
ππππππ
"Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan, atau mempersilakan. Yang pertama adalah keberanian, yang kedua adalah pengorbanan." (Salim A. Fillah).
ππππππ
Episode 33
"Dik, di panggil Abi sama mertua laki lakimu di masjid." seru Anas yang berlari ke arah Aisha.
Aisha yang mengerti segera menyusul Kakak nya ke arah masjid Pondok Pesantren An-Nur dan sesampainya di sana terlihat Fatih tengah di sidang oleh Abi Hamzah dan Ayah Ahmad Fatihurahman, terlihat Fatih meminta pertolongan ke Aisha.
Aisha menatap Fatih yang tengah terduduk di depan Abi Hamzah dan Ayah Ahmad Fatihurahman, kedua orangtua menatap kedatangan Aisha mengangguk dan menyuruh Aisha duduk di pinggir Fatih.
"Assalamualaikum wr wb, ada apa Abi Hamzah?" Aisha mengucapkan salam dan segera duduk di sebelah Fatih dengan jarak agak jauh.
"Waalaikumsalam wr wb, Abi mau tanya, benar tadi Vina Renata kekasihnya Fatih menyakiti seorang ibu dan anak kecil?" tanya Abi Hamzah.
Aisha mengangguk dan menceritakan semuanya tanpa di kurangi maupun di tambah sedikitpun, Ayah Ahmad Fatihurahman meradang mendengar cerita Aisha sementara Abi Hamzah hanya menggeleng dan beristighfar berkali-kali.
"Apakah kamu tidak mencegah Vina Renata, Fatih?" tanya Abi Hamzah tenang.
Fatih hanya menunduk lemah, di pikirannya saat ini kacau dan hatinya berkecamuk hebat karena.....
"Apakah benar yang di katakan Aisha? Dan benar yang di katakan anak buahnya Delon jika kamu dengan Vina Renata keluar dari hotel?" tanya Abi Hamzah kembali.
Aisha mendengar pertanyaan Abi Hamzah hanya bisa menoleh ke arah Fatih dan mencari jawaban dari Fatih.
"Semuanya benar Abi dan Ayah. Fatih sudah....." ucapan Fatih terputus karena Aisha memotong ucapannya.
"Mas Fatih tadi ada acara dengan klien kantornya Abi Hamzah karena tadi Aisha sibuk dengan serah terima Panti Asuhan Al-Azhar, bukan begitu Mas Fatih?" ucap Aisha berbohong untuk menyelamatkan Fatih dan dia sudah tahu apa yang di lakukan Fatih dan Vina Renata di hotel tadi.
Abi Hamzah mengangguk pertanda paham ucapan Aisha yang merupakan pimpinan di perusahaan keluarga besar Al-Fatih sahabatnya itu. Berbeda dengan Ayah Ahmad Fatihurahman yang mengetahui Aisha berbohong demi menyelamatkan Fatih dari Abi Hamzah hanya menunduk dan meneteskan air matanya.
Sementara Fatih hanya menunduk mendengar Aisha yang telah menyelamatkan nama keluarganya dan nama dia tentunya.
Aisha yang menatap raut wajah Ayah Ahmad Fatihurahman kembali menunduk. "Maaf Aisha berbohong agar tidak menjadi runyam nantinya." batin Aisha.
Setelah itu Aisha pamit undur diri ke Abi Hamzah dan Ayah Ahmad Fatihurahman untuk balik ke rumah, Aisha menghubungi Delon untuk segera bertemu dengannya bersama Shinta di belakang Pondok Pesantren An-Nur.
Aisha yang tengah menunggu Shinta dan Delon mendapati Riko yang tengah menghisap rokoknya sambil membawa cangkir kopi, sementara Riko merasa ada yang menatapnya segera berbalik arah dan menemukan Aisha yang tengah menatapnya.
"Eh calon kakak ipar, ada apa kesini? ." tanya Riko.
"Waalaikumsalam wr wb, ada urusan sama Kak Shinta dan Delon, ngapain di sini? Mikir siapa senyum senyum sendiri tadi? Awas kesambet setan entar." jawab Aisha.
"Hahahahahahahaha, lagi mikir ucapan Kak Anas tadi barusan tentang Mas Fatih yang bilang kalau Mas Fatih habis keluar dari hotel sama kunyuk." ucap Riko di seberang.
Jarak antara Riko dan Aisha cukup jauh dan banyak santri yang berlalu lalang sehingga membuat Aisha tidak di pikir berbuat aneh aneh dengan Riko. Shinta dan Delon yang tengah berlari kecil menuju Aisha langsung menampakkan wajah tegang.
"Assalamualaikum wr wb, Nona Aisha ada yang bisa kita bantu?" tanya Shinta.
"Waalaikumsalam wr wb, eh mumpung ada Kak Delon disini. Aisha juga mau minta tolong ke Kak Delon juga." pinta Aisha ke arah Riko.
Delon menunjuk dirinya sendiri segera bergabung dengan Riko dan Shinta.
"Langsung aja ya Kak Shinta, Delon dan Kak Riko, Aisha minta tolong ambil CCTV di hotel yang tadi Mas Fatih dan Vina Renata tempati dan simpan di tempat yang aman, jangan sampai ada yang tahu siapapun, bisa?" pinta Aisha.
Shinta yang mengangguk diikuti Riko dan Delon tidak menyadari jika Anas yang sedari tadi mengikuti Shinta dari jauh.
"Apa yang perlu di sembunyikan? Kamu yakin dengan Fatih sebagai calon suamimu?" tanya Anas memecah omongan Aisha.
Aisha yang terkejut mendengar suara Kakaknya itu menunduk dan menyembunyikan wajahnya.
"Dik, bilang sejujurnya ke Abi Hamzah karena nantinya kalian berdua menikah bukan berbohong membela Fatih." Anas memberikan pendapatnya.
Aisha yang paham dengan omongan Kakaknya tersebut hanya bisa mengangguk dan..... "Jika kakak di posisinya Aisha apa yang Kakak Anas lakukan? Apa kekerasan dari Ayah Ahmad Fatihurahman bisa menghentikan Mas Fatih? Tak bakal bisa Kak, Aisha berbohong karena Aisha yakin akan merubah Mas Fatih menjadi lebih baik lagi atas izin Allah SWT. Kak Anas bilang begitu karena Kak Anas cemburu dengan Mas Fatih yang berduaan dengan Vina Renata kan? Kak Anas tenang saja dan ingat ini semua Aisha akan tanggung." jelas Aisha.
__ADS_1
Anas mengangguk di ikuti senyuman tersirat di wajahnya dan....."Aku akan melindungimu dari tindakan Vina Renata nantinya dan kamu yang merubah Fatih dik." ucap Anas sambil membelai lembut kepala Aisha.
"Makasih Kak, Kakak jangan sama ulet keket itu ya, Kakak sama Kak Shinta aja, nanti Aisha yang bilang ke Abi Hamzah deh." ucap Aisha terang terangan.
Delon yang telah menghubungi anak buahnya dan Shinta yang telah mendengar ucapan Aisha hanya bisa menunduk malu.
"Nona, saya sudah kirim di email Nona Aisha dan itu data rekaman CCTV di hotel dan akan saya perbanyak jika ada kemungkinan terburuk nantinya karena Vina Renata itu lebih licik daripada Tuan Fatih." ucap Delon terang terangan.
"Baiklah terimakasih Delon, mulai besok minta tolong handle semuanya ya yang di perusahaan, bilang saja saya lagi ada keperluan, mengingat besok hari Kamis dan hari Jumat saya akan menikah." ucap Aisha ke Delon dan Shinta.
Delon dan. Shinta pun mengangguk setuju dan segera mereka berempat kembali ke rumah Abi Hamzah untuk menyiapkan beberapa keperluan untuk pernikahan Fatih dan Aisha.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aisha yang sudah bersiap berangkat ke rumah keluarga besar Al-Fatih kini menatap rumahnya penuh dengan pernak pernik pernikahan nya dengan Fatih hanya tersenyum mengingat Fatih yang masih memiliki dan memendam perasaan ke Vina Renata.
"Ya Allah, izinkan Aisha Mujahidah kedepannya karena Aisha hanya ingin berbakti ke kedua orangtua Aisha." lirih Aisha.
Hafisah yang sedari tadi di pangkuan Umi Fatimah berlari ke arah Aisha...
"Akak cantik jangan bercedih, ada Hafisah di cini." ucap Hafisah menarik gamis Aisha.
Aisha yang terkejut dengan kehadiran Hafisah segera menggendong Hafisah.
"Masya Allah Hafisah, hemmm baik Hafisah adik kakak, yuk kita berangkat." ajak Aisha.
"Akak, Hafisah boleh minta catu pelmintaan?" pinta Hafisah di gendongan Aisha.
"Insya Allah kakak beri permintaanmu, apa itu hemmm?" balas Aisha mencium pipi tembem Hafisah.
Hafisah terkekeh pipinya di cium Aisha hingga mengundang Umi Fatimah, Ibu Zulaikha dan Shinta untuk ikut bergabung dengan Aisha.
"Hafisah boleh memanggil akak cantik nanti bunda setelah akak menikah?" pinta Hafisah.
Aisha mendengar ucapan Hafisah menatap lekat manik mata Hafisah.... "Baiklah Hafisah, akak kabulkan, yuk berangkat." ajak Aisha tetap menggendong Hafisah.
Umi Fatimah, Ibu Zulaikha dan Shinta hanya menggeleng pelan mendengar mereka berdua.
"Aisha seperti itu Bu Zulaikha, nanti titip anak saya ya di rumah besannya." pinta Umi Fatimah ke Ibu Zulaikha.
"Baik Nyonya, maafkan anak saya yang seperti itu karena sesungguhnya Hafisah sudah tidak memiliki orangtua, saya menemukan Hafisah di depan pintu rumah saya saat dia bayi dan dia memanggil saya dengan sebutan ibunya." ucap Ibu Zulaikha sedikit terisak.
Umi Fatimah terkejut mendengar pengakuan dari Ibu Zulaikha sementara Shinta yang mendengar pengakuan Ibu Zulaikha merasa hatinya teriris.
__ADS_1
"Ibu sudah jelaskan ke Aisha?" tanya Umi Fatimah ke Ibu Zulaikha.
"Sudah Nyonya akan tetapi Nona Muda Aisha hanya berkata seperti ini, Sebaik baiknya manusia adalah menolong sesama tanpa pamrih dan berhati besar." suara Ibu Zulaikha menirukan ucapan Aisha saat di pusat pembelanjaan tadi pagi.
Umi Fatimah mengangguk dan tersenyum kemudian menatap ke arah Shinta yang tengah meminum air teh .....
"Kalau nak Shinta sudah siap menjadi suami Anas?" ucap Umi Fatimah to the point.
Shinta yang mendengar ucapan Umi Fatimah terbatuk-batuk karena terkejut mendengar ucapan Umi Fatimah.
"Maaf Umi Fatimah, bagaimana?" ucap Shinta memastikan ucapan Umi Fatimah di ikuti wajah Shinta memerah karena menahan malu.
Umi Fatimah yang mendengar ucapan Shinta hanya tersenyum dan mengulangi perkataan nya kembali ke Shinta....
"Biar waktu yang menjawab nantinya Umi, Shinta kurang pantas bersanding dengan Kak Anas karena Shinta....." ucapan Shinta terputus karena mendengar ucapan Anas di belakangnya.
"Jangan merendahkan diri Shinta, jika sudah waktunya nanti kita akan bersatu juga." ucap Anas sambil mengambil air teh di depan Shinta.
Shinta yang mendengar perkataan Anas di dekatnya menimbulkan semburat warna memerah di wajahnya akan tetapi Anas melanjutkan ucapannya....
"Kita akan bersatu jika aku sudah melupakan Vina Renata dari kehidupanku." ucap Anas sambil berlalu dari Shinta.
Shinta yang mengetahui jika Anas masih memiliki rasa ke Vina Renata hanya menunduk sedih, perubahan wajah Shinta di perhatikan Umi Fatimah dan Ibu Zulaikha....
"Shinta.... Angkatlah wajahmu tegar hadapi dunia dan Bulatkan tekadmu menuju samudra cintanya Allah dan Rasul-Nya karena wanita itu baju untuk suaminya kelak di saat hujan menghangatkan dan di saat kemarau menyejukkan." ucap Umi Fatimah memberikan semangat ke Shinta.
Shinta tersenyum dan memeluk Umi Fatimah.... "Terimakasih Umi, terimakasih telah membimbing Shinta yang penuh dosa, izin kan Shinta menjadi anak Umi, boleh?" tangisan Shinta pecah di pelukan Umi Fatimah.
"Masya Allah Shinta, kamu sudah anggap Umi Fatimah mu ini anak semenjak kehadiranmu pertama kali Shinta." Umi Fatimah mengelus punggung Shinta untuk menenangkan Shinta.
Aisha dan Hafisah yang mendengar ucapan Umi Fatimah dan menatap Umi Fatimah memeluk Shinta hanya bisa menghapus air mata nya yang telah jatuh.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Episode selanjutnya Aisha akan menikah gaes, komentar nya dong please, jangan jempolnya aja hehehehehehehe canda gaesππβοΈβοΈβοΈ,nih author ada titipan untuk kalian.
"Wanita,Kata Siti Aisyah kau harus bangga, Tongakkan kepala sebagai pertanda mulia dan Tak suka bercanda."