Jodoh Untuk Kanaya

Jodoh Untuk Kanaya
Bab 80


__ADS_3

Bumi menatap lekat-lekat sebuah ruangan yang ada di dalam toko itu untuk memastikan dugaannya, namun kakinya terasa berat untuk melangkah, ada batasan yang harus ia jaga dan apabila tebakannya itu salah bisa jadi nanti ia akan kena marah sang pemilik toko atau lebih fatal ia akan di usir dari toko.


Lebih baik ia keluar dulu duduk di emperan toko sambil menetralisir keadaan jantungnya sendiri.


Beberapa menit kemudian, seorang wanita keluar dari dalam ruangan menghampiri Bumi yang sedang duduk di teras.


" Ia A,ada yang bisa di bantu?" ucapnya.


Bumi yang sedang duduk segera menoleh kearah suara.Ia pun berdiri dan menatap sang pemilik toko.


"Oh... ini saya mau beli kain ini,berapa per meternya?" jawab Bumi sambil menunjuk salah satu gulungan kain yang terpajang di etalase toko.Ada sedikit rasa kecewa saat melihat perempuan itu ternyata tak seperti yang ia harapkan.Atau memang mungkin pendengarnya yang salah dan karena ia terlalu merindukan suara wanita itu, entahlah.


"Oh bahan ini per meternya tiga puluh lima ribu A, mau berapa meter"


sepuluh meter saja!"


"Baik ka di tunggu."


Pelayan toko itu mengambil sebuah kursi dan meletaknya di dekat Bumi.


"Silakan duduk dulu A, Saya siapkan dulu kainnya.


" Terimakasih. " Sambil duduk Bumi menatap sekeliling toko itu lalu kembali berpusat ke sebuah pintu yang ada di dalam ruangan.


Beberapa menit kemudian,


"Ini A,mohon maaf lama menunggu." Pelayan itu memberikan sebuah paperbag berisi kain yang sudah di lipat.


"Oh ya tidak apa-apa." Ingin rasanya Bumi menanyakan sesuatu, namun lagi-lagi ia enggan dan bingung.Harus mulai dari mana.


"Boleh saya minta nomor toko ini, barangkali suatu saat saya membutuhkan lagi kain akan saya hubungi." AKhirnya hanya itu yang terucap dari mulut pria yang sedikit kaku dengan orang asing itu.


"Boleh A, Ini kartu nama toko kami, selain menyediakan bahan untuk kebutuhan baju pesta dan seragam kami juga menyediakan berbagai macam model topi yang kami ambil langsung dari tangan pertama, jadi harganya jauh lebih murah dengan syarat minimal pembelian dua puluh pcs untuk satu design. Untuk katalog produk,Aa bisa masuk ke halaman website kami ya, dan jika berkenan mohon ulasanya juga." Ucap Pelayan itu lagi.


'Baiklah nanti saya liha-lihat dan terima kasih.Saya permisi.


Dengan menenteng paper bag berwarna biru, Bumi meninggalkan toko itu untuk mencari keperluan lainnya.


Beberapa menit kemudian,

__ADS_1


"Sudah kamu layani? orangnya mana?' sahut seseorang dari balik ruangan.


"Sudah Teh, dia beli sepuluh meter bahan ini."


"Oh haranya sesuai kan?"


"Sesuai Teh Naya, dia gak nawar lagi,baik benar kan.Mana ganteng lagi."


"Ya itu mah maunya kamu,Ya sudah terima kasih ya udah gantiin Teteh tadi, gak kuat mules banget soalnya, Tapi teteh minta tolong jagaain sekali lagi, mau jemput Ezza.Ok."


"Siap Teteh, sok mangga.Nurul tunggu disini sampai Teh Naya datang."


"Ya udah, Teteh berangkat dulu ya."


Kanaya kembali ke belakang dan mengambil helm bogo yang selalu ia pake kemana-mana.Jam sudah menunjukan pukul sepuluh pagi waktunya anak anak Paud pulang.


Sementara itu di dalam mobil, Bumi masih saja memikirkan suara yang ia dengar tadi, rasanya tidak mungkin ia salah dengar.Namun,Bumi terlanjur kecewa saat yang keluar bukanlah seseorang yang ia harapkan.


"Sepertinya karena aku terlalu merindukan kamu,Nay. Ya Allah tolong berikan petunjuk dimana keberadaan istriku."


Bumi yang merasa putus asa menyandarakan kepalanya pada gagang stir sambil memejamkan mata. Sungguh ia sangat merindukan Kanaya.


'tok.'


"tok."


suara ketukan di kaca mobil mengejutkan Bumi yang sedang memejamkan matanya,. Buru-buru ia membuka kaca jendela, seorang tukang parkir sedang berdiri di sebelah mobilnya.


"Ada apa kang?"


"Punten Mas, bisa maju sedikit,Mobilnya ngehalangin motor yang mau lewat." Ucap Mang Parkir menunjuk seorang pengendara motor yang akan keluar dari area parkir,namun tidak bisa karena dirinya.


"Oh ia sebentar."Buru-buru Bumi menyalakan mesin mobilnya memajukan agar ada celah untuk pengendara motor.


"Mang terima kasih ya"


Suara bariton itu kembali membuat Bumi penasaran, ia menatap seseorang yang baru saja mengucapkan terima kasih pada tukang parkir, matanya membulat dan jantungnya bergemuruh hebat.


"Kanaya..." Bumi hendak membuka pintu mobil namun motor yang di kendarai Naya telh melesat.

__ADS_1


Dengan sekuat tenaga,Bumi berusaha mengejar motor itu melewati jalan raya dan sedikit macet.Ia sangat yakin itu adalah istrinya.


Akhirnya ia bisa bertemu dengan istrinya lagi, setelah empat tahu terpisah.


"Ya Allah dengan begitu mudahnya Engkau mengabulkan doaku, terima kasih Ya Allah."


Meski sedikit tertinggal karen Kanaya yang sangat lancar selap selip diantara kemacetan itu, beruntung Bumi masih tetap jeli dari kejauhan ia masih bisa melihat kemana arah motor itu.


Sampai di depan sekolah,Bumi menghentikan mobilnya di sebrang jalan,ia sedikit heran.


"Ini kan sekolah yang tadi pagi aku datangi karena mengikuti Ezza, mau apa Kanaya kesana?"


Tak berapa lama kemudian terlihat para murid tk yang berhamburan pulang dengan di jemput orang tua mereka masing-masing.Bumi masih memperhatikan semuanya, ia tidak bisa masuk kesana karena pasti Satpam akan mempertanyakan siapa dirinya.


sampai para siswa perlahan berkurang dan sekolah hampir sepi.Akhirnya Kanaya keluar dengan seorang anak kecil yang Bumi kenali.


Pria itu mencengkram erat stir mobilnya,sampai keringat dingin bercucuran.Spekulasi mulai bermunculan,apakah wanita itu telah menikah lagi dan punya seorang putra.Jika benar kenapa pikiran Kanaya terlalu pendek hanya dengan mempercayai sebuah tanda tangan tanpa bertanya kebenarannya.


Bumi menangis,merasakan batu besar yang menghimpitnya saat ini sangat berat, ia tidak sanggup lagi.


Beberapa detik kemudian, saat melihat Waja Ezza yang sama persis seperti dirinya.Bumi bau sadar spekulasi tadi sampai pada satu titik dan ia akan lari pada titik itu.


Berusaha menahan dirinya agar tak langsung menemui Kanaya, maka Bumi tetap mengikuti ibu dan anak itu ke tempat dimana ia melihat Kanaya menyimpan motornya di tempat parkir.


Padatnya lahan parkir membuat Bumi sedikit kesulitan dan kehilangan jejak Kanaya. Bumi panik. Ia berkeliling mencari dari toko satu ke toko yang lain, berharap menemukan kembali kesayangannya.


"Ya Allah ,aku mohon Ya Allah, jangan pisahkan kami lagi.AKu mohon." Tangisanya mulai pecah saat putus asa itu datang.


"Tidak... aku pasti bisa menemukannya, Aku yakin bisa."Bumi kembali bersemangat mencari Kanaya apalagi saat teringat makhluk kecil yang ia temukan di sudut restoran sambil menangis itu.


Dari kejauhan Bumi melihat seorang anak kecil tengah bermain kapal-kapalan di depan toko kain,Tanpa sadar langkah kakinya membawa kearah anak lelaki itu, air matanya sudah berlinang sejak tadi. Ingin segera meraihnya dan memeluknya. Bumi tak menyangka jika selama ini dia memiliki sesuatu yang sejak dari dulu ia harapkan dan itu adalah putranya.


Maka, saat berada di hadapan anak lelaki itu, Bumi sudah tidak sanggup lagi membendung air mata harunya.Ia menangis dan berlutut di hadapan Ezza membuat pria kecil itu terkejut.


"Om?' ucapnya.


Bumi langsung meraih tubuh mungil itu dalam pelukannya mengecup dan meciumi puncak kepala Ezza kemudian berbisik.


"Nak... ini Ayah."

__ADS_1


__ADS_2