Jodoh Untuk Kanaya

Jodoh Untuk Kanaya
Jodoh untuk Rama dan Ramona


__ADS_3

"Bagaimana keadaanya dok?" seorang pria berusia lima puluhan bertanya dengan nada cemas bercampur panik saat seorang dokter keluar dari ruangan icu. Di iringi wanita seumuran disebelahnya ikut panik menunggu jawaban sang dokter.


Dengan pasang raut wajah khawatir dokter itu berkata. "Tuan Arya, syukurlah saat ini kondisi nyonya sudah kembali normal. Tapi tidak menutup kemungkinan penyakitnya bisa kapan saja kambuh lagi. Jangan sampai nyonya mengalami terlalu banyak beban pikiran, karena itu akan membuatnya semakin memperburuk keadaan. Nyonya Rita benar-benar harus banyak istirahat sekarang," jelasnya dengan bijak.


Pria itu mengangguk mengerti.


"Baik dok, aku mengerti. Mohon selalu memberinya perawatan yang terbaik untuknya, "


"Kami akan berusaha semampunya dengan dokter-dokter terbaik dirumah sakit ini." jawab sang dokter. "Kalau begitu aku permisi dulu karna ada jadwal operasi,"


"Ya silahkan dokter,"


Dokter itu beranjak pergi. Pria paruh baya itu menghempa udara dengan lega.


"Syukurlah kondisi ibu baik-baik saja. Tapi kita harus tetap hati-hati. Kapan saja hal yang lebih parah akan bisa terjadi padanya. Aku sangat mengkhawatirkan keadaan ibu" kata sang istri yang berdiri disebelahnya, tak kalah paniknya dengan suaminya.


Ditatapnya wajah istrinya dengan lembut. "Istriku. Jangan khawatir. Ibu pasti akan baik-baik saja. Dokter sudah bekerja keras untuknya," katanya dengan tegar.


"Bagaimana aku bisa tenang saat setelah apa yang dilakukan oleh putra kita pada ibumu. Ibu selalu bersikeras agar Alex menuruti kemauanya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nanti saat ibu sadar dan kembali menuntut haknya"


Pria tua berkaca mata itu hanya bisa terdiam dan memikirkan cara.


"Untu saat ini kita harus bisa membujuk Alex. Aku akan mencoba membujuknya sekali lagi. Karena dia harus mengerti keadaanya saat ini"


Seorang pria paruh baya tidak terlalu tinggi menghampiri tuan Arya. "Tuan Arya, tuan Alex baru saja datang kemari," bisik manager Hans memberitahu setelah beberapa menit lalu menerima panggilan dari kantor.


"Anak itu datang kemari?" seru tuan Arya.


Tiba-tiba datang seorang pria muda berbadan tinggi berkemeja rapi warna hitam dengan langkah cepat dan wajah panik. Ia menghampiri ayah dan ibunya yang masih berdiri mematung ditempatnya. Orang yang sedang mereka bicarakan sudah muncul di depan mata.


"Alex. Kau datang juga," kata wanita tua itu menyapa putranya.


Ditatapnya ayah dan ibunya secara bergantian. "Bagaimana? Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa nenek bisa mendadak sakit?" Alex bertanya setengah tidak percaya.


"Ini terjadi begitu saja. Semua ini karena dia terlalu keras memikirkanmu. Dan lihat apa yang terjadi sekarang. Nenekmu terbaring dalam keadaan tidak sadar" balas sang ayah menggertak.


Alex terdiam kaku. Mencerna semua kata-kata dari ayahnya. Jelas betul ia disalahkan dalam keadaan ini.


"Maafkan aku, semua ini memang kesalahanku, tapi aku juga harus memilih"


"Sudahlah jangan diperdebatkan lagi. Sebaiknya kita melihat keadaan ibu sekarang," ujar ibu Alex menjadi penengah.


Merekapun memutuskan masuk ke dalam ruangan saat setelah seorang perawat datang memberitahu mereka bahwa pasien baru saja siuman.


"Ibu, apa ibu baik-baik saja?" tanya Arya penuh perhatian.


Nyonya Rita mengangguk tenang. "Aku baik-baik saja" lalu perhatianya beralih pada Alex. "Alex, kau datang cucuku" suara nenek terdengar samar-samar dengan mulut ditutup oksigen. Senyum mengembang muncul diwajahnya yang masih pucat.


Alex menghampiri, segera meraih tangan sang nenek menggenggamnya dengan hangat.

__ADS_1


"Iya nek. Aku sangat mengkhawatirkan nenek. Kenapa nenek bisa jadi seperti ini? Apa ini karena kesalahanku? Nenek, aku minta maaf,"


Sang nenek menggeleng-geleng kepala tidak membenarkan perkataan cucu kesayanganya itu.


"Tidak Alex. Jangan menyalahkan dirimu. Akulah yang sudah tua, jadi wajar sering sakit-sakitan seperti ini. Tapi kondisi ku sudah baik sekarang," jawabnya dengan tenang. "Maafkan aku sudah membuatmu khawatir,"


"Nenek, cepatlah sembuh. Aku ingin mengajakmu makan bersama lagi,"


Sang nenek tertawa mendengarnya. "Arya" katanya seraya melirik ke arah putranya. "Lihatlah putramu. Dia bukannya mengajak seorang gadis untuk berkencan justru membawaku pergi makan malam,"


Arya tertegun. "Ibu, jangan terlalu banyak bicara. Lebih baik ibu istirahat saja," balas Arya mengalihkan pembicaraan.


Nyonya Rita lagi-lagi menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran dengan pendapat cucuku mengenai perkataanku tempo hari. Jadi bagaimana? Apa kau sudah memutuskannya? Jadi apa keputusanmu" ia melirik Alex.


"Nek. Saat ini aku lebih mengkhwatirkan keadaan nenek. Nenek jangan memikirkan apapun selain kesehatan nenek sendiri. Nenek harus banyak istirahat"


"Kau paling bisa mengalihkan pembicaraan, Alex. Justru dengan kau menikah aku akan bisa beristirahat dengan tenang sekarang. Paling tidak, ada istrimu yang menemaniku nanti,"


Alex lagi-lagi terdiam kaku. Tak tau apa yang harus dijawab. Tapi, dalam hati ia mengutuk besar atas ini. Jika ia terus menolak, itu akan membuat neneknya kecewa.


"Aku akan sangat bahagia jika setidaknya kau mau lebih dulu mengenalnya. Soal pernikahan tetap kau yang memutuskan. Bagaimana?" kata sang nenek mencoba bernegosiasi.


Alex menghempa udara, menatap sang nenek penuh kebingungan. Disaat itu sang ibu angkat berbicara.


"Apa yang dikatakan nenekmu ada benarnya. Tidak ada salahnya kau mencoba berkenalan dengan gadis itu. Selanjutnya itu terserah pilihanmu."


Saat ini mereka menunggu jawaban dan keputusan dari Alex. Tapi belum ada tanda-tanda itu.


"Alex. Kau tidak menjawabnya?" suara lantang sang ayah menyintakkanya seketika.


"Baiklah. Aku menerima tawaran itu. Akan ku pastikan nenek tidak menarik kata-kata tadi. Aku yang memutuskan," jawab Alex dengan mantap.


"Oke. Aku setuju. Karna aku yakin kau sendiri yang akan menerima gadis itu," seru sang nenek dengan penuh canda.


Alex tersenyum mendengarnya. "Ayo. Kita lihat saja nanti,"


Sang nenek tersenyum senang.


"Syukurlah. Aku senang dengan jawabanmu itu. Aku bisa menjadi sedikit tenang sekarang." kata nyonya Rita.


Ia beralih pada manager Hans yang terdiam di belakang Arya. "Manager Hans, silahkan atur jadwal pertemuan keluarga kita dengan gadis itu. Aku tidak sabar untuk meninggalkan tempat ini dan bertemu calon cucu menantuku,"


Manager Hans mengangguk mengerti. "Ya, aku mengerti nyonya,"


"Baiklah. Aku rasa aku harus beristirahat sekarang karena pikiranku sudah tenang,"


"Baik ibu, biar aku berjaga diluar," balas ibu Alex.


Alex, manager Hans berserta ayahnya pamit dan kembali ke kantor untuk kembali bekerja.

__ADS_1


Keadaan kembali sedia kala.


***


Sementara itu, ditempat lain terlihat seorang gadis menerima sebuah panggilan.


"Kanaya! Bukankah besok akhir akhir pekan? Pulanglah, ada yang ingin ibu bicarakan denganmu" belum sempat mengatakan halo, suara ibu sudah lebih dulu menggema dari dalam ponsel.


"Kenapa? Bicara lewat telepon saja, aku akan mendengarkannya. Ada apa?" jawab Kanaya dengan santai. Ia sibuk mengunyah makananya dengan lahap sehingga mengeluarkan suara yang tidak begitu jelas.


"Apa kau sedang makan sesuatu?" tanya sang ibu diseberang sana.


"Ya. Aku baru saja mendapatkan makan pagi sekaligus makan siang ku hari ini," jelas Kanaya berterus terang. Ia mengunyah begitu berisik.


Mendengar penuturan putrinya yang terlalu jujur membuatnya langsung naik darah. "Apa kau sudah gila! Kenapa jam segini kau baru makan. Apa kau sudah bosan hidup!" umpatnya.


Kanaya yang sudah terbiasa dengan situasi seperti ini, segera menjauhkan poselnya dari telinganya. Suara keras ibu jelas-jelas bisa memecahkan gendang telinganya nanti. Dan ia langsung bersungut-sungut.


"Tidak. Aku sangat sibuk dengan tugasku yang begitu mendesak. Ibu tidak perlu khawatir, aku bisa bertahan disini"


"Jika benar-benar mendesak tapi kesehatan itu lebih utama. Lagipula tugas apa yang kau kerjakan di akhir pekan? Jangan sampai aku melihatmu seperti tiang listrik. Itu sangat jelek sekali. Apa kau mengerti?"


"Aku mengerti bu. Tapi ibu ingin membicarakan sesuatu padaku, katakanlah."


"Tidak bisa! Ini adalah pembicaraan yang sangat penting. Ibu tidak bisa membicarakanya lewat telpon. Sudahlah, ibu tunggu kau dirumah. Kita bicarakan dirumah,"


"Memangnya berbicara hal penting apa sehingga aku harus pulang? Tidak bisa, aku sangat sibuk sekarang. Ada beberapa tugas yang harus aku selesaikan untuk minggu depan. Jadi, aku tidak bisa pulang" bantah Kanaya.


"Aku bilang ini sangat jauh lebih penting karna menyangkut nasib keluargamu. Baiklah, kalau kau terus bersikeras menolaknya. Tunggu saja foto pemakaman ibu sampai di ponselmu hari ini juga!" ancam sang ibu dengan penuh tekad membujuk putrinya itu. Ada-ada saja yang dikatakanya untuk membujuk Kanaya sehingga membuat putrinya merasa terancam. Dan ia tau ibunya adalah orang yang tidak pernah main-main dengan perkataanya.


"Ibu. Kenapa ibu berbicara seperti itu. Sangat menakutkan sekali. Jangan berbicara seperti itu lagi. Itu sama sekali tidak lucu, bu" balas Kanaya dengan suara memelasnya.


"Siapa suruh kau jadi anak yang tidak berbakti kepada orang tua? Apa tugasmu lebih penting daripada ibumu yang sakit-sakitan ini, hah! Apa anak zaman sekarang kelakuanya memang seperti ini! Wah, aku benar-benar tidak percaya ini"


"Bukan seperti itu bu. Baiklah, aku mengerti. Akan usahan untuk pulang" ujar Kanaya yang terpaksa mengalah dan tidak memperpanjang masalah dengan ibunya karna ia tahu itu tidak akan pernah berakhir, dan ujung-ujungnya sang ibu yang selalu benar. Ia menghempa udara. Tidak jadi selera untuk menghabiskan makananya.


"Pulanglah malam ini. Ibu akan buatkan sup kesukaanmu untuk makan malam kita. Bukankah kau sangat merindukan masakan ibumu ini?"


"Iya aku mengerti. Aku sangat ingin memakannya sampai-sampai terbawa mimpi sekaligus."


"Benarkah? Kalau begitu datanglah. Aku akan menunggumu pulang"


"Ya. Aku mengerti. Sampai ketemu nanti,"


"Baiklah. Jaga dirimu"


"Siap!"


Pembicaraan berakhir dengan sempurna. Dan benar saja, percakapan tadi diakhiri dengan kekalahan Kanaya.

__ADS_1


__ADS_2