
Keributan yang ada di dapur menyita perhatian Wanita yang berpenampilan anggun dan sedikit angkuh itu.Ia bisa melihat betapa harmonisnya hubungan Ningsih sang adik dengan putra dan menantunya.Berbeda jauh dengan kehidupannya dan sang suami.Menjadi istri dari pria kaya seperti Nendra sang suami tidak serta merta membuat dia bahagia.
Ya, sesungguhnya ia sangat iri dengan keluarga adiknya yang begitu harmonis itu, punya putra yang sopan santun serta suami yang sangat menyayangi dan mencintainya seperti Arif.
'Arif?' memikirkan nama itu membuat senyumnya sedikit kecut.
Pantas saja kalian tidak punya sopan santun pada Bude, rupanya ini memang hasil didikanmu Ningsih pada mereka?" Ucap Bude Salimar tiba-tiba yang sudah berdiri di depan pintu dapur.
Bumi dan Kanaya yang sedang bercandapun menoleh kearah sumber suara. Mereka yang tadinya tertawa puas, tiba-tiba wajahnya berganti mode.
"Eghhh Mba Salimar, sini Mbak kami sedang membuat seblak.Barangkali Mbak mau." Kata Bu Ningsih.
"kamu itu sudah tua Ning,masih saja mengkonsumsi makanan gak sehat dan gak higienis itu?"
"Bude, sebelum memasaknya kami sudah mencuci semua bahan ko, jadi ini semua higienis kami bisa jamin itu." sahut Bumi, meski dengan muka sedikit kesal.
"Tanga wanita itu kamu yakin dia higiensi?" tunjuk Bude pada Kanaya.
Bumi menghembuskan napasnya, wanita di depannya ini benar-benar membuat kesabarannya hilang.
"Maaf , yang Bude maksud adalah Kanaya? dia istri aku dan jangan sekali-kali Bude menghinannya seperti itu.Lagipula dengan Bude meghina Kanaya bukankah akan menyakiti perasaan Leo, Ingat ya Kanaya adalah wanita yang di taksir Leo, meski aku tidak akan membiarkan itu terjadi.Kanaya milik Bumi selamanya."
"Dasar anak kurang ajar!!! gak ada sopan-sopannya pada orang tua."
"Bude yang memancing Bumi untuk kurang ajar."
Tak ingin lagi ada perdebatan panjang,Bumi lebih memilih membawa Kanaya pulang hari itu juga.
"Mah maaf,Bumi sama Naya tidak bisa nemenin Mama makan seblak.Jika Mama mau makan di apartement saja Mah, disana lebih damai daripada disini."ucap Bumi lagi sambil melirik wanita angkuh yang sejak tadi selalu menyindir istrinya itu.
"Papamu belum pulang,Bum." sahut Bu Ningsih.
"Nanti Bumi telpon Papa aja, suruh nyusul kesana."
Bu Ningsih mengangguk.
__ADS_1
"Sayang, bawa saja seblak yang baru saja kalian buat , masukin ke kotak ya.Kita pulang ke apartement."
"Baik Mas."
Tak berapa lama Bumi ,Kanaya sudah siap pergi. mereka berpamitan dulu pada Bude Salimar yang duduk sambil menonton televisi di ruang tamu.
"Mba,saya pamit mau ke tempat Bumi dulu ya, masakan untuk makan malam juga telah matang.Nanti ART yang akan menyiapkannya."
Bude Salimar tak menaggapi ia lebih fokus pada layar datar di depannya.
"Mah...yuk" ajak Bumi.
"Kami permisi dulu Bude, di dapur Kanaya sudah menyiapkan seblak untuk Bude, gak terlalu pedas ko, Naya hanya menambahkan dua cabe rawit saja.Dimakan ya Bude." Kanaya mengambil tangan Bude Salimar dan menciumnya.
Sepeninggalan Bu Ningsih, Bumi dan Kanaya, Ibu dari Leo ini beranjak ke dapur, ia membuka tudung saji dan melihat isi di dalamnya.Ada seporsi makanan yang sangat di gandrungi para ibu -ibu dan anak muda. Makanan yang terbuat dari krupuk dan tambahan toping bakso ,sosis dan sayuran.Tampilannya saja sudah membuat Bude Salimar menelan saliva.Buru-buru ia mengambil sendok dan mencicipi rasanya.
"Eummmm, gak buruk." Tanpa sadar wanita paruh baya menghabiskan makanan yang Naya dan Bu Ningsih buat.di Balik pintu beberapa ART tampak sedang mengintip apa yang sedaang di lakukan oleh kaka dari majikannya tersebut.Mereka tidak kuasa untuk menahan tawanya karena sikap jaim yang di tunjukan Bude Salimar pada keluarga Bumi.
Sementara itu di apartement, Bumi ,Kanaya dan juga Bu ningsih setelah menghabiskan makanan yang tadi mereka buat di rumah, kini mereka melanjutkan menonton drama bersama di ruang tamu, Ralat bukan mereka bertiga tapi hanya menantu dan mertua saja.sedang Bumi jangan di tanya sedang apa,Ia sedang tiduran dengan kepala di atas pangkuan Kanaya.
"Sayang udah donk nonton tvnya, Mas bosen." ucapnya dengan mata yang masih terpejam.
"Bum, kalau bosen pindah sana ke kamar, jangan ganggu Naya yang lagi nemenin Mama." ucap Bu Ningsih yang ikut mengambil camilan snack itu."
"Lagian nonton apaan sich yang? udah yuk Mas mau mimi cucu." rengeknya."
"Bughhh."
Bu Ningsih yang duduk di dekat Kanaya langsung memukul sang putra.
"Itu ngomong gak disaring ya."
"Sakit Mah, anaknya kok di pukul terus dari tadi."
"Bodo aghhh,Eghh Bum kamu udah telepon Papa kan? ko belum datang juga kesini?" tanya Bu ningsih.
__ADS_1
"Udah kok Mah, tadi Papa bilang akan kesini kalau kerjaanya udah beres."
"kok lama ya."
"Mama pasti udah kangen banget sama Papa ya." goda Naya.
"Kalau suamimu kerja belum pulang jam segini gimana rasanya Nay? kangen juga gak?"
"Ya gitu deh mah,gak karuan pikiran takut Mas ku kenapa-napa." sahut Naya.
"Eummm sayangnya Bumi so sweet banget deh, jadi pengen cepet ngeloni, Udah aghhh mah,Bumi udah gak tahan pengen ngamar ya,da...da Mama."
"Ehhh Mas Bumi mau ngapain?" teriak Naya yang merasa tubuhnya seperti terangkat karena Bumi langsung mengangkat tubuh Kanaya dan mengggendongnya seperti karung beras, membuat Bu Ningsih hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Dasar kamu ya Bum gak ada sopan santunnya!"Teriak Bu Ningsih sambil geleng-geleng kepala.
Tak berapa lama terdengar bel berbunyi,Bu Ningsih yang tengah membereskan bekas snack di meja ruang tamu segera membuka pintu.
"Asalamualaikum,Mama." Sapa Pak arif saat sang istri membuka pintu.
"Waalaikum salam,Papa. Kok malam banget sih Pa jemputnya?" jawab Bu Ningsih.
"Ia Papa ada kerjaan tambahan jadi kelamaan, maaf ya.Anak-anak mana Mah?" Pak Arif melihat ruang tamu yang begitu sepi dan hanya ada isrtinya saja.
"Lagi buatin Papa cucu." Jawab bu Ningsih.Spontan sang suami hanya bisa tertawa, melihat Bumi yang tidak sabaran ia jadi teringat dirinya sendiri.
"Ya udah, kita juga pulang bikin adik buat Bumi yuk." ucap Pak Arif.
"Ighhh anak dan bapak sama saja. Udah tua Pah malu sama umur."
Pak Arif hanya tertawa. setelah membereskan ruang tamu,akhirnya kedua orang tua Bumi pulang tanpa berpamitan pada Naya maupun Bumi yang sedang asik bermandikan keringat di kamar mereka.
"Semoga kamu cepet hadir di perut Bunda ya sayang, Ayah nunggu."
setelah pelepasan itu bumi mencium perut datar sang istri.
__ADS_1
"Amiin , doakan dedek cepet hadir Ya Ayah."
Bumi tersenyum manis menatap istri cantiknya.