Jodoh Untuk Kanaya

Jodoh Untuk Kanaya
Bab 56 Menemui Bumi


__ADS_3

Jika Tante Pamela tidak mau menemui Bumi demi putrinya, hal berbeda justru dilakukan oleh dosen muda itu, selain karena ia ingin bertemu dengan Kanaya gadis yang belakangan selalu ada dalam pikirannya. Ia juga ingin bertanya langsung tentang Nando. orang yang telah merusak masa depan Nesa. Dimas berencana akan mencari laki-laki itu sampai ketemu. Ia tidak ada jalan lain selain menemui Bumi karena hanya lelaki itu dan Nesa yang tahu dimana alamat Nando dan orang tuanya.


Dimas telah sampai di kediaman keluarga Pak Arif, meski dengan ragu ia tetap memberanikan diri menyapa para security yang sedang berjaga dan menanyakan sang pemilik rumah.


Dimas di persilakan masuk, begitu security membukakan gerbang, ia kemudian diantar ke dalam rumah bertemu langsung dengan Bumi.


"Silakan duduk.' ucap Bumi masih dingin, mengingat kelakukan Dimas tempo hari sebenarnya membuat ia kesal, namu rasanya kurang manusiawi jika ada yang bertamu dan ia menolak untuk bertemu,.


"Terimakasih." jawab Dimas, matanya sedikit melirik ke kanan dan ke kiri mencoba mencari sosok yang selama ini ia rindukan keberadaanya selama di kampus.


"Jika kau datang untuk menari istriku, maaf dia tak ada di rumah,jika pun ada belum tentu aku akan mengizinkanmu untuk menemuinya." kata Bumi seolah tahu apa yang sedang Dimas cari selama ini.


"Maaf, bukan maksudku seperti itu. Hanya saja ada yang ingin aku bicarakan denganmu dan aku rasa Kanaya tidak perlu tahu soal ini.Makanya aku mencarinya dan berharap dia tidak ada disini untuk mendengarkan pembicaraan kita." kata Dimas menerangkan.


Bumi mengernyitkan dahi, tidak mengerti apa yang Dimas maksud sebenarnya.


"Bicaralah, cepetan selesaikan urusanmu dan segera pergi dari rumah ini, Karena aku tidak ingin kamu menemui Kanaya dan berusaha untuk mempengaruhinya lagi seperti dulu." balas Bumi dengan sedikit tegang.


"Baiklah aku datang kesini ingin mengatakan jika saat ini Nesa sedang dalam keadaan kritis di rumah sakit.JIka tidak keberatan bisakah kamu datang kesana untuk memberin nya semangat? mungkin dengan kedatanganmu dia bisa jauh lebih baik dari sebelumnya." Dimas mulai mengungkapkan maksud kedatangannya pada Bumi.


"Apa kamu bilang tidak salah? setelah apa yang dia lakukan padaku dan keluargaku. Apa dia tidak malu, seharusnya aku melaporkan dia ke polisi." ucap Bumi dengan sinis.


"Ap..a maksudmu melaporkan Nesa ke polisi? apa yang dia lakukan?" tanya Dimas lagi sedikit terbata-bata.


"Dia tidak mengatakan padamu apa yang sudah di lakukan padaku dan keluargaku?" ucap Bumi lagi.


"Aku tidak tahu, aku selama ini berada di bandung.Tadi pagi aku ke Apartement Nesa dan mendapati dia tengah mabuk, dia pingsan dan kata dokter bayi yang dalam kandungan Nesa kemungkinan akan cacat karena alkohol yang selalu ia konsumsi." ucap Dimas lagi.


"Tidak kah kau kasihan padanya? atau prihatin. Bagaimanapun dia sedang hamil, perkara bayi yang di kandungnya anakmu atau bukan , dia tetap seorang perempuan yang pernah ada di hatimu." lanjutnya.

__ADS_1


Bumi mendengar pernyataan Dimas hanya bisa tersenyum kecut.


"kenapa aku harus kasihan padanya, terserah kau menganggap aku kejam atau apa, tapi apa yang dilakukan oleh Nesa aku anggap karmanya karena dia telah membunuh bayi dalam kandungan Naya." ucap Bumi dengan tajam.


"Apa???" Dimas begitu terkejut dengan apa yang di katakan Bumi padanya. Bahkan tangannya berpegangan pada ujung sofa Mencoba untuk mengendalikan diri dan ber optimis bahwa dirinya salah dengar.


'Coba kau ulangi lagi perkataanmu itu!" ucapnya.


"Nesa sudah melakukan tindakan kekerasan pada istriku, sampai Naya tertekan dan akhirnya bayi kami tidak bisa di selamatkan, kau puas? jadi aku anggap apa yang dialami wanita itu adalah karmanya. Jangan pernah lupakan, aku pernah memberinya kesempatan untuk berada di sampingku seumur hidup namun dia menyia-nyiakannya. Sekarang kau bisa pergi dari sini dan jangan pernah datang lagi padaku atau menemui istriku.AKu tidak akan sudi untuk itu."


Dimas tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang, di satu sisi ia kasihan dengan sepupunya itu,namun disisi lain ia juga sangat marah pada Nesa yang sudah mencelakai wanita yang ia kasihi.


sekarang ia tak punya muka lagi untuk bertemu Bumi atau hanya sekedar mencari celah menemui wanita yang bernama Kanaya. Sungguh ia mengumpat kesal dengan posisinya saat ini. Haruskah ia berhenti?


"Atas nama saudaraku aku minta maaf yang sebesar-besarnya untukmu dan Kanaya, kami tidak tahu apa yang dilakukan Nesa hingga berakibat fatal untuk semua. Aku janji setelah ini tidak akan menemuimu lagi ataupun istrimu. AKu minta maaf dan terimakasih karena kau tidak melaporkan saudaraku ke polisi."


Merasa Bumi sudah tidak menganggap keberadaanya lagi , Dimas memutuskan untuk berpamitan. Lebih baik sekarang ia mencari keberadaan Nando dan menanyakan kejadian yang sebenarnya antara lelaki itu dengan saudaranya.


**


Mata kuliah kali ini diikuti Kanaya dan Leo dengan baik dan lancar, entah ini hal baik atau buruk ternyata jam mata kuliah mereka sama dan satu kelas. Hal ini sangat membahagiakan Leo karena ia yang belum punya teman sama sekali,akhirnya bisa dekat dengan kaka iparnya.


Nay.. jajan ke kantin yuk,laper." ajaknya sambil memegangi perutnya. Kebetulan mata kuliah jam pertama baru saja selesai di lanjut nanti setelah istirahat.


Kanaya melirik jam digital di pergelangan tangannya, suaminya berjanji jam makan siang akan ke kampus, ia sedang menginginkan cilok ceker dan Bumi akan membawakan camilan itu untuknya.


'Aku lagi nungguin Mas Bumi." ucp Naya sambil emrapikan buku-bukunya dan memasukannya kedalam tas.


"Ya elah Nay, di kampus mah waktunya sama akulah.. sama sumimu mulu." protes Leo dengan cemberut.

__ADS_1


"Dia suamiku, tentu saja aku harus bersamanya." jawab Naya sedikit jutek.


"Dih ketus, maksudku suamimu seperti gak memberi ruang padamu untuk bermain bersama teman seumuran mu, Kanaya fitriani." protes Leo.


"Itu hanya akal-akalanmu saja, anak ingusan." Tiba tiba Bumi sudah berada dalam ruang kelas Kanaya, dengan berkacak pinggang tak lupa tangan kananya menenteng satu kresek berisi makanan yang Naya pesan.


Perempuan itu langsung berbinar cerah mencium aroma kuah cilok goang jajanan yang biasa ia temui saat di bandung.


"Yah main datang aja ni laki. Haduh mana ada kesempatan gue deket sama kanaya. Gak di rumah gak di kampus posesif abissss." gerutu Leo kesal. Ia pun melangkah keluar meninggalkan pasutri yang bucin ini.


Bumi menggeleng gelengkan kepalanya heran dengan kelakukan sepupu yang sudah lama tinggal di kalifornia ini namun kelakuan masih saja sama seperti dulu.


"Hai sayang, makan ciloknya di mobil aja yuk, Mas uda siapin mangkok dan minumnya." ajak Bumi.Naya mengangguk lalu dengan bergandengan tangan mereka meninggalkan ruang kelas yang sudah sepi itu karena sebagian mahasiswa ada yang ke perpustakaan ada juga yang ke kantin.


Kanaya mengunyah makanan yang bertekstur kenyal itu dengan sekali suap, rasa kuah yang sangat menyegarkan benar benar membuat matanya tidak mengantuk.


Bumi hanya bisa tersenyum melihat istrinya sangat lahap, baginya itu sangat menyenangkan apalagi mulut kecil sang istri ternyata mampu menampung dua butir cilok itu dengan mengunyah di kanan dan kiri.


"Sayang ada yang ingin Mas sampaikan sama kamu." ucap Bumi setelah Naya selesai dengan suapan terakhirnya.


"Apa Mas?"


"Tadi Dimas datang ke kantor." Bumi menunggu reaksi Kanaya sebelum ia melanjutkan kembali apa yang ingin ia sampaikan.


"Lalu?" tanya Naya singkat.


"Bayi dalam kandungan Nesa kemungkinan besar akan lahir cacat, karena wanita itu selalu mengkonsumsi alkohol di masa kehamilannya."


"Deghhhhh" Kanaya meremas sendok plastik yang ia pegang sampai tak berbentuk.Ia teringat dengan bayinya yang telah keguguran akibat ulah wanita itu, kini janin Neza pun harus jadi korban karena kebiadabannya.

__ADS_1


__ADS_2