
"Dimas memintaku untuk datang menjenguk Nesa, tentu saja Mas gak mau, jikapun pergi, harus sama kamu istri Mas." Ucap Bumi lagi.
Kanaya terdiam sejeknak sebelum akhirnya ia mulai bicara,
"Apa itu artinya Mas mau kesana?" tanya Naya.
Bumi menggeleng,"Mas punya istri yang harus di jaga perasaanya, Mas gak akan mau lagipula kita sudah punya lembaran baru, jangan lagi melihat ke belakang. Urusan Nesa sudah menjadi masa lalu kita." Ujar Bumi.
Kanaya mengangguk.
"Maaf Mas, mungkin saat ini kanaya egois karena tidak mau Mas kesana, luka di hati kanaya karena kehilangan bayi kita jauh lebih besar daripada rasa simpati untuknya." Kanaya berucap sambil menunduk, teringat kembali janin yang ia kandung beberapa waktu lalu.
'Tak apa sayang, itu hak kamu.Masih ada mata kuliah lagi sekarang?' tanya Bumi mengingat waktu sudah menunjukan puluk 13.00 Wib.
"Ada satu mata kuliah lagi Mas, Ya udah Naya balik ke kelas ya, terimakasih untuk jajanannya."
"Sama-sama sayang."
Kanaya berlari dari parkiran menuju gedung kampusnya, meninggalkan Bumi yang tersenyum melihat istrinya berlari.
Bumi kembali masuk kedalam mobil, meninggalkan gedung kampus untuk kembali ke kantornya, meneruskan pekerjaan yang beberapa jam lalu tertunda karena ingin mengantarkan jajanan favorit kesukaan istrinya.
**
Sudah tiga hari Nesa di rawat di rumah sakit ruang Vip. Bu Pamela dengan setia menemani sang putri melewati masa kritisanya, walaupaun sekarang sudah tampak membaik, namun Dokter menyarankan untuk Nesa istirahat dulu sampai satu minggu kedepan.
__ADS_1
Nesa yang sekarang tampak lebih pendiam dari biasanya, bahkan saat sadar kemarin ia tak banyak berbicara atau menanyakan kondisi bayinya, Pikiranya terus tertuju pada Bumi Mahesa Erlangga. pria yang sudah ia tinggalkan.
"Ayo nak, makan dulu kasihan Baby, jika kamu terus begini." ucap Pamela sedikit sedih.
Nesa menggeleng, "Aku mau Bumi, Mah. Kenapa dia gak datang kesni."
Pamela menghembuskan napasnya, ia sudah tidak tahu cara memberitahu putrinya jika Bumi tidak mungkin datang ke rumah sakit untuk melihatnya.
"Sudahlah, Nesa, jangan ingat-ingat lagi tentang Bumi, dia sudah tidak mencintaimu lagi, nak. Lebih baik sekarang kamu fokus pada kehamilanmu.kasihan dia.'' ujar Pamela.
AIr mata Nesa berjatuhan, ia baru sadar jika Bumi benar-benar sudah tak bisa ia gapai lagi, seandainya saja waktu itu ia tak terkena rayuan Nando, mungkin saat ini ia adalah orang yang paling bahagia karena bisa menjadi istri lelaki itu.
" Maafin Nesa, mah. Sudah bikin Papa dan Mama malu. Nesa salah."
Pamela menyimpan mangkok bubur di atas nakas, kemudian memeluk Nesa degan erat, mereka saling menumpahkan air mata.
Dalam dekapan sang ibu, Nesa mengangguk setuju untuk memulai lembaran baru tanpa mengganggu lagi mantan kekasihnya.
Beberapa hari kemudian, Nesa sudah di perbolehkan untuk pulang, Pamela memboyong putrinya ke Malang, dimana orang tua Dimas tinggal, sementara Nesa akan di titipkan disana, selagi Dimas mencari keberadaan Nando. Pamela sendiri tidak bisa membawa Nesa pulang ke rumah karena sang suami yang masih marah pada anak itu.
"Kamu baik-baik ya selama tinggal di malang, turuti apa kata Bude dan pakde mu."Pesan Pamela saat mereka baru keluar dari bandara menuju rumah Dimas.
"Iya Mah, Nesa gak akan bikin ulah lagi.Nesa janji, kasihan Dimas sudah tersita waktu dan tenaganya hanya untuk ngurus Nesa." jawab gadis itu.
"ya kau benar sayang, Dimas lelaki yang sangat baik, seandainya saja kalian bukan sepupu, pasti Mama akan menikahkan kalian berdua." ucap Pamela sambil tertawa.
__ADS_1
Mendengar candaan dari sang ibu membuat wajah Nesa memerah karena malu, bagaiamana mungkin dirinya menikahi sepupunya sendiri, itu tidak mungkin.Namun dalam hati ia berharap jika Dimas bisa mendapatkan gadis yang baik.
Tak terasa Nesa dan Pamela sudah tiba di rumah besar milik Keluarga Anggara, Papa Dimas.Mereka di sambut oleh Bude Lastri ibu dari Dimas, semalam sang putra sudah memberitahunya jika hari ini Pamela dan sang putri akan datang.
Awalnya Bude Lastri keberatan dengan Nesa yang akan di titipkan di rumahnya, mengingat betapa buruk perilaku gadis itu, namun Dimas berusaha meyakinkan sang ibu dan lagi pula Nesa sedang dalam proses penyembuhan dan ia tidak boleh stres.
"Apa kabarnya Mba Lastri? maaf datang-datang malh bikin repot keluarga." sapa Pamela saat dirinya berpelukan dan saling cipika cipiki dengan kaka iparnya itu.
"Baik, kamu bagaimana Pamela?tanya balik Bude lastri.
"Begini lah Mba, mau dibilang baik, gak juga."jawabnya sambil meelirik Nesa yang sedari tadi menundukan kepala.
'Ya sudah ayo masuk, kita bicara di dalam saja, kebetulan Mas mu, satu jam lagi juga pulang dari kantor.Jadi kita bisa bicarakan rencana kedepannya untuk Nesa." ajak Bude Lastri lagi.
Pamela dan Nesa pun mengikuti langkah wanita yang kesehariannya sangat sederhana itu.
sementara itu di singapura,
Dimas telah menemukan alamat di mana Nando tinggal, tentu saja untuk itu ia harus mengeluarkan banyak uang karena mencari keberadaan Nando ternyata sangat sulit.
Dimas saat ini sudah berada di depan unit apartemant Nando, pria yang diyakini adalah ayah dari bayi yang Nesa kandung. Secepatnya ia harus membawa laki-laki itu ke indonesia.
Dimas menekan bel saat itu juga. tak lama kemudian , seorang gadis yang cantik jelita dengan rambutnya di gelung ke atas muncul
Dimas terpaku menatap gadis itu.Matanya yang bulat dan bening,serta bibirnya seperti buah cerry, mampu menghipnotis Dimas.
__ADS_1
"Maaf mau cari siapa? tanya nya.
bersambung.