
ππππππ
"Setiap pertemuan akan berakhir perpisahan begitu juga kelahiran akan berakhir dengan kematian, kita semua akan kembali ke pencipta kita akan tetapi pertanyaan ku cuman satu apakah kamu akan kembali ke diriku di surga kelak?." Khibban NurCahyo.
ππππππ
Episode 30
"Yuk kita survey dan kita langsung berikan apa yang mereka butuhkan dan jangan lupa ini Panti Asuhan yang mengelola Kak Anas, Kak Riko dan Kak Shinta ya jadi Aisha cuman datang nantinya." ucap Aisha.
Mereka bertiga mengangguk setuju dan lekas berangkat menuju Panti Asuhan Al-Azhar untuk mengecek kondisi bangunan Panti Asuhan tersebut yang jauh dari kata layak.
Mobil yang di tumpangi Aisha, Shinta dan di kemudikan oleh Anas berjalan di belakang mobil Riko dan di kemudikan Delon berada di depan, perjalanan berhenti di sebuah pusat pembelanjaan untuk membeli kebutuhan Panti Asuhan nantinya.
"Kak Riko dan Kak Anas biar biaya belanja Aisha yang tanggung." ucap Aisha ke arah Riko dan Anas yang sedang berbincang.
Delon berjalan ke arah Aisha dan menyerahkan sebuah amplop....
"Maaf Nona Aisha, ini dari Nyonya Besar Zahra Khumaira dan Tuan Besar Ahmad Fatihurahman, mohon di terima." ucap Delon membungkuk memberi hormat.
Aisha memandang sebuah kartu gesek "Hemmmm black card ini ternyata yang membuat di mabuk kepayang manusia manusia." batin Aisha.
"Terimakasih Kak Delon, yuk semua masuk." ajak Aisha menggenggam tangan Shinta.
Delon berjalan di depan Aisha dan Shinta sementara Anas dan Riko berjalan di belakang Aisha dan Shinta sehingga membuat tatapan pengunjung pusat pembelanjaan mengarah ke mereka berlima.
Aisha segera menuju ke toko baju dan membeli beberapa potong baju untuk anak anak Panti Asuhan Al-Azhar.
"Berapa jumlah anak yang di panti kak?" tanya Aisha.
Riko yang memegang berkas segera menghitung jumlah anak yang terdaftar.
"Dua puluh delapan Kak Aisha, empat belas perempuan dan empat belas laki laki." sahut Riko cepat.
Aisha mangut mangut sambil melihat setelan baju anak anak.
"Berapa rata rata umur mereka?" tanya Aisha kembali.
Riko dan Anas mendelik mendengar pertanyaan Aisha karena mereka berdua melupakan mendata umur ke dua puluh delapan anak Panti Asuhan Al-Azhar.
"Lupa ya kak? Yauda kita nanti lihat aja di Panti Asuhan saja langsung." Aisha melenggang pergi.
Riko menatap kepergian Aisha melongo dan berfikir jika Aisha akan marah dan kecewa atas pekerjaan mendata anak anak Panti Asuhan tersebut.
"Sudah Riko jangan merasa bersalah, adikku memang begitu, yuk susul dia." ajak Anas.
Shinta yang berjalan berdampingan dengan Aisha menatap pasangan yang tengah protes ke kasir....
"Ada apa Kak Shinta?" tanya Aisha mengikuti tatapan Shinta.
"Mereka berduakan Tuan Fatih dan bekecot Vina Renata Nona Aisha." ucap Shinta.
Aisha mendengar ucapan Shinta melangkah ke arah Fatih dan Vina Renata yang tengah marah marah ke kasir.....
"Semua kartu ini harusnya bisa, kamu bisa bekerja gak sih!!" hardik Vina Renata.
Fatih yang tengah termenung karena semua kartu Black Card nya terblokir sementara Vina Renata memarahi kasir yang tengah menolak semua kartu Black Card milik Fatih.
"Assalamualaikum wr wb Mas Fatih? Ada apa?." sapa Aisha.
Delon yang menatap ke arah Shinta mencabut pistolnya langsung di tahan oleh Anas agar tidak mencabut pistol miliknya itu.
"Waalaikumsalam wr wb, ini mau belanja, sama siapa kesini?" jawab Fatih tanpa memperdulikan Vina Renata.
Vina Renata yang mendengar Fatih merespon Aisha segera maju dan berdiri di antara Fatih dan Aisha.
"Ngapain di sini? Bukankah ini waktuku sama Fatih sebelum menikah dengan kau wanita bercadar!!" hardik Vina Renata.
Fatih menunduk mendengar ucapan Vina Renata kemudian mendongak menatap seseorang yang menepuk pundak dari arah belakangnya.
__ADS_1
"Di sini juga Mas? Ada masalah?" tanya Riko.
Vina Renata menoleh ke arah Riko yang sedang berdiri di belakangnya, Vina Renata melongo menatap kehadiran Anas, Shinta dan Delon bersama Aisha.
Aisha segera maju ke arah kasir dan bertanya....
"Berapa total belanja mereka kak." tanya Aisha ke kasir.
"Delapan juta dua ratus ribu Kak tapi semua kartu Kakak ini tidak aktif semua." ucap kasir tersebut.
"Oh, nih pakai ini Kak." ucap Aisha menyodorkan kartu Black Card yang baru di terima dari Ayah Ahmad Fatihurahman dan Mama Zahra Khumaira.
Vina Renata mendengar dan melihat ke arah Aisha menyerah kan Black Card nya segera mendorong dan merebut dari tangan Aisha, hingga menyebabkan Aisha terjatuh terbentur meja kasir.
Shinta segera menodongkan pistolnya dan di ikuti Delon mencekik leher Vina Renata dan menempelkan sebuah pisau ke arah leher Vina Renata.
"Cari mati kau Vina Renata!!! Dasar iblis!!!" ucap Shinta menekan pengaman pistolnya.
Delon segera menggoreskan sedikit pisaunya ke leher Vina Renata hingga sedikit meninggalkan luka gores.
"Kak Delon!! Kak Shinta!!! Berhenti!! Jangan kotori tangan kalian berdua!!" teriak Aisha yang menahan rasa sakit akibat dorongan dari Vina Renata di samping Shinta.
Aisha menurunkan tangan Shinta yang memegang pistol serta menyuruh tangan Delon menurunkan pisaunya yang telah meninggalkan goresan sekitar tiga centimeter hingga meninggalkan luka gores di leher Vina Renata.
"Maafkan mereka berdua Vina Renata, maaf telah membuatmu terluka." ucap Aisha sambil menempelkan plester luka ke leher Vina Renata.
Vina Renata yang ketakutan hanya mengangguk lemah dan menangis sesenggukan.
"Mas Fatih bawa belanjaannya dan habiskan waktu bersamanya karena sebentar lagi kita menikah akan tetapi jika nantinya Mas Fatih lebih memilih dia bukan aku yang secara sah di mata Agama dan negara. Kita tunggu tanggal mainnya nanti yang membuat Mas Fatih mencintai diriku bukan dia." ucap Aisha tenang.
Riko yang menggenggam tangannya dari tadi hanya bisa menghela nafas panjang melihat kakaknya yang tengah berdua dengan kekasih pilihan hatinya yaitu Vina Renata, sementara Anas semakin yakin untuk melupakan Vina Renata karena tindakan Vina Renata semakin kasar terhadap Aisha.
Aisha segera meninggalkan Fatih dan Vina Renata setelah membayar belanjaan milik mereka berdua dan di ikuti Shinta yang terus meminta maaf ke Aisha sementara Delon, Riko dan Anas mengancam ke Fatih dan Vina Renata.
"Jangan harap kau menyentuh adikku Vina Renata!! Dan kau Fatih!! Jika tidak karena perjodohan keluarga besar kita maka aku bunuh kau!!" ancam Anas ke arah Fatih.
"Bunuh saja Kak Anas, aku gak butuh seorang kakak yang tak membela wanitanya yang sudah jelas jelas baik sikap dan sifatnyaβ¦β¦..cuih persetan dengan kalian berdua." sinis Riko membuang ludah di hadapan Vina Renata dan Fatih.
"Jangan sampai anda Tuan Fatih jatuh cinta dengan Nona Muda Aisha karena sebentar lagi anda tahu busuknya wanita ini karena dia lah penyebab Nyonya Besar Zahra Khumaira menjadi sakit jantung setelah peristiwa itu ." tegas Delon sambil melirik tajam ke arah Vina Renata.
Delon melangkah menyusul Tuan Anas dan Tuan Riko yang tengah tertawa lepas melihat kekonyolan Aisha memilih barang barang untuk di bawa ke Panti Asuhan Al-Azhar.
"Ngapain beli palu, sekop pasir, paku dan ini apa coba beli peralatan tukang lainya dik?" tanya Anas ke Aisha.
"Lho ya buat kalian bertiga yang memperbaiki Panti Asuhan Al-Azhar nantinya benar begitu Kak Shinta?" ucap Aisha ke arah Shinta.
"Eh tapi kan ada tukang Nona Aisha nantinya? Kenapa harus Kak Anas sih kan nanti kasihan Kak Anas." jelas Shinta.
"Oh jadi Kak Shinta membela Kak Anas? Yauda deh ini gak jadi beli, yuk langsung beli bahan makanan saja kalau gitu." ucap Aisha tanpa dosa.
Riko menggeleng mendengar ucapan Shinta yang tengah tertarik dengan Anas akan tetapi Anas berbisik ke Riko. "Tenang saja Dik Riko aku tak tertarik dengan Shinta dan aku tahu jika kamu menaruh hati ke adikku kan? Tapi aku sarankan biarkan pernikahan Kakakmu itu dengan adikku berlangsung karena ini amanah dari kedua orang tua kita."
Riko langsung menoleh ke arah Anas.... "Aku lebih tertarik ke santriwatinya Abi Hamzah Mas Anas tapi lupa namanya tapi bolehlah kalau Shinta untukku." ucap Riko sembari menggoda Anas.
Anas dan Riko tertawa lepas sementara Delon hanya menggeleng mendengar kedua Tuan Muda nya sambil menghubungi seluruh pasukan nya untuk mengawasi Fatih dan Vina Renata yang tengah masuk ke sebuah.....(jangan kepo ada episode setelah Aisha hamil hahahahahahahaha ππ).
Setelah Aisha berbelanja begitu banyaknya dan berjalan ke arah mobilnya tapi berhenti ketika menatap seorang wanita dewasa dan anak perempuan kecil berumur empat tahun yang tengah duduk menangis.
"Nona mau kemana?" teriak Shinta yang tengah memasukkan barang belanjaan di bantu Anas dan Riko.
"Susul dia Shinta." ucap Anas.
Shinta mengangguk dan berlari ke arah Aisha yang tengah menghampiri seorang wanita dan anak kecil itu.
"Assalamualaikum wr wb, ibu dan adik kenapa?" tanya Aisha.
Wanita paruh baya yang tengah memeluk anak perempuan berumur empat tahun itu menatap Aisha dan....
"Waalaikumsalam wr wb kakak cantik, kita bertemu lagi huhuhuhuhuhuhu." tangis anak perempuan itu pecah di pelukan Aisha.
__ADS_1
"Waalaikumsalam wr wb, nak jangan peluk kakaknya nanti baju kakaknya kotor." ucap ibu paruh baya itu.
Aisha mengelus rambut anak perempuan yang dulu pernah bertemu dengannya (baca episode 8).
"Ibu kenapa? Yuk ikut Aisha Bu." ucap Aisha sambil tetap menggendong anak perempuan itu.
Shinta yang menatap Aisha menggendong anak perempuan dan menggandeng seorang ibu paruh baya segera bersiaga penuh.
"Kak semuanya baik baik saja kok, tenang saja." ucap Aisha.
Aisha segera duduk sejajar dengan ibu paruh baya dan tetap memangku anak perempuan itu.
"Bu kenapa menangis?" tanya Aisha.
"Beras yang ibu beli tadi di tendang seseorang neng dan padahal beras itu untuk anak ibu ini huhuhuhuhuhu." ibu itu kembali menangis.
"Siapa yang membuat hal sekeji itu Bu?" tanya Aisha.
Riko dan Anas yang berpandangan langsung menatap Delon....
"Periksa CCTV Pusat pembelanjaan ini segera!!" teriak Riko dan Anas bersamaan.
Delon yang mendapat perintah dari kedua Tuan Mudanya hanya menghormat kaget dan segera ke bagian securiti. Sementara itu Anas memberikan dua botol air mineral ke Aisha untuk di berikan ke ibu paruh baya dan anak perempuan tersebut.
"Makasih Kak, Bu minum dulu ini airnya. Adik yang cantik udah dong nangisnya kalau nangis terus adik air matanya kering lho, uda jangan nangis ada kakak nih." ucap Aisha menenangkan diri.
"Maacih akak cantik, tadi yang tendang belas ibu itu wanita kak tapi kok ada suami kakak yang duyu sama akak cantik." suara cadelnya membuat Aisha terdiam.
Aisha mendengar ucapan adik perempuan tersebut hanya menunduk dan tak terasa air matanya menetes.
"Akak tadi yang sama suami akak cantik itu cahat cekali, aku tak suka ke akak pelempuan tadi, akak cantik kok nanis? Jangan nanis kak." ucap anak perempuan sambil menghapus air mata Aisha.
Delon yang berlari ke arah Riko dan Anas segera mengatur nafas sambil menyerahkan video CCTV dan....
"Iblis tuh orang!!! Jangan sampai dia hidup Delon!!!!" bentak Riko.
"Astaghfirullah Riko, sabar sabar sabar Riko jangan begitu alangkah baiknya kita kirim ke neraka saja karena....." ucapan Anas terhenti ketika tatapan tajam mata Aisha mengintimidasi Riko dan Anas secara bertubi-tubi.
Setelah ibu paruh baya itu menghabiskan air mineral pemberian dari Aisha....
"Neng makasih ya, neng wanita yang sangat baik, semoga neng bisa merebut suami neng dari wanita tadi yang bersama suami neng, saya pamit pulang neng, ayok nak kita pulang." ajak ibu paruh baya ke anaknya yang tengah duduk di pangkuan Aisha.
"Tapi Ma, acu beyum maem, adik lapel Ma." rengek anak kecil itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Ada permintaan untuk Vina Renata dari pembaca tersayang?? yuk komentar nya yuk,like nya jangan lupa dan jangan lupa hadiah nya juga boleh kok hehehehehehehehe.