
"Bu Bety, bisa bicara sebentar?" ucap seorang wanita yang baru saja datang ke ruangan itu tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.Padahal di dalam ada Bumi dan juga Kanaya.
"Oh ia Mama, saya sedang ada tamu sebentar, apa anda bisa menunggu?" balas Bu Bety dengan sopan.
"Jangan panggil saya dengan sebutan Mama, saya bukan mama anda, lagipula saya tidak ada waktu hanya untuk sekedar menunggu."bentaknya.Membuat Eza yang ada dalam pangkuan Kanaya merasa kaget karena suaranya yang begitu keras.
Kanaya dan Bumi yang sedari tadi tidak memperhatikan siapa yang datang pun akhirnya menoleh kearah sumber suara dan menatap wanita itu dengan datar.
"Mohon maaf,Bu Ana.Apa yang bisa saya bantu, saat ini saya sedang kedatangan tamu, jika ibu berkenan tolong tunggu di luar terlebih dulu biar saya selesaikan dulu urusan kami."
Wanita yang di panggil Ana itu melihat kearah dua tamu yang di sebut Bu Bety tadi dan alangkah terkejutnya ia begitu melihat siapa tamu yang di maksud.
"Pak Bumi?" ucapnya kaget.
Bumi hanya menatap dingin, orang yang pernah bekerja sebagai sekretarisnya itu terlihat begitu arogan terhadap pengurus sekolah.
"Apa yang anda lakukan disini Pak? Maaf, saya tidak lihat Bapak tadi." ucapnya berubah ramah, tentu saja Kanaya merasakan sinyal-sinyal bahaya dengan tatapan wanita itu pada suaminya.
Kanaya mengaitkan tangannya pada tangan Bumi, dan mempereratnya, membuat Ana sedikit memicing.
"Kanaya? sedang apa kau disini?" Ana bertanya pada istri Bumi tanpa embel embel Bu ataupun mba, padahal sudah jelas-jelas itu adalah istri atasannya.
"Panggil istriku dengan sopan!" Celetuk Bumi dingin.
Ana sampai menundukkan kepala, karena melihat tatapan pria itu yang berubah sangat menyeramkan.
__ADS_1
"Maaf Pak, setahu saya dia adalah mantan istri anda, bukan istri anda lagi, makanya saya memanggil dengan sebutan nama."
"Dan kau begitu bodohnya percaya akan sesuatu yang tidak kau ketahui. Dia masih istri sahku satu-satunya,Jika kau ingin tahu."Ucap Bumi lagi dengan dingin.
"Bu Betty, sepertinya anda terlalu sibuk dengan tamu anda, mengenai urusan kita, biar asisten saya nanti yang akan datang kesini untuk mengurusnya, sebaiknya kami pergi dulu." Pamit Bumi pada Bu Bety yang merasa sudah sangat tidak enak itu.
"Baik Pak, saya tunggu kedatangan asisten anda, mohon maaf untuk semua ketidaknyamanan ini." balas Bu Bety lagi dengan perasaan bersalah.
"Tidak apa-apa Bu, ini bukan salah anda, hanya saja tamu yang tidak sopan dan tidak sabaran yang membuat kacau, saya harap anda akan baik-baik saja, saya permisi."
Bumi kembali menggendong Eza dan meraih lengan kanaya,wanita dengan pakaian syar'i itu tampak menyalami Bu Bety dengan hormat, setelahnya berlalu melewati Ana yang sedang mengepalkan lengannya menahan kemarahan karena di sindir oleh mantan bosnya sendiri.
Sepanjang lorong sekolah, Kanaya menatap aneh pada suaminya,tentang sikap dinginya pada Ana, seseorang yang pernah menjadi sekretarisnya itu.Padahal dulu pria ini selalu bersikap baik pada semua orang entah itu wanita ataupun laki-laki. namun semenjak pertemuan mereka kembali Kanaya memang merasakan perubahan Bumi yang menjadi dingin, meski tidak padanya, tapi pada orang lain.
"Kenapa?" tanya Bumi tanpa menoleh pada sang istri yang tengah menatapnya.
Bumi mengerutkan dahi,"Aneh?"
"Ia Mas, sikap Mas pada Ana. dia sekretaris kamu kan?" tanya Naya penasaran.
"Dulu, sekarang sudah ku pecat."
Kanaya membuka mulutnya membentuk huruf o.
"Apa ada masalah Mas? kok di pecat?"
__ADS_1
"Aku tidak suka wanita yang sangat aktif mengejar suami orang demi kepentingan pribadinya.Daripada menimbukan masalah di kemudian hari, lebih baik aku berantisipasi dan langsung menendangnya begitu ada kesempatan."
"Suami? memang suami siapa yang dia kejar Mas?" Tanya Kanaya mulai mengintimidasi. Membuat Bumi terdiam kaku, tatapan sang istri sudah serasa horor untuknya.
"Itu sayang... Anu.. " Jawab Bumi dengan ragu.
"Cepat ngomong Mas jangan bikin marah aku! "
"Aku sayang. " Ucap Bumi dengan ragu. Apalagi melihat Kanaya yang sudah bersedekap dada sekarang melihat kearahnya.
"Mas ngapain aja selama aku gak ada? godain dia?"
"Berani sumpah aku gak ngapa-ngapain sayang.Kau tahu kan kalau aku orang yang paling setia sama satu wanita yaitu kamu." ucap Bumi lagi mencoba meyakinkan Kanaya, lelaki itu sudah ketakutan jika istrinya akan kembali marah dan meninggalkannya, sebab bukan hal yang aneh lagi, perpisahan 4 tahun mereka pun tak luput karena orang ketiga.
"Sayang, jang marah.Aku gak ngeladeni dia kok, buktinya aku langsung pecat dia.Udah ya..." Bujuk Bumi.
Kanaya berlalu dari hadapan sang suami, ia memilih berjalan sendiri di depan, tanpa peduli jika saat ini Bumi tengah memanggilnya.
"Sial emang si Ana, baru juga baikan sama bini, muncul dia." Gerutu Bumi dengan kesal,ia yang tengah menggendong Eza akhirnya mengejar Kanaya yang telah sampi mobil duluan.
Bumi menidurkan eza di jok belakang, putranya itu ternyata kembali tertidur saat datang Ana tadi di ruang TU, Setelahnya ia masuk dan duduk di jok kemudi, memasang seltbelt dan sekilas melirik Kanaya yang tengah bersedekap dada dengan pandangan mata lurus kedepan.
Ia menghembuskan napasnya panjang,entah bagaimana cara membujuk wanita cantiknya ini agar mau memaafkannya.
"Sayang udah dong jangan marah-marah lagi, Mas minta maaf gak bilang amsalah ini sama kamu, karena kita kan baru ketemu.Bukan hanya masalah Ana saja kan yang belum mAs ceritain, banyak hal yang terjadi selama empat tahun ini yang belum kamu tahu.
__ADS_1
"Termasuk rasa cinta kamu ke aku Mas? apa sama kaya dulu?"