Jodoh Untuk Kanaya

Jodoh Untuk Kanaya
Bab 61 BERKELAHI


__ADS_3

Semakin hari tingkah Leo semakin membuat Bumi dan kanaya meradang, bagaimana tidak, ia selalu saja melontarkan kata-kata yang kadang menyinggung salah satu dari mereka.Bumi tidak habis pikir dengan didikan orang tua Leo selama ini. Atau mungkin benar adanya, karena terbiasa hidup di calofornia bersama Neneknya, menyebabkan dia hilang kendali karena lepas dari pengawasan orang tua kandungnya.


Hari ini Bumi pun di buat kesal, saat anak ingusan itu membawa beberapa teman laki-lakinya. Bukan karena Bumi tidak mau rumahnya di datangi tamu yang bukan untuknya atau keluarganya, tetapi teman-teman yang Leo bawa berpenampilan urakan dan sangat tidak sopan, mereka juga langsung masuk kamar tanpa permisi pada tuan rumah.


"Sayang, kamu mengenal mereka?'' tanya Bumi pada Kanaya yang saat ini tengah membuat jus alpukat di dapur.


"Teman-temannya Leo, Mas?" tanyanya.


"Ia , kok bisa sich Leo temenan sama orang yang kaya gitu,maaf bukannya Mas sok tahu gak mau hanya saja filling Mas gak enak lihatnya." ucap Bumi dengan nada khawatir.


"Jangan berprasangka dulu,Mas. Mungkin memang penampilannya seperti itu siapa tahu mereka anak baik. Udah ah yuk ke kamar bantuin Naya ngerjain tugas." Ucap Kanaya sambil membawa segelas  juice yang baru saja ia buat.


"Euummm, ngajk ke kamar alasan ngerjain tugas, padahal mau ngerjain suamimu kan? ngaku!" Goda Bumi sambil menggelitik pinggang Naya karena gemas.


"Apaan sih Mas, mesum aja kerjaanya. Beneran kok, Naya ada tugas dari dosen dan sedikit bingung. Mas bantuin ya."


"kalau Mas bantuian dapat apa, sayang?"


"Mas maunya apa?"


"Itu." jawab Bumi singkat sambil menaik turunkan sebelah alisnya, Membuat Kanaya membuang napas sedikit kesal.Sebab ia sangat tahu apa yang di inginkan suaminya itu, apalagi kalau bukan bergulat, dan Naya beerapa jam lalu baru saja selesai melayaninya.


'Mas kenapa sekarang jadi mesum banget sich?'


"Lho kok mesum?Emang Mas minta apa? kayanya kamu deh yang mesum.Pikiranya udah kemana-mana."


"Ighhh gimana Naya gak berpikiran mesum, Mas lihatin Naya kaya gitu.Udah aghh Naya mau belajar." Perempuan cantik dan mungil itu berlalu dari hadapan suaminya, melangkah kembali ke kamar.Bumi pun mengambil air mineral dari dalam kulkas dan menyusul sang istri.

__ADS_1


Tak sengaja Bumi melewati kamar Leo yang jaraknya hanya terhalang satu kamar kosong, dari balik pintu yang tidak tertutup rapat, Bumi melihat beberapa teman Leo yang sepertinya sedang berbincang sambil memakan camilan. Ia menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku mereka semua.Makan diatas tempat tidur dan sampah kulit kacang yang berserakan di lantai benar-benar membuatnya tidak respect, karena memang Bumi cinta kebersihan.


Terdengar suara salah satu teman Leo yang berambut sedikit gondrong dengan celana  sobek-sobek bagian paha.


"Loe jadi party nanti malam sama si roy,Le?


"Jadilah, gak sabar gue buat nanti malam, apalagi di temenin si Catrine mana kuat gue." jawab Leo dengan senyumnya yang mengembang.


"Eghhh ngomong-ngomong gimana rasanya si Catrine, legit gak? Kata anak-anak dia udah kendor banget lo,Maklum banyak yang pake."


"Ya gitu deh, gue sikat aja selagi dia mau. Tapi tetep pake pengaman mencegah hal-hal yang menakutkan.Jangan sampai deh tiba-tiba dia ngaku bunting sama orang tua gue,Mampus.'"


Bumi membulatkan kedua matanya,mendengar perbincangan mereka yang sangat vulgar  itu, benar dugaanya jika pergaulan Leo saat ini sudah di luar batas.


Ingin rasanya Bumi menegur mereka semua, namun rasa malas lebih mendominasi. Ia berfikir orang tua Leo lah yang lebih berhak untuk memberikan nasehat pada Leo.


Bumi memutuskan untuk meninggalkan kamar leo, namun langkahnya terhenti kala sepupunya itu tiba-tiba membicarkan sesuatu yang membuatnya meradang.


''Gue sebenarnya pengen banget nidurin istri sepupu gue sendiri si Kanaya, loe pada lihatkan bodinya dia kaya apa? Seksi gila.. Tolol banget si Naya mau aja sama sepupu gue yang bloon itu. Udah mah tua, jabatan cuma manager apaan. Mending gue kan, kalau dia mau gue bisa jadi pimpinan perusahaan tempat Papa sekarang. Tolol banget emang si Naya mau-maunya dia jadi istri si Bumi brengsek itu."


Seketika amarah Bumi berkobar, bukan karena dirinya yang di sebut tua atau jabatannya yang hanya seorang manager. namun karena sepupunya itu telah berani menilai tubuh Kanaya dengan mesum.


"Anak kurang ajar!!!' Teriak Bumi, membuat semua penghuni kamar itu menolah padanya, terutama Leo yang wajahnya sudah pucat pasi, melihat kaka sepupunya sedang menatapnya bagai singa lapar yang siap menerkam.


"Mas Bumi." Ucapnya gugup.


Bumi langsung menarik kerah baju Leo , hingga pemuda itu sedikit berjinjit, sedang teman-temannya yang lain tampak tegang melihat Bumi yang sepertinya sudah murka. sebagian dari mereka ingin membantu melerai, namun di halangi oleh Bumi.

__ADS_1


"Jangan ada yang mendekat, atau kalian akan merasakan akibatnya."Ancam Bumi.


Seketika pria yang menjadi suami dari kanaya fitriani itu memberikan hadiah Leo bogem mentah di sebelah pipi kanannya.Membuat pemuda itu terpental dan akan jatuh, namun Bumi kembali menarik kerah itu kembali dan kali ini Pipi kiri menjadi sasaran tinjunya.


"Mas, maaf aku gak sungguh-sungguh bilang seperti itu,tolong lepasin." Ucap leo dengan mulut yang penuh dengan darah. Teman-teman Leo memegangi tubuh Bumi  dan yang sebagian memegangi tubuh Leo agar mereka saling terpisah.


"Mas sudah ya maafkan kami karena telah bicara sembarangan." ucap pria berambut gondrong itu.


"Kenapa pake embel-embel Mas segala, bukannya tadi hanya manggil si Bumi brengsek? Memang kenapa kalau Kanaya mau jadi istriku? apa pedulimu? Ingat Leo kamu hanya menumpang disini, dan aku bisa kapan saja mengusirmu dari rumahku."


"Coba saja Mas ngusir aku dari rumah ini, perusahaan Om Arif yang akan jadi taruhannya, Mas sangat tahu bukan siapa Papa aku?"


"Jadi karena itu  kamu berbuat seenaknya di rumah ini? berlaku tidak sopan, mempengaruhi istrriku dengan pergaulanmu yang urakan dan membawa teman-teman tidak jelasmu ini ke rumah ini? Sungguh aku sangat muak denganmu Leo." Teriak Bumi


Di kamar bawah, Pak Arif yang sedang bersama Bu Ningsih mendengar keributan dari lantai atas.


"Pah, itu suara Bumi dan Leo kenapa berteriak-teriak seperti itu?" tanya Bu Ningsih khawatir.


"Ia bener Ma, Papa juga dengar. Ayo kita lihat dulu!"


Pak Arif dan Bu Ningsih segera keluar dan langsung menaiki tangga menuju tempat keributan terjadi.


Disana mereka menyaksikan Bumi dan Leo yang masih baku hantam melempar tinjunya masing-masing,.


"Pah, itu anak-anak berantem, cepat suruh berhenti!" Ucap  Bu Ningsih.


Pak Arif segera mendekati dua orang dewasa itu.

__ADS_1


"sudah cukup apa yang kalian lakukan!!" Teriak Pak Arif dengan kencang.


__ADS_2