Jalan Cinta Aisha Khumairah

Jalan Cinta Aisha Khumairah
Episode 36


__ADS_3

πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


β€œ Aku ingin cinta yang akan berkata: " Bahkan kematian pun tidak akan memisahkan kita karena kelak kita akan dipertemukan kembali di surga, Insya Allah.”


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Episode 36


Sepertiga malam menyapa Aisha, seperti biasa Aisha segera mengambil air wudhu untuk bergegas menunaikan ibadahnya yang telah di pupuk olehnya sejak dini. Aisha menatap suaminya perlahan, dia mengagumi Fatih yang tengah tertidur pulas di sampingnya hingga dia tersenyum dan menggeleng pelan sambil tersenyum.


"Alhamdulillah ya Allah, alangkah baiknya aku bersiap untuk menyambut hari ini dengan lembaran baru dan tentunya dengan kamu Mas Fatih yang telah menjadi suamiku." lirih Aisha menatap Fatih yang tengah terpejam di sampingnya.


Aisha berjalan ke arah mushalla kecil di lantai satu, dengan segera dia menunaikan shalat Sunnah Tahajudnya. Fatih yang terbangun karena mendengar langkah kaki Aisha yang keluar kamar dan menatap ke sampingnya air matanya meleleh mengingat video skandal Vina Renata dengan lelaki lain yang sebelum tidur tadi hanya bisa berguna pelan....


"Jika memang kamu dalam video tersebut berarti benar di katakan Ayah dan Mama selama ini ya Allah, apakah aku berdosa ke istriku tanpa memberikan sentuhan diriku." ucap Fatih lemah.


Video skandal Vina Renata yang telah menyebar dan di lihat hampir tiga juta penonton yang membuat hati Fatih sakit karena dia telah menyerahkan perjakanya hanya untuk Vina Renata tepat sehari sebelum dia menikah dengan Aisha, gadis yang di jodohkan oleh keluarganya.


Fatih merasakan kerongkongannya kering segera bergegas turun ke dapur untuk mengambil air minum, dia terhenti ketika mendengar suara lirihan yang menyayat di hati dan telinganya.


"Ya Allah, ya Rabb, terimakasih atas nikmatmu sampai detik ini, ya Rabb Aisha boleh meminta ketuk lah hati suami Aisha untuk menjadi kepala keluarga dunia dan akhirat, Aisha tak berharap lebih ke Mas Fatih suami hamba untuk mencintai Aisha tetapi lebih tepatnya mencintaimu ya Allah ya Rabb ku,Rabbana, atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina adzaban nar, Rabbighfirli Waliwalidayya Warhamhuma Kamaa Rabbayani Saghira, aaaaammmmmmmiiiiinnnnnn aaaaammmmmmmiiiiinnnnnn,aaaaammmmmmmiiiiinnnnnn, ya rabbal alamin." Aisha mengusap kedua tangannya ke mukanya.


Fatih yang mendengar lirih suara Aisha terasa tercubit hatinya, wanita yang di jodohkan ternyata selama ini buruk di mata dan hatinya akan tetapi saat ini di depannya benar benar melakukan ibadah seperti di rumahnya dulu sebelum menikah . Aisha yang mendapati Fatih menatapnya segera menyapa Fatih dengan mencium tangan Fatih....


"Mas, maaf terbangun pasti karena Aisha, mau minum Mas?" ucap Aisha seraya mengambil kan segelas air dingin untuk Fatih.


Fatih yang masih menatap Aisha mengangguk seolah-olah tersihir dengan ucapan Aisha, Aisha menyodorkan segelas air dingin untuk Fatih.


"Baca bismillah dulu Mas, alangkah baiknya Mas Fatih shalat Sunnah Tahajud dulu mumpung terjaga saat ini." ucap Aisha menatap Fatih meneguk air pemberian nya.


Fatih menatap lekat Aisha dengan keheranan karena dari kemarin setelah pernikahannya hingga saat ini Aisha masih menggunakan jilbabnya hingga membuat Fatih penasaran dengan Aisha.


"Halo Mas Fatih, ada yang salah dengan Aisha?" tanya Aisha melambaikan tangan di depan muka Fatih.


"Ehm boleh aku bertanya? Dari kemarin setelah Ijab kabul hingga detik ini kenapa masih menggunakan jilbab? Bukankah aku mahrammu ya Aisha?" ucap Fatih menunduk seraya mengatur detak jantungnya saat melontarkan pertanyaan.


Aisha yang faham maksud dari ucapan suaminya hanya menggeleng pelan seraya tersenyum menampilkan lesung pipinya.


"Yakin Mas Fatih ingin melihat Aisha tanpa jilbab? Yakin jika hati Mas Fatih tidak jatuh ke Aisha?" tanya Aisha sambil mendekatkan wajahnya hampir tiga centimeter ke wajah suaminya.


Fatih yang mendengar suara Aisha yang dekat dengannya hanya bisa mematung tanpa bergerak. kedua pasangan suami-istri itu saling menatap mencari jawaban di balik kedua mata dari Aisha ke Fatih begitu sebaliknya.


"Astaghfirullah, jangan dekati Nona Aisha, minggir!!" ucap Shinta yang menjauhkan Fatih dari hadapan Aisha.


Fatih menghela nafas panjang, tatapan Aisha begitu teduh dan Fatih mengakui kedua mata Aisha mengisyaratkan bagaikan payung buat dirinya, meskipun sesaat seperti sebelum kedatangan Shinta.


"Sudah halal Kak Shinta jadi biarkan Aisha dekat dengan Mas Fatih." ucap Aisha ke arah Shinta yang berdiri di depannya untuk melindungi Aisha dari Fatih.


Shinta yang mengerti ucapan Aisha segera mengucapkan sebuah kalimat....


"Kalau sudah halal kenapa ada nama Vina Renata di hatinya? Bukankah harus menjaga kesucian pernikahannya denganmu Nona? Apakah kamu tidak takut laknat dari Allah SWT dan Rasulullah SAW Tuan Muda Fatih?" tegas Shinta sambil menunjuk ke arah wajah Fatih.


"Suatu saat Mas Fatih akan berubah Kak dan membimbing Aisha nantinya." ucap Aisha menggenggam tangan Fatih dan berdiri di samping Fatih.


Fatih menunduk mendengar ucapan Shinta di ikuti ucapan Aisha yang yakin dengannya untuk menjadi suaminya.


"Baiklah Nona Muda Aisha akan tetapi saya tidak akan merelakan air mata Nona Muda Aisha jatuh untuk laki laki yang tak paham akan arti pernikahan." suara Shinta menusuk hati Fatih.


Aisha mengangguk dan menggandeng Fatih untuk mengajak nya bersiap untuk shalat Shubuh, sementara Shinta segera bersiap membangun kan Hafisah dan Ibu Zulaikha untuk ibadah shalat Shubuh berjamaah. Di dalam kamar Aisha menyiapkan baju untuk Fatih yang sementara merenungkan ucapan Aisha dan Shinta.


"Sial!!! Kenapa dia begitu baik padahal aku sudah menyakitinya sejak tadi malam!!" Fatih merutuki ucapan nya.


Fatih yang telah selesai merenung di dalam kamar mandi segera menatap Aisha yang tengah menyiapkan baju untuk shalat Shubuh berjamaah.


"Yuk Mas Fatih, sudah masuk waktu shubuh, kita berjamaah di bawah." ucap Aisha sambil menunggu Fatih berganti pakaian yang telah di siapkan untuknya.


"Hemm, kenapa masih di sini? Bukankah aku mau berganti baju Aisha? Apakah kamu...." ucapan Fatih terhenti karena Aisha membantu mengancingkan baju yang tengah di pakainya.

__ADS_1


"Sekali lagi Aisha ingin Mas Fatih faham jika kita sudah sah secara Agama dan Negara Mas, jadi Aisha melihat tubuhmu adalah pahala akan tetapi Mas Fatih ingin melihat tubuh Aisha harus ada satu hal yang di lakukan Mas Fatih, yaitu hanya ada empat nama di hati Mas Fatih, yang pertama Allah SWT, kedua Rasulullah Muhammad SAW, yang ketiga Mama Zahra Khumaira dan terkahir hanya Aisha tidak ada yang lainya, bisa Mas Fatih?" tanya Aisha menatap lekat manik mata Fatih di ikuti senyumannya.


Fatih membalas tatapan Aisha, hatinya bergemuruh menatap keindahan wajah Aisha, jantungnya seakan baru pertama kali menatap gadis untuk pertama kalinya. Aisha mengapit lengan Fatih mengajak untuk shalat Shubuh berjamaah, Fatih menurut bagaikan kerbau di cocok hidungnya.


Aisha dan Fatih kembali turun untuk bersiap berjamaah dengan suaminya, sementara Shinta dan Ibu Zulaikha sudah bersiap di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi ini, Hafisah kembali tidur setelah shalat Shubuh karena merasa masih mengantuk.


"Bu, untuk sarapannya Mas Fatih biar Aisha yang masak, nanti kita makan bersama ya, jangan menolak, boleh ya Mas Fatih?" ucap Aisha meminta persetujuan Fatih yang mengatur gemuruh hatinya saat ini.


"Hemmm baiklah tapi...." ucapan Fatih terputus karena kepala Aisha menyender di tangannya.


"Setelah ini kita masak bersama, Aisha ingin masak sama Mas Fatih." ucap Aisha tetap mengapit kan tangannya ke lengan Fatih.


"Baiklah, kita jadi shalat Shubuh?" tanya Fatih yang kemudian di angguki Aisha.


Fatih segera mengambil posisi sebagai Imam shalat Shubuh untuk Aisha atas permintaan Aisha saat ini, setelah selesai shalat. Fatih kembali terkesiap ketika Aisha mencium tangan Fatih.


"Berdoalah dan panjatkan doa untukmu dulu yang pertama Mas Fatih baru yang kedua dan seterusnya terserah hati Mas Fatih." ucap Aisha mengecup kening Fatih.


Aisha tersipu malu setelah mencium kening Fatih untuk pertama kalinya karena dia tidak pernah menyentuh laki laki dan di sentuh kecuali kedua orangtuanya dan kakak semata wayangnya yaitu Anas. Aisha segera beranjak ke dapur membuat segelas susu hangat untuk Fatih, Fatih yang masih duduk merenungi perlakuan Aisha tersenyum tipis dan menggeleng lemah.


"Ya Allah jika memang dia di lahirkan untuk mendampingi Fatih terakhir kalinya untuk Fatih berikan hamba jawaban secara langsung maupun tak langsung." batin Fatih.


Fatih segera beranjak ke arah dapur untuk mengikuti Aisha yang tengah menyiapkan sarapan pagi untuknya, dia menatap sebuah gelas yang berisikan susu hangat kesukaannya setiap pagi yang sedari kecil di siapkan oleh Mamanya.


"Aisha, ini tanpa gula kan?" tanya Fatih memegang gelas berisikan susu hangat di tangannya.


"Ya Mas, itu madu dan jinten hitam untuk menambah imun tubuh Mas Fatih." ucap Aisha sambil menyiapkan beberapa bahan mentah untuk sarapan.


"Oh begitu, darimana kamu tahu aku suka susu hangat di pagi hari? Bahkan kekasihku Vina Renata saja tak tahu." ucap Fatih sambil meneguk segelas susu di tangannya.


Aisha mendengar Fatih mengucapkan nama Vina Renata hanya tersenyum ke arah Fatih.


"Karena itu untuk kebaikan suamiku dan jika Vina Renata tak mengetahuinya ya berarti dia belum mengerti Mas Fatih sesungguhnya dan maaf Aisha juga sering minum segelas susu setiap pagi sebelum melakukan aktivitas bukan karena Aisha melihat Mama Zahra Khumaira menyiapkan saat Aisha di rumah Mas Fatih dulu." ucap Aisha menatap lekat mata Fatih.


"Maaf, aku masih menyebut namanya meskipun kita sudah menikah tapi benarkan jika hati itu tidak bisa di paksakan?" tanya Fatih kembali.


Fatih terkesiap mendengar ucapan Aisha yang tak berharap cinta darinya dengan segera Fatih membantu Aisha sesuai permintaan Aisha serta sambil terus menatap wajah Aisha yang tersenyum ketika mengolah makanan untuk sarapan pagi saat ini. Setelah semuanya tersedia Aisha bergegas untuk mandi dan bersiap untuk sarapan bersama Shinta, Ibu Zulaikha dan Hafisah.


Fatih mengikuti Aisha ke arah lantai dua untuk bergegas mandi juga akan tetapi langkahnya terhenti ketika menatap Aisha yang kembali menyiapkan setelah baju kerja untuknya. Aisha yang merasa Fatih memandanginya dan mengangguk ke arah Fatih dengan wajah penuh kasih sayang ke Fatih.


"Kenapa Mas? Ada yang salah?" tanya Aisha.


"Mandi saja dulu, aku terakhir." ucap Fatih dingin.


"Baiklah, terimakasih atas pengertianya Mas Fatih tadi ya, nih ku beri hadiah, cup cup." Aisha mengecup kedua pipi Fatih dengan lembut.


Fatih terbengong mendapatkan perlakuan Aisha yang kembali mencium kedua pipinya, dia kembali menunduk ketika langkah Aisha mengarah ke kamar mandi.


"Seumur hidupku dengan mencintai Vina Renata aku jarang mendapatkan perlakuan kecil seperti pagi ini." batin Fatih mengingat kejadian pagi ini dengan Aisha.


Setelah semua selesai mandi baik Aisha dan Fatih, Aisha berdiri di depan Fatih untuk membantu membenarkan dasi yang di kenakan Fatih.


"Pakai cadar mau kemana?" tanya Fatih ke Aisha.


"Keluar sama Kak Shinta nanti ke kantor, Mas Fatih lupa? Kita satu kantor lho." ucap Aisha yang memasangkan jas berwarna hitam polos untuk Fatih.


Fatih mengangguk sambil bergumam lirih "Aku sendiri sampai lupa jika aku bawahannya di kantor, kenapa dengan diriku saat ini."


"Sudah yuk Mas, kita sarapan pagi terus nanti Mas Fatih mau bareng atau gimana?" tanya Aisha.


"Kita berangkat sendiri saja." ucap Fatih melenggang pergi keluar kamarnya.


"Mas, tunggu ada yang lupa." panggil Aisha.


Fatih membalikkan badannya.. "Apa?" pendek Fatih.


"Nih untuk semangat pagi ini, cup cup cup." Aisha mengecup kedua pipi Fatih dan kening Fatih agak lama.

__ADS_1


Fatih hanya menurut perlakuan Aisha yang mengecup keningnya lama.


"Yuk sudah, kita pergi sarapan, yang lain sudah menunggu." ajak Aisha sambil menggenggam tangan Fatih untuk mengajak sarapan pagi.


Di ruang makan Ibu Zulaikha yang sibuk menyiapkan sarapan pagi di bantu Shinta menatap ke arah Fatih yang berjalan bersama Aisha.


"Assalamualaikum wr wb, pagi Bu, pagi Kak, Hafisah kemana? Hari ini sudah mulai sekolah ya Hafisah Bu, nanti yang mengantarkan Aisha dengan Kak Shinta, mau kan Kak?" tanya Aisha ke Shinta.


"Dengan senang hati Nona Aisha, mari kita sarapan pagi agar kuat menghadapi kunyuk nanti." sarkas Shinta menatap tajam Fatih.


Aisha menggeleng mendengar ucapan Shinta, segera di raihnya piring dan menuangkan nasi uduk beserta lauk nya untuk Fatih.


"Yuk kita makan, jangan malu malu Ibu, nanti Aisha bantu cari asisten untuk membantu Ibu Zulaikha ya dan sopir untuk mengantarkan Ibu Zulaikha ke pasar." ucap Aisha di balik niqabnya.


"Terimakasih Nona Aisha, hanya doa Ibu untuk pernikahan Nona Aisha dengan Tuan Fatih langgeng dunia dan akhirat." tulus Ibu Zulaikha.


"Aaaamiiiinnnnn aaaammmiiinnn aaaaammmiiinnn, yuk makan nanti lekas dingin." ajak Aisha.


Di tengah sarapan pagi terdengar suara teriakan dari teras rumah Aisha dan Fatih.....


"Saaaayyyyaaannnggg!!! Buka!!!! Jangan sampai kamu menyentuh wanita bercadar itu!!!." teriak suara wanita dari teras rumah Aisha dan Fatih.


Shinta yang paham dengan suara tersebut menghentikan sarapannya dengan segera mencabut pistolnya seraya berjalan ke arah teras rumah.....


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Duh pagi pagi teriak teriak tuh, siapa kira kira??


Gaes komentar dan like nya dong please, Author hanya bisa berharap itu deh, author minta koreksi juga dong untuk tulisan author ya.


Terimakasih

__ADS_1


wassalamu'alaikum wr wb.


__ADS_2