
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
“Jika waktu bisa diputar kembali, aku ingin mengenalmu lebih dalam hingga melupakan apa itu luka dan hanya denganmu aku menjaga kesucian cinta kita.” Khibban NurCahyo.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Episode 98
Setelah pesawat berhenti sempurna. Aisha yang sedang menatap ke arah keluar jendela pesawat di buat kagum dengan kemegahan bandara King Abdul Aziz.
“Masya Allah begitu megah bandara ini,” ujar Aisha sembari menatap ke arah luar kaca pesawat.
Fatih yang tengah mengambil koper miliknya dan milik Aisha mendengar ucapan Aisha hingga dia menyuruh Delon dan Shinta untuk turun terlebih dahulu. Fatih kembali duduk di samping Aisha yang masih kagum dengan kebesaran bandara King Abdul Aziz.
“Bae mau lihat yang lebih bagus? Yuk turun, sudah di tunggu Abi, Umi, Mama dan Ayah.” ajak Fatih sembari menempelkan pipinya di sebelah pipi Aisha.
“Mau Mas, nanti kita langsung ke kota Madinah kan?” tanya Aisha sembari bangkit dari duduknya yang mulai berat karena perutnya yang sudah sedikit membesar.
“Katanya Ayah kemarin langsung ke Makkah sih sayang tapi kalau mau ke Madinah dulu nanti aku bilang ke Ayah.” Fatih mengenggam tangan Aisha dan berjalan di samping Aisha.
“Jangan deh Mas, gak apa apa di Makkah langsung, Aish juga gak sabar untuk bermunajat di depan Ka’bah. Ada yang ketinggalan Mas?” tanya Aisha menatap Fatih yang tengah mencari sesuatu.
“Pasport kita kok lupa aku naruhnya ya? Aduh lupa naruh aku Bae.” ucap Fatih sedikit panik.
Aisha ikut membantu mencari pasport dalam tas kecil Fatih, karena pasportnya setelah pemeriksaan saat pemberangkatan di titipkan ke suaminya. Ketika sedang serius mencari pasport, tiba-tiba Shinta dan Delon berdiri di depan mereka sembari menyerahkan dua buah pasport yang telah di verivikasi.
“Silahkan masuk langsung saja Tuan dan Nona, maaf kita tadi langsung membantu untu verivikasi data Tuan dan Nona.” jelas Delon sembari menyerahkan dua buah pasport ke arah Fatih.
“Terimakasih Delon, oh ya nanti bisa fotokan saat aku dan istriku mendapatkan momen momen terbaik?” pinta Fatih sembari meyerahkan kamera ke Delon dan Shinta.
“Dengan senang hati Tuan.” balas mereka serempak.
“Terimakasih Delon, Shinta. Sayang yuk jalan,” ujar Fatih membuyarkan lamunan Aisha yang tengah memandang langit.
“Alhamdulillah ya Allah, Aisha datang ke tanah sucimu dengan suamiku,” lirih Aisha di ikuti dengan air mata bahagianya yang mengalir perlahan.
“Sayang? Kenapa nangis? Aku minta maaf jika aku masih membuat hatimu terluka.” Fatih memeluk Aisha yang tengah menangis bahagia.
“Makasih ya Mas, Aisha sangat bahagia. Doa doa Aisha yang ingin ke Makkah dan Madinah dengan mahram Aish. Akhirnya terjawab dan terkabulkan Mas, Aish bahagia Mas.” Aisha menatap netra Fatih.
“Aku belum membahagiakanmu sama sekali sayang, aku masih berusaha menjadi lebih baik untuk menjadi suami, kepala keluarga dan ayah nantinya. Aku sangat mencintaimu Aish.”
“Aku juga mencintaimu Mas Fatih.” Aisha memeluk erat tubuh Fatih.
__ADS_1
Adegan romantis antara Aisha dengan Fatih mendapatkan senyuman dari kedua orangtua mereka, terutama Mama Zahra dan Umi Fatimah yang tersenyum menatap Fatih dan Aisha saling mencintai.
“Terimakasih ya Fatimah, Aisha sangat sabar menghadapi Fatih yang begitu keras kepala saat itu dan bahkan sampai sekarang.” ucap Mama Zahra sembari menatap Fatih menghapus air mata Aisha yang larut dengan kebahagiaan.
“Bukan hanya Aisha Zahra, tetapi doamu juga yang bisa membuat Fatih mencintai Aisha juga. Sebentar lagi kita berdua akan menimang cucu dan aku ingin nantinya Fatih yang memimpin Pondok Pesantre An-Nur, bersama dengan Anas dan Shinta.” balas Umi Fatimah sembari menatap Shinta yang tengah menghubungi Anas.
“Amin amin amin, Fatimah kita jalan dulu yuk dan di mana kedua suami kita?” tanya Mama Zahra mencari keberadaan suaminya dan Abi Hamzah.
“Biasa Zahra, mereka lagi menikmati rokok tuh di pojok bandara ini ada smoking area.” jelas Umi Fatimah.
“Yauda kita tunggu saja di ruang tunggu, yuk Fatimah.” ajak Mama Zahra sembari menggandeng besannya dan sekaligus sahabatnya tersebut.
Kembali ke Aisha yang kini tengah berjalan di sekitar bandara King Abdul Aziz dengan di dampingi Fatih. Fatih selalu mengambil foto istrinya tersebut secara diam diam.
“Masya Allah cantik benar ya Allah.” ucap Fatih yang mengabadikan Aisha berbincang dengan penjaga keamanan perempuan.
Setelah bus yang akan membawa rombongan keluarga besar Al-Fatih datang, kini Aisha yang tengah menatap keluar jendela yang di penuhi hamparan gurun pasir menoleh ke arah Fatih yang tengah menyiapkan beberapa camilan untuk dirinya.
“Nanti Aish langsung ke Masjidil Haram ya Mas.”
“Istirahat dulu ya Bae, ingat sayang. Di sini ada yang harus di jaga kondisinya juga.” Fatih sembari mengelus lembut perut Aisha yang agak membuncit.
“Iya Mas, oh ya nanti Aish mau tanya satu hal dan Aish ingin semua kita selesaikan di Tanah Suci ini.” Balas Aisha sembari menggenggam erat tangan Fatih.
Fatih yang mendengar pemintaan Aisha hanya bisa membalas dengan mengerenyitkan dahinya tetapi berbeda dengan Aisha. Hatinya kini entah kacau saat sudah berada di Tanah Suci Makkah.
“Mas, kita jalan jalan yuk di sekitar sini. Tapi Aisha mengajak Ayah dan Mama beserta Kak Shinta, boleh?” pinta Aisha.
“Apapun permintaanmu aku penuhi Aish tetapi jangan pernah memintaku untuk menjauh darimu karena aku masih belum bisa membahagiakanmu.” Jawab Fatih mengecup bibir Aisha.
Aisha tersenyum mendapatkan perlakuan sangat romantis dari suaminya tersebut, “Mas Fatih selalu suka mengecup bibirku ya, apa bibirku semanis madu?”
“Lebih dari manisnya madu dan jika aku bisa melukiskan betapa bahagianya hatiku saat ini, aku tak tahu harus bagaimana melukiskan dan menuliskannya, Aisha Khumairah.” Fatih menempelkan dahinya ke dahi Aisha.
“Kita mandi bareng yuk Mas dan terus kita jalan jalan sembari Aisha mau menanyakan sesuatu ke Ayah, Mama, Kak Shinta dan tentunya Mas Fatih.”
Setelah beres mandi, Aisha melakukan shalat sunnah Duha empat rakaat dan dua rakaat shalat Hajjat, sementara Fatih pergi menemui Ayah Ahmad Fatikhurahman dan Mama Zahra Khumaira beserta Shinta Zhevanya Yance, untuk mengabulkan permintaan Aisha.
“Kenapa harus ada Shinta juga, Fatih?” tanya ayah Ahmad sembari menatap Fatih serius.
“Permintaan dari istriku ayah, dan apapun yang nanti di tanyakan Aisha. Tolong jawab dengan sejujurnya dan tanpa ada yang di tutupi sedikitpun, Fatih mohon.” Ucap Fatih memohon di depan ayah dan mamanya.
“Sudah saatnya Aisha tahu dari kita Mas dan bukan dari Kak Hamzah dan Fatimah.” Balas mama Zahra sembari menatap serius ke ayah Ahmad Fatikhurahman.
__ADS_1
“Tapi dia saat ini mengandung cucu kita sayang dan nantinya aku takut akan cucu kita. Bagaimanapun, Anas dan Riko akan mengatasi kejahatan dari Andre Villa Boaz dan Vina Renata.” Balas ayah Ahmad sembari membakar rokoknya dan menghisap secara perlahan.
“Sudah yah, ma. Nanti kita dengarkan pertanyaan dari Aisha saja, aku jemput Aisha dahulu dan Delon, aku minta tolong. Untuk mengatur kemanan tanpa di ketahui Aisha maupun kedua mertuaku dan jaga keselamatan istriku di sini dan serta untuk Shinta, setelah umrah nanti segera bergabunglah dengan Kak Anas dan Riko untuk segera membereskan Andre beserta Vina Renata,” ujar Fatih menatap Delon dan Shinta bergantian.
“Baik Tuan.” Delon dan Shinta menjawab serentak.
Fatih segera menjemput Aisha yang tengah memakai niqabnya, Fatih yang tengah menatap Aisha dari pantulan cermin kembali di buat kagum dengan kecantikan Aisha.
“Sudah siap semuanya Mas?” tanya Aisha.
“Sudah, yuk kita jalan tapi setelah itu istirahat tanpa memikirkan apapun karena kita di sini untuk bermunajat sayang, untuk kamu dan aku serta untuk anak anak kita kelak.” Balas Fatih sembari mengecup kening Aisha.
“Anak anak kita? Mas Fatih mau punya anak berapa?” tanya Aisha kembali.
“Dua belas, boleh?”
“Hah? Dua belas? Yauda iya deh tapi Aisha ingin anak kita yang pertama nantinya ada sebuah nama Langit.”
“Langit? Kenapa harus Langit?” tanya Fatih penasaran sembari membantu memasangkan niqab milik Aisha.
“Karena langit yang selalu kita lihat berdua saat malam maupun pagi dan langit pun membuat Aisha mengetahui jika langit akan bertemu dengan senja saat kita menua kelak.” Balas Aisha memeluk erat Fatih.
“Aish, jika waktu bisa di ulang dan jika waktu bisa kembali berputar. Aku ingin mengarungi bahtera cintaku denganmu tanpa harus berjalan rumit seperti saat ini, aku tahu jika kamu mengkhawtirkan Kak Anas. Dan jika waktu bisa di putar kembali, aku ingin memilikimu sepenuh hati, sayangku Aisha Khumairah.” Fatih menangis di pelukan Aisha.
Aisha tersenyum di balik niqabnya. Mendengar ucapan Fatih membuatnya semakin yakin jika saat ini Fatih, suaminya tersebut mencintai dengan sangat tulus.
“Mas, tak ada kata terlambat. Aku akan setia denganmu dan tolong jangan menduakan aku, meskipun nanti aku bertambah gendut atau jelek.” Pinta Aisha.
.
.
.
.
.
.
Assalamualaikum wr wb, terimakasih yang sudah membaca dan mencerna jalan cerita ini yang receh atau bahkan rumit ya?
Jangan lupa vote dan like serta komentar nya ya🙏🙏, untuk menambah semangat author juga😊😊.
__ADS_1
Terimakasih semuanya.
Wassalamu'alaikum wr wb.