dan Riko sampai di perusahaan keluarga besar Al-Fatih dan segera menuju ke ruang kerja Aisha di lantai empat belas.
Aisha tengah berbincang dengan Anas dan Shinta tentang apapun membuat Aisha tersenyum lepas lupa dengan kedatangan Riko dan Delon yang sudah menunggu di depan ruangan Aisha.
__ADS_1
"Kak Anas, sepertinya ada tamu tuh, bentar Aisha mau pakai niqab dulu." ucap Aisha beranjak ke kamar yang ada dalam ruangan kerjanya.
"Waalaikumsalam wr wb, eh Riko dan Mas Delon, maaf tak dengar tadi." Anas menyambut jabatan tangan Riko dan Delon.
"Ini Mas berkas berkasnya, Kak Aisha ada di dalam?" tanya Riko hati hati.
"Ada tuh lagi di kamar ruangan ini." Anas mempersilahkan masuk ke Delon dan Riko.
Aisha berjalan menghampiri Delon dan Riko...
"Assalamualaikum wr wb Kak Riko dan Kak Delon, bagaimana sudah semua berkas berkasnya?" tanya Aisha.
"Waalaikumsalam wr wb, panggil saya adik saja Kak kan sebentar lagi Kakak menikah dengan Mas Fatih." ucap Riko mengatupkan kedua tangannya.
Aisha mendengar nama Fatih langsung menunduk, hal itu langsung membuat Riko mengutuk ucapannya sendiri.
"Kak, maaf, untuk saat ini Mas Fatih masih kita awasi juga kok, jangan khawatir juga. IngatΒ kakak punya kita semuanya dan tentunya Allah SWT juga kan kak?" ucap Riko hati hati.
"Tak apa jika Mas Fatih masih terlena saat ini, Alhamdulillah jika kalian mendukung ku penuh untuk semuanya, untuk berkas berkasnya sudah?" tanya Aisha.
Delon segera maju memberikan berkas berkas Panti Asuhan Al-Azhar dan Aisha langsung menandatangani semuanya.
"Yuk kita survey dan kita langsung berikan apa yang mereka butuhkan dan jangan lupa ini Panti Asuhan yang mengelola Kak Anas, Kak Riko dan Kak Shinta ya jadi Aisha cuman datang nantinya." ucap Aisha.
Mereka bertiga mengangguk setuju dan lekas berangkat menuju Panti Asuhan Al-Azhar untuk mengecek kondisi bangunan Panti Asuhan tersebut yang jauh dari kata layak.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Apakah Aisha sudah menaruh hati ke Fatih? Sebegitukah Fatih hingga melupakan pernikahan nya yang semakin dekat?