Jalan Cinta Aisha Khumairah

Jalan Cinta Aisha Khumairah
Episode 26


__ADS_3

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


โ€œJika Pasanganmu sedang marah, maka kamu harus tenang. Karena ketika salah satunya adalah Api, maka satu yang lainnya harus bisa menjadi Air yang bisa meredam amarah itu." Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Episode 26


"Aduh nih anak ya, sini Aisha." Anas mencubit pipi Aisha dengan gemasnya.


"Duh sakit Kak!! Lepas!!! Abi Hamzah dan Umi Fatimah memberikan amanat itu ya di terima, untuk saat ini Kak Anas mendampingi Kak Shinta mengucapkan dua kalimat syahadat tentunya nantinya akan mengucapkan Ijab Qabul untuk Kak Shinta juga." ucap Aisha mengelus pipinya yang telah di cubit Anas.


Anas menatap Shinta agak lama hingga.......


"Baiklah, Anas persiapkan semuanya dulu ya Abi, dik kumpulkan semua santriwati dan jangan lupa pembatasnya antara santriwati dan santriwan di pasang." ucap Anas ke Aisha.


Aisha pun mengangguk, bergegaslah Aisha menuju pondok santriwati untuk mengumpulkan ke Masjid Pondok Pesantren An-Nur, sementara Anas yang sudah menghubungi keamanan pondok untuk mengumpulkan santriwan bergegas balik ke ndalem (sebutan untuk kediaman pengasuh pondok pesantren).


"Sudah Abi dan Umi, mari Shinta untuk ikut kita untuk menjadi saksi mu mengucapkan dua kalimat syahadat." ajak Anas ke Shinta.


Setelah prosesi Shinta mengucapkan dua kalimat syahadat, Aisha kembali ke kamar di ikuti Shinta yang membantu menyiapkan beberapa dokumen untuk di tandatangani nya.


"Nona Aisha permisi, ini berkas dari Tuan Besar Ahmad Fatihurahman untuk segera di tandatangani." Shinta menyodorkan berkas di depan Aisha.


Aisha mengangguk dan mempelajari berkas dari calon mertuanya itu, matanya terbelalak menatap satuan angka yang begitu besar nominalnya.....


"Kak, sini sebentar deh, ini benar penghasilan perusahaan keluarga besar Al-Fatih segini??" ucap Aisha sambil menunjuk nominal angka berdigit 1.3 Milyar rupiah.


"Benar Nona Aisha, itu masih dua perusahaan inti belum perusahaan kecil lainnya." balas Shinta sambil memberikan dokumen yang menunjukkan beberapa anak perusahaan keluarga besar Al-Fatih.


"Masya Allah, kira kira Aisha membuka Panti Asuhan di perbolehkankah sama Ayah Ahmad Fatihurahman dan Mama Zahra Khumaira kah Kak?" tanya Aisha sambil membaca sedetail dokumen di depannya.


"Sangat boleh Nona Aisha bahkan semua perusahaan keluarga besar Al-Fatih sudah menjadi milik Nona Aisha semuanya." jelas Shinta.


"Hust ini hanya titipan Kak tak ada yang abadi di dunia ini." balas Aisha sambil tersenyum ke arah Shinta.


Shinta mengangguk mendengar ucapan Aisha hingga dia membatin "Seandainya dari dulu saya menemukan adik sepertimu Nona Aisha pasti diriku ini tak terjun di dunia hitam. Tapi sayang aku mengingat masalaluku aja sulit."


Aisha yang sudah meneliti satu persatu dokumen dan menandatangani semuanya bergegas untuk mengajak Shinta berjamaah shalat isya dengannya setelah itu bergegas tidur meskipun jarum jam masih menunjukkan pukul tujuh malam.

__ADS_1


Tengah malam Aisha mengambil wudhu untuk menunaikan ibadah shalat tahajud secara hati hati karena tak ingin membangun kan Shinta....


Setelah shalat tahajud Aisha bermunajat....


"Ya Allah ya Rabb ku, hati hamba mu ini masih kotor perkuat lah kembali, Ya Allah ya Rabb ku jika jodoh ku memang dengan Mas Fatih maka izinkanlah Aisha untuk mengabdikan diri sebagai istrinya dunia dan akhirat kelak, Ya Allah ya Rabb muliakan lah ke-dua orangtuaku sebagaimana mereka mengasihi ku sejak kecil, rabbana atina fid-dun-ya แธฅasanataw wa fil-akhirati แธฅasanataw wa qina โ€˜azaban-nar, Rabbighfirlii wali waalidayya warham humma kamaa rabbayaanii shaghiiraa, aaammiiinn." Aisha menyeka air matanya.


Shinta yang mendengar doa Aisha di balik selimut hanya bisa kembali membatin "Nona Aisha, kamu terlalu baik untuk Tuan Fatih.".


Shubuh menyapa Aisha, segera dia membangun kan Shinta yang tengah tertidur pulas.


"Kak, bangun Kak, dah shubuh nih, yuk shalat dua rakaat sebentar." Aisha menggoyangkan tubuh Shinta yang terbalut selimut.


Shinta yang merasakan Aisha membangunkan dirinya pun sambil mata terpejam berjalan ke arah kamar mandi untuk berwudlu, Aisha menatap Shinta hanya menggeleng.


"Istiqamah ya Kak Shinta, Insya Allah Kakak Shinta nanti juga terbiasa." batin Aisha.


Shinta yang sudah mengambil wudhu itu pun segera menjadi makmum shalat dengan imam Umi Fatimah. Setelah selesai shalat Shubuh Aisha bergegas membantu Umi dan santriwati untuk menyiapkan sarapan pagi.


"Umi, nanti ikut ya ke rumah Mama Zahra Khumaira ya please." Aisha memohon.


"Tumben kesana nak? Ada sesuatu yang penting?" tanya Umi Fatimah.


Jam menunjukkan pukul delapan pagi, keluarga besar Abi Hamzah meluncur kediaman keluarga besar Al-Fatih, mereka di sambut riang oleh Ayah Ahmad Fatihurahman dan Mama Zahra Khumaira.


"Assalamualaikum wr wb Ayah Mama, sehat semua?" tanya Aisha memeluk Mama Zahra Khumaira.


"Waalaikumsalam wr wb calon menantu Mama, Alhamdulillah sehat semua, tumben kesini? kangen Fatih atau kangen Mama?" goda Mama Zahra Khumaira ke Aisha sambil melirik ke Fatih yang tengah menikmati kopinya.


Fatih yang hanya diam itu pun segera menyambut calon mertuanya meskipun dengan hati yang berat karena pernikahan nya dengan Aisha tinggal satu setengah hari.


"Kangen Mama kalau kangen Mas Fatih gak dulu deh Ma, Aisha mau minta izin nih ke Mama dan Ayah serta Abi dan Umi juga perlu tahu, boleh?" pinta Aisha.


Ayah Ahmad Fatihurahman, Mama Zahra Khumaira, Abi Hamzah dan Umi Fatimah hanya berpandangan seolah tak mengerti keinginan Aisha.


"Yauda yuk duduk, bibi tolong buatkan teh hangat ya." Ayah Ahmad Fatihurahman meminta ke bibi asisten rumah tangganya.


Setelah semua berkumpul tak terkecuali......


"Eh Ning Fatimah itu siapa yang di samping Ning Fatimah?" tunjuk Mama Zahra Khumaira ke arah Shinta yang memakai gamis dan jilbabnya.

__ADS_1


Semua orang menoleh ke arah Shinta, Delon yang awalnya tidak mengenali Shinta hanya memandang sekilas tetapi berbeda dengan Riko yang menelisik dari atas hingga bawah Shinta yang terbalut gamis dan berjilbab.


"I โ€ฆ itukan Shinta Ma. Kamu berjilbab Shinta?" ucap Riko penuh kekaguman.


"Alhamdulillah iya Tuan Muda Riko." pendek Shinta.


Mendengar ucapan Shinta secara spontanitas Mama Zahra Khumaira memeluk erat tubuh Shinta....


"Shinta? Alhamdulillah nak kamu mengikuti untuk menjadi lebih baik, pasti ini ajakan Aisha ya Ning Fatimah?" tanya Mama Zahra Khumaira ke Umi Fatimah.


Umi Fatimah mengangguk sambil tersenyum ke arah Mama Zahra Khumaira, Fatih yang menatap Shinta dengan keheranan hanya berdecih dalam hati "Sok sokan buat merubah orang tuh wanita.".


Delon menatap Shinta tak percaya hingga.....


"Jangan ada yang merebut Kak Shinta!! Kak Shinta sudah menjadi milik Kak Anas." tegas Aisha.


Anas yang mendengar ucapan adiknya tersebut hanya meringis ke Abi, Umi, Ayah Ahmad Fatihurahman dan Mama Zahra Khumaira.


"Jangan fitnah dik, ini kita di sini kamu ingin apa?" ucap Anas mengalihkan pembicaraan sementara lirikan nya ke arah Shinta.


Aisha mangut mangut mendengar ucapan Kakaknya tersebut, dia menghirup udara banyak banyak dan melepaskan perlahan, hingga......


"Assalamualaikum wr wb, Ayah Ahmad Fatihurahman, Mama Zahra Khumaira, Abi Hamzah, Umi Fatimah, Kak Anas, Kak Riko dan calon suami Aisha Mas Fatih, begini...." Aisha mengambil berkas dari tangan Shinta yang sedari tadi sudah siap memberikan ke Aisha.


Semuanya mangut mangut seolah olah mengerti.....


"Aisha tadi malam setelah mengecek penghasilan dari perusahaan keluarga besar Al-Fatih berkeinginan untuk membangun sebuah panti asuhan yang nantinya cukup dua pulu persen saja per-bulan untuk keperluan nya, apakah Mama, Ayah, Abi, Umi, Kak Anas, Kak Riko dan Mas Fatih setuju?" tanya Aisha hati hati.


.


.


.


Apakah kedua keluarga besar setuju dengan keinginan Aisha untuk membangun sebuah panti asuhan?


Bagaimana sikap Fatih menanggapi keinginan Aisha?


Ikuti terus dan tetap jaga kesehatan ya gaes ya ....

__ADS_1


Jangan lupa like, komentar nya jika ada tulisan yang salah, terimakasih.....


__ADS_2