
Pukul sebelas siang,Bumi sudah menjemput Kanaya untuk ke rumah sakit, kini mereka sedang dalam perjalanan kesana.Sepanjang jalan di mobil,Bumi selalu memegangi tangan sang istri dan sesekali megecupnya.Membuat perempuan itu selalu merona merah.
"Perutnya enakan gak sayang, mual gak?' Tanya Bumi, sebab yang dia tahu jika wanita yang sedang hamil muda itu selau merasakan mual dan ingin sesuatu yang asem-asem.Tapi setelah satu minggu lebih dirinya bersama sang istri,Bumi tidak melihat Kanaya yang seperti itu.
"Enggak Mas, selama hamil,Naya hanya pas awal-awal saja waktu di bandung ngerasain mual dan ngidam,tapi setelah di Jogja sudah tidak merasakannya lagi, entah Naya juga tidak tahu." jawab sang istri jujur.
"Oh ya, berarti adek pintar ya gak nyusahin Bunda." ucap Bumi sambil mengusap perut sang istri.
"ia Ayah , ade pintar." jawab Naya sambil menirukan suara bayi.
"Sebenarnya yang ngerasain mual itu aku,sayang." ucap Bumi lagi.
"Maksud Mas?"'
"Ia selama kamu gak ada, Mas yang ngerasain itu semua,tiap pagi Mas ngalamin mual dan muntah,Mas juga kadang-kadang menginginkan sesuatu yang tidak biasanya."Ucap Bumi lagi
"Beneran Mas yang ngerasain itu?gak bohong?' tanya Kanaya lagi.
"Beneran sayang, gak bohong."
Kanaya tersenyum, kata orang jika sang suami mengalami kehamilan simpatik itu artinya suaminya benar-benar mencintai sang istri yang tengah hamil.
"Kenapa kamu senyum-senyum gitu, sayang?" tanya Bumi heran.
"Gak Mas." jawab Kanaya singkat.
Tak butuh waktu lama akhirnya mereka telah tiba di rumah sakit.Baik Bumi dan Kanaya tidak perlu cape untuk mengambil nomor antrian karena sebelumnya Bumi telah me reservasi untuk bertemu dengan dr.Mia. Dokter yang akan menangani kehamilan Kanaya.
begitu sampai ruangan sang dokter, Perawat langsung membimbing Kanaya untuk berbaring di ranjang pasien.Bumi duduk di samping sang istri sambil memegang tangan wanita itu.
'Kita lihat dulu Dedek ya Pak,Bu" ucap dr.Mia sambil menggerak-gerakan alat di atas perut Naya, yang sebelumnya telah di oles jel.
"Nah... itu bayinya Ya Bu, masih sebesar biji kacang, karena masih berumur enam minggu.Jaga pola makan dan rajin minum vitamin ya." ucap dr.Mia lagi.
__ADS_1
Bumi dan Kanaya menatap haru pada layar monitor yang menampilkan bentuk janin yang belum terlihat jelas itu.Ada setitik haru, bahkan ujung mata Bumi sampai mengeluarkan cairan bening,Kanaya dapat melihat itu.
Ia senang suaminya ternyata sangat menerima bayi yang ada dalam kandungannya.
'Mas Bumi kok nangis." goda Naya. Sontak pria itu langsung menyeka cairan bening yang hampir saja menetes membasahi pipi.
"Mas terharu sayang, gak nyangka benih Mas ada disini."ucap Bumi sambil mengusap perut rata Naya.
dr.Mia menatap pasangan suami istri itu sambil tersenyum.
"Ini anak pertama ya Pak?" tanya dr. Mia.
'Betul Dok. alhamdulillah baru menikah langsung dikasih kepercayaan."jawab Bumi.
USG telah selesai, Dr Mia kembali ke tempat duduknya, Kanaya bangun dari ranjang di bantu perawat dan sang suami, sebelum duduk di depan meja DR.Mia terlebih dulu Bumi memperbaiki baju Kanaya yang tersingkap tadi.
"Kandungan Ibu Naya sangat baik janinnya juga sehat. Apa selama enam minggu ini Bu Naya mengalami mual dan muntah?" Tanya dr. Mia lagi untuk memastikan.
"Oh ya, itu bagus Bu Naya, biar suami ibu juga ikut merasakan bagaimana perjuangan istri saat mengandung bayi.Ini juga yang memperat hubungan kalian sebagai pasangan. Baiklah karena saya hanya akan meresepkan vitamin saja kalau begitu. Untuk Bapak juga harus cukup asupan makanan dan cairan ya, karena saat mual juga mengeluarkan banyak cairan." ucap dr.Mia sambil menulis resep pada selembar kertas.
"Baik dok." ucap keduanya.
setelah menerima resep dari dokter, Kanaya dan Bumi kini sedang menuju apotek untuk menebus obat.Bumi menyuruh Kanaya untuk duduk di kursi tunggu, sementara dirinya akan ke kasir membayar semua tagihan.
Sementara di seberang sana, Nesa di temani oleh Dimas juga baru saja selesai melakukan pemeriksaan kesehatan, Nesa tampak duduk di kursi roda yang di dorong oleh Dimas.
Tanpa sengaja Bumi melihatnya, dahinya sedikit mengkerut untuk apa mereka berada di rumah sakit dan apa yang terjadi dengan Nesa, kenapa harus pakai kursi roda?
Namun ketika ia melihat perut Nesa yang sedikit besar , ia sadar mungkin mereka tengah memeriksa kandungan wanita itu.
Bumi menghampiri Naya dan mengajaknya untuk pulang.
"sayang, ayo Mas sudah selesai." ucapnya sambil mengulurkan tangan.
__ADS_1
Kanaya meraih tangan Bumi." Ayo Mas, Naya udah gak tahan ngantuk ni."
"Y udah kita langsung pulang ke rumah ya."
Mereka berjalan beriringan di lorong rumah sakit sambil bergandengan tangan. Sesekali Bumi juga mengeluarkan candaan yang membuat Kanaya tertawa-tawa. semua yang melihat pasangan itu akan melirik sekilas karena mereka tampak serasi.
"Tunggu Bumi." ucap seseorang dari belakang.
Mendengar seseorang yang menyebut namanya, Bumi langsung berhenti dan menoleh, begitupun Kanaya. mereka melihat Nesa yang duduk di atas kursi roda dan di belakangnya ada Dimas.
"Rupanya wanita itu sudah kembali, hingga kau melupakan aku,Bum?" ucap Nesa dengan tatapan tajam pada Kanaya.
"Apa urusanmu? kanaya adalah istriku tentu saja dia harus ada di sampingku," Balas Bumi.
"Harusnya aku yang jadi istri kamu Bum, bukan dia wanita tidak tahu diri!" Teriak Nesa, membuat semua yang kebetulan lewat menoleh kearahnya.
"Dengar Nesa ini tempat umum, jangan berteriak seperti itu pada istriku. Lagipula sepertinya terbalik yang gak tahu diri itu kamu bukan Naya. Ia memang seharusnya kamu yang jadi istriku, tapi kamu sendiri yang menyia-nyiakan kesempatan itu dengan lari bersama Aldo.Jangan salahkan Naya dalam hal ini." ucap Bumi lagi.
"Bum..please tinggalin Naya, ayo kita kembali bersama, aku hamil dan aku gak mau sendiri." pinta Nesa mengiba membuat Bumi tersenyum degan sinis.
"Seharusnya kamu mengiba pada ayah dari bayimu Nesa, kenapa harus padaku. Coba ingat-ingat siapa yang sudah tidur denganmu dan menanam benih di rahimmu sekarang. AKu yakin bukan hanya Aldo seorang." ucap Bumi.
"Jaga bicaramu Bumi Mahesa, kau tidak berhak menghakimi sepupuku seperti itu. Lagipula kalian juga pernah tidur bersama bukan? kenapa kamu tidak mau mengaku kalau bayi Nesa adalah bayimu juga." ucap Dimas dengan emosi.
"Bayiku??? ha..ha..ha..mana mungkin bayi itu adalah benihku ,sedang aku sendiri tidak pernah merasa tidur dengan wanita murahan itu,bukan begitu Nesa?' Ucap Bumi.
''Apa maksud kamu, kita sudah pernah melakukannya Bum." jawab Nesa dengan ragu.
"Kamu yakin kita pernah melakukannya Nes, aku masih ingat dengan jelas dan aku juga sudah mengantongi bukti cctv, bersiap-siaplah kamu karena telah mencemarkan nama baikku."ancam Bumi yang langsung mengajak Kanaya untuk pergi dari tempat itu.
Sepeninggalan Bumi, Nesa duduk dengan kaku, wajahnya sudah pucat pasi dan dan tampak sedang ******* -***** kedua tangannya.
"Apa selama ini kamu berbohong,Nes?" tanya Dimas.
__ADS_1