
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
“Waktu yang paling berharga adalah menikmati senyumanmu saat kamu dan aku bersama serta menikmati kerinduan senyumanmu di saat kita merindu dan saat itulah aku berkata, kita telah menyatu sayang” Khibban NurCahyo.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Episode 96
“Aisha, besok ketika umrah. Fatih akan memberikan hadiah yang sangat indah dan apakah boleh Abi mengucapkan ke Aisha sekarang Fatih?” sambung Abi Hamzah setelah menghapus air mata Fatih yang telah meminta restu untuk menjadi yang lebih baik lagi.
“Jangan dong Abi, itu namanya tak surprise nantinya. Biar Aish bertanya tanya dalam hatinya terlebih dahulu.” balas Fatih sembari menatap lekat Aisha.
“Baiklah, dan untuk berangkatnya besok dari sini saja kalian berdua Ahmad dan Zahra. Kopernya sudah di siapkan semuanya kan Ahmad?” Abi Hamzah kembali bertanya ke Ayah Ahmad.
“Sudah semua Hamzah dan untuk pasport dan sebagainya besok akan di bagikan oleh biro umrah juga. Baiklah jika kita berangkat dari sini semua, kalau begitu biar aku bilang Delon dan Shinta untuk segera memberitahu semua yang kita ajak umrah yang berjumlah lima puluh orang.” balas Ayah Ahmad sembari memberikan daftar nama yang ikut umrah.
“Alhamdulillah, yauda kita lebih baik istirahat, karena nantinya kita harus berangkat pagi dan menempuh perjalanan kurang lebih dua belas jam, kita istirahat dulu Fatih, Aisha. Oh ya kamar kalian berdua Abi pindah di belakang sendiri ya, agar bisa enak mengobrol secara pribadi.” Abi Hamzah menunjukkan letak kamar Aisha yang berada di ujung ndalem pondok.
“Sudah istirhat kalian berdua, Fatih jangan kamu ajak menantuku olahraga malam.” celetuk Ayah Ahmad menggoda Fatih.
Aisha menunduk mendengar ucapan mertuanya tersebut. Kini tinggal Aisha dan Fatih. Mereka berdua saling menatap.
“Mas Fatih sudah mengantuk?”
“Aku mau keluar dulu Aish, mau ikut?”
“Kemana? Kalau boleh Aish ikut deh.”
“Jalan jalan di sekitar pondok terus shalat sunnah witir dan shalat sunnah dua rakaat.”
“Tapi tunggu Aish ya. Sebentar saja.” pinta Aisha.
Fatih mengangguk dan mengecup kening Aisha hingga membuat pipi Aisha merona kemerah merahan. Aisha segera berjalan ke arah kamarnya untuk berdandan secantik mungkin hanya untuk Fatih. Setelah hampir lima menit kini Aisha berdiri di belakang Fatih yang tengah menunggunya.
“Mas? Aish sudah siap untuk beribadah dengan Mas Fatih.” ucap Aisha lembut.
“Masya Allah cantiknya, Aish mana niqabmu? Aku tak mau ada yang melihatmu selain aku.”
“Semuanya sudah tidur Mas dan anak santriwan santriwati akan menundukkan kepalanya kok, percaya Aish atau ketika ada yang lewat ntar Aish akan berdiri di belakang Mas Fatih deh.” balas Aisha sembari mengacungkan jari kelingkingnya.
“Baiklah Aisha Khumairahku. Yuk kita berjalan jalan.” ajak Fatih sembari menggenggam tangan Aisha.
Aisha yang bergelayut manja di lengan Fatih yang tengah mengajaknya ngobrol sembari berjalan di kehingan malam tiba tiba berhenti di depan gerbang Pondok.
“Bentar Bae, aku mau mengenang pertemuanku denganmu saat itu, saat pertama kali. Dan alangkah bodohnya saat itu….”
“Sudah Mas, saat itu ya saat itu. Kini Aisha sangat bahagia lahir dan batin memiliki Mas Fatih dan lupakan masalalu ya Mas. Aisha juga harus berkaca jika Aisha juga tak sesempurna apa yang Mas Fatih rasakan dan lihat, buktinya juga Aisha masih manja, suka ngomel dan suka menolak ucapan Mas Fatih kan?” ucap Aisha menatap netra Fatih.
“Aish, kamu sangat sempirna bagiku akan tetapi kesempurnaan itu tak ada dalam diriku dan dirimu juga. Karena kita manusia biasa, aku sangat mencintaimu Aisha Khumairah.” balas Fatih sembari menempelkan dahinya ke dahi Aisha.
“Benar sekali, Mas tahu? Apa yang sangat Aisha banggakan dari Mas Fatih?
“Apa itu Aish?”
“Perubahan Mas Fatih yang begitu membekas di hati Aisha dan Aisha yakin serta sangat yakin jika Mas Fatih sudah sangat berubah.” ucap Aisha sembari menatap lekat netra Fatih.
“Aku minta maaf, maafkan kau jika terlambat untuk menerimamu menjadi kekasih halalku Aish dan aku mohon jangan pernah bosan untuk selalu saling mengingatkan, selalu mendukung jika aku banyak kekurangan nantinya di perjalanan cintamu dan cintaku menjadi cinta kita.” balas Fatih mengecup mesrah kening Aisha.
“Amin amin amin, kita shalat dulu yuk Mas, dan nanti buatkan ngopi serta menemani Mas Fatih ya sembari mengobrol untuk menghabiskan waktu bersama malam ini hingga seterusnya kelak.” balas Aisha mengecup bibir Fatih.
Fatih mengangguk dan segera menuju ke masjid Pondok Pesantren An-Nur. Aisha segera mengambil wudlu dan menunggu Fatih yang tengah berwudlu juga. Mereka berdua menghabiskan waktu malam mereka dengan bermunajat mesrah ke Allah SWT hingga…….
“Huhuhuhuhuhuhuhu**, ya Allah aku sudah sangat mencintainya tetapi kenapa dia tidak membalas cintaku, huhuhuhuhuhuhu.”
Fatih yang telah selesai berdoa menatap ke shaf belakangnya dan mencoba bertanya ke Aisha. “Suara kuntilanak kah itu Bae?”
“Hush, bukan. Coba Aish cek. Suaranya dari shaf perempuan Mas. Sebentar ya.”
“Aku ikut Bae.”
Aisha segera menuju ke asala suara tersebut, dan betapa kagetnya dia melihat santriwati yang tengah menangis dalam doanya.
“Mas Fatih mau ikut menenangkan?” tanya Aisha.
__ADS_1
“Bae saja yang menenangkan, aku dampingi saja ya.” jawab Fatih sembari berjalan di samping Aisha.
Aisha segera mendekati santriwati yang selesai berdoa tersebut, “Assalamualaikum wr wb, ada apa sampai ,menangis? Sini coba cerita sama kakak.”
“Waalaikumussalam wr wb, eh Ning Aisha dan Gus Fatih. Maaf Ning maaf. Novi tak sengaja menganggu Ning dan Gus.” ucap santriwati itu yang bernama Novi.
“Novi yang kelas akhir ya? Sini cerita ke kakak, mungkin bisa membantu memberikan saran ke Novi.” pinta Aisha dengan lembut.
“Bolehkah Ning?”
“Boleh, yuk cerita. Mungkin Kak Aisha bisa membantu menemukan solusinya.”
“Gini Ning Aisha dan Gus Fatih. Aku menaruh hati ke seorang laki laki akan tetapi dia tak pernah mebalas surat dan bahkan titipan rinduku. Kemudian, aku mendengar kabar dari seorang temanku tentangnya. Dia telah menikah dengan salah satu sahabat terbaikku dan bahkan sahabatku tersebut dulu sering memberikan motivasi ke aku untuk mengungkapkan perasaan ke laki laki tersebut. Tetapi dia yang menikah dengan laki laki tersebut karena perjodohan kedua orangtua laki laki dan sahabatku tersebut. Jujur aku merasa Allah SWT tak adil Ning, Gus. Bagaiamana tidak? Aku yang memendam rasa untuknya tetapi kini berbanding terbalik dengan takdir yang menimpa diriku. Rasanya aku sungguh tak kuat untuk terus hidup Ning. Aku begitu sangat mencintainya dan sangat menaruh hati untuknya, hanya untuknya semata. Apakah itu adil buatnya Ning? Gus?” tanya Novi sembari menatap Aisha tetapi sungkan untuk menatap Fatih yang tengah duduk di belakang Aisha.
“Adil baginya belum tentu buruk untuk hidupmu akan tetapi Allah SWT pasti sudah mengatur jalan ceritamu dan bahkan jodohmu sudah menunggu di tempat lain, Novi. Pernah mendengar kisah cinta dalam diam? Cintanya Sayyidina Ali bin Abi Thalib dengan Sayyidah Fatimah Az-zahra? Kamu tahu? Berapa kali Allah SWT menguji keteguhan hati beliau, Sayyidina Ali untuk hidup berdampingan dengan Sayyidah Fatimah, putri dari baginda Rasulullah Muhammad SAW? Mau dengar kisahnya Novi?” Aisha bertanya balik.
“Boleh Ning Aisha akan tetapi apa tidak memberatkan Ning dan Gus? Hanya untuk menemaniku bercerita yang tak berfaedah seperti ini?”
Aisha tersenyum sembari menggeleng, “Baiklah aku ceritakan kisah cinta dalam diam milik dua insan mulia di bumi ini. Pada saat kaum muslimin hijrah ke Madinah, Fatimah dan kakaknya Ummu Kulsum tetap tinggal di Makkah sampai Rasulullah mengutus orang untuk menjemput keduanya. Setelah Rasulullah menikah dengan Aisyah binti Abu Bakar, para sahabat Rasulullah berusaha untuk meminang Fatimah.
Suatu ketika Fatimah dilamar oleh seorang laki-laki yang sangat dekat dengan Rasulullah; ia telah mempertaruhkan harta, jiwa dan kehidupannya untuk Islam, selalu menemani perjuangan Rasulullah. Dialah Abu Bakar Ash Shiddiq.
Ketika mendengar bahwa Abu Bakar melamar putri Rasulullah tersebut, seketika Ali terkejut. Ia sadar dibandingkan dengan Abu Bakar, Ali bukanlah siapa-siapa. Apalagi Ali juga begitu miskin, bahkan untuk mahar pernikahan saja ia tidak punya. Sedangkan Abu Bakar kedudukannya sangat dekat dengan Rasulullah dan Abu Bakar seorang saudagar, tentu lebih bisa membahagiakan Fatimah.
Waktupun berlalu dan Ali mendapat kabar bahwa lamaran dari Abu Bakar ditolak Fatimah dan Rasulullah dengan lembut. Kabar itupun membuat Ali merasa senang dan mempersiapkan diri kembali berharap ia masih memiliki kesempatan untuk melamar Fatimah.
Akan tetapi ujian Ali belum berhenti di situ saja, ternyata Ummar ibn Al Khattab juga turut melamar Fatimah. Seorang laki-laki yang gagah perkasa dan pemberani, setan saja takut kepadanya. Membuat Ali harus berusaha ikhlas jika Fatimah menikah dengan Ummar. Namun beberapa saat kemudian Ali menerima kabar yang membuat Ali semakin bingung, karena lamaran Ummar pun juga ditolak oleh Fatimah.
“Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?” Seru sahabat Ansharnya.
“Mengapa tidak engkau yang mencoba melamar Fatimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Rasulullah.”
“Aku?” Tanya tak yakin.
“Ya. Engkau wahai saudaraku!”
“Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa aku andalkan?”
Akhirnya Ali memutuskan memberanikan diri untuk menemui Rasulullah dengan menyampaikan maksud hatinya untuk meminang putri Rasulullah Fatimah Az-Zahra untuk menjadi istrinya.
Rasulullah bertanya, “Apakah engkau mempunyai sesuatu?”
“Tidak ada Rasulullah,” jawab Ali.
“Di mana pakaian perangmu yang hitam, yang saya berikan kepadamu?” Tanya Rasulullah lagi.
“Masih ada padaku wahai Rasulullah,” jawab Ali.
“Berikan itu kepadanya (Fatimah) sebagai mahar!” Kata beliau.
Kemudian Ali langsung bergegas pulang dan membawa baju besinya, lalu Rasulullah menyuruh menjualnya, dan baju besi tersebut Ali jual kepada Utsman bin Affan seharga 470 dirham; kemudian ia serahkan kepada Rasulullah dan Rasul berikan ke Bilal untuk membeli perlengkapan pengantin.
Fatimah yang sudah lama memendam cintanya kepada Ali bin Abi Thalib merasa bahagia. Kaum muslimin merasa gembira atas pernikahan Fatimah dan Ali bin Abi Thalib. Setelah setahun menikah, Fatimah dan Ali Allah Swt. karuniai anak laki-laki bernama Hasan dan saat Hasan genap berusia 1 tahun lahirlah Husein pada bulan Sya’ban tahun ke 4 H, itu kisahnya Novi, mungkin sekarang kamu belum menemukan rusukmu seperti yang Allah SWT inginkan, akan tetapi percayalah dan terus beribadah untuk selalu dekat denganya, Allah SWT.” jelas Aisha sembari mengusap pundak Novi.
“Ya Allah, indah ternyata kisah beliau berdua, makasih Ning Aisha, makasih atas waktu dan ceritanya sangat mendalam, Novi pamit dulu, Assalamualaikum wr wb.” ucap Novi sembari mencium punggung tangan Aisha.
“Waalaikumussalam wr wb, hati hati balik ke kamarnya dan jangan lupa selalu berpositif thingking ya.” ucap Aisha sembari tersenyum ke arah Novi.
Aisha yang hendak beranjak berdiri tiba tiba mendengar dengkuran halus milik suaminya, Fatih Nur Rakhman.
“Mas? Mas Fatih, bangun yuk, kita pindah ke kamar. Sebentar lagi jam dua belas lho.” ucap Aisha sembari mengecup kening Fatih.
“Lho kok sudah selesai ceritanya Bae? Aku ceritain lagi dong tentang sahabat sahabat Rasulullah Muhammad SAW.” balas Fatih sembari memeluk kaki Aisha.
“Lho Mas? Malah lanjut tidur, pindah dulu yuk, katanya mau ibadah lagi? Mumpung Aisha belum datang bulan lho, yuk Mas.” ajak Aisha sembari kembali mengecup bibir Fatih.
“Datang bulan? Kan Bae lagi hamil, tidur sini saja yuk Bae, enak dan dingin di sini.” Fatih memeluk tubuh Aisha untuk mengajaknya berbaring bersama.
Aisha hanya bisa menggeleng melihat tingkah laku suaminya tersebut, “Mas, ini di masjid lho. Aisha sih mau mau saja tidur sini tapi besok saat shalat Shubuh pasti banyak santriwan dan santriwati melihat kita saling berpelukan.”
“Hah? Kita masih di masjid? Yauda yuk pindah kamar. Langsung bubuk ya Bae. Besok perjalanannya panjang lho.”
“Aku mau minta ibadah dong Mas, ayolah Mas.” Aisha merengek ke Fatih.
__ADS_1
“Siap Bae, yuk kita berangkat, lets go!!!” teriak Fatih kegirangan.
Aisha menggeleng melihat tingkah suaminya tersebut, setelah hampir masuk kamar Aisha. Aisha di kagetkan dengan Umi Fatimah yang tengah berwudlu dengan di dampingi Abi Hamzah.
“Lho, belum tidur kalian, Aish, Fatih?” tanya Abi Hamzah ke Aisha dan Fatih.
“Eh Abi, maaf tadi habis mgajak Aisha jalan jalan keliling Pondok, Abi dan Umi mau shalat sunnah?” Fatih balik bertanya.
“Iya Fatih, yasudah segera istirahat kalian berdua. Aish, ingat pesan Abi. Layani dan muliakan suamimu sebaik mungkin. Paham??”
“Siap Abi. Yauda Aish dan Mas Fatih masuk dulu nggih Abi, Umi. Assalamualaikum wr wb.” pamit Aisha di ikuti Fatih.
Di malam itu Aisha dan Fatih kembali menyatu dalam alunan lagu kehidupan saling mencintai, Aisha yang menatap Fatih yang tersenyum dalam keremangan suasana kamarnya, kembali tersenyum mengingat pertemuan pertama kali dengan suaminya tersebut.
“Aku begitu mencintaimu Mas Fatih Nur Rakhman.” lirih Aisha sembari menatap Fatih yang tengah terpejam setelah penyatuan dengannya.
“Aku juga sangat mencintaimu Aisha Khumairah bin Hmazah.” balas Fatih sembari mengecup mesrah bibir Aisha.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Assalamualaikum wr wb, terimakasih yang sudah membaca dan mencerna jalan cerita ini yang receh atau bahkan rumit ya?
Jangan lupa vote dan like serta komentar nya ya🙏🙏, untuk menambah semangat author juga😊😊.
Terimakasih semuanya.
Wassalamu'alaikum wr wb.
__ADS_1