
ππππππ
"Indama nuhibbu tartabitu masyairina bil khouf, nakhoful faqda, nakhoful firoq, wa nakhofu an Nashib aktsar."(Ketika kita mencintai, perasaan kita akan merasakan ketakutan, takut kehilangan, takut perpisahan dan takut berbagi.)." Khibban NurCahyo.
ππππππ
Episode 25
"Kalian suka sama Kak Anas? Yauda nanti biar Kak Aisha bilang ke Abi Hamzah dan Umi Fatimah ya." Aisha tersenyum ke arah santriwati.
"Eh eh eh Ning Aisha bukan maksud kita gitu Ning, jangan Ning, waduh bisa di poligami kita nih kalau gitu." kelakar santriwati yang bernama Adilla.
Aisha tersenyum hingga terlihat deretan giginya menambah kesan cantik dan menawan di padukan wajah nya yang putih dan lesung di kedua pipinya.
Shinta hanya menggeleng dan tersenyum mendengar perkataan santriwati lainnya, Aisha memulai pembelajaran sebuah kitab tentang menjadi muslimah yang di cintai Allah SWT dan Rasulullah SAW.
Setelah kurang lebih dua jam Aisha mengajari santriwati segera mengajak Shinta untuk bergabung makan malam bersama Abi Hamzah dan Umi Fatimah untuk pertama kalinya karena setiap Aisha mengajak Shinta untuk makan bersama keluarganya menolak dengan dalih tidak pantas makan bersama bersama keluarga besar pondok pesantren An-Nur.
"Yuk masuk Kak Shinta, Assalamualaikum wr wb Abi Umi, nih Aisha bawa siapa hayo?" Aisha mengucapkan salam dan segera memeluk Umi Fatimah dan mencium tangan kemudian mencium pipi Umi Fatimah.
"Masya Allah Aisha sudah besar gak malu di lihat santriwati baru itu lho." ucap Umi Fatimah mengelus kepala Aisha yang berbalut jilbab.
"Hehehehehe biarinlah Umi. Aisha seperti ini sampai menikah nanti, Kak Shinta sini duduk sini." ajak Aisha sambil menepuk kursi di sebelah nya.
"Assalamualaikum wr wb Umi, saya mohon maaf baru sekarang Shinta masuk ke kediaman Umi dan Abi." ucap Shinta seraya mencium tangan Umi Fatimah.
Umi Fatimah menatap lama Shinta, sebuah ingatan Umi melayang mengingatkan seorang sahabatnya saat di pondok pesantren dulu......
"Masya Allah, ini Shinta? Cantiknya kamu nak Shinta." Umi Fatimah mencium kedua pipi Shinta bergantian.
"Alhamdulillah Umi, saya berterima kasih ke Nona Aisha yang telah meminjamkan gamis dan jilbabnya ini untuk Shinta." Shinta menunduk di hadapan Umi Fatimah.
"Masya Allah Shinta pakai saja kalau mau gamis seperti Aisha. Umi Fatimah punya banyak kok, yuk ikut makan bersama." ajak Umi Fatimah menggandeng tangan Shinta dan menggandeng tangan Aisha.
Shinta mengangguk setuju dan mengikuti Umi Fatimah yang tetap menggenggam tangannya, Anas yang tengah merapikan makanan yang akan di santap bersama Abi Hamzah menatap kedatangan Umi Fatimah dan dua orang gadis di samping Umi Fatimah, hingga......
"Masya Allah cantiknya Shinta, sini duduk sini Shinta sama Anas sini." ucap Anas menatap kedatangan Shinta.
Pletak ( Aisha menjitak dahi Anas).
"Sakit dik, kenapa sih Kakakmu ini yang tampan di sakiti terus." ucap Anas mengusap dahinya sambil menatap Shinta.
"Tuh mata lihat apa? Abi!! Kak Anas liat Kak Shinta lho, lihat nih Kak Shinta jadi malu nih." suara manja Aisha ketika bertemu Abi Hamzah.
__ADS_1
"Masya Allah kalian berdua, yang satunya sudah mau menikah tapi masih seperti anak kecil yang satunya udah gede tapi takut menikah." guyon Abi Hamzah.
"Abi makan yuk nanti Aisha di ceramahi Abi dua jam gak jadi makan deh, sini Kak Shinta duduk sini, jangan duduk sama Kak Anas si mata jelalatan." Aisha menarik tangan Aisha untuk mengajak Shinta duduk di sebelah nya.
Abi Hamzah menatap istrinya mencari jawaban perubahan Shinta hanya mendapatkan anggukan dari Umi Fatimah....
"Suamiku, ini Shinta yang selalu bersama Aisha, sepertinya Umi kenal dengan wajah Shinta yang mirip dengan sahabat Umi dulu ketika di pondok pesantren tapi apa benar itu dia." ucap Umi Fatimah.
"Oh iya ya Umi, wah benar yang di katakan Anas kamu nak Shinta benar benar cantik tapi tetap cantiknya kalah dengan istriku." ucap Abi Hamzah yang di balas cubitan lembut dari Umi Fatimah.
"Eh eh eh Abi Hamzah dan Umi Fatimah lihat situasi dong masih ada Aisha nih, Abi ini Kak Shinta, Kak Shinta ini Abi Hamzah yang sering Aisha ceritakan." ucap Aisha memperkenalkan Abi Hamzah ke Shinta.
"Assalamualaikum wr wb Abi Hamzah, mohon maaf Shinta menemui Abi karena....." ucapan Shinta terputus karena Anas menuangkan nasi ke piring Shinta.
"Sudah ngobrolnya. Yuk makan, nanti aja ngobrol nya, perutku sudah lapar." ucap Anas yang tak menyadari perlakuannya di tatap Aisha.
"Abi tuh Kakak Anas nikahkan sama Kak Shinta, mata Aisha ternodai nih, hiks hiks hiks." Aisha berpura-pura menangis.
Semua tertawa mendengar kemanjaan Aisha tetapi Shinta menatap piring yang berisi nasi pemberian dari Anas. Akhirnya mereka semua menghabiskan makan malam bersama tanpa bersuara sedikitpun hanya suara dentingan sendok dan garpu, itupun terdengar sangat pelan.
Setelah acara makan berakhir Aisha segera membersihkan piring kotor dan beberapa makanan yang masih ada untuk di makan keesokan harinya.
"Lho Nona kenapa di simpan? Apakah masih enak untuk makan besok?" tanya Shinta yang tengah menatap Aisha memasukkan makanan ke lemari pendingin.
Shinta takjub penuh kekaguman dengan Aisha....
"Apakah Nona Aisha memberikan izin ke saya menimba ilmu agama bersamamu meskipun Nona Aisha telah menikah?" tanya Shinta.
"Selalu Kak Shinta hingga maut menjemput Aisha akan belajar bersama Agama dengan Kak Shinta yang penting kita harus Istiqomah dan menanamkan niat kuat untuk merubah menjadi lebih baik." ucap Aisha tersenyum.
Shinta segera membantu Aisha untuk mencuci piring yang kotor hingga akhirnya semua terselesaikan.....
"Yuk Kak kita ngobrol dengan Abi Hamzah dan Umi Fatimah di depan." ajak Aisha sambil menggandeng tangan Shinta.
Aisha berjalan menghampiri Abi Hamzah dan Umi Fatimah yang tengah bercengkrama dengan Anas.....
"Abi, Kak Shinta mau ngomong bisa?" tanya Aisha.
"Boleh, sini Shinta duduk di samping istriku, mau ngomong apa kelihata nya kok gugup nak Shinta?" tanya Abi Hamzah.
Anas kembali melirik ke arah Shinta yang tengah menundukkan wajahnya....
"Mohon maaf sebelumnya dan sebesar-besarnya Abi Hamzah dan Umi Fatimah, Shinta ingin mengucap dua kalimat syahadat dan Shinta meminta izin untuk belajar agama Islam lebih dalam untuk merubah pribadi Shinta yang penuh dosa ini Abi Hamzah dan Umi Fatimah akan tetapi apakah Tuhan masih memberikan pengampunan ke Shinta?" suara Shinta bergetar.
__ADS_1
Anas mendengar perkataan Shinta tersenyum penuh arti sementara Abi Hamzah dan Umi Fatimah saling berpandangan hingga Abi Hamzah memberikan kode ke Umi Fatimah untuk menjawab pertanyaan Shinta....
"Masya Allah nak Shinta, sungguh mulia niat baik mu ini, kita semua bersama belajar bersama nak tidak ada Umi Fatimah ini yang paling baik begitu juga Abi Hamzah yang terlihat baik, gimana Abi suamiku?" ucap Umi Fatimah sambil menatap Abi Hamzah.
"Alhamdulillah ya Allah, Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar maha besar Allah SWT, baiklah kalau begitu, Anas bantu dampingi nak Shinta mengucapkan dua kalimat syahadat ya, jangan menolak." tegas Abi Hamzah sembari menatap Anas.
Anas yang tengah menghisap rokok nya terbatuk-batuk mendengar ucapan Abi Hamzah.... "Uhuk uhuk uhuk, sebentar sebentar, Abi kenapa harus Anas? Kan ada Abi Hamzah dan Umi Fatimah juga?" tanya Anas.
Pletak (Aisha kembali menjitak dahi Anas).
"Aduh nih anak ya, sini Aisha." Anas mencubit pipi Aisha dengan gemasnya.
"Duh sakit Kak!! Lepas!!! Abi Hamzah dan Umi Fatimah memberikan amanat itu ya di terima, untuk saat ini Kak Anas mendampingi Kak Shinta mengucapkan dua kalimat syahadat tentunya nantinya akan mengucapkan Ijab Qabul untuk Kak Shinta juga." ucap Aisha mengelus pipinya yang telah di cubit Anas.
Anas menatap Shinta agak lama hingga.......
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Apakah mampu Anas melupakan Vina Renatadengan kemunculan Shinta?
Apakah Aisha setelah ini mampu mendampingi Fatih untuk menjadi suaminya kelak dunia akhirat kelak?
Tetap ikuti terus cerita Jalan Cinta ini ya.....
Jangan lupa like, komentar nya, boleh juga kok hadiah nya hehehehehehehehe.......
__ADS_1